Kakak Gemes

Kakak Gemes
Mendadak jomblo


__ADS_3

BRAAAAKKK !!!


"GUE MENDADAK JOMBLOOOO..."


Krik krik krik...


Semua pasang mata memandang ke arah yang sama. Hanya satu arah. Pintu yang di buka lebar secara kasar. Pelaku kejahatan dan penganiayaan terhadap pintu tersebut yaitu Rima. Dia manusia yang tidak berprikepintuan.


Rima berjalan tiga langkah memasuki kosan. Tiga langkah yang mendekatkan dirinya kepada empat penghuni kosan lainnya. Mereka berempat sedang menikmati martabak rasa ngidam Tera. Noa yang melihat kekusutan yang hakiki dari seorang Rima pun akhirnya tak jadi menggigit martabaknya. Menggantung begitu saja di depan mulutnya.


Ah, yang penting Noa itu lelaki bertanggung jawab. Ia tak pernah menggantungkan sebuah hubungan. Ia tak pernah di gantung dalam sebuah hubungan pula. Karena Noa memang tidak mirip dengan baju basah yang nasibnya selalu di gantung.


Rima menjambak rambutnya dengan sangat frustasi. Tera mengusap-usap perutnya seraya mengucapkan 'amit-amit' saat melihat tampang Rima yang terlalu buluk.


Rima berjalan terus ke depan pintu kamarnya. Ia terus mengacak-acak wajahnya. Untungnya ia tak berinisiatif untuk mengacak-acak isi toilet dan bak sampah depan kosan.


Rima melebarkan tangannya dengan teriakan membahana seantero kosan yang sederhana itu.


"GUE MENDADAK JOMBLO."


Krik krik krik


"Loh, kok gak ada yang nanggepin? Apa gue kurang menghayati?" batin Rima.


"Kenapa ai sia teh?" tanya kang Jhon.


"GUE MENDADAK JOMBLOOO..." teriak Rima tepat di depan wajah kang Jhon.


Angin badai menerpa wajah kang Jhon yang jantan itu berikut dengan percikan yang berasal dari ombak dalam mulut Rima atau kita lebih mengenalnya sebagai kuah.


"Elah, kuah lo. Bisa gak gue mesen yang gak berkuah. Gue pesen yamin." kata kang Jhon.


"Mie bakso kali ah. Tumis aja sih." balas Rima.


Percikan ludah atau kuah itu membasahi wajah kang Jhon yang sedang datar memandangi Rima.


Ucapan yang berkuah itu belum bermerk dan belum ada di iklan. Mungkin nanti Noa yang akan menjadi pengusaha kuah rasa soto gigi.


"Eh gue mau kasih tau ke kalian semua, gue jomblo tau." kata Rima.


"Pamer lo." kata kang Jhon.


"Gue JOMBLOOOOO." teriak Rima.


Krik krik krik...


"Ah, yaudahlah. Kalian minim ekspresi."


Rima mengibaskan tangannya asal.


"ooooooooohhhhhh...." koor empat makhluk pemakan martabak rasa ngidam itu.


Rima yang tadinya hendak memasuki kamarnya pun segera duduk di kursi yang tersisa karena ternyata empat makhluk minim ekspresi itu menanggapinya.


"Cowok lo emang kenapa, Rim?" tanya kang Jhon dengan wajah serius.


Ia yakin masalahnya tak jauh dari yang Tera alami dahulu.


"Dia penebar cinta. Dia itu bagaikan nelayan yang menebar jaring dan gue ikan yang dia pancing. Dia itu bagaikan petani yang menebar bibit dan gue buah yang di lupakan buat di panen karena ada buah laen yang lebih bagus dan menggoda."


Rima menghembuskan nafas kasar. Ia benar-benar patah hati jadi dua.


Noa dan Tera berpandangan. Noa melihat ekspresi cuek Tera yang mengedikan bahu seakan dia sudah mengetahui bahwa akhirnya akan seperti ini.


