Kakak Gemes

Kakak Gemes
Tera=mine


__ADS_3

"Jalan yuk."


"Kemana?"


"Terserah lo."


"Kok terserah gue. Bingung gue. Hm, gue lelah nih, abis jogging." alibi Noa.


Sandy masih keukeuh. "Ke rumah gue aja kalo gitu."


"Hah?"


Noa tak bisa membuat alibi lagi.


Sandy beranjak pergi. "Gue tunggu ya." Dan dia berlalu meninggalkan kosan.


Rima dan kang Jhon memandangi Noa dengan wajah datarnya. Noa mengedikan bahu acuh tak acuh.


Rima angkat bicara. "Naksir dia tuh."


Kang Jhon angguk membenarkan.


"Bener. Dia naksir lo, Noa."


"Gue udah punya taksiran, kang."


Noa mengingatkan kang Jhon.


"Masih naksir belum jadi pacar kan." kata Rima.


Noa mengangguk. "Iya sih. Tapi gue gak mau pacaran kalo bukan sama dia."


"Yakin sekali kau, anak muda." kata kang Acep yang baru keluar dari kosan.


"Harus lah, kang." kata Noa yakin.


"Tuh, dia nungguin di rumahnya. Samperin, gih." kata Rima mengingatkan sambil menunjuk ke arah depan. Ke rumah Sandy. Membuat Noa beranjak dari duduk lalu mulai melangkahkan kakinya.


"Mandi dulu, kampret." kata kang Acep yang mencegah Noa yang sudah berjalan ke pagar kosan. Ia menyeret leher kaus Noa menuju kamar mandi.


Dalam keadaan bersih dan wangi, Noa pun bergegas ke rumah Sandy. Gerbang rumah itu tak di tutup, bahkan dibiarkan terbuka lebar.


Sandy sudah menunggu Noa di depan pintu rumahnya. Ia mengajak Noa memasuki rumahnya yang aduhai sepi sekali. Noa duduk santai dan bermain PS bersama Sandy.


"Ehm, Noa. Lo udah punya pacar?" tanya Sandy menghentikan acara main PS.


Noa pun berhenti main dan menjawab pertanyaan itu.


"Belum."


"Jadi pacar gue, mau?"


"Lo nembak?"


Noa menoleh ke samping.


Sandy mengangguk pasti. Noa pun mengubah posisi agar berhadapan dengan Sandy, membelakangi game yang barusan ia mainkan.


"Kalo gue belum naksir orang laen, mungkin gue bakal terima lo." ucap Noa.


"Jadi sekarang lo gak bisa terima gue?" kata Sandy lesu.


Noa mengangguk. Tiba-tiba ponselnya bergetar, ada chat dari Tera. Isinya, ia ingin main ke kosan. Tentunya Noa tak berkeberatan.


"Ada temen gue yang mau ke kosan. Ntar gue maen lagi. Daah." pamit Noa.


Ia meninggalkan Sandy yang masih diam menunduk. Tera sebentar lagi datang dan Noa senang bukan kepalang, lupa bahwa seseorang kecewa atas perlakuannya.


"Oh, kamu mau kesini. Oke, aku tunggu." kata Rima ke seseorang di sebrang sambungan telepon setelah Noa memasuki kosan.


"Bakal ada tamu ya?" tanya Noa kepada Rima saat Rima selesai menelepon.


Rima tersenyum dan menjawab. "Iya, pacar gue."


'Nah, loh. Pacar yang mana? Gue penasaran, gue mesti tanya langsung nih.' pikir Noa.


"Siapa namanya, teh?" tanya Noa.


"Jati." jawab Rima singkat.


Ia tersenyum kepada Noa kemudian lanjut mengotak atik ponselnya.


'HAH? Jati? Lah, Tera kan mau kesini juga. Gue harus ngapain? Gue panik.' batin Noa yang awut-awutan.


"Gue mau jemput dia di jalan depan dulu." pamit Rima.


Noa senyum terpaksa. Kang Acep ternyata masih doyan menguping. Ia keluar dari kamarnya.


"Pacar si Tera?" kata kang Acep menunjuk wajah Noa.


"Hm, si Tera mau kesini juga sekarang." kata Noa sok kalem.

__ADS_1


"Duh, panas perut gue." kata kang Jhon tanpa ada kesan nyambung. Ia baru keluar toilet.


"---ada apaan? Muka lo berdua tegang kayak menara sutet."


"Menara sutet mah tegangan tinggi." sewot kang Acep.


"Yang penting ada kata-kata 'tegang' nya. cengir kang Jhon.


"---what happen, kawan?"


