
Suara telepon berdering berasal dari ponsel Noa. Tera meraih ponsel yang berada di dekatnya dan menerima panggilan telepon itu, ia merapatkan pada telinga kiri Noa. Terdengarlah suara yang panik.
"Noa, Justin sakit."
Hm, telepon dari Dimas. Noa tak melihat telepon ini dari siapa karena Tera tak memberitahukan dan langsung mendekatkan ponsel pada telinganya.
Dimas: "Noa, si Justin sakit. Dia sakit."
Noa: "Kenapa gak di bawa ke dokter hewan?"
Dimas: "Lo kan suaminya. Lo yang anter dia kesana dong. Kali aja Justin hamil kan."
Noa: "Tunggu gue ya, bapak mertua."
Sambungan telepon Noa akhiri. Tera memandangi wajah Noa dan tertawa kecil, mungkin ia mendengar percakapan Noa dan Dimas di sambungan telepon barusan.
"Lucu, hem?" bisik Noa di depan wajah yang masih menyisakan tawa.
Tera mengangguk, ia menutup mulutnya dan melanjutkan tawa yang belum usai.
Noa membuka pelan kedua tangan itu, tetapi Tera kembali menutup mulutnya. Suara tawanya teredam kedua telapak tangannya. Namun Noa tak menyerah untuk melihat pemandangan yang indah itu.
Noa menggigit kecil di bibir bawah Tera yang memerah dan membengkak, membuat Tera terlihat semakin seksi.
Pinggang yang ramping, kulit mulus bebas bulu, dan bokong yang semakin terlihat seksi di mata Noa adalah pemandangan paling indah setiap harinya.
Tera bagaikan kertas putih tanpa noda tinta, kulitnya putih tanpa cacat atau luka sedikit pun. Rona kemerahan yang menghiasi pipinya semakin membuat ia terlihat mempesona.
Belum lagi, bulu mata yang lentik dengan mata bulat sempurna seperti mata bayi. Pipinya yang dulu agak tirus kini terlihat bulat menggemaskan.
Tera indah, menurut Noa yang memuja dan memujinya.
***
"Pak dokter hewan, si Justin gapapa?" tanya Ahmad.
"Oh, namanya Justin. Hallo Justin. Kita periksa dulu ya." kata dokter hewan yang memakai masker dan kini ia sedang memeriksa Justin dengan teliti.
"Ini peliharaan siapa?" tanya dokter hewan.
"Ini suaminya, dok." kata Dimas merangkul bahu Noa.
Ahmad ngakak dan Tera menutup mulutnya, ia tertawa sambil menunduk.
"Bukan, dok. Yang ini barusan gendong Justin...." tunjuk Ahmad kepada Dimas.
"----bapaknya, dok."
"Ini mantunya, dok." kata Tera menimpali sembari menahan senyumnya. Ia menunjuk pada Noa yang berdiri di sampingnya.
"-----ini bapak mertuanya, dok." tunjuk Tera kepada Dimas.
Ahmad kembali terbahak mendengar penuturan Tera. Noa memandangi mereka bergantian dengan wajah sedatar-datarnya.
"Gimana keadaan istri muda saya, dok." canda Noa.
Ahmad semakin tergelak dan Tera melotot lucu.
"Oh, ini istri muda. Yang istri tua mana? Bukan kuda nil kan?" tanya dokter hewan menjurus ke candaan. Ah, bukan tapi ejekan.
Ahmad semakin terbahak tak terkendali.
Dimas yang menjawab. "Ini istri tuanya, dok."
Ia menunjuk Tera yang masih memelototi Noa.
Kali ini dokter hewan itu pun ikut tertawa karena candaan mereka.
Tera angkat bicara sambil berkacak pinggang bahkan menambahi dengan jeweran.
"iih, kamu selingkuh sama monyet?" kata Tera.
"Mantuku jangan di jewer. Dia gak akan kuat." kata Dimas.
"Kasih Diman..kasih Diman.." kata Ahmad.
"Dilan, wahai ngaco..." toyor Noa.
Justin mengacungkan jempol membuat dokter hewan semakin tergelak.
"Sudah. Sudah. Justin gapapa, cuma kebanyakan makan aja."
