
"Binal-binal merpati cewek lo, Cep."
Saat Noa dan Tera keluar dari kamar masing-masing, di luar langit masih gelap. Subuh ini, para penghuni kosan sudah membuat keributan.
Tera dan Noa yang masih mengantuk hanya menoleh sekilas pada pembuat keributan hari ini, Tera berdiri di ambang pintu kamar. Sedangkan Noa keluar kosan, ia kembali dengan membawa bunga mawar biru untuk Tera. Masih tiga kuntum seperti biasa.
"Bunga untuk yang tercinta..." ucap Noa lembut.
"Makasih..." bisik Tera.
Noa mengangguk dan merangkul bahu Tera.
"Ahiiww...yoyomantisan cieeh..." ledek Rima.
Dan perdebatan tentunya masih berlanjut di ruang tamu ini.
"Jinak-jinak, Jhon. Bukan binal-binal." sewot kang Acep.
"Ah, binal-binal. Lo jangan ngajarin gue, Cep." elak kang Jhon.
Kang Acep memasang wajah datar.
"Semerdeka lo, Jhon."
"Wakwakwak...gue aja belum bener-bener melek. Lo berdua udah ribut masalah jinak-jinak binal." kata Rima.
"Jinak-jinak merpati..." koreksi kang Acep.
"Binal-binal, Cep." keukeuh kang Jhon.
"Ck, kang...lagi debat apaan sih. Masih subuh juga." ucap Noa kalem.
Kang Acep melihat bunga mawar yang Tera pegang. Ia membelalakan matanya dan tersenyum. Sebuah senyuman yang sulit di artikan.
"Ciacia...romansa remaja...oh, indahnya."
Kang Acep mulai berdrama.
Noa memasang wajah cueknya, ia memandangi Tera dan tersenyum kembali.
"Jangan ngelak, Cep. Jawab pertanyaan Noa." kata kang Jhon.
"Ggahahaha...gue jadi pengen taruhan. Yang menang si Acep atau Jhon."
Rima pun duduk dan memperhatikan.
"Jangan judi, teh." kata Tera.
"Judi mah penyanyi, baby." kata Noa.
"Judika itu mah." sewot kang Acep dan kang Jhon berjamaah. Noa tertawa terbahak-bahak.
"Tuh si Acep pagi-pagi udah pamer foto ke gue." sewot kang Jhon.
"Iri lo ya?" timpal Rima.
"Iya bener. Orang gue liatin foto cewek gue doang. Makanya foto berdua sama ayang lo." sewot kang Acep.
"Emang foto pose apa sih?" tanya Noa.
"Nih, ini."
Kang Acep menunjukan satu foto pada semuanya. Rima yang duduk damai menjadi rusuh kala menghampiri kerumunan penyamun jilid dua.
"Cep, gue tau lo gila." komentar Rima.
Foto yang ditunjukan adalah foto Paris Hileudeun, artis luar negeri sana. Kang Jhon yang mengomel mulai menyadari foto yang ia lihat adalah foto artis.
"Halusinasi...fantasi...kasian amat lo." kata kang Jhon. "----bukan yang itu fotonya. Tunjukin, kampret."
Kang Acep memperlihatkan foto yang lain. Foto seorang wanita cantik yang seumuran dengan kang Acep. Posenya memang binal. Menggoda kaum adam.
"Waw..." kagum Rima. "----ck, di depan Jati, gue masih lebih wow dari itu sih."
Tera terkejut kecil. 'Jati? Pose Rima lebih dari pose binalnya pacar kang Acep? Gue baru tahu kalo Rima itu bisa binal.'
Noa menoleh, melihat respon dari Tera tentang ucapan Rima barusan. Begitu pula dengan dua orang yang sedang berdebat.
Tak ada respon berlebihan. Ia sudah tak ada hubungan apa-apa dengan Jati. Hanya Noa yang akan ia pedulikan.
Kang Jhon memecahkan kesunyian dengan berbicara kembali.
"Bener kan, binal."
"Iri amat lo. Suka-suka dia. Ngirim fotonya aja sama gue doang. Suruh siapa tadi lo lewat pas gue mandangin fotonya. Ya, gue tunjukin ke lo lah." sewot kang Acep.
"Pamer lo. Gue abis dari toilet ya. Lo aja pamer maksimal." omel kang Jhon.
"Iri. Suruh cewek lo kayak gini dong."
Kang Acep memperlihatkan lagi foto pacarnya ke wajah kang Jhon.
"Kalo gue suruh cewek gue kayak gitu juga gak bakal gue pamerin. Konsumsi pribadi." kata kang Jhon.
"Gue panitia bagian konsumsi deh." Rima mengacungkan jari telunjuknya tinggi-tinggi.
Dua orang yang berdebat memiting Rima bersamaan. Noa hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan kekanakan mereka.
