
"Tera...Tera tunggu."
*Apa guna kaki bila kau tak mampu berjalan sampai tujuan, bila kau tak bisa berlari mengejar impian.
Apa guna tangan bila kau tak mampu meraih asa.
Apa guna 'hati' bila kau tak mampu berbagi semua rasa dalam kehidupan*.
*Apa guna jantung bila setiap detakannya hanya menandakan dirimu hidup tetapi merasa mati dalam kehidupan.
Apa gunanya bernafas tatkala setiap hembusannya hanya angin kosong pengharapan.
Apa guna mata kala kau hanya bisa melihat yang kau rindukan menjauh, pergi tak bisa kau gapai lagi. Punggung yang semakin terlihat menjauh, kesakitan bagimu*.
Patah hati tetapi bukan putus asa. Masih ada setitik asa yang tersisa. Masih ada cecap kebahagiaan yang harusnya terasa.
"Jauhi gue...jangan ganggu gue lagi."
Tatkala hati terbang tinggi terbawa angin dan di jatuhkan bersama rintik hujan yang semakin menderas. Ada dimana dirimu?
Genangan air.
Terinjak, di hindari, dan di jauhi, berkubang dalam satu lubang hingga kau mengering.
Kau tak diinginkan berada disana. Lalu apa air yang tergenang akan pergi bilamana ia tak diinginkan berada disana?
Tidak.
"Pergi...atau gue bakal buat lo gak sempurna lagi."
*Jangan biarkan aku pergi. Jangan katakan itu lagi. Ijinkan aku tetap berada disini. Aku ingin seperti lelaki sempurna mempunyai cinta yang sempurna.
Jangan hindari aku lagi. Ingatkah engkau, saat kutitipkan keseluruhan hati ini di ruang hatimu. Kuberikan utuhnya hatiku di kosongnya rasamu. Tak akan kupinta, jangan kembalikan lagi. Simpan baik-baik disana*.
"Tolong !!! Ada copet !!!"
Masih berdiri disini bagai pesakitan. Memohon lewat tatapan mata. Tak akan bergerak sedikit pun untuk menyimpan sedetik kenangan saat aku masih mempunyai kesempatan memandangi wajahmu.
Teriakan itu...mengundang semua orang. Mereka menghampiri. Menghakimi. Dan terjadilah, tubuh yang terasa sakit. Sekujur tubuh itu terasa nyata sakitnya tapi sakit yang lain lebih mendominasi.
Kerumunan itu membubarkan diri, dua tangan berusaha meraih.
*Dia kah?
Bolehkah kugapai?
Bangunkan aku. Bawa aku ke tempat dimana harapan menjadi nyata.
Gelap. Semua gelap. Bawa aku keluar dari sini. Aku tak ingin sendiri. Aku tak ingin berada dalam kegelapan lagi.
Dingin. Hangatkan aku.
Sakit. Sembuhkan lukaku.
Genggam tanganku. Jangan lepas. Aku takut*.
"Noa."
Cahaya terang itu terlihat kembali. Tertangkap indera penglihatan. Sosok yang mengabur kini semakin terlihat nyata.
"Sandy?"
Lirih. Ucapan itu selirih hembusan angin.
Sang pemilik nama itu pun tersenyum.
__ADS_1
***
Sandy memposisikan Noa untuk duduk nyaman. Noa melihat sekeliling, yang ia lihat adalah ruangan bercat putih. Ini rumah sakit. Bau yang khas, membenarkan.
"Sakit ya."
Sandy menyentuh pelan luka memar di wajah Noa.
Tentu, itu sakit. Ada yang lebih sakit. Tentu ada. Terkoyak-koyak tak berbentuk.
Noa mengangguk, menunduk dalam tak ingin terlihat rapuh.
Sandy duduk di tepian kasur. Memandang penuh perhatian. Menggenggam erat tangan Noa.
"Mau liat sesuatu?"
Mendengar ucapan tersebut, keingintahuan muncul ke permukaan, satu kalimat darinya ingin Noa ketahui. Ia mengangkat kepala dan memandang wajah Sandy.
Ia mengangguk. Sandy keluar ruangan dan kembali dengan kursi roda. Sandy mendudukan Noa di kursi roda dan membawanya keluar ruangan.
Sandy membawa Noa ke tempat terbuka di rumah sakit ini. Ia memeluk Noa dari belakang dan mengalungkan tangannya di area leher juga melingkar di dada Noa. Ia memperlihatkan langit bertabur bintang. Berkelip seakan menggoda hati yang lara.
