
"Hah? Beneran ini?"
Ahmad mengucek-ngucek matanya saat melihat foto yang Noa tunjukan.
Noa angguk membenarkan, Dimas tak berkomentar apa-apa. Ia hanya memperhatikan foto itu dengan serius.
"Gue mesti gimana ya."
Noa meminta saran dari dua sahabatnya.
Ia memutuskan untuk menceritakan hasil pengintaian tak di sengaja olehnya kemarin. Dan terakhir ia menunjukan foto bukti dari perselingkuhan itu.
"Udah lah biarin aja. Lagian percuma, Tera juga gak akan percaya." ujar Dimas.
"Nah, bener. Lo mau nunjukin foto itu ke Tera mah nyari mati namanya. Yang ada dia makin ilfeel sama lo. Dia sangka lo fitnah pacarnya." ucap Ahmad mengiyakan perkataan Dimas.
Noa angguk membenarkan ucapan dua sahabatnya.
"Hm, kalo ada cara laen buat nunjukinnya. Gimana kalo gue cetak foto ini terus gue kirim ke rumah Tera diem-diem. Dia gak akan tau ini dari gue."
"Boleh lah kalo itu. Boleh di coba." kata Ahmad.
Dimas meraih ponsel Noa dan memperhatikan foto itu lekat-lekat.
"Jelas banget muka mereka. Hape lo kameranya keren. Gue selfie deh." Dimas gagal fokus.
"----siapa yang kirim ini foto kalo udah di cetak? Lo gak akan kirim ini lewat kurir kan?"
"Hm, rumah Tera deket sama lo, Dim. Gimana kalo lo aja." saran Ahmad.
Dimas geleng-geleng kepala. "Gak ah. Ntar kalo ketauan, gue di teriakin maling sama si Tera. Dia mah kejam."
"Gue aja." ucap Noa singkat.
Dua sahabatnya geleng-geleng kepala menolak. Ahmad mengacungkan jarinya tinggi-tinggi.
"Gue aja deh. Gue rela berkorban, bos."
Ahmad bersemangat enam sembilan.
"Ini bukan hari raya kurban, ******." canda Dimas.
Ahmad menoyor kepala Dimas. "Serius. Lo kan gak mau tadi. Gue aja deh."
"Yakin?" tanya Noa.
"Yakin lah. Kalo lo yang ketauan bakal lebih parah, bos. Kita kan gak pengen dia tau kalo foto itu berasal dari lo." kata Ahmad.
Dimas mengangguki perkataan Ahmad.
"Gue nemenin lo deh, Mad. Gue nunggu depan rumahnya aja. Kalo ketauan, gue ngumpet duluan."
"Gue kalo ketauan, ngumpet di dalem rumah Tera aja." ujar Ahmad enteng.
"Lo emang terbodoh."
Noa geleng kepala mendengar ucapan Ahmad, sedangkan Ahmad nyengir menanggapi Noa. Dimas malah selfie menggunakan kamera ponsel Noa.
***
Pulang sekolah, Noa mencetak foto-foto bukti perselingkuhan itu. Dimas pun Noa tugaskan ke sekolah pacarnya Tera karena hari ini Dimas membawa motor ke sekolah. Mungkin saja masih bisa terkejar. Setidaknya Noa bisa menambahkan bukti kalau pria itu telah membohongi Tera.
Ahmad membuntuti Tera ke rumahnya. Noa hanya ingin Tera dalam keadaan baik, dan meyakinkan diri sendiri bila Tera baik-baik saja.
Selesai mencetak foto, Noa bergegas ke rumah Tera. Ahmad sedang mengintai tak jauh dari sana. Noa pun menghampiri Ahmad. Ia menyerahkan foto-foto yang sudah tercetak di dalam amplop cokelat.
Ahmad celingukan sembari berjalan ke rumah Tera mengunakan topi dan masker menuju pintu depannya. Ia selipkan amplop itu di bawah sela pintu. Lalu ia berbalik lari ke tempat Noa bersembunyi.
Mereka menunggu beberapa saat sampai akhirnya Noa melihat Tera keluar sambil membawa amplop yang sudah ia buka isinya. Tera kebingungan, mencari-cari sesuatu. Kemudian masuk kembali ke dalam rumahnya.
Dimas mengirimi pesan singkat. Isinya:
'Gue lagi buntutin si cowok nih. Sama cewek yang di foto itu. Mereka lagi jalan'.
Noa hanya membaca pesan itu tanpa membalasnya. Ahmad mengajak Noa ke rumahnya. Tadinya Noa hendak menolak. Ia ingin disini saja, tetapi Ahmad memaksa. Noa pun mengirim pesan kepada Dimas untuk menyuruhnya pulang saja atau menyusulnya ke rumah Ahmad.
Di perjalanan menuju rumah Ahmad, Dimas mengirim pesan lagi.
'Noa, si cewek abis jalan tadi di anter pulang ke rumahnya.'
