
Pagi ini selalu di awali dengan melihat sosok yang selalu mencintainya. Noa tersenyum. Memperlakukan Tera dengan sangat lembut, memperlakukan Tera dengan sangat spesial bagaikan putri dari negeri dongeng. Memenuhi segala keinginannya. Dan selalu mengucapkan kata-kata romantis.
Ia berlebihan, tetapi itulah Noa. Seseorang yang selalu membuat perasaan Tera berbunga-bunga setiap harinya, membahagiakan Tera dengan usahanya sendiri.
Tig kuntum bunga selalu ia hadirkan setiap paginya. Tiga, tanggal jadian mereka. Ia ingin mengingatnya sungguh-sungguh dengan simbol memberikan bunga mawar biru sebagai kesehariannya.
"Cantik..."
Pujian itu selalu terucap dari mulutnya. Entah untuk apa atau siapa, untuk bunga mawar ini atau untuk diri Tera, hanya ia yang tau pujian itu menuju kemana.
Bunga tersebut Tera kecup di satu sisi dan di sisi lainnya di kecup pula oleh Noa. Tatapan hangat dengan senyum lembutnya, menenangkan. Tentramnya hubungan mereka.
Sandy. Orang yang selalu Tera waspadai. Satu orang yang tak menyukai hubungan mereka. Yang menginginkan putusnya tali kasih mereka. Setiap hari selalu ada gangguan kecil darinya. Menyingkirkan Tera, menjauhkan Noa dari pandangan dan perhatian Tera.
Sandy selalu membuat Noa sibuk membantunya ini dan itu dengan banyak alasan. Tera bersyukur, Noa tak berubah. Noa tetap menjadi pacar yang baik dan perhatian. Tak berkurang segala rasanya terhadap Tera, malah semakin bertambah setiap harinya.
Tera rasa begitu. Cinta, sayang dan kerinduan Noa semakin bertambah. Seiring bertambahnya gangguan yang mereka hadapi. Semakin naik level ujian hubungan mereka karena satu orang pengganggu di depan kosan.
Tera berpikir. 'Kenapa harus ada Sandy yang ingin merusak kebahagiaan yang susah payah Noa bangun untuk gue. Kenapa gue harus mempertahankan kebahagiaan yang kian meninggi dengan gangguan ini. Saat bahagia memuncak, gue takut akan runtuh tanpa gue sadari.'
"Hari ini ada sesuatu yang mau kamu sampein buat aku gak?" tanya Noa penuh harap.
Hari ini bertepatan dengan hari ulang tahun Noa yang ke tujuh belas tahun.
Tera berpura-pura tak tahu. Bukan lupa.
"Gak ada." kata Tera enteng.
"Yakin?" tanya Noa dengan mata penuh harapan.
Tera angguk meyakinkan. Noa hanya menghembuskan nafas dan keluar kamar menuju kamar mandi. Senyum yang berhasil Tera tahan menjadi tawa kecil saat Noa sudah tak melihatnya.
Semua penghuni kost pun bersikap biasa saja. Sewajarnya, seperti tak ada hal yang spesial. Membuat Noa menjadi lemas dan tak banyak berbicara hari ini. Bahkan, Dimas dan Ahmad yang biasanya akan rusuh, hari ini bolos berjamaah.
Pulang sekolah, Noa seperti biasa menghampiri Tera ke kelas. Menjemputnya untuk berjalan bersama ke parkiran motor.
Di parkiran motor, Tera tak langsung naik ke boncengan Noa.
"Aku mau ke toko jam dulu ya."
"Tumben? Ada masalah sampe kamu kesana?" tanya Noa.
"Gak ada." jawab Tera singkat.
"Ada orderan? Aku bantu anterin ya." tawar Noa.
"Gak ada." jawab Tera sekenanya.
Noa jengkel dan mendengus. "Mau aku anterin kesana?"
Tera kembali menolak dengan nada judes. "Enggak...sendiri aja."
Noa hendak berucap sesuatu yang sudah bisa Tera tebak. Saat ia membuka mulut ingin mengucapkan sesuatu, Tera menyela hingga ia tak jadi berucap.
"----gak usah jemput. Aku pulang ke kosan sendiri."
Noa kembali bungkam. Sesaat kemudian ia membuka mulutnya kembali ingin berkata-kata. Mengungkapkan semuanya.
"Hari ini ul-..."
"Ck, udah ampir sore iih."