"Liat ke atas. Tunjuk satu milik lo."
Perlahan, Noa menggerakan tangan. Mengangkat jari dan menunjuk satu bintang yang sendirian. Bintang yang kecil, sendirian seakan dijauhi.
Sandy mengeluarkan sesuatu dan mengangkat tangannya sejajar dengan jari Noa yang masih menunjuk ke langit berbintang. Replika bintang itu bagai berdampingan dengan satu bintang yang Noa tunjuk.
"Ada dua...lo gak sendirian."
Sandy meraih telunjuk Noa dan menurunkan tangan itu, ia memberikan replika bintang tersebut untuk Noa genggam. Kembali ia memeluk tubuh Noa. Begitu erat pelukannya di belakang tubuh Noa.
Sandy berkata. "Jangan terusin lagi. Setiap jalan ada persimpangan. Gue persimpangan buat lo. Gue bukan jalan pintas untuk lo terusin berjalan ke tempat tujuan. Gue jalan baru yang bakal lo lewati dan sesuatu disana menunggu lo saat ini. Gue nungguin lo, Noa. Kalo lo bersabar untuk dia. Gue pun akan begitu sabar untuk lo."
Noa tak mampu berkata-kata. Ia hanya tertunduk dalam, tak ada kata hati yang menyampaikan untuk memberi petunjuk apa yang harus ia lakukan.
Sandy berpindah posisi, berlutut di hadapan Noa. Ia menggenggam erat kedua tangan Noa kemudian menggerakannya perlahan mengisyaratkan untuk meminta perhatian.
Memandangi Sandy, Noa menunggu setiap kata yang akan Sandy ucapkan.
"Gue sayang lo, Noa." ungkap Sandy.
Kalimat itu bagai gaung. Jelas terdengar. Berulang-ulang. Gema lagu pengantar untuk jiwa yang kini merapuh. Lagi, elegi terdengar. Menutup telinga pun tak ada gunanya. Sakit menusuk gendang telinga. Ia tak sanggup.
Noa kembali tertunduk, tak ingin memandang ke depan dimana kesakitan masih menanti dengan setianya. Kini, ia bagai mati dalam kehidupan.
"Gue pengen istirahat." lirih Noa.
Sandy mengangguk. Ia bangkit dari posisi berlututnya. Ia mendorong kursi roda, membawa Noa menuju kamar inap kembali dan membantu Noa membaringkan diri.
Ingin rasanya melupakan sejenak semua ini. Memejamkan mata, hanya itu yang bisa Noa lakukan. Berharap jiwanya di bawa ke alam mimpi menjelajahi keindahan yang tak berbatas.
Terasa genggaman tangan Sandy, menghangatkan tangan Noa tetapi tak bisa menjalar hingga ke hati.
Bulir air mata menetes dan sakit itu semakin meremas dada. Memeras perasaan. Menguras habis kebahagiaan. Seakan lupa dahulu pernah ada senyuman. Seakan lupa suara tawa yang selalu diperdengarkan.
***
Beberapa hari di rumah sakit, akhirnya Noa di perbolehkan pulang. Ia di bawa pulang ke kosan.
Kang Acep yang biasanya bawel menjadi begitu perhatian dan tak banyak berbicara. Kang Jhon juga tak jauh dari kelakuan kang Acep. Rima jarang berada di kosan. Ia ikut komunitas pecinta alam.
Dua sahabatnya selalu menemani setiap pulang sekolah. Sandy, ia selalu ada. Orang yang beberapa hari ini selalu berusaha mengisi kekosongan di hati Noa.
'Tera..gimana kabarnya? Gue gak tahu. Dua sahabat gue pun gak pernah membahas tentang dia dan gue pun gak pernah bertanya pada mereka.' batin Noa.
__ADS_1
Hari ini kang Acep pulang kuliah malam. Rima masih sibuk dengan komunitasnya. Dua sahabat Noa belum pulang sekolah. Masih ada satu jam lagi untuk mereka bisa sampai kosan.
Hanya ada kang Jhon di kosan. Ia menemani Noa yang masih belum boleh banyak bergerak.
"Gue bosen, kang." gumam Noa.
Kang Jhon senyum maklum. "Lo mau keluar? Kemana?"
Ia sedang bersiap-siap berangkat ke kampus.
"Hm, gue gak tau kang." kata Noa.
"Udah istirahat aja. Biar cepet sembuh. Oh, iya gue berangkat dulu ya." pamit kang Jhon yang tersenyum dan pergi dari kosan.