Noa tak menyangka, Dimas masih mengintai pacarnya Tera. Padahal ia sudah menyuruh Dimas untuk pulang. Tak lama ponsel Noa bergetar kembali menandakan ada pesan masuk lagi. Noa yang tadinya hendak membalas chat Dimas, membaca dulu pesan berikutnya.
'Si cowok ngejemput cewek laen. Mereka jalan. Gue mau intai mereka lagi.'
Noa membalas pesan Dimas, menyuruhnya pulang. Dimas tak membalas. Noa pun mengirim pesan lagi menyuruhnya menyusul ke rumah Ahmad namun Dimas tak kunjung membalas.
Sampai akhirnya Noa berada di rumah Ahmad beberapa lama kemudian, Dimas baru datang dengan motornya.
"Lur, mau liat buktinya. Gue fotoin nih."
__ADS_1
Dimas menunjukan foto-foto di ponselnya. Noa dan Ahmad memperhatikan dengan seksama semua hasil jepretan kamera Dimas.
"Dua cewek dalem satu hari?" tanya Ahmad heran.
Dimas mengangguk. "oh, tadi gimana tanggepan Tera?"
Noa tak menjawab.
Akhirnya Ahmad yang angkat bicara.
"Biasa aja. Bingung mungkin."
Dimas tak menanggapi ucapan Ahmad dengan jawaban. Ia memperhatikan Noa. Memandangnya intens.
"Jangan liatin gue kayak gitu. Ntar lo naksir." canda Noa.
"Gue tau lo lagi gak pengen becanda." ucap Dimas.
Yang Noa lakukan hanya menghela nafas tanpa berusaha menjawab ucapan Dimas. Ia saja bingung mau menjawab apa. Tera di khianati dan ia tak bisa berbuat apa-apa.
"Gue balik." ucap Noa pelan.
Dimas dan Ahmad mengangguki perkataan Noa. Dimas menawarkan mengantar Noa sampai kosan yang Noa tolak dengan halus.
Noa pulang sendiri ke kosan. Selama perjalanan memasuki kompleks perumahan menuju kosan, ia melihat sosok yang selalu mengisi pikiran dan hatinya. Tera.
Ia ada disana, di depan sana. Keluar dari salah satu rumah dengan tersenyum. Noa terbawa, tersenyum melihat senyumannya. Dan ia menghampiri Tera yang belum menyadari kehadirannya.
"Abis ngapain?" tanya Noa yang melihat Tera tersenyum sambil memegang uang yang lalu di simpan di kantung celananya.
Tera mendongak dan terkejut.
"Lo...kok lo disini?"
"Lo abis ngapain? Ngapel?"
Noa mengabaikan pertanyaan Tera.
"Abis kirimin pesenan jam." ketus Tera.
"Oh, gitu." kata Noa sekenanya.
Tera bertanya balik. "Lo gak ngikutin gue kan?"
Noa geleng kepala. Tera melanjutkan pertanyaannya.
"Gue kost di sekitar sini." jawab Noa.
Tera memicingkan matanya. "Hm, lo gak boong kan?"
"Lo mau ke kosan gue?" tawar Noa.
Dan ia tak menyangka Tera mengangguk.
"Gue cuma mau mastiin lo gak boong." kata Tera.
Noa tersenyum dan berjalan menuju kosan dengan Tera yang berjalan di belakangnya.
Di kosan, kang Acep sedang makan mie instan. Kang Jhon mendengarkan musik lewat headsetnya, Noa yakin musik metal yang akangnya dengarkan.
"Noa..." seru kang Acep ceria.
"Hey, kang." jawab Noa.
Kang Acep melihat seseorang di belakang Noa, ekspresinya bingung. Kang Jhon membuka headsetnya dan berdiri. Kang Acep pun ikut berdiri.
"Ini calon penghuni kost baru? Kok gak di ajak ke rumah ibu kost? Mau liat-liat dulu?" tanya kang Jhon panjang lebar.
"Bukan, kang. Ini Tera.. "
Noa masih mangap hendak menjelaskan kelanjutannya tetapi di tarik oleh kang Acep.
Ia berbisik. "Ini si Tera yang lo taksir?"
Noa mengangguk dan kang Acep lanjut berbisik. "---pantes lo doyan."
"Tera, ini tempat gue ngekost. Yang ini namanya kang Acep." tunjuk Noa ke kang Acep yang berada di sampingnya.
"----dan yang itu kang Jhon." tunjuk Noa ke pintu kamar kang Jhon yang masih di tempeli kertas bertuliskan hashtag beri aku cinta.
Kang Jhon menjitak Noa. "Hey, Tera."
Di sapa ramah kang Jhon, Tera hanya membalas dengan senyuman tipis.
"Percaya kan gue ngekost disini." ucap Noa dan Tera hanya mengangguk.
"----mau ke kamar gue?"
Tera ragu, ia beralih memandang dua akang. Mereka hanya tersenyum. Tera kemudian memandang Noa. Tak menunggu persetujuan darinya, Noa menarik Tera ke dalam kamar.
__ADS_1
"Ini kamar kost gue. Maaf berantakan. Mau gue bikinin minum?" kata Noa.
"Gak usah." jawab Tera singkat.