Kembali Tera menyela ucapan itu, Noa pun terdiam.
"-----aku pergi dulu ya."
Noa mengangguk lemah. Saat berbalik badan menjauhi Noa menuju gerbang sekolah, tawa kecil pun Tera redam dengan menutup mulut menggunakan telapak tangan. Ia bersikap wajar saat menengok ke belakang, ia menaiki taksi dan berlalu pergi meninggalkan Noa yang berwajah sedih.
***
"Kuenya enak..."
Ahmad membuka kotak kue itu berkali-kali di toko jam.
"Jangan di liatin mulu." omel Dimas.
"Ah, kalo gak di liat ntar abis gimana?" kata Ahmad.
"Abis sama lo maksudnya?"
Dimas yang juga membawa kotak kue yang lebih besar memandang wajah Ahmad dengan datarnya.
Hari ini mereka bolos sekolah dengan alasan memesan kue yang tak bisa di tinggalkan. Alasan saja, karena hari ini ada ulangan harian yang akan membuat rambut mereka botak mendadak.
"Abah, jam yang Tera minta udah ada?" tanya Tera ke abah Anom.
Abah Anom tersenyum bijaksana. Ia mengajak Tera duduk di sampingnya. Hari ini pelanggan lumayan banyak dan orderan membuat satu karyawan yang dipekerjakan menjadi sibuk sendiri.
"Untuk orang spesial ya?" tanya abah Anom dengan ketenangannya.
Tera mengangguk dan tersenyum kecil. Abah Anom mengusap kepala Tera.
"----udah besar ya. Udah ada yang di istimewakan."
Tera diam memandang abah Anom di hadapannya. Abah Anom kembali bertanya yang membuat Tera agak kesulitan untuk memberi jawaban.
"Abah boleh tau, siapa yang istimewa itu? Kalo Jati pasti bukan, abah tau ini bukan hari spesial dia."
"Ehm, abah beneran pengen tau." cicit Tera dan abah Anom tersenyum yakin dengan mengisyaratkan lewat gerakan tangan agar Tera melanjutkan bicara. Ia menunjuk telinganya, memberi isyarat ingin tau dan mendengarkan jawaban tersebut.
"Itu...pa-..ehem..."
Sekilas Tera memandang wajah senja di hadapannya. Abah Anom kembali tersenyum bijaksana, mengangguk pada Tera agar segera mengeluarkan jawaban yang ia tunggu.
"Noa. Namanya Noa. Dia baik, abah."
Akhirnya, terucap juga sesuatu yang memang sudah di ujung lidah. Abah Anom mengangguk dan kembali tersenyum. Beliau menepuk tangan Tera pelan dan menggenggamnya.
__ADS_1
"Pasti dia baik. Terlihat dari postur tubuh kamu yang makin berisi. Tandanya kamu bahagia. Betul begitu?" katanya bijaksana.
Tera tersenyum canggung dan mengangguk kecil tanpa memutus kontak mata di antara mereka. Tatapan abah Anom seperti ingin membedah kedalaman hati.
"Ini. Jam yang kamu minta. Dia spesial di hari spesial mendapat hadiah yang spesial dari orang yang paling spesial....untuknya."
Abah Anom menyerahkan kotak jam yang di biarkan terbuka di hadapan Tera. Ia memperlihatkan isinya yang akan sangat cocok untuk Noa.
"Menurut abah, dia bakal suka gak sama hadiah dari aku?" ucap Tera.
"Yakin, dia akan suka. Apapun yang kamu berikan untuknya di hari spesialnya pasti dia suka dan akan menjadi favoritnya."
Abah Anom menyuntikan keyakinan yang besar di hati Tera. Kepercayaan diri Tera pun meningkat beribu-ribu persen.
Tera menerawang. 'Favorit ya. Gue pernah ngerasain dapetin benda favorit di hari ulang tahun gue dan pelaku pemberian hadiah itu adalah Noa. Jaket biru muda darinya di hari spesial gue menjadi favorit hingga hari ini.'
"Bungkus yang rapi. Dia akan makin terkesan. Abah mau melayani pembeli dulu."
Abah Anom berpindah tempat untuk melayani pembeli dengan keramahtamahan yang ia suguhkan.
Bungkusan yang rapi akan membuat penerima terkesan. Tentu. Saat Tera melihat kado dari Noa, yang ia lihat pertama kali adalah kesan rapi, cantik, dan manisnya bungkus kado serta pita biru muda tersebut. Isinya, ia belum tahu. Setelah Tera tahu, ia semakin terkesan.