Kang Acep hanya manggut-manggut seakan memahami. Kang Jhon pun seakan mengasihani Rima dalam diamnya.


Kang Acep menyeletukan satu kalimat di keheningan yang tercipta saat ini.


"Rim, lo jomblo yang bakal di zolimi. Lo gantinya si Jhon."


Rima menoleh, ia mengacungkan jari tengahnya kepada kang Acep yang sedang menebarkan ancaman terselubung itu.


"Lo setia kawan dong. Gue lagi sedih nih. Hibur kali, lur." gerutu Rima.


"Gue bukan cowok penghibur." tolak Noa.


"Gue juga bukan. Gue cuma setia kawin, Rim." kata kang Acep.


"Noa, lo terkampret ya. Jahat." tanggap Rima pada Noa.


Yang di omeli hanya tertawa kecil sembari bersandar di punggung kursi.


"----lo, Cep. Lo juga jahanam. Gue doain lo kena karma yang hobi naek jet."


"Oy, si karma lagi gak punya duit. Dia lagi ngirit ongkos. Jadi naek odong-odong." kata Noa kalem.


"Itu mah si Karman, gila. Tukang kredit panci bulanan. Langganan ibu kost." ujar kang Jhon.


"Kutukan lo gak ngefek. Gak ada gluduk tuh." kang Acep mengacungkan jari telunjuknya ke atas sebagai isyarat ia tak mendengarkan suara petir dan tak melihat kilat pula.


"Bodo amat, ah." ucap Rima cuek.


Tera hanya menggelengkan kepala saja sembari memakan martabak rasa ngidam. Tetapi ucapan Rama membuatnya tersedak.

__ADS_1


"Noa, ajarin gue dapetin pacar dong. Kasih tips dan trik." pinta Rima.


Noa dengan santainya hanya tersenyum tipis. Tera memeluk Noa secara tiba-tiba.


"Teh Rima jangan modusin calon suami gue." ucap Tera.


"ggahahaha....drama..." kang Acep terbahak-bahak.


"Tera, lo gak perlu takut. Si Rima gak bakalan di terima sama laki lo." nasihat kang Jhon.


Ia memandangi Rima yang sedang memelas.


"-----elah, Rim. Lo minta ajarin si Noa. Dia mah gak ada tips yang bener. Yang ada akal bulus sama tipu daya."


Noa tergelak mendengarkan penuturan kang Jhon yang selalu kompak dengannya itu. Teman pertama yang Noa miliki setelah memutuskan untuk ngekost disini.


Tera masih betah memeluk Noa. Yang di peluk selalu mengucapkan syukur dalam hatinya. Noa pun betah di peluk Tera. Di gelendoti manja seperti itu membuat Noa ingin membuat adegan 'mari terkam Tera'.


Rima sedikit melupakan kesedihannya oleh ulah teman-temannya. Ia bersyukur dengan keputusannya yang tepat untuk menempati kosan ini. Di tempat ini, ia menemukan keceriaan.


Bila di pikir-pikir lagi, Rima pun akhirnya menyadari bahwa dirinya salah jika harus bersedih hati. Bersusah hati karena status kejombloan anyar itu. Dan ia menyesal telah bersedih hati karena meratapi nasibnya. Jati tak pantas untuk ia kenang.


"Haaaaah....gue lupa udah sedih."


Rima bersandar santai di kursi nyaman itu.


Ia tersenyum setelah menghembuskan nafas penuh kelegaan.


Tiga orang yang memperhatikan Rima pun kini tersenyum diam-diam. Senyum yang tersembunyi. Dan Tera mengabaikan mereka semua. Ia mengusel-nguselkan kepalanya di dada bidang milik Noa. Bagaikan anak kucing yang sedang meminta untuk di manja.


Noa mengusap rambut Tera. Ia menahan hasratnya untuk menyeruduk Tera saat ini. Noa tak bisa seenaknya, ini belum saatnya.