"Tera mau kesini." jawab Noa.


"Ah, itu mah udah biasa, Noa." kata kang Jhon kalem.


Kang Acep menimpali. "Pacar si Rima mau kesini."


"Ah, biarin aja atuh." kang Jhon masih mode kalem.


"---namanya siapa?"


"Jati." jawab kang Acep.


"Oh, nama yang bagus. Terus apa masalahnya dong?"


Kang Jhon masih belum mencolokan kabel-kabel di otaknya jadilah ia gagal paham.


"Jati pacarnya Tera." jawab Noa masih sok kalem.


"Oh,....HAH?"


Kang Jhon berteriak. "---masalah besar. Amankan."


TOK TOK TOK


Serempak semua menoleh ke arah pintu utama kosan.


"Tera." seru Noa.


"Gyaaahhh..."


Teriakan kang Acep memang tak penting dan tak berfaedah.


"Ke-kenapa?" gagap Tera.


Jelas ia kaget dengan teriakan yang di ciptakan kang Acep.


Kang Jhon teriak. "Amankan !!!"


"Kenapa sih?" tanya Tera.


Noa tak menjawab pertanyaan Tera. Ia mencoba mendengarkan suara-suara di luar sana. Ada suara perempuan yang pastinya Rima dan suara pria asing yang Noa tebak adalah pacar Tera alias Jati.


Noa membatin. 'Itu pasti Jati pacarnya Tera. Duh, kalo gini namanya selingkuh combo dong. Gue ajak Tera selingkuh juga.'


"Oh, ini kosan baru kamu, beb?" kata suara pria tersebut yang sudah di duga adalah Jati. Sang tersangka.


"Iya." kata suara Rima.


Noa tetap setia mendengarkan. Tera yang berdiri sedikit bersandar pada pintu jelas mendengar juga suara di luar kamar.


"Kok kayak kenal suaranya."


Tera bermonolog. Ia hendak membuka pintu kamar.


Noa tak bisa membiarkan acara kepergok selingkuh ini. Tanpa pikir panjang, ia menutup kedua telinga Tera menggunakan telapak tangannya.


Tera kaget, wajahnya menampilkan ketakutan. Sepertinya Noa harus membuat Tera tak mendengarkan suara-suara yang lainnya lagi. Ia pun mengalihkan perhatian Tera dengan memasangkan headset yang sudah tersambung dengan ponselnya. Tera terkejut akibat musik bervolume tinggi. Yang ia dengar hanyalah suara teriakan-teriakan tanpa ia mengerti apa liriknya.


"Enak gak musiknya?" tanya Noa.


"Hm, gue gak paham." kata Tera bingung.


Sedangkan ia tak mendengar pertanyaan Noa. Ia hanya membaca gerak bibir Noa saja. Wajah bingung Tera menjadi pusat perhatian.


Noa membatin. 'Adeuh, dia emang gemesin.'


Noa nyengir kala Tera mengernyit. Tangannya mencoba membuka headset, berharap bisa mengusap telinga yang mulai budeg. Namun Noa menggagalkan aksi penyelamatan Tera terhadap telinganya sendiri.


Tera merasa telinganya mulai tuli. Ia juga seperti merasa banyak kotoran di telinganya hingga ngeri membayangkan tak bisa mendengar kembali. Dan Tera membayangkan telinganya mati rasa. Tera mulai halu.


Noa dicubiti Tera yang memberikan kode bahwa ia sudah tak kuasa mendengarkan suara yang terlalu metal ini. Noa mengaduh kecil namun tetap bertahan dengan posisinya. Masih memperhatikan Tera, ia pun sekaligus mendengarkan percakapan di luar kamar. Tampaknya keadaan masih belum aman.


"Ini tuh kosan putra sama putri?" tanya Jati yang masih setia Noa dengarkan dari balik pintu kamarnya.


Sedangkan Tera masih berusaha mencubiti perut Noa demi menyelamatkan telinganya dari ketulian. Noa meringis namun fokusnya tetap pada percakapan di luar sana.


Terdengar suara kang Acep yang menjawab pertanyaan dari Jati.


"Iya kosan putra sama putri. Tapi dulu kosan putri tuh seatap sama Ibu kost karena sampe kemarenan kamar kosan disini penuh dan yang ngekost cowok semua."


"Oh gitu..." tanggap Jati.

__ADS_1


"Beb, mendingan kita makan cilok buatan aku aja. Aku udah siapin di dapur."


Terdengar pula suara Rima yang mengajak Jati ke dapur.


"Wah...ciloknya pedes gak, Rim?"


