Kakak Gemes

Kakak Gemes
Pejuang cinta


__ADS_3

Pagi hari yang berawan tak mengendurkan semangat setiap yang masih bernyawa.


Cuitan burung di pagi hari adalah lagu indah pengiring semangat dalam aktivitas yang menguras tenaga dan emosi.


"Dim, gue udah pikirin ini mateng-mateng semaleman." kata Noa.


"Lo mikirin ini semaleman? Amazing atuh, lur. Akal bulus lo emang paling top." puji Dimas sembari mengacungkan kedua jempolnya.


"Gak usah muji, takjub atau kagum. Lo cuma boleh usaha hari ini. Luluhin hati dia. Gue yakin lo bisa. Lo juga bisa jadi titisan dewa akal bulus." ujar Noa menyuntikan semangat.


"Dewa akal bulus orang mana? Kok gue gak kenal." tanya Dimas.


"Ck, itu di Lebak Bulus." canda Noa.


Dimas tergelak. "Bulus itu marga?"


"Bisa jadi. Udah, jangan mengalihkan pembicaraan. Lo gak boleh becanda. Kalo lo keliatan becanda, ntar dia gak akan percaya sama lo." nasihat Noa.


Dimas mengangguk sebagai tanggapannya. Noa mengajak Dimas untuk mengetuk pintu kamar Sandy. Noa menyimpan kertas yang di gulung menggunakan tali tipis. Dengan kekuatan maling kutang, ketika kenop pintu bergerak Noa dan Dimas berlari ke tempat yang cocok untuk bersembunyi.


Sandy membuka pintu lebar-lebar, kemudian ia melihat sekeliling yang ternyata tak ada siapapun disana. Ia bingung dengan ketukan tanpa raga. Mungkin makhluk gaib yang usil. Tapi ia yakin kejahilan itu dilakukan oleh manusia.


Ketika Sandy akan menutup pintu kembali. Ia tak sengaja menunduk dan melihat gulungan kertas tersebut. Lalu dengan rasa penasaran ia mengambil gulungan kertas sembari mengerutkan dahinya.


"Itu tali buat gulung kertasnya, tali apaan? Kenapa bukan pita aja?" bisik Dimas.


Noa pun balas berbisik. "Tali sepatu. Gue lupa beli pita."


"Gak modal banget. Akal bulus lo bakal berhasil gak?" kata Dimas.


"Tergantung dari perjuangan lo juga, gembel." tanggap Noa.


Mereka kemudian mengembalikan perhatian pada Sandy. Gulungan kertas itu dibukanya. Lalu ia di sambut beberapa susunan kata yang kemudian segera dibacanya.


'Coba cari gue. Lo gak bakal nyesel.'


Sandy memperhatikan sekitar. Ia menutup pintu kamarnya dan bergegas menuju tempat yang disebutkan dalam gulungan kertas tersebut.


Disebutkan disana dalam tulisan kecil-kecil, Sandy harus berjalan seratus langkah kaki ke arah jalan pulang. Bagaikan ia harus pulang ke rumahnya.


Sandy berjalan sembari menghitung langkah kakinya. Noa dan Dimas bergegas mengikuti. Karena Dimas grasak grusuk akhirnya Sandy menyempatkan diri menengok ke arah sumber berisik itu.


Noa menendang Dimas, lalu ia menimpa Dimas yang tersungkur indah itu. Dimas melakukan aksi protes karena ia tertimpa body Noa yang kini telah lebih keren.


"Minggir. Berat nih." bisik Dimas.


"Diem. Ntar dia liat kita." balas Noa.


Mereka kemudian memperhatikan Sandy yang telah menanggalkan kecurigaannya. Sandy lalu berjalan kembali ke arah seharusnya ia pulang. Jalan utama menuju resort. Arah kebalikannya. Ia harus keluar resort.


Ketika Sandy berjalan seratus langkah, langkah ke seratusnya mengarahkannya pada pohon yang tak terlalu besar. Disana tertempel kertas yang terlihat siluet seseorang. Sebuah foto yang gelap, hanya tangan kiri dan kanan hingga bahunya yang terlihat jelas dan bukan berupa siluet.


Di bawah foto itu tertera tulisan yang rapi. Sandy membacanya dengan seksama.


'Lo udah bisa nebak. Tapi lo harus tetep jalan sampe ke ujung jalan. Ujung penantian yang disana ada seseorang yang menantikan lo. Jalan lagi seratus langkah ke arah pulang.'


Sandy melanjutkan seratus langkah untuk kedua kalinya. Mungkin ia lelah menghitung tetapi ia pasti penasaran akan si penanti itu. Apa yang akan dilakukan seseorang itu padanya. Ia sangat ingin mengetahuinya.