"Oh, buah yang gue bawa sebakul gede dari kebon Ahmad tiap hari di abisin Justin terus." kata Dimas kepada Noa.
"Tapi lo gak pasang satu-satu di pohon kemboja lagi kayak biasanya kan?" tanya Noa.
"Gue pajang sama bakulnya." ucap Dimas polos.
Ahmad bertanya kembali pada dokter hewan.
"Dok, kalo kasih obat hewan buat temen saya yang ini, dia bisa sembuh gak?" tunjuk Ahmad kepada Dimas yang langsung di hadiahi jitakan.
Dokter hewan geleng kepala dengan kelakuan mereka. Tera yang paling waras di antara mereka semua bertanya pada dokter hewan dengan wajar selayaknya orang dengan otak normal.
"Jadi Justin gapapa kan, dok?" tanya Tera kembali memastikan keadaan monyet peliharaan Dimas.
"----harus di beri obat apa dibiarkan sembuh dengan sendirinya?"
"Tenang aja. Justin bentar lagi juga sembuh. Asal jangan kelebihan makan terus ya." kata dokter hewan.
Dimas menggendong kembali Justin dan membawanya pulang. Ahmad ikut menginap di rumah Dimas. Dan Noa pun mengantar Tera pulang ke rumahnya.
__ADS_1
Sesaat setelah sampai di depan pintu rumah Tera, ia tak langsung masuk ke dalamnya.
"Kamu nginep disini ya." pinta Tera.
Noa setuju, lalu ia memarkirkan motor dengan benar di teras rumah dan menyusul Tera.
Noa melihat Tera berdiri di depan pintu kamarnya yang terbuka, ia memainkan tirai kerang yang tempo hari Noa pasangkan di depan pintu kamarnya.
Suara derak kerang dan gemerincing hiasan lainnya beradu bagai simfoni membawa kenangan pada tepian pantai yang indah tatkala matahari mulai tenggelam saat tugasnya menyinari bumi telah hampir usai.
"Mana kotak musiknya?" tanya Noa yang kini sedang memeluk Tera dari belakang.
"Sini...."
Tera membawa Noa memasuki kamarnya. Ia mengeluarkan kotak musik dari dalam laci nakas.
Kunci yang berfungsi sebagai liontin yang terpasang di leher Noa kini berpindah tertancap di lubang kotak musik. Alunan suara yang lembut menyejukan hati, mengukirkan senyuman dari kekasih tercinta.
Tersunggingnya senyuman itu selalu membuat hati Noa bahagia. Senyumnya yang kini selalu mengembang dan di pamerkan pada semua orang.
Bibir yang tertarik naik tak pernah terlihat turun karena kesedihan. Melengkung ke atas dengan tarikan sempurna. Senyum paling manis.
"Tera, tetep kayak gini ya." bisik harapan Noa di depan telinga Tera.
Ia memeluk Tera dengan sangat erat. Selalu, seperti itu. Hanya ingin memastikan Tera tak akan pergi kemana-mana. Hanya ingin memastikan Tera baik-baik saja dengan selalu berada di sampingnya, dalam pelukannya, dalam dekapan erat.
"Pengen bobo..." rengek Tera.
"Ayo bobo. Ganti baju dulu ya."
Noa bangkit berdiri dan membuka lemari pakaian Tera. Ia mengambil sepasang piyama untuk Tera kenakan agar tidurnya nyaman.
Tera kelihatan lelah, selesai berganti pakaian dengan piyama, Noa menuntunnya untuk berbaring.
"Piyama kamu udah tipis. Mau beli yang baru?" tawar Noa.
Tera menggeleng. "Pengen yang laen aja."
"Apa?" tanya Noa.
Tera berpikir sejenak kemudian lanjut bicara.
"Pengen jaket kembaran sama kamu."
Tera memainkan baju Noa dengan memelintir kainnya.
"Hm, besok ya. Sekarang bobo dulu. Mimpi indah baby Tera." kata Noa.
Ia mematikan suara yang mengalun yang berasal dari kotak musik dan mengalungkan kembali kalung berliontin kunci tersebut di lehernya.