'Godaan ini terlalu berat.' batin Noa.


Berlama-lama bersama di ruangan yang sama, kantuk datang juga. Mereka membubarkan diri ke kamar masing-masing. Suara dengkur terdengar jelas dari kamar kang Jhon dan kang Acep.


Sedangkan Rima yang kegalauannya masih tersisa setengah lagi itu sedang tiduran menelentang dengan tangan menopang kepalanya. Separuh galau itu masih tersisa dan yang separuhnya lagi sudah menguap. Ia sedang dalam perjalanan menuju move on. Mungkin mendadak move on.


Ia memandangi layar ponselnya. Tak ada pesan yang bisa ia balas, tak ada panggilan telepon yang biasanya ia terima. Ponsel itu damai. Sedang menyepi.


Lalu Rima tertidur karena sepi yang melanda. Berharap ada pujaan hati yang tersisa di dunia ini yang mau memiliki hatinya. Jikalau ia menemukannya, ia akan membahagiakan hati yang baik itu. Pasti dibahagiakannya seperti yang ia saksikan barusan. Seperti Noa yang sudah membahagiakan Tera.


***


"Tanggal tua jajannya cuma kuaci. Kalo tanggal muda gue jajan dari gerobak ke gerobak. Kalo tanggal di tengah bulan, gue milih satu jajanan gerobak doang. Nasib uang saku yang udah longgar."


Dimas mengeluh di kantin yang sedang sepi itu.


Kantin sepi bukan karena salah tanggal tua. Tetapi Noa menunggu jam istirahat Tera dan dua sahabatnya. Noa seharusnya sudah masuk kembali ke kelas.


"Dim, tanggal tua selalu di salahin. Tanggal muda selalu di banggain. Lo kalo mau jajan nanti gue traktir. Jangan memelas gitu lah."


"Iya, miris. Utang gue di Pak kumis juga numpuk, Dim. Tapi gue masih punya akal dan pikiran. Gue minta traktir si Noa. Kenyang kan." kata Ahmad.


"Bodoh lo." sewot Dimas kepada Ahmad yang sedang memeletkan lidahnya.


"----Noa, kalo gitu lo cari bini muda yang bisa di banggain."


"Eh, gue bukan bini tua yang selalu di salahin Noa ya, Dim." dumel Tera.


Noa terbahak-bahak melihat kegarangan Tera.


"uuh, sayangku. Gemesin amat sih. Mana bisa aku cari bini muda kalo gini caranya. Lagian aku gak mampu biayai dua bini."


"iih, kamu mah nyebelin. Ngomongnya gak serius."


Tera menggembungkan pipinya. Semakin bulatlah dirinya. Semacam bola yang di gunakan dalam olahraga yoga.


Kantin sepi. Terapkan dalam ingatan bahwa keadaan sepi itu akan membuat Dimas dan Ahmad melamun setelah ini.


Dan benar saja. Mereka sedang melamun. Dimas kemudian menopangkan dagunya sembari memperhatikan pasangan penuh cinta itu.


Lalu Ahmad sedang merekam kejadian yang fenomenal itu. Merekam dalam ingatannya. Ia bahkan melupakan cilok bumbu kacangnya untuk sementara waktu. Hanya karena ingin melihat Noa dan Tera yang sedang menebarkan kemesraan di tempat umum nan sepi itu.


Ahmad mengusap ilernya yang secara tak di sadarinya telah menetes. Dimas menghela nafas merasa dirinya semakin miris karena dirinya sendiri yang sekarang menyandang status jomblo. Ahmad yang menurutnya idiot saja sudah laku. Ia laris karena di terima Imas. Dimas baru mengetahuinya kemarin.


Status Ahmad sudah berpacaran. Sedangkan Dimas masih dalam kondisi kejombloan yang menahun. Ia pun ingin berpacaran. Tetapi melihat dan mengingat isi dompet membuatnya urung untuk mencari seorang pacar. Bagaimana ia bisa membahagiakan pacarnya bila ia tak bisa menjajani si pacar sebagai salah satu proses membahagiakannya.