Matanya berkeliling memperhatikan kamar tersebut.
"----lo ngekost disini. Gak punya rumah?"
"Punya. Gue pindah-pindah sesuai tugas Bunda. Rumah itu di kontrakin, dan gue nempatin rumah dinas Bunda di setiap kotanya." terang Noa.
Tera mendengarkan dengan seksama. Noa tak pernah membayangkan bisa mengobrol seperti ini dengannya.
"Lo anggep ini 'rumah'?" tanya Tera ambigu.
Noa mengangguk. "Hm, disini gue nemuin arti keluarga."
"Gue juga pengen kayak lo." gumam Tera nyaris seperti bisikan.
"----gue pengen punya keluarga."
"Lo ngekost disini aja. Ini bukan cuma kost khusus putra." kata Noa.
"Gak bisa. Gue cuma punya toko jam dan berbagi hasil dengan orang laen. Kalo gue ngekost, gue gak bisa nabung buat kuliah." terang Tera.
"Orang tua lo?" tanya Noa yang memandang wajah Tera lekat-lekat.
Tera balas memandang Noa. Ada kesedihan disana. Air mata hampir menetes, menggenang di pelupuk matanya.
"Gak ada. Udah gak ada."
"Maaf."
Tera mengangguk. Ia menunduk dalam. Noa mengangkat dagu Tera perlahan hingga Tera sedikit mendongak, wajahnya di sejajarkan dengan wajah Noa.
"Jangan sedih. Gue gak suka."
Noa menangkup pipi Tera dengan kedua tangannya, ia menghapus bulir air mata yang baru menetes. Tera memejamkan matanya, dan Noa memberanikan diri mengecup Tera.
Noa menjauhkan sedikit wajahnya setelah kecupan itu untuk melihat ekspresi Tera. Nyatanya hanya ada kesedihan. Noa tak suka itu. Ia mendekatkan kembali wajahnya, bahkan menempelkan bibirnya di bibir Tera yang bergetar menahan tangis. Noa pun mengecup lembut beberapa kali.
Entah sejak kapan di mulainya, kecupan itu menjadi ciuman yang dalam dan begitu menghangatkan. Tak seperti sebelumnya, kali ini Tera membalas ciuman Noa. Saling melilitkan lidah bagaikan mempererat hubungan yang tak ingin berakhir. Mereka melakukannya dengan perlahan seperti menyalurkan perasaan masing-masing.
Tera menautkan alisnya, mungkin ia sedang memikirkan lebih dari satu hal. Perasaannya campur aduk, setidaknya ia masih menikmati ciuman ini.
Noa bergumam. "Maaf."
Tera hanya mengangguki gumaman itu. Tentunya mengantar Tera sampai rumah menjadi tugas Noa, tak akan tega Noa membiarkannya pulang sendiri. Ia meminta kunci motor kepada kang Jhon dan mengantar Tera pulang ke rumahnya.
"Ini motor lo?" tanya Tera mengawali percakapan lagi setelah ciuman tadi.
"Hem..." jawab Noa.
"Lo punya motor tapi naek kendaraan umum mulu pergi pulang sekolah." kata Tera heran.
"Ada yang lebih butuh pake motor ini dibandingkan gue sekarang." ujar Noa.
"Lo aneh." kata Tera.
Noa tak menjawab perkataan itu, hingga sampailah di depan rumahnya, Tera pun turun dari boncengan.
"Mimpi indah, Tera." ucap Noa pelan.
Tera hanya memandang wajah Noa tanpa menjawab ucapan tersebut dan tanpa ekspresi di wajahnya.
"Masuk, udah hampir malem." ucap Noa lagi.
Tera masih berdiri di samping motor Noa. Lama Noa tunggui, tetapi Tera tak beranjak sama sekali. Noa pun turun dari motor dan menggandeng tangan Tera hingga ke depan pintu rumah.
"Kunci rumah." pinta Noa.
Tera memberikan kunci pintunya, Noa membuka pintu itu lebar-lebar. Ia mendorong pelan Tera ke dalam rumahnya. Sebelum menutup pintu, ia sempatkan mengucapkan satu kalimat untuknya.
"Kak, kutunggu secondmu."
'Kak. . .kutunggu secondmu.'
'Kutunggu secondmu.'
Noa melihat Tera menegang seketika. Ekspresinya tertangkap indera penglihatannya. Setelah menutup pintu rumah Tera, Noa menuju motor yang terparkir dan pergi dari sana.
Noa tak tahu ini sebuah kemajuan atau harapan berlebih atas perjuangannya Yang ia tahu, hanya Tera yang sampai detik ini memenuhi pikiran dan hatinya. Kata hati belum berucap menyerah. Mungkin tak akan pernah terucap.
Perlahan, Tuhan mulai membuka tabir cinta. Asmara yang diidamkan perlahan mulai tercipta. Ini bukan harapan kosong belaka. Tuhan belum berkata 'tidak'.
Jika Tuhan bisa membolak-balikan hati seseorang, Noa berharap hati Tera berbalik untuk mencintainya yang begitu mencintainya.
***
Tbc
__ADS_1