Apalagi saat itu perasaannya belum tumbuh bahkan belum muncul untuk Noa. Saat mengetahui kepedulian Noa pada hari spesialnya, tunas-tunas dari kebahagiaan muncul seperti harapan baru untuk hidup yang lebih baik. Ia menikmati hidup dengan kebahagiaan sederhana dari seseorang yang akan selalu mengasihi dan mencintai sepenuh hati.
Tera membungkus jam yang tersimpan rapi di dalam kotak. Ia membungkus rapi dan memberikan hiasan seperti bunga mawar yang ia buat sendiri dari sisa-sisa potongan kertas kado. Menjadi karya yang indah dan pantas untuk di terima Noa.
Tera tersenyum puas kala memandangi hadiah yang akan ia berikan pada Noa. Dimas dan Ahmad mengajaknya untuk segera ke kosan. Kang Acep, kang Jhon dan Rima menunggu disana, membuat kejutan yang lainnya.
***
"Noa lagi molor." kata kang Acep memberikan info.
Kang Jhon memamerkan kunci kamar Noa.
"Gue kunciin dari luar selama proses ngehias kosan."
"Tukang sulap butuh bantuan, oy." protes Rima pada semua orang. Ia tengah serius menghias ruang tamu, menyulapnya, dengan sentuhan seni yang lumayan untuk di acungi jempol.
Tera tahu Rima masih berpacaran dengan Jati. Terkadang, Jati datang ke kosan untuk menemui Rima. Untuk itu, ia bersikap biasa. Karena ia merasa tak perlu bersedih hati, ada seseorang yang bisa memberikan bahagia yang nyata untuknya.
Noa telah mempersembahkan semuanya dengan total, dan Tera tak membutuhkan yang lain. Ia tak peduli yang lain apalagi orang yang hanya sekedar lewat di kehidupannya, atau biasa di sebut mantan pacar.
Semua membantu Rima, hingga tugas usai belum ada tanda-tanda Noa bangun dari tidurnya. Kue ulang tahun dengan lilin yang siap dinyalakan menanti sang tuan yang masih tertidur pulas di dalam kamar. Kado pun di simpan seluruhnya di satu tempat agar tetap menjadi kejutan selanjutnya.
Noa masih belum bangun, semua berinisiatif untuk menjahilinya. Mereka membuat keributan yang akan mengagetkannya.
"Kebakaraaaaannnn..."
Teriakan yang berasal dari kang Acep.
"Ah, kolor gue. Selamatkan." teriak kang Jhon.
Rima pun berteriak heboh menanggalkan sifat kalemnya.
"Apinya berkobar. Api unggun kalah. Bakaaaar..."
Dimas pun tak mau kalah. Teriakan hebohnya membuat Noa menggedor pintu dari dalam kamar.
"Gyaaaahhhh...Tera...kejebak."
"Teraaa..."
Noa menggedor pintunya.
"----kok ke kunci sih." katanya pelan.
Ia terus berusaha membuka pintu. Bukan hanya menggedor tetapi kini mendobraknya.
"Teraa....tunggu aku...jangan takut..." teriaknya lagi.
Tera memutar kunci perlahan kemudian membuka pintu yang menampilkan sosok Noa yang berantakan. Wajah kalutnya memandangi Tera, ia memeluk erat. Ia masih belum menyadari ruang tamu yang berbeda dari biasanya.
"Kamu gapapa? Kebakarannya mana? Kok gak ada asap sama api? Gak panas." cerocos Noa menunduk melihat Tera.
"Coba liat sekeliling, ada yang mau bakar semangat kamu." titah Tera lembut.
Noa memandang ke depan, melihat sekeliling dan ia mengernyit. Belum sepenuhnya sadar dengan yang terjadi disini. Beberapa detik kemudian ia baru menyadari, bagaikan terkejut yang terlambat.
"Tujuh belas cieehh..." ledek kang Acep.
"Tiup lilin." kata kang Jhon menyalakan lilin-lilin di atas kue.
"Awas babinya mau lewat." canda Dimas menunjuk Ahmad. Rima pun menjotos pelan lengan Dimas.
Tera menuntun Noa mendekati kue ulang tahunnya. Ia mengangguk mengisyaratkan agar Noa segera meniupnya. Noa pun meniup semua lilin dengan senyuman yang merekah.