"Kamu gak komentarin foto barusan." kata Tera sepelan mungkin agar hanya Noa yang mendengar.
"Gak doyan. Aku doyan sama kamu doang." ucap Noa kalem.
Setelah tiga orang tersebut lelah dengan kerusuhan yang mereka buat, kang Jhon dan kang Acep berbaikan. Mereka berdebat tetapi tetap bersahabat.
Kang Acep berbicara pada Tera. "Lo juga harus nyoba sesekali binal, Tera."
Rima bertanya. "Binal ke siapa maksud lo, Cep?"
"Ke Noa lah. Cowoknya." jawab kang Acep cuek.
"Jangan mau, Tera. Lo binal mau apa coba?"
Kang Jhon melirik sekilas pada kang Acep.
Kang Acep balas melirik sebelum menjawab ucapan kang Jhon.
"Tera, binal di depan cowok lo sesekali mah boleh. Dia pasti seneng."
Tera sekilas melihat ke arah Noa yang berada di sampingnya. Noa bersikap tenang, tak ada respon apa-apa darinya. Ia melihat kang Acep dengan senyum sekilas.
"Sesekali binal, Tera. Gue yakin dia suka." ujar Rima menunjuk pada Noa yang memasang wajah datar saat memandangi tiga orang di depannya.
__ADS_1
Tera melirik Noa yang hanya merangkulnya dan tersenyum sekilas. Ia pergi dari perkumpulan laknat ini menuju kamar mandi.
Semua membubarkan diri setelah Noa memasuki kamar mandi untuk melakukan rutinitas pagi dan melanjutkan ke aktivitas masing-masing.
Tera masuk kamarnya kembali. Semua penghuni kost sibuk dengan kegiatan paginya masing-masing. Noa kembali ke kamar dengan handuk di pinggang.
Tera pun menuju kamar mandi, matahari mulai beranjak naik. Ia tak mau telat masuk ke kelas. Sebentar lagi ujian kenaikan kelas. Hm, kelas tertinggi dan beberapa bulan kemudian ia lulus dan meninggalkan Noa yang masih mengenakan seragam abu-abunya.
Ia tak bisa lagi memperhatikan semua yang Noa lakukan di sekolah setiap harinya. Ia hanya takut seiring berjalannya waktu, Noa akan berubah dan sedikit demi sedikit menjauhinya.
Tera ketakutan Noa akan bosan, ia takut Noa di ambil paksa oleh sosok lain yang menginginkannya. Terutama Sandy untuk sekarang ini.
***
"Gyaaahhh...pusing..."
"Ngeluh terus atuh sayanggg..."
Noa yang duduk di kursi ruang tamu sembari memakan es lilinnya bersikap kalem. Ia menggeleng atas keluhan Tera.
"Kamu iih, es nya netes tuh..." omel Tera.
Noa hanya memandang lantai sekilas dan kembali bersantai kembali. Sikap cuek terhadap sekitarnya kadang sering membuat Tera jengkel.
"Kamu gak belajar? Bentar lagi ujian kenaikan kelas loh." peringat Tera.
Noa melihat Tera sekilas dan kembali ke posisi anteng.
"Aku selalu belajar, baby." ucap Noa tenang.
Tera menautkan alis. Noa memang terkenal siswa yang cerdas. Yang Tera tak habis pikir, kapan Noa belajar. Rasanya selama Tera berhubungan pacaran sampai tinggal bersama di kosan ini, ia tak pernah melihat Noa belajar.
"Kapan belajarnya. Aku gak pernah liat. Belajar apa kamu?" tanya Tera heran.
"Belajar membahagiakanmu." ucap Noa kalem.
"Serius jawabnya dong." gerutu Tera.
"Serius lah. Kapan aku becandain kamu masalah perasaan." ucap Noa.
"Aku nanyain masalah belajar bukan perasaan. Jangan ngeles deh."
Tera cemberut dan Noa tertawa kecil.
"Aku belajar. Menjelang subuh." jawab Noa.
Tera merespon. "Oh, pantes aku gak tau."
"Ck, aku udah bawaan cerdas maksimal." canda Noa.
"Kok aku males dengernya ya." kata Tera cuek.
Noa tertawa lepas. Ia duduk di lantai memposisikan diri di samping Tera dan mencium pipi Tera berkali-kali.
"Lengket. Itu bekas es lilin bersihin dulu." omel Tera.
Noa malah semakin terbahak-bahak. Noa doyan membeli es lilin mang Ojo, setiap hari bila waktunya mang Ojo akan lewat depan kosan, Noa pasti mangkal di depan pagar kosan.
TOK TOK
Tera dan Noa menoleh ke pintu yang terbuka sebagian. Sandy mendorong pintu depan, ia membukanya lebar-lebar.
Tera mengusap dada. 'Hm, si binal setiap hari pasti merecoki moment gue dan Noa berduaan.'