Kang Jhon anti kapok perutnya kumat memberikan sinyal ingin ke toilet.


"Super pedes..." jawab Rima.


"Ajib...yuk, angkut ke perut..." ajak kang Jhon.


Langkah kaki yang menjauh membuat Noa sedikit bernafas lega pasalnya ia bisa membawa Tera keluar dari kamarnya. Namun sepertinya ia lupa bahwa Tera barusan memprotes perlakuannya terhadap sepasang telinga yang tak ada cadangannya.


Wajah Noa menghadap lurus pada wajah Tera yang meringis. Noa menampilkan sederet gigi putih rapinya. Ia nyengir sekaligus ikut meringis melihat pujaan hatinya menderita akibat perbuatannya.


"Aduh..maaf..gue lepas ya..." ucap Noa yang merasa bersalah.


Ketika Noa membuka headsetnya dan telinga Tera masih utuh tanpa ada lumeran yang keluar dari lubang telinganya, Noa tetap mendapatkan geplakan di bahunya.


Noa mengaduh. Tera murka.


"Eits...stop..sebagai permintaan maaf, mendingan gue ajak lo makan di luar aja. Gimana?" nego Noa.


Tera berpikir sejenak. "Oke. Tapi anter gue dulu ke Dokter THT. Gue takut kuping gue keluar yang lumer-lumer."


"Apa tuh yang lumer? Yang gue tau, yang lumer itu hati gue pas lo tatap penuh cinta." ujar Noa.


Tera menoyor kening Noa. "Ngimpi lo. Bangun dong, wahai tukang ngimpi. Kapan gue tatap lo penuh cinta."


Noa tersenyum jahil. "Alah, masih aja tsuntsun. Jangan pura-pura gitu ah. Ngaku aja kalo lo sekarang udah mulai terpercik api asmaranya gue."


"Hoeeekkk..."


Tera menirukan gaya muntah yang di tanggapi tawa renyah Noa.


"Padahal gue belum apa-apain lo. Tapi lo udah muntah-muntah gitu. Tokcer banget ya." canda Noa.


Tera hanya membalas candaan itu dengan toyoran berulang kali. Ck, Tera memang durhaka terhadap calon suami. Ups...


Akibat toyoran di keningnya, Noa seakan diingatkan tentang sesuatu. Ia menghentikan pergerakan tangan Tera yang lincah sekali saat melakukan tindak kedurhakaan.


"Oh gue punya sesuatu buat lo. Mumpung lo ada disini."


Noa tak menghiraukan tatapan heran dari seseorang di hadapannya. Ia membungkuk sedikit untuk meraih kotak yang masih di tutup rapi.


"---coba buka. Kali aja lo suka."


Tanpa perlu berbasa basi, Tera pun membuka tutup kotaknya. Ia disuguhkan satu hadiah yang tampak manis. Satu baju tidur dengan gambar wanita berkepang.


"Ini buat gue?" tanya Tera.


Noa menjawab cuek. "Bukan. Itu buat gue pake maen bola di acara tujuh belasan nanti."


Tera kembali mencubit perut Noa. "iih yang bener. Ini seriusan buat gue?"


"Iya, nona..."


Noa mengusap perutnya yang linu bekas di cubiti oleh pujaan hatinya.


Tera tersenyum kecil. "Makasih..."


Noa pun membalas senyuman itu. "Sama-sama. Yuk makan yuk."


Tera mengangguk. Tampaknya ia lupa minta di antar ke Dokter THT. Mungkin telinganya ikut senang mendapat sogokan dari Noa.


Mereka keluar kamar dengan Noa yang pecicilan melihat ke sekeliling membuat Tera curiga. Ketika hendak bertanya, Noa mengajaknya berjalan cepat keluar dari kosan.


Tiba-tiba...


"Noa...makan cilok buatan gue yuk..." seru Rima.


Tera hendak menengok ke asal seruan itu, namun Noa mengajaknya berjalan keluar melewati pagar kosan dengan langkah yang lebih cepat. Tera sempat menunjuk salah satu motor yang terparkir sebelum melewati pagar kosan.


Noa balik berseru. "Ogah...cilok lo bulet. Gue maunya yang kotak."


Rima membalas. "Gila lo..."


Dan hentakan kaki membuat Noa tahu tanpa perlu menengok bahwa Rima sudah tak ada di belakangnya.


Tera berkata. "Kok tadi motornya mirip sama pu-..."


"Bukan..bukan..ayo cepet, gue udah laper..." sela Noa.


"iih ngebet amat sih lo..."


"Emang gue ngebet sama lo..."


***


Tbc

__ADS_1


__ADS_2