"Makasih semuanya." kata Noa pada mereka yang berada di satu ruangan bersamanya.
"Kado..." teriak Ahmad.
Ia membawa hadiah dari semua orang.
Khusus hadiah dari Tera, masih ada di dalam tas sekolahnya. Tera akan memberikan nanti saat mereka hanya berdua saja.
Noa membuka kadonya satu persatu.
Kado dari kang Acep, sabun colek dua ribu berwarna ungu.
Noa memandang datar pada kang Acep.
Alibi kang Acep. "Buat cuci baju lo, manfaat kan? Kado itu harus yang berfaedah."
Noa mengangguk dan membuka hadiah berikutnya, dari kang Jhon. Ia memberikan Noa sendal jepit sellow warna biru yang sebelumnya pernah di miliki Noa dan putus saat jogging bersama Tera.
Alibi kang Jhon. "Ganti sendal lo yang putus. Jangan pinjem punya gue mulu. Tipis tuh sendal gue, lo pakein terus."
Noa mengiyakan dan lanjut membuka hadiah yang lain. Kali ini dari Rima. Ternyata, Rima sama gesreknya dengan yang lain. Ia memberikan hadiah tutup gelas.
__ADS_1
Alibi Rima. "Lo suka gak tutup gelas kan. Suka di icip sama cicak. Gue gak rela aja, makanya gue kasih itu."
Noa memandang datar pada hadiah terakhir di hadapannya. Semangatnya merosot, ia tak yakin hadiah terakhir akan normal dan bisa ia banggakan. Ia mendengus sembari membuka kado terakhir.
"Kuaci sama sukro. Oh, tisu. Apalagi nih, permen."
Noa memandang datar pada Dimas dan Ahmad yang nyengir lebar.
"---dari siapa?"
Dimas dan Ahmad mengacungkan jari tinggi-tinggi. Noa mendengus kembali.
"----dari lo berdua?" tunjuk Noa.
Dimas dan Ahmad mengangguk.
Dimas berkata. "Syukuri dong, Noa."
"Lumayan buat modal jadi tukang asongan." canda Ahmad.
"Ini hadiah dari lo berdua? Kongsi?" tanya Noa.
"Ck, iya lah." kata Dimas nyengir lebar.
"Nyisihin duit jajan." kata Ahmad.
"Iya. Makasih semuanya." ucap Noa berterima kasih dengan tulus.
"---dari kamu mana, baby?" tanya Noa kepada Tera.
"Jatoh kali di jalan." jawab Tera asal.
"Yah...gak ada. Ya udah deh, gapapa." sesal Noa.
Tera tersenyum melihat wajah yang lesu itu. Semua menagih ingin potong kue. Noa memotong kue dan membaginya pada semua orang yang berada di ruangan ini. Noa terlihat bahagia, ia mensyukuri yang ada dan tersedia. Tanpa mengeluh dengan sesuatu yang tak sesuai keinginannya. Sederhana.
Sandy mengetuk pintu yang di biarkan terbuka itu. Semua mata menoleh ke sumber suara ketukan dan sapaan. Ia membawa hadiah untuk Noa. Kado yang besar.
Tentu saja, ia tahu. Ia masih berusaha mendekati Noa, mencuri hati dan perhatiannya. Ingin tahu lewat sosial media, akan selalu ia lakukan. Bukti nyatanya ialah hadirnya ia dengan kado yang di bawanya.
Semua tersenyum menyambut kedatangannya. Sandy menyerahkan kado tersebut pada Noa dengan tersenyum ramah mengucapkan selamat ulang tahun.
"Ini. Selamat ulang taun ya." kata Sandy.
"Makasih."
Noa membalas senyuman, ia membuka kado di hadapan semua, mengulangi kegiatannya seperti tadi.
Hadiah dari Sandy sangat keren. Robot yang di pesan langsung dari negeri sakura. Semakin membuat hadiah dari Tera yang belum sempat ia berikan pada Noa menjadi tidak ada apa-apanya. Seperti sesuatu yang tak penting nantinya untuk Noa.
"Makasih kadonya, Sandy." ucap Noa penuh ketulusan.
"----ikut makan ya. Nih."
Noa menyerahkan sepiring kue yang di potong rapi untuk Sandy yang langsung di terima dengan senang hati. Tera hanya tersenyum, bersikap biasa di hadapan Sandy dan Noa.