"Noa, gue gak ganggu lo kan?"
Sandy melirik sekilas pada Tera yang masih duduk di lantai.
'Ganggu banget lah. Dasar, si binal sok polos.' batin Tera.
Noa duduk santai kembali di kursinya.
"Gak kok. Duduk sini, mau gue bikinin minum?"
"Gak usah. Kayak tamu aja." kata Sandy ramah.
Tera mendumel dalam hati. 'Ck, lo kan emang tamu tak di undang.'
Sandy mendekati Noa dan duduk di sampingnya seperti menganggap Tera tak ada.
Sandy memohon kecil. "Noa, ajarin gue matematika dong."
'Matematika? Asal jangan matemacinta aja.' batin Tera.
"Hm, yang mana?" tanya Noa santai.
"Semuanya. Gue gak ngerti." kata Sandy manja.
'Jelas aja lo gak ngerti semuanya. Otak lo di pakenya buat recokin hubungan orang. Si binal, elah. Pulang sana.'
Lagi, Tera membatin. Cukup membatin saja.
Ia tak mau Noa ilfeel, karena itu tujuan Sandy sebenarnya. Memperlihatkan dirinya bisa lebih baik dari Tera.
Noa mengajak Sandy duduk selonjoran di lantai. Ia mengajari Sandy dengan sabarnya. Pembawaan yang tenang dari Noa semakin membuat Sandy merasa nyaman.
Tera jengkel, ia duduk di kursi memperhatikan mereka. Ia sedikit menghindar dari Sandy yang tersenyum sinis secara sembunyi-sembunyi dari penglihatan Noa.
Sedangkan Noa masih fokus mengajari Sandy. Niat ia baik, tetapi Sandy yang keterlaluan. Ia mencari kesempatan dengan duduk berdempetan dengan Noa.
Ingin rasanya Tera duduk di tengah-tengah, di antara mereka. Memisahkan benalu ini. Tetapi ia tetap bertahan duduk di kursi. Seperti menjauh tetapi tetap mengawasi Noa.
'Ck, parasit. Pengen banget nempelin cowok gue.' batin Tera.
Merasa di abaikan, ia memasuki kamar. Noa pun tak menyadari menghindarnya diri Tera dari sekitarnya. Masih terdengar suara Noa mengajari Sandy.
Tera berdiri mematung mendengarkan suara Noa dan Sandy. Ia melihat sekeliling kamar. Bunga yang tadi pagi Noa berikan masih ada di atas meja. Ia memeluk bunga tersebut dan mencium aromanya.
Tera berpikir. 'Apa gue harus binal kali ini? Sesekali mungkin. Ah, bukan. Saat ini, hari ini aja. Gue harus bisa mencuri perhatian Noa lagi. Biar Sandy mati langkah. Tapi...'
Saat berpikir, ia tetapkan dalam hati untuk tidak menjalankan aksi itu. Ia tak harus berbeda hari ini hanya agar Noa tak hilang perhatian kepadanya.
Ia mencari cara lain agar perhatian Noa kembali padanya. Ia pun teringatkan pada foto-foto yang telah Noa cetak namun belum sempat di pajang walau satu lembar pun.
Maka ia mencari foto-foto tersebut. Di dalam laci lemari, Tera menemukan banyak lembaran foto yang sengaja di tumpuk rapi.
Sekarang Tera hanya tinggal memikirkan cara agar Noa memasuki kamarnya. Suara mereka masih terdengar jelas. Noa masih setia mengajarkan pelajaran matematika untuk Sandy.
"Udah ngerti belum?" tanya Noa.
"Belum." jawab Sandy.
__ADS_1
Itu hanya alasan. Tera yakin Sandy sudah paham. Noa itu pengajar yang baik, semua akan paham dalam sekali penjelasan darinya.
Di luar kamar, Tera mendengar kembali suara Noa yang menjelaskan dari awal untuk Sandy. Nada bicara Sandy di buat manja, ia merengek pada Noa berpura-pura belum paham. Ia ingin Noa terus berada di dekatnya dan jauh dari jangkauan Tera. Ia ingin banyak waktu yang Noa miliki habis bersamanya.
Tera menjatuhkan barang agar perhatian Noa berpindah ke kamarnya. Dan benar fokus Noa terpecah, ia baru menyadari tak adanya Tera di ruang tamu bersamanya.
"Eh, Tera mana?" tanya Noa lebih kepada diri sendiri.
Suara Noa pun terdengar kembali.
"----baby, kamu di kamar?"
Tera sengaja tak menjawab pertanyaan Noa agar ia penasaran dan masuk ke dalam kamarnya. Tera lebih mementingkan mengambil selotip di dalam tas Noa.
Tera pun mendengar Sandy berbicara pada Noa.
