
"Lo liat? Ini replika bintang. Gue dan Noa masing-masing punya satu. Apa ya sebutannya? Couple."
Sandy memamerkan replika bintang berwarna silver itu pada Tera. Ia mengikuti Tera ke toilet. Yang Tera lakukan hanya diam. Tera melihat benda berkilau itu dan katanya Noa pun mempunyai pasangannya.
"Dia gak punya itu." kata Tera.
Sandy berkacak pinggang. "Tau dari mana lo? Cek sana. Dia mungkin masih simpen di suatu tempat. Tentang perasaan yang terbalas. Benda yang penting buat dia."
"Gak. Lo bohong." keukeuh Tera.
"Terserah lo. Percaya atau enggak."
Sandy pergi dari toilet. Meninggalkan Tera dengan satu pertanyaan.
Apa mungkin Sandy seorang yang penting untuk Noa. Sampai mereka mempunyai benda sepasang yang dimiliki satu untuk masing-masingnya.
Tera percaya kepada Noa. Kekasihnya bukan tipe pembohong. Tetapi, apa salahnya mengecek kebenarannya.
Tera keluar toilet dengan rambut yang acak-acakan akibat menggaruk kepala saking ia ingin mempunyai jawaban yang tepat dari pertanyaannya sendiri.
Ia sempatkan merapikan kembali rambut itu sebelum ia menghampiri Noa di kantin. Noa tersenyum menyambut kedatangannya. Noa sudah memesankan makan siang untuk Tera.
"Makan, baby. Mumpung masih panas." kata Noa.
Mangkuk berisi bakso penuh dengan mie dan sayurannya tak menggugah selera Tera saat ini. Ia ingin segera pulang dan mengecek kebenaran atas ucapan Sandy barusan.
"Kok gak di makan?" tanya Noa.
Ia berhenti menyuap makanan ke mulutnya saat menyadari Tera hanya memandangi mangkuk bakso itu. Tak sedikit pun Tera sentuh.
"Lagi gak enak badan." gumam Tera.
Noa berdiri dan berpindah duduk ke samping untuk menyentuh dahi Tera.
"Gak panas. Mau aku anter ke UKS? Atau ijin pulang aja?"
"Gak usah. Aku ada ulangan udah istirahat ini."
Bahkan suara Tera pun tak seluruhnya terdengar oleh kekasihnya.
Noa melihat gerak bibir Tera agar memahami apa yang Tera ucapkan. Ia mengangguk mengerti.
"Kalo gak kuat bilang sama aku ya. Nanti aku mintain ijin pulang buat kamu."
Noa begitu mencemaskan Tera. Tak berubah. Tetapi ucapan Sandy membuat Tera tetap penasaran. Tera takut, Noa dengan sikap baik dan perhatiannya adalah sebuah tipuan.
"Dimas sama Ahmad mana ya? Kamu tau gak, baby?" tanya Noa.
Ia celingukan mencari dua sosok pengabdi ketan itu.
"Mereka lagi belajar. Ahmad mau ulangan. Dimas mau remedial." jawab Tera.
Noa mengangguk. Ia melihat sekeliling beberapa lama. Kantin ramai dengan kesibukan masing-masing. Yang menikmati makanan, yang mengobrol. Semuanya berbaur.
Noa mengecup pipi Tera. Tak disangka ia akan berbuat seperti ini di kantin yang ramai. Tapi rasanya Tera tak perlu khawatir. Lagipula siswa disini orang-orang yang cuek pada sekitarnya. Mereka hanya peduli pada ponsel canggih dengan banyak fitur yang menghibur. Bukan melihat pasangan yang bermesraan.
Bel masuk berbunyi. Tanda istirahat telah berakhir. Akhirnya Tera bisa bernafas lega. Ia terlepas dari tatapan Noa. Rasanya sesak saat ia harus selalu menahan nafas kala Noa menggodanya.
Ulangan harian pun rasanya sulit. Ia harus mengumpulkan konsentrasi pada soal-soal yang kini terpampang di atas meja.
Menjawab sebisanya, Tera kumpulkan saat jam mata pelajaran berganti. Jam pelajaran terakhir untuk hari ini tak bisa mengajaknya untuk berkonsentrasi.
Tera merasa lelah. Keringat bercucuran semakin deras. Tera merasa sekelilingnya terlihat semakin menghitam. Suara-suara seperti berdengung. Dan setelah itu ia seperti di terbangkan oleh angin. Entah akan di bawa kemana.