Semua mata, kecuali Sandy dan Noa memberi isyarat agar Tera memberikan hadiah pada Noa. Tetapi Tera menggeleng sebagai jawaban.
Sandy kian dekat dengan Noa, mereka mengobrol akrab. Menempel bagai amplop dengan perangko untuk mencapai alamat. Sandy ingin mencapai tujuannya.
Kang Jhon menjauhkan Noa dari Sandy dengan mengajaknya bercanda. Semua mengikuti apa yang kang Jhon lakukan, semua berbaur. Memisahkan Noa dari seseorang yang berniat memisahkannya dari Tera.
Hingga malam semakin larut, Sandy akhirnya berpamitan pulang. Di susul Dimas dan Ahmad yang juga pulang ke rumahnya masing-masing. Penghuni kost pun memasuki kamar setelah membereskan ruangan yang berantakan.
Saat ini, Tera tengah duduk di kasur kamar Noa. Menghadap pada Noa, ia membuka tas sekolah mengeluarkan isinya. Kado darinya. Hadiah yang ia harap membuat kebahagiaan Noa semakin lengkap di hari spesialnya.
Tera menyerahkan hadiah yang terbungkus rapi dengan hiasan mawar buatan. Noa menerimanya dengan senang hati.
"Aku kira kamu beneran gak ngasih hadiah. Aku buka ya." kata Noa bersemangat.
Tera mengangguk. "Buka. Liat isinya."
Noa tersenyum lebar, membuka hadiahnya dengan sangat bersemangat.
"Jam. Jam tangan. Bagus banget." ucap Noa penuh kekaguman.
"----makasih, baby."
Noa tersenyum dan memakai jam itu di pergelangan tangan kirinya. Ia memandang dengan binar bahagia.
"Cuma itu yang bisa aku kasih buat kamu. Gak sebagus yang Sandy kasih." ucap Tera pelan.
"Apapun yang kamu kasih, aku suka. Bakal jadi favorit aku." kata Noa penuh ketulusan mengundang senyuman di bibir Tera. Ujung bibir Noa tertarik ke atas, ia tersenyum dengan awetnya.
"Aku gak tau filosofi asli dari jam. Yang aku tau, jam itu penunjuk waktu. Menunjukan waktu dan mengingatkan pada sesuatu, pada seseorang." ucap Tera.
Noa menyimak ucapan Tera dengan antusias.
"---jam memperlihatkan waktu, berputar tiada henti dan saat ia berhenti, waktu masih akan terus berjalan. Ibarat kehidupan manusia yang hidup terus melanjutkan kesehariannya. Ketika ia wafat, waktu akan terus berjalan. Untuk yang meninggal, ia akan berlanjut di alam yang lain. Untuk yang di tinggalkan, mereka harus terus melanjutkan hidupnya." lanjut Tera.
Noa masih mendengarkan ucapan Tera setiap kata dalam kalimat.
"---jam menunjukan waktu. Untuk masa lampau, masa kini dan masa depan. Masa lampau akan di ingat sebagai kenangan, sesuatu yang mengingatkan di waktu yang sekarang kita temui. Masa kini akan memperingatkan segala hal yang harus di lakukan di masa depan. Dan masa depan adalah waktu dimana menciptakan banyak hal yang di susun di masa sekarang."
Tera menghentikan sejenak ucapannya, Noa masih bertahan memperhatikan. Ia mendengar dengan kesungguhan.
"Masa lalu untuk kenangan, masa kini untuk menciptakan janji. Masa depan untuk mewujudkan sebuah impian, janji yang gak boleh di ingkari. Waktu, sang pengingat gak bisa di putar ulang dan akan terus berjalan walau seseorang ingin berhenti. Gak bisa di hentikan walau penyesalan jadi alasan.
Karena waktu, setiap bunga yang rutin kamu berikan setiap pagi untuk aku adalah bukti nyata kamu mengingat yang telah terjadi. Demi waktu, kamu terus berjuang dan bersabar menghadapi aku. Karena waktu, aku bisa membalas perasaan kamu. Dan untuk itu, aku ingin menghabiskan banyak waktu bersamamu." kata Tera mengakhiri penyampaiannya.
Noa terharu mendengar penuturan Tera. Ia meraih tubuh Tera dalam pelukan hangatnya, erat dan menenangkan.
"Makasih..." bisik Noa.
***
Tbc
__ADS_1