"Tidur kali. Jelasin lagi, gue belum ngerti nih."
"Bentar...bentar...gue ke kamar dulu ya. Takut Tera kenapa-napa." kata Noa dengan nada khawatir.
"Gak usah cemas. Palingan dia tidur." ucap Sandy santai.
"Euh, bentar ya. Gue ke kamar Tera dulu."
Derap langkah Noa mendekati kamar. Tera pun memposisikan diri untuk menyambut Noa.
"Eh, Noa. Tunggu...gue kan belum ngerti." paksa Sandy.
"Iya, ntar gue ajarin lagi."
Terdengar Noa membuka pintu kamar perlahan.
Tera sengaja menutup gorden agar kesan gelap semakin membuat Noa penasaran memasuki kamarnya.
Ia memperhatikan Noa yang memicingkan matanya menatap ke arahnya. Ruangan yang gelap membuat tangan Noa masih memegangi kenop pintu.
"Gelap amat."
Noa menutup pintu kamar Tera dan menyalakan lampu.
Dan lampu pun menyala, Tera bisa melihat ekspresi Noa. Begitu pula dengan Noa yang bisa melihat keseluruhan atas perbuatan yang Tera lakukan. Matanya terbelalak. Menatap Tera tanpa berkedip dan enggan berpaling.
"Waw..." ujar Noa yang terkagum-kagum.
Tera hanya berdiri seraya berpose menempelkan satu foto di dinding kamar. Sedangkan Noa terkagum-kagum melihat Tera yang melambaikan tangan seraya tersenyum ke arahnya.
"Waw...manis..." ujar Noa yang takjub.
Tera menampilkan wajah yang menggoda agar Noa tertarik untuk mendekatinya. Noa semakin bersemangat menyuarakan nada kekagumannya kala memandangi dua foto yang kini telah mengisi kosongnya dinding kamar kosan.
"Cantik banget, sumpah..." kata Noa yang melihat pose Tera di foto tersebut.
Telunjuk Tera bergerak, mengisyaratkan pada Noa untuk mendekat dan menghampirinya. Noa berjalan mendekat masih menyuarakan nada kekagumannya.
"Waw...ini baru yang manisnya asli."
Noa kini sudah di dekat Tera yang tengah berkedip kecil sembari menggigit bibir bawahnya. Ia terus memperhatikan Tera bukan hanya pada fotonya saja.
Melihat fokus pada Noa yang masih terkagum-kagum, Tera kembali menggoda.
"Mau pegang tangan?"
Suara yang Tera buat-buat tersebut membuat Noa tergoda.
Noa menyentuh tangan Tera yang di ulurkan dengan sok cantik.
Satu kalimat lagi, dan Tera yakin Noa akan benar-benar tergoda.
"Mau kena kecupan?" bisik Tera.
Dan benar, Noa tergoda. ia terjatuh ke dalam pesona yang Tera buat. Noa terus menyuarakan nada kekagumannya.
"uuh...gemes..."
Noa kembali menyentuh tangan Tera.
Sedangkan di luar kamar...
"Noa, buruan ajarin gue lagi. Susah nih." teriak Sandy.
Bahkan Noa tak menghiraukan suara teriakan dari luar kamarnya. Ia tak mendengar sama sekali. Perhatiannya terfokus pada wajah Tera.
"Noa, kok lama? Gue belum ngerti nih." teriak Sandy lagi.
Noa memperhatikan Tera tanpa berkedip.
"Aku suka..." gumam Noa yang menunjuk dinding kamar Tera yang baru terpasangi dua lembar foto tanpa matanya berpaling ke dinding tersebut.
Tera tersenyum. "Mau foto gak?"
Noa bertanya. "Boleh di pasang jadi foto profil di sosmed?"
Tera mengijinkan. "Boleh..."
Namun suara pengganggu terdengar kembali.
Sandy masih berada di ruang tamu.
"Noa, buruan dong. Lama banget."
Tera menyiapkan ponselnya bahkan ia sengaja menarik tangan Noa agar mereka lebih merapat. Mereka tengah bersiap di depan kamera.
Suara Sandy terdengar kembali.
"Noa, lo ngapain sih?"
'Ck, make di tanya. Minggat sana, Noa gak mau sama lo.' batin Tera.
"Noa, cepet dong." teriak Sandy.
Dan Tera yang membalas teriakan Sandy.
"Balik sana. Noa gak mau sama lo. Hussh..hussh.."
Suara bantingan pintu depan menandakan Sandy keluar kosan dengan kesal. Dan itu tak berpengaruh pada kegiatan mereka.
Noa tak terpengaruh, yang ia lakukan dengan fokus adalah memperhatikan foto profil yang sedang di pajangnya di sosial media.
"Suka?" tanya Tera.
"Suka banget, baby." ucap Noa sumringah.
__ADS_1
****
Tbc