Ia merasakan belaian lembut di pipi. Tetapi sepasang matanya tak ingin terbuka.
Bisikan itu, suara yang sangat Tera kenal. Suara Noa.
Tera berusaha untuk membuka matanya yang terpejam. Berat rasanya. Perlahan matanya terbuka. Bahkan rintihan yang keluar dari mulutnya pun terdengar oleh telinganya sendiri.
Ia melihat sekeliling. Ini bukan kelasnya. Saat melihat sekitar. Tak ada teman-teman yang duduk seperti biasanya.
Dan ia menyadari, ia terbaring di ruang UKS. Ia bertanya-tanya mengapa ada di ruangan ini.
Bisikan lirih dari samping ranjang membuatnya menoleh. Noa menggenggam tangannya. Mengecup tangan kanannya dan mengusap jarinya terutama yang tersemat cincin berkilauan disana.
"Tera...sayang..."
Lagi. Noa berbisik berulang kali. Ia menatap mata Tera yang kini telah terbuka sempurna.
Noa kembali mengecup tangan Tera. Lama, tak seperti sebelumnya. Ia pun menggesekan pipinya di punggung tangan Tera.
"Mana yang sakit?" tanya Noa.
Menggelengkan kepala, hanya itu yang bisa Tera lakukan untuk menjawab pertanyaan Noa. Tak ada yang sakit. Bahkan hatinya pun tidak.
__ADS_1
"Kamu pingsan." kata Noa.
Tera berusaha untuk mengucapkan sesuatu pada Noa. Hanya satu kata. Nama kekasihnya. Satu yang mampu ia ucapkan saat ini.
"Noa..."
"Iya, baby..."
Noa menantikan kelanjutannya. Tetapi mulut Tera seakan bungkam. Tera hanya memberikan tatapan yang hanya Noa yang mengerti maksudnya.
Noa membangunkan Tera untuk duduk. Ia memeluk erat. Ia mengerti. Ini yang Tera inginkan.
Ia selalu membisikan kata cinta yang tak berhenti terucap. Ia memeluk erat tanpa melepaskan. Bahkan saat Tera merintih tak tahu apa penyebabnya, dirinya mengusap pelan punggung Tera. Menyamankan. Lembut. Menenangkan.
Bahkan bel pulang telah berbunyi. Noa belum melepaskan pelukannya. Bagaikan genderang perpisahan yang dibunyikan tak membuat Noa melepaskan cintanya.
Bisikan penuh cinta, ia ucapkan tanpa lelah. Nyaman. Membuat kondisi Tera berangsur-angsur membaik.
Saat sekolah telah sepi, Noa membawa Tera keluar ruang UKS. Dimas dan Ahmad pun telah setia menanti di luar ruangan. Dimas membawakan tas Noa. Dan Ahmad tak ketinggalan membawakan tas milik Tera.
Jaket Noa kini berpindah dari tangan Dimas ke tubuh Tera. Noa tak mengijinkan Tera untuk berjalan. Ia menggendong Tera melewati parkiran.
Noa membawa Tera menuju taksi yang supirnya telah siap membuka pintu. Sekilas Tera melihat motor Noa di bawa oleh Ahmad. Dimas pun mengikuti dengan motornya mengikuti taksi yang mereka naiki.
Sepanjang perjalanan, Noa memeluk Tera. Akhirnya, tanpa di sadari Tera tertidur dan saat terbangun yang ia lihat adalah kamar kosan Noa. Tanpa Noa di dalamnya.
Ketika bangun dengan perlahan, Tera teringat ucapan Sandy. Tentunya ia mencari-cari benda itu. Replika bintang.
Menurut Sandy, benda itu penting. Bila penting pula untuk Noa sepertinya Tera tahu dimana benda itu tersimpan.
Lemari itu. Hanya itu yang menurut Noa tempat penyimpanan barang-barang pentingnya.
Untuk pertama kalinya ia membuka laci dalam lemari itu dan melihat isinya. Di dasar laci, benda itu berkilauan. Replika bintang itu berada disana, menunjukan kilauannya agar menarik perhatian dan memamerkan bahwa memang benda itu sangat penting.
Mengeluarkan benda itu dari laci, Tera memperhatikan lekat-lekat. Iya, ini sama persis dengan yang Sandy pamerkan siang tadi di toilet.