***


"Lur, gue balik duluan ya."


Ahmad melambaikan tangannya kepada Noa, Tera dan Dimas.


Ketiga orang itu membalas lambaian tangan Ahmad. Mereka berdiri sembari memandangi kepergian Ahmad dengan motor matic barunya.


Dimas berjongkok di samping motornya. Kemudian mengacak-acak rambutnya.


Noa memperhatikan kegundahan itu. Lalu ia teringat kegelisahan Rima tempo hari. Sama.


"Kenapa lo?" tanya Noa berbasa basi.


Karena sejatinya Noa sudah mengetahui kekacauan hati Dimas disebabkan statusnya yang belum berubah.

__ADS_1


"Noa, gue ganteng kan ya? Gue bisa dapet pacar kan?" tanya Dimas.


Tera menyeletuk. "Gantengan laki gue sih. Iya kan Noa?"


Tera meminta dukungan. Ia sedang berusaha menggoda Noa kembali dengan nada manjanya. Celetukan itu hanya alibi saja untuk menarik perhatian Noa.


Sejatinya tak perlu Tera menarik perhatian Noa. Karena Noa sudah terlalu tertarik padanya.


'Cobaan macam apalagi ini.' batin Noa.


'Bila Tera menggoda. Maka sesungguhnya Noa harus bertindak cepat.' iblis di dalam diri Noa berbicara dari dasar paling gelap tetapi penuh gemerlap.


"Baby, mau aku romantisin gak?" tanya Noa.


Tera menoleh lucu. "Mau...."


Ia bergelendot manja di lengan Noa. Hm, Noa hanya tersenyum biasa. Tetapi hatinya sedang di jungkirkan ke dalam lahar cinta yang menggelegak.


"Si gembel, gak peduli nasib gue nih." gerutu Dimas.


Noa menepuk pundak Dimas yang sedang berjongkok itu keras-keras. Bukan ingin menganiaya, Noa hanya terlalu bersemangat. Hasil akhirnya adalah Dimas mencium step motor. Tera menutup mulutnya agar tak mengeluarkan suara tawa.


Noa tanpa rasa bersalah dan membuat tampang sesuci mungkin pun mengumbar janjinya.


"Gue bantuin kalo lo emang butuh bantuan."


Dimas menengok kepada Noa yang sedang menunduk. "Bener ya. Janji lo."


Noa menaikan alisnya. "Hem, janji. Emang lo udah punya target?"


Dimas menggeleng. Ia menjawab sekenanya. "Belum euy."


"Kalo belum, Noa mau gue bawa balik nih." Tera menimpali.


Lalu Tera menarik tangan Noa agar menjauhi Dimas.


"Dim, gue balik dulu ya. Gue bakal bantuin lo kalo udah ada yang lo taksir." ujar Noa bijaksana dan berwibawa.


Dimas mengangguk." Hati-hati lo. Jangan ngebut."


Noa dan Tera hanya tersenyum di atas motor yang melaju pelan meninggalkan Dimas di parkiran sekolahnya.


Dimas duduk di jok motornya. Ia bercermin di spion motor. Pantulan seseorang muncul saat ia sedang bercermin. Seseorang yang sudah sangat ia kenali. Sangat familiar. Sandy.


Dimas menengok ke rimbunan pohon cangkok di ujung tempat parkiran motor. Ia benar-benar melihat Sandy. Bukan sekedar penampakan.


Kemudian tanpa ia inginkan sebelumnya, Dimas menghampiri Sandy. Ia pun menyapa sosok yang sedang bersedih hati itu. Lara hati ini bukan saja Dimas yang merasakan. Sandy pun sama.


"Hey, ngapain?" sapa Dimas.


Sandy tak menjawab sapaan Dimas. Ia bungkam dalam posisi mematung. Dimas pun membuang nafas kasar karena Sandy tak menanggapinya.