Usai satu kecupan mendarat di kening Tera, Noa beranjak dari kasur empuk itu untuk tidur di ruang tamu dengan alas sofa yang menurutnya nyaman.
***
Noa melihat jaket warna biru tua dan biru muda yang mempunyai desain sama.
"Kamu yang ini, aku yang ini." kata Tera. Ia ingin Noa memakai jaket biru muda yang di pilihkannya.
"---aku kan udah punya warna biru muda dari kamu."
"Hm, aku nemuin yang laen. Mau liat?"
Setelah ucapan Noa berakhir, Tera mengangguk antusias.
Noa menunjukan dua jaket berwarna hitam yang berdesain sama tetapi salah satunya mempunyai jahitan lekuk pinggang.
"Ini kayaknya yang buat ceweknya deh." kata Tera.
"Bagus buat kamu." ucap Noa kalem.
Tera memandangi pantulan dirinya di cermin dengan menempelkan jaket hitam tersebut di depan badannya.
Cocok. Pas di badan Tera. Ia terlihat lebih manis dengan jaket tersebut.
Noa membuka risleting jaket hitam tersebut dan memakaikannya pada tubuh Tera.
Tubuh Tera yang berbalut jaket pas di badan semakin membuat dirinya mempesona.
"Mau yang ini?" tanya Noa.
Tera mengangguk semangat. "Mau. Bagus gak?"
Ia memutar tubuhnya di depan cermin di samping Noa.
"Cocok. Bagus banget. Pake aja. Yakin mau yang ini, gak mau yang biru barusan?" tanya Noa meyakinkan pilihan Tera.
"Iya. Yang ini aja. Kamu juga pake ya."
Tera membuka risleting jaket yang satunya dan membantu Noa memakai jaket tersebut.
Noa membawa Tera menuju kasir, mereka melakukan pembayaran dan bergegas keluar dari toko tersebut.
"Mau makan lagi?" tawar Noa.
"Tadi udah makan banyak kan." kata Tera mengingatkan.
"Kirain gitu, kamu laper lagi." ucap Noa cengengesan.
Tera menggeleng dan mengajak Noa untuk lanjut berjalan.
"----mau nonton?"
__ADS_1
"Hm, mau..." kata Tera dan ia menarik tangan Noa dengan bersemangat.
Saat Noa memesan tiket untuk menonton di suatu bioskop di dalam pusat perbelanjaan itu, ia bertemu Sandy yang juga akan memesan tiket untuk menonton film yang sama.
"Eh, Noa..." sapa Sandy ramah.
"Sandy? Sama siapa kesini?" tanya Noa.
Sandy menjawab. "Sendiri aja. Lo sama siapa?"
"Sama pacar gue." ucap Noa yang bangga memamerkan Tera yang dirangkulinya.
Tera tersenyum dan mengulurkan tangan yang kemudian di jabat oleh Sandy.
"Tera..." ucap Tera mengenalkan diri.
"Sandy..." kata Sandy ramah.
"Sandy ini yang rumahnya di sebrang kosan aku." kata Noa menjelaskan pada Tera yang baru melepas jabatan tangannya pada Sandy.
"Oh, kayak pernah liat." gumam Tera.
"----Noa, boleh gak gue gabung sama lo?"
Sandy memandangi Tera dengan senyum ramahnya.
Noa memandang Tera meminta persetujuan. Tera mengangguk tanpa beban. Noa pun mengangguk pada Sandy yang masih menyunggingkan senyumnya.
"Aku beli cemilan dulu. Mau ikut?" kata Noa kepada Tera.
"Aku disini aja." jawab Tera.
"Iya, disini aja. Gue temenin." kata Sandy.
Noa pergi dan membeli cemilan untuk Tera dan Sandy.
Tera berdiri menghadap Sandy yang masih menyunggingkan senyuman ramahnya, ia pun berpindah melihat Noa yang pergi membeli cemilan untuk mereka.
Tera membatin. 'Orang ini, dia yang sebelumnya sempat gue liat dateng ke kosan Noa, orang yang berhenti di ambang pintu kosan tanpa melepas tatapannya pada Noa. Sosok yang tersenyum dengan begitu menyedihkan dan pergi tanpa mengucapkan apa-apa.'