'Pentingkah? Seberapa penting?
Harus gue tanyakan pada Noa.' pikir Tera.
Benda itu ia simpan bukan di dalam kotak lagi tetapi di bawah bantalnya. Ia duduk memeluk lutut sampai Noa akhirnya masuk kamar dan melihatnya telah bangun dari tidur.
"Baby, udah enakan?"
Pertanyaan itu tak Tera jawab. Masih dengan memeluk lutut dan wajah yang ia sembunyikan, Tera merasa tangan Noa mengelus lembut rambutnya.
"Noa, lemari itu penting buat kamu?" tanya Tera.
Noa melihat sekilas ke belakang. "Gak penting sih. Isinya yang penting."
"Isinya? Semua penting?" tanya Tera lagi.
Noa mengangguk. "Iya. Penting."
"Walaupun benda itu gak bisa kamu pakein buat aku?"
Pertanyaan Tera membuat Noa menautkan alisnya.
"Euh, emang ada yang gak bisa di pake? Kan baju itu bisa di pake kamu."
Jawaban Noa tak bisa dijadikan akhir dari kecurigaan Tera.
Akhirnya, Tera meraih replika bintang dari bawah bantal. Ia memperlihatkan benda silver berkilauan di depan wajah Noa. Dan reaksi Noa sungguh tak bisa Tera duga sebelumnya.
Noa mengambil benda itu dari tangan Tera, ia melihatnya dengan wajah sumringah.
"Kamu nemuin ini dimana, baby?"
"Pentingkah buat kamu?" tanya Tera yang mengabaikan pertanyaan Noa.
"Penting, baby. Itu kan pember-..."
"Cukup."
Tak disadari oleh diri sendiri, Tera berteriak membentak dan menyela ucapan kekasihnya.
Noa terdiam, tak ada niatan untuk kembali melanjutkan ucapannya yang terpotong dan masih menggantung itu.
Tera bangkit berdiri dengan terburu-buru membuat keseimbangannya hilang. Tubuhnya limbung. Rasanya kejadian di kelas siang tadi kini terulang lagi.
Tera tak tahu apa yang terjadi setelah itu. Niatnya untuk pergi dari kosan Noa, hanya itu yang terakhir ia ingat.
Seseorang membuka pintu kamar. Saat terbuka, di ambang pintu menampakan sosok Noa membawa nampan. Wangi bubur menguar, tercium oleh hidung. Wanginya menggugah selera, rasa lapar melanda secara tiba-tiba.
Ia duduk di samping Tera yang berbaring. Noa menyimpan nampan itu dan membantu Tera bersandar di dinding. Dengan perhatiannya, ia menyandarkan Tera dengan bantal empuk membuat Tera duduk dengan senyaman mungkin.
__ADS_1
Dengan telatennya ia menyuapi Tera. Bubur itu enak, menurut Tera. Wanginya yang menggugah selera, seimbang dan pas dengan rasanya.
Setelah bubur habis, ia mengulurkan gelas berisi air mineral. Tera minum setengahnya. Noa kembali mengambil benda kecil di atas nampan.
Ternyata itu adalah obat. Ia menyuruh Tera untuk minum obat itu sembari mengulurkan gelas berisi separuh air minum yang tersisa.
Obat itu kini telah tertelan dengan sisa air yang membasahi bibir Tera. Di usapnya pelan oleh jari Noa. Ia membersihkan bibir Tera.
Tanpa mengucapkan apa-apa, ia pergi dengan nampan yang ia bawa. Meninggalkan Tera sendirian kembali di kamar.
Tera membatin. 'Rasanya perih saat dia gak mengucapkan sepatah kata pun untuk gue.'
Tak tahan lagi berada di kamar itu, Tera berusaha sekuat tenaga untuk bangkit berdiri. Pusing masih mendominasi. Bahkan kakinya tak kuat menopang beban tubuhnya saat ini.
Ia kembali terjatuh tetapi tetap dengan kesadaran untuk saat ini. Ia berusaha untuk kembali bangun dan berdiri.
Kali kedua berhasil, tetapi tetap saja hasilnya sama. Kakinya tak bisa menahan untuk tetap berdiri dan melangkah berjalan dari posisinya.
Ia merasa dunia berputar-putar. Pintu kamar terbuka bertepatan dengan limbungnya kembali tubuh itu.