"Ehem, wahai penghuni pohon cangkokan. Lo mau diem disini apa gue bawa pulang?" Dimas berdeham keras dan melemparkan candaan.


"Gue bukan jaelangkung. Bukan Jaelani. Bukan Jaenab." balas Sandy.


Ia berlalu pergi meninggalkan Dimas. Ditinggalkan dengan kejudesan seperti itu membuat Dimas tak rela. Ia tak bisa menerima perlakuan tersebut. Dimas mencekal pergelangan tangan kanan Sandy.


"Bareng gue yuk. Gue anterin sampe depan rumah." tawar Dimas.


Sandy melepaskan cekalan tangan Dimas. Bahkan ia menepis kasar raihan Dimas yang berikutnya.


"Gak usah. Gue bisa sendiri. Lagian lo sama gue gak searah." tolak Sandy.


Dimas berpikir sejenak untuk membuat alasan yang tepat.


"Gue mau ke kosan Noa. Bareng aja yuk."


Sandy menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia kembali menolak tawaran bernada ajakan Dimas untuk kedua kalinya. Padahal Dimas juga ingin seperti Noa. Menjadi tawanan cinta karena di proteksi pacar yang galak seperti Tera.


Ah, iya. Mungkin ia akan menjadikan Sandy sebagai target cintanya. Ia bisa menyelamatkan hubungan Noa dan Tera sekaligus merubah nasib. Mengubah statusnya dari jomblo menahun ke berpacaran. Itu pun seandainya Sandy mau menerimanya. Jika tidak, berarti nasib Dimas memang jelek di wajah rupawannya.


Bila Ahmad mempunyai kesempatan untuk berpacaran, tandanya Dimas pun tinggal menunggu waktu untuk mengubah status mirisnya.


Status jomblo memang enak untuk yang modus. Mengaku kepada siapapun agar mempunyai banyak cinta di setiap tikungan jalannya. Tapi status jomblo pun selalu di zolimi bilamana malam minggu tiba dan si jomblo hanya bisa diam-diam mengutuk banyak pasangan untuk putus hubungan. Si jomblo akan merasa terzolimi tatkala dirinya selalu mendapat hinaan dari kaum zolim di dunia maya.


Kala Dimas yang jomblo menahun ingin mendapatkan kekasih maka Sandy yang masih dalam zona bebas dan aman didekati pun akan menjadi target dadakannya.


Sandy mendadak target. Dimas akan meminta bantuan Noa setelah ini. Bila perlu ia akan mengintip dan mengintili Noa dan Tera untuk membuat dirinya mempunyai pengalaman. Ia tak boleh buta tentang percintaan.


"Ayo bareng." ajak Dimas.


Sandy hanya diam memandangi kesungguhan Dimas. Dua insan saling bertatapan. Mereka menatap langsung pada keyakinan dalam hati. Dimas yang yakin akan mentargetkan Sandy. Dan Sandy yang yakin dirinya mau di antar pulang Dimas agar tak perlu menunggu mobil jemputan dari supirnya yang loyo itu. Sandy yakin Dimas cocok menjadi tukang ojek.


Ketika Sandy masih berpikir untuk kedua kalinya untuk menimbang-nimbang keputusan, Dimas dengan kekuatan siluman agresif pun mengangkat Sandy dan menggendongnya. Sandy memekik kala Dimas tak di sangka-sangka berbuat yang tak terpikirkan olehnya. Kemudian Sandy di dudukannya di atas jok motor.


"Kita balik." kata Dimas.


Sandy hanya membuat wajah aneh dan geli mendengar ucapan Dimas.


'Noa, gue ke kosan lo nih. Gue bawa target.' batin Dimas.


Dan mereka berlalu dari parkiran sekolah. Dimas mengantar Sandy dan ia akan segera menemui Noa di kosan.

__ADS_1


***


Tbc


__ADS_2