Sementara itu, Noa dan Dimas sedang berdebat masalah foto yang lebih dari separuhnya berupa siluet.

__ADS_1


"Sue, kok item itu foto?" protes Dimas.


"Berisik. Buruan ikutin dia." gerutu Noa.


Mereka pun kembali mengikuti Sandy yang masih terdengar menghitung sembari melangkah satu hingga seratus.


Sandy selesai menghitung seratus yang kedua kalinya. Indera penglihatannya di sambut kembali oleh pohon yang tertempel selembar kertas kedua. Ia menoleh kanan dan kirinya berharap menemukan seseorang disana.


Ketika ia menyadari hal itu sia-sia belaka, Sandy kembali meraih kertas keduanya. Ia melihat tulisan kecil-kecil di bawah foto yang siluetnya mulai berkurang. Kini bukan hanya kedua tangan hingga bahunya yang terlihat. Tetapi bagian perut ke lehernya terlihat dengan jelas. Karena ini foto setengah badan, Sandy menebak ia hanya harus mencari kertas ketiga. Kertas yang terakhir.


'Udah jelas banget. Lo terus jalan ke arah pulang lagi. Seratus yang ketiga dan gue ada disana.'


Sandy bergegas menghitung langkah seratus yang terakhir. Seratus ketiga kalinya.


Noa dan Dimas segera mengikuti Sandy kembali. Mereka menderita tatkala Sandy berhenti, maka mereka harus berebut untuk bersembunyi bahkan berdebat karena tempat persembunyian mereka terlalu kecil untuk tubuh besar mereka.


"Sue lah, gue di semutin barusan." dumel Dimas.


"Lo manis kalo di semutin. Bersyukur. Jangan mengeluh." omel Noa.


"Kampret, lo yang desak gue ke pohon yang ada sarang semutnya. Semut lagi bikin sarang lo ganggu gaweannya." gerutu Dimas.


"Mending buruan kita jalan lagi. Dia udah mau nyampe nih." ujar Noa.


"Tera mana, lur?" tanya Dimas ketika menyadari tak adanya kehadiran Tera di antara mereka.


"Lo gak nyadar, yang nempelin foto itu siapa? Dia udah nungguin kita di ujung jalan. Lo sama gue harus lebih dulu sampe ujung sebelum Sandy nyampe sana." jelas Noa yang hanya di tanggapi oleh kepala Dimas yang manggut-manggut mengerti.


Mereka melanjutkan jalan cepat. Sesekali berjinjit. Jika ada ranting yang renyah untuk di injak, Noa kembali menendang Dimas dan mereka akan berebut untuk bersembunyi. Bila ada suara berkeresekan yang mereka buat sendiri, Noa dengan tega menendang pantat Dimas yang sudah rata itu.


Jatuh tersungkur berkali-kali, Dimas akan bangun dengan semangat lagi. Bilamana sulit untuk bangun, Noa dengan senang hati menendang Dimas sampai ia mau berdiri lagi.


Ah, hal yang sukar. Pasti Noa akan membantu Dimas untuk bangkit lagi.


Tera sudah menunggu di ujung jalan yang dimaksudkan. Ia bersembunyi di balik pohon yang besar. Noa dan Dimas bergegas menghampirinya.


Tanpa berbasa basi, Noa segera meraih benda yang Tera pegangi untuk di berikan kepada Dimas. Kertas yang menampilkan foto tanpa siluet lagi.


"Bawa ini. Tunggu dia disana." perintah Noa.


"Ini. Bawa ini juga. Kasih sama dia." kata Tera.


Ia menyerahkan seratus kuntum bunga mawar putih dan di tengahnya ada satu kuntum bunga mawar merah.


"Jumlahnya ada seratus satu bunga. Lo baca ini buat bahan penyampaian ke dia."


Noa menyerahkan kertas berisikan kalimat panjang.


Dimas sesegera mungkin membacanya. Ia berusaha mengingat karena menghapalkan dengan sama persis rasanya mustahil dengan situasi serba cepat ini.


"Jantung gue deg-degan nih." kata Dimas.


"Bagus lah. Berarti lo masih idup. Pertanda yang baik." ujar Noa.


"Kalem Dimas. Kalem..." ucap Tera.


Dimas menghembuskan nafas untuk melegakan perasaannya yang tak karuan. Sandy sudah terlihat di beberapa puluh langkah terakhir. Noa mendorong Dimas untuk menempati posisinya. Dimas pun kemudian berdiri menantikan kehadiran target cintanya.


Sandy telah menyelesaikan hitungan langkah kaki seratus yang ketiga kalinya. Seratus yang terakhir. Ia melihat sosok yang sudah sangat di kenalnya. Malah semalam sosok itu telah menyampaikan ungkapan rasanya.