Tampang Sandy berubah tatkala Noa sudah tak memperhatikan mereka. Pandangan mereka bertemu, kebencian begitu tersirat di gurat wajahnya.
Sandy memandang wajah Tera lekat-lekat, ia tengah menilai dari atas ke bawah. Dan kembali menatap intens tepat di manik mata Tera.
"Gue bakal rebut Noa dari lo." bisiknya menusuk gendang telinga Tera.
Terdiam, itu yang Tera lakukan. Lama, mereka berpandangan. Tera menantikan Noa kembali di sampingnya, Noa bisa memberikan kenyamanan untuknya. Apabila Noa telah berada di sampingnya, hatinya lega. Ia hanya ingin memastikan Noa masih miliknya dan tak akan berpaling pada orang lain. Pada wanita idaman lain.
Noa kembali dan Sandy pun memasang wajah ramahnya lagi.
"Udah mau mulai filmnya. Yuk baby..."
Noa merangkul Tera, Sandy pun berjalan di samping Noa.
Tera mencuri pandang pada Sandy yang menampilkann senyuman anehnya. Kembali Tera menatap ke depan. Noa mengusap bahu Tera lembut, membuat Tera sedikit mendongak melihat wajah yang terkasih.
"Senyum dong. Kok gitu tampangnya? Gak suka sama filmnya?" tanya Noa saat ia menuntun Tera untuk duduk.
Tera menggeleng dan tersenyum. Ia berusaha memperlihatkan bahwa ia baik-baik saja.
"Sakit kali pacar lo." kata Sandy sok perhatian.
"Kamu sakit?" tanya Noa dengan nada cemasnya.
"Gak usah khawatir. Aku kan sehat dari tadi." ucap Tera lembut pada Noa.
Sandy melambaikan tangan meminta Tera memperhatikannya saat Noa memandanginya dan membelakangi Sandy. Ia mengisyaratkan dengan menunjuk Noa dan Tera secara bergantian kemudian berbicara tanpa suara. ia mengucapkan satu kata yaitu 'putus'.
Tera kembali memandang Noa yang khawatir. Tersenyum padanya, Tera bicara dengan jelas tetapi tetap bernada lembut.
"Aku pengen tinggal sama kamu di kosan." kata Tera.
Noa menautkan alis heran. "Hm, yakin kamu?"
Tera mengangguk yakin. "Iya. Mulai malem ini."
Noa tersenyum. "Oke baby..."
Sandy memandang sinis pada Tera. Ia mengernyit kala Noa bersikap romantis pada Tera ketika mengusap bibir Tera dengan lembut.
Kembali, Sandy berucap tanpa suara.
"Noa buat gue."
Tera beralih dari pandangan sinis Sandy ke pandangan cemas kekasihnya. Noa mengelus tangan Tera dengan lembut, ia memperhatikan wajah Tera lekat-lekat. Mimik wajahnya mengguratkan kecemasan yang amat sangat.
"Noa, ayo pulang. Aku cape." ujar Tera.
Noa heran tetapi kemudian mengangguk untuk mengajak Tera pergi dan berpamitan pada Sandy yang memberikan senyum sinis tersembunyi dari penglihatan Noa.
"Kita gak akan putus kan?" tanya Tera saat mereka berjalan menuju parkiran motor.
Noa mengusap rambut Tera dan mengacaknya pelan.
"Pikiran dari mana itu. Gak lah, baby."
Tera tersenyum lega dan menggandeng tangan Noa menuju motor yang terparkir. Noa membawa Tera pulang ke rumah untuk membawa barang-barang yang ia perlukan untuk di bawa ke kosan.
Di sepanjang perjalanan, Tera memeluk erat Noa. Ia tak mau kehilangan orang yang bisa membuatnya menemukan kebahagiaan.
Tera berucap dalam hati. 'Dia bentuk bahagia gue. Noa. Pacar gue. Orang yang akan selalu mencintai dan menyayangi gue. Gak akan gue biarkan orang lain mengusik ketentraman hubungan kami yang baru kami jejaki ini.'
__ADS_1
***
Tbc