Tinggalah Noa sendirian. Ia berusaha bangun, berganti pakaian dan pergi meninggalkan kosan.
Ia ingin bertemu Tera. Setidaknya, ia ingin melihat Tera dari jarak jauh. Hanya ingin memandang wajah Tera. Sebentar saja.
Sebelumnya, ia sudah memesan taksi. Dan kendaraan tersebut sudah menunggu di depan kosan. Noa memberi tahu tujuannya kepada supir taksi.
Di tengah perjalanan, ia melihat ada seorang anak penjual bunga. Kemacetan ini mengundang si anak mengetuk kaca mobil. Ia menawarkan bunga dan Noa tertarik pada satu warna.
Satu yang menarik perhatian Noa adalah bunga mawar berwarna biru. Noa membeli satu kuntum untuk Tera. Taksi pun melanjutkan perjalanan menuju rumah Tera.
Sesampainya di depan rumah Tera, Noa turun dan meletakan satu kuntum mawar biru di depan pintu rumah minimalis tersebut. Ia kembali masuk ke dalam taksi untuk menunggu Tera pulang sekolah.
Seringkali Noa melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, menghitung detik menunggu Tera sampai di rumahnya. Satu jam berlalu dan Tera muncul dari kejauhan semakin mendekat menuju rumahnya. Sosok itu yang Noa rindukan. Sosok yang ingin ia peluk erat tanpa pernah melepasnya lagi.
Noa terus memperhatikannya hingga sampai di depan rumah. Tera melihat bunga yang Noa letakan disana. Tera mengambil bunga tersebut dan menghirup aromanya.
Tera tak masuk ke dalam rumahnya, ia duduk memeluk lutut di depan pintu rumah. Ia memandangi mawar biru itu, sesekali menghirup aromanya lagi.
Satu senyuman lolos dari bibirnya. Senyuman yang manis, mengundang siapa saja tersenyum saat melihatnya. Sayangnya, saat ini tidak berlaku untuk Noa. Senyuman di bibirnya tak kunjung muncul. Seakan bibir itu menolak mengukir senyuman. Kaku untuk menyunggingkan senyum walau sekilas.
Noa masih setia memperhatikan Tera. Memandangi wajahnya lewat kaca mobil. Tak ingin berkedip, tak ingin melirik pada objek lain. Noa ingin puas memandang wajah Tera. Seakan-akan besok ia tak bisa memandangnya lagi.
'Gue disini Tera.'
Seakan terpanggil, seakan merasa di perhatikan. Tera memandang ke arah taksi yang Noa tumpangi. Ia memandang ingin tahu.
'Gue disini Tera.'
Lagi. Noa mengulang kalimat itu dalam hati dan Tera kini bangun dari duduknya. Matanya terus tertuju pada taksi. Memandang tak lepas sedikit pun.
'Gue disini...'
Tera mulai berjalan menuju taksi yang Noa tumpangi. Berjalan semakin mendekati Noa. Ia kini ada di balik kaca mobil bahkan mengetuk kaca itu pelan.
Noa pandangi wajah Tera dari jarak dekat, wajah yang selalu ia rindukan. Hanya terhalangi sebuah kaca, sosok itu yang ia rindukan.
Noa mengulurkan tangan mendekati kaca mobil, satu jarinya menyentuh kaca yang menghalangi mereka. Tera masih mengetuk pelan kaca taksi. Sayangnya, kaca ini hanya untuk melihat dari satu arah. Tera tak tahu apa yang Noa lakukan di dalam taksi.
Jari Noa yang menyentuh kaca bergerak perlahan membentuk satu simbol.
Satu simbol 'love' membekas jelas di kaca tersebut. Menyampaikan keseluruhan atas semua kata yang ingin diucapkan.
Tera melihat simbol yang membekas di kaca mobil. Ia berhenti mengetuk kaca taksi dan sebagai gantinya ia pun membuat simbol love di kaca tersebut. Menyesuaikan dari yang sebelumnya Noa buat disana.
Selesai membuat simbol tersebut, Tera memberi satu ciuman jauh lewat jarinya dan menempelkannya di bekas simbol love yang ia buat. Ia sedikit memundurkan tubuhnya, menjauhi taksi yang Noa tumpangi.
"Pak, ayo berangkat."
Taksi berlalu meninggalkan rumah Tera. Menjauhi sosoknya di belakang sana. Hanya menjauhkan raga bukan cinta.
***
__ADS_1
Tbc