__ADS_1


Dimas menyerahkan kertas yang terakhir. Foto tanpa siluet itu adalah foto Dimas. Sandy menerimanya dan memperhatikan foto tersebut dengan alisnya yang menyatu.


"Itu ujung pencarian lo. Gue tempat lo kembali. Gue bisa jadi rumah buat lo. Tapi gue bukan sekedar tempat persinggahan. Lo harus mau menetap." jelas Dimas.


Sandy terdiam setelah penjelasan tersebut. Dimas kembali melanjutkan ucapannya sembari menyerahkan bouquet bunga untuk Sandy.


"----seratus kuntum bunga mawar putih dan satu kuntum bunga mawar merah. Lo udah tiga kali ambil langkah seratus buat arah pulang. Dan yang ketiga kalinya lo pasti yakin dengan keputusan lo. Buktinya lo sampe di ujung jalan ini. Lo mau ikuti perintah dari selembar kertas. Lo juga pengen nemuin seseorang di ujung penantian lo kan. Lo penasaran."


"Gue gak penasaran." elak Sandy.


Dimas berucap. "Tapi-..."


"Gue gak penasaran..." kata Sandy yang kembali mengelak.


Walaupun ucapan Dimas di potong oleh elakan Sandy, ia tetap berusaha hingga akhir.


"----bunga ini totalnya ada seratus satu kuntum. Seratus untuk keyakinan cinta gue yang seratus persen. Dan satu untuk rasa gue yang cuma buat lo. Satu-satunya."


Dimas berhasil menyatakan perasaannya.


Sandy mengalihkan perhatian dengan melihat objek lain yang menurutnya lebih menarik daripada sosok Dimas.


Sementara itu, Noa dan Tera setia mengintipi aksi Dimas dari balik pohon besar yang menyembunyikan tubuh mereka. Menenggelamkan peran mereka yang memang sejak awal hanya di belakang layar. Dimas yang menjadi peran utama. Pemeran sebuah lakon cinta.


"Berhasil gak ya, sayang?" tanya Tera.


Noa mengambil kesempatan untuk memeluk Tera dari belakang dan melingkarkan tangannya di perut Tera. Ia menciumi aroma rambut kekasihnya.


"Semoga berhasil. Kalo gagal, berarti butuh perjuangan lagi." jawab Noa.


Sepasang kekasih itu terus memperhatikan Dimas dan Sandy yang masih terdiam. Berdiri kaku tanpa percakapan.


Dimas menyerahkan seratus satu kuntum bunga mawar tersebut. Tetapi Sandy menepisnya sehingga bunga mawar itu terjatuh ke rerumputan.


Tera menutup mulutnya, refleks karena terkejut melihat penolakan yang sangat jelas terjadi itu. Noa hanya diam dengan wajah datarnya.


Sandy kemudian pergi dari hadapan Dimas untuk yang kesekian kalinya. Lalu tanpa menengok lagi, Sandy yakin tak ingin meraih kebahagiaan dan harapan barunya. Yang nyata bukan halusinasi. Pangeran khayalannya mungkin lebih menarik daripada pangeran kenyataannya.


Bukan hanya Sandy yang lara hati. Kini Dimas pun merasakan hal yang sama. Lara hati.


Noa dan Tera menghampiri Dimas yang menunduk dalam itu. Tera mengusap-usap lembut bahu Dimas yang di berikan balasan senyuman oleh Dimas.


Noa pun memberikan semangat baru untuk sahabatnya.


"Kalo sekali gagal, masih ada yang kedua. Kalo yang kedua gagal masih ada yang ketiga. Sandy melangkah tiga kali seratus langkah. Lo harus melangkah tiga kali dan yang ketiga kalinya lo harus pastiin bisa raih dia. Gue dan Tera bakal bantuin lo sampe perjuangan lo berhasil."


"MERDEKA...!!!" seru Tera sembari mengepalkan tangannya tinggi-tinggi.


"----semangat, Dim."


"Tuh, liat Tera. Dia aja masih semangat bantuin lo. Gue ada disini, Dim. Gue juga ada buat lo. Semangat terus, Dim." ujar Noa.


Dimas tersenyum lebar dan ia pun melebarkan tangannya untuk meraih Noa dan Tera ke dalam rangkulannya.


"Makasih, lur. Nyonya makasih. Kalian emang yang terbaik." ucap Dimas.


Dalam rangkulan Dimas, Noa dan Tera saling berpandangan dan melemparkan senyum satu sama lain. Senyuman yang sangat berarti.


'Sandy, gue sabar kok menanti lo.'

__ADS_1


***


Tbc


__ADS_2