Ia lemas dalam pelukan Noa yang sigap menangkap tubuhnya sebelum menyentuh lantai. Bahkan dengan kesadaran yang masih tersisa, ia tahu Noa bergegas menggendongnya keluar kosan.
Noa berlari. Sesekali Noa melihat Tera dalam gendongannya. Terlihat wajah cemasnya yang sangat kentara. Terlihat kesedihannya di wajah sendu itu saat ini.
Ia menangis dalam berlarinya. Air mata menetes terkena pakaian Tera. Membasahi dada Tera.
Noa terus berlari dengan Tera yang lemah dalam gendongannya. Berusaha untuk tetap tersadar, Tera ingin melihat semua yang Noa lakukan. Walaupun nafas yang tersengal bahkan terbatuk-batuk Noa tetap berlari.
Walaupun banyak pasang mata memperhatikan mereka. Noa tak peduli. Noa terus berlari tanpa henti. Ia berhenti di dalam sebuah rumah sakit yang tak begitu jauh dari kosan.
Ia membawa Tera ke dalam ruang pemeriksaan padahal orang-orang yang berada di ruang tunggu pun harus bersabar menunggu giliran.
Satu orang pasien yang sedang di periksa dokter pun terkejut. Ia bangun dan duduk di tepian ranjang. Dokter dengan ketenangannya mempersilakan Noa untuk membaringkan Tera. Bahkan si pasien itu keluar ruang pemeriksaan. Mengalah untuk Tera.
Noa mendampingi Tera, ia berdiri menatap tanpa berkedip selama dokter memeriksa keadaan kekasihnya. Dokter tersebut menyentuh perut Tera dan menekan pelan.
Ia mengoleskan sesuatu di perut Tera dan menempelkan benda yang ia gerakan di sekitar perut Tera. Mata dokter itu terus melihat pada monitor.
"Ini pacar kamu?" tanya Dokter tersebut usai memeriksa keadaan Tera.
"Iya, dok. Pacar saya." kata Noa dengan santainya.
"Kamu sadar gak, kalo kamu bawa pacarmu ini ke ruangan apa?" tanya Dokter itu.
"Saya gak liat, Dok. Langsung masuk aja saking paniknya." jawab Noa dengan santainya.
Bahkan dokter itu pun rasanya heran melihat ketenangan Noa yang mengatakan dirinya tadi sedang panik.
"Ini ruangan spesialis Dokter kandungan." jelas sang Dokter.
Noa manggut-manggut. "Oh, pantesan tadi pasien Dokter di dalem sini ibu hamil. Tadi kayaknya di ruang tunggu juga yang berbadan dua semua."
Dokter tersebut geleng kepala. Noa nyengir santai. Sedangkan Tera menghela nafas seraya mengusap dada, ia kesal di tambah malu atas kejadian saat ini.
Akhirnya, Noa membawa Tera ke ruangan pemeriksaan yang benar. Tera hanya kurang darah.
Resep telah di tebus. Plastik obat kini di bawa oleh Noa. Ia kembali menggendong Tera. Bila tadi ia panik dan berlari. Kini Noa menyetop taksi. Mereka pun kembali pulang ke kosan.
Saat kantuk tiba dan mata ingin terpejam, Noa memasuki kamar membuat Tera melupakan kantuknya untuk sementara waktu.
"Aku bikinin susu hamil." kata Noa.
Ia mengacungkan gelas berisi susu dan membawanya ke hadapan Tera.
Duduk di atas kasur, Noa menunggui Tera untuk meminum habis segelas susu itu. Namun Tera menjewer telinga Noa. Cadasnya Tera kambuh lagi.
"Aku kan gak hamil..."
"Hehehe..."
Noa cengengesan di pandang sinis oleh Tera.
"Coba jelasin tentang replika bintang itu." titah Tera.
"Hem, kamu belum dengerin penjelasan aku sampe beres udah bentak aku aja." kata Noa.
"Maaf...." sesal Tera.
"Iya, gapapa. Kamu harus denger versi lengkapnya. Replika bintang itu pemberian Sandy. Sebelum kita jadian. Dia kasih replika itu untuk aku simpan. Karena itu pemberian dari seseorang yang peduli, aku simpan sampe saat ini." jelas Noa.
"Maaf..." lirih Tera.
"Iya cantik..."
***
__ADS_1
Tbc