
Selama satu minggu kegiatan Noa sepulang sekolah hanya membeli bunga dan menyimpan bunga tersebut di depan rumah Tera.
Satu kuntum bunga mawar biru setiap harinya untuk Tera. Hanya ingin menyampaikan perasaannya dan menyalurkan lewat wangi semerbak yang berasal dari bunga tersebut.
Selalu ia pandangi rumah Tera yang tertutup rapat. Tera ada di dalamnya, entah sedang apa dirinya.
Dimas dan Ahmad tetap setia di samping Noa. Menemaninya dengan alibi takut Noa menabrakan motor ke pengendara lain lagi.
"Balik yuk. Noa, lo kan masih sakit." kata Ahmad.
"Hm, bener tuh. Liat kaki lo, lur. iih..berdarah lagi tuh. Ke dokter dulu yuk."
Dimas memegang area kaki dan lutut Noa yang kembali berdarah.
"Noa, bener tuh kata Dimas. Lutut sampe pergelangan kaki lo berdarah lagi. Infeksi, lur." ucap Ahmad.
Luka Noa memang lumayan parah. Noda darah merembes di celana seragam sekolahnya. Luka yang memanjang dari lutut ke pergelangan kaki itu di biarkan tak di obati lagi. Hanya satu kali, Sandy mengobati dengan obat seadanya.
"Gue mau disini aja." gumam Noa masih tak beralih dari memandangi rumah Tera.
Beberapa lama ia dan dua sahabatnya terdiam, Tera pun keluar rumah. Ia pergi menaiki taksi online, Noa membuntuti kemana Tera pergi. Dimas yang memboncengi Ahmad setia mengikuti di belakang motornya.
Tera menuju ke salah satu kafe. Ia memasuki kafe tersebut dan duduk sendirian disana, hanya di temani jus mangga pesanannya.
Noa duduk di meja yang tak terlalu jauh dari Tera berada, ia menutupi wajah dengan buku pelajaran yang ia keluarkan dari dalam tas. Begitu pula dengan Dimas dan Ahmad.
Seseorang datang menghampiri Tera. Ia adalah Jati, pacar Tera sekaligus pacar dari Rima.
"Nunggu lama?" tanya Jati setelah duduk di depan Tera yang duduk santai.
Tera menggeleng tanpa menjawab pertanyaan Jati.
"Ada apa? Kok tumben ngajak ketemu?" tanya Jati mulai berbasa basi.
"Aku gak mau basa basi." ucap Tera pelan tetapi tegas.
"----kemaren, aku liat kamu masih jalan dengan Rima."
"Aku gak ketemu dia lagi." elak Jati.
"Iya, kamu setiap hari ketemu dia. Aku liat sendiri." ucap Tera kalem.
Jati masih mengelak. "Aku enggak ketemu dia..."
"Jati..."
Ucapan Tera di sela Jati. Tera hanya mendengarkan ocehan pacarnya tersebut.
"Oke. Aku ketemu dia. Kamu juga masih deket kan sama si Noa itu."
Jati membalikan kesalahan pada Tera.
"Jati, mungkin kamu mau mengucapkan sesuatu buat aku." kata Tera masih dengan nada lembutnya.
Jati menggeleng kuat-kuat. Ia berkata. "Aku tau maksud kamu. Aku gak mau kita putus."
Tera mengangguk kemudian menunduk. Lalu, ia kembali menatap Jati yang berada di hadapannya.
"Aku yang pengen kita putus. Maaf Jati." kata Tera.
"Ini semua karena cowok yang namanya Noa itu kan?" kata Jati yang mulai murka.
Tera dengan ketenangannya kembali berucap. "Bukan. Karena aku tau, kamu lebih bahagia dengan Rima. Akui aja."
"Tapi aku gak mau putus. Aku janji gak akan temui dia lagi. Kamu juga jangan deket-deket si Noa lagi."
Jati memelas dan memelankan suaranya. Ia meminta sungguh-sungguh pada Tera.
"----jangan putus. Tera jawab dong." mohonnya.
"Maaf Jati. Ini udah keputusan aku." ucap Tera final.
Ia meninggalkan Jati yang masih meneriaki namanya. Ia berjalan keluar kafe, menghela nafas dan menunduk dalam.
Tak perlu waktu lama, Noa mengejar Tera keluar kafe. Dimas dan Ahmad pun berlari mengikutinya.
"Tera..."
Panggilan itu membuat Tera menengok ke tempat Noa berdiri di belakangnya.
"Lo ngapain lagi sih..." lirih Tera.
Noa mendekati Tera yang akan bersiap untuk lari.
"Gue mau ngomong sesuatu..." kata Noa.
"Gak perlu. Lo...Jati...sama aja...cuma maenin perasaan gue." kata Tera.
Noa menggeleng. "Gak. Tera, kasih gue kesempatan buat ngomong sesuatu sama lo. Di tempat laen, Tera."
__ADS_1
Noa ingin membawa Tera ke tempat dimana seminggu yang lalu kebun durian Ahmad di sulap dengan hiasan olehnya dan Dimas.
"Gue gak mau..." ucap Tera dan ia pergi meninggalkan Noa.
Dimas dan Ahmad mendekati dan merangkul Noa.
"Biarin dia pergi." kata Dimas.
"Lo mendingan sulap lagi kebon gue pake hiasan kayak sebelumnya." Ahmad menepuk pelan pundak Noa. Dimas pun mengangguk setuju.
"Gue ikutin Tera. Ngawasin dia. Lo sama Ahmad hias kebon aja. Oke." kata Dimas.
Ia berlari ke parkiran dan mengejar Tera yang menaiki angkutan umum.
"Ayo. Bengong mulu." kata Ahmad.
Noa pun menuju motor dan Ahmad duduk di boncengannya.
"----kemana dulu nih? Toko bunga?"
Kembali, Noa hanya mengangguk, Ahmad memaklumi keadaannya. Ia hanya menepuk pelan pundak Noa dan tak berusaha mengajak ngobrol selama perjalanan menuju toko bunga.
Memesan bunga mawar biru sebanyak-banyaknya, Noa dan Ahmad berpindah dari toko satu ke toko lain untuk tujuan yang sama. Bunga tersebut di bawa mobil jasa antar barang menuju kebun durian Ahmad.
Noa mengulangi apa yang pernah ia lakukan seminggu yang lalu bersama Dimas. Ia dan Ahmad kembali menghias dan menyulap kebun menjadi taman buatan berwarna biru.
Ia mempersiapkan segalanya lebih matang dari sebelumnya, lebih rapi dan lebih indah tentunya.
Mereka memandangi hasil karya tersebut, Dimas menelepon Ahmad yang memberikan informasi bahwa Tera berada di dalam rumahnya.
Noa menuju rumah Tera, dan tugas Ahmad mengawasi hasil karya itu agar tak di rusak oleh apapun sebelum Tera melihatnya.
Dimas duduk santai di atas motornya. Rumah Tera terlihat sepi, pintu yang selalu tertutup rapat itu semakin membuat rumah Tera seperti rumah tak berpenghuni.
"Eh, lur. Si Tera di dalem." info Dimas saat Noa menghampirinya.
"----gue pergi duluan ya."
"Oke. Makasih, Dim." ucap Noa.
Dimas pergi menggeber motornya meninggalkan Noa yang tengah memandangi kembali rumah Tera, Noa mulai berpikir apa yang akan ia katakan agar Tera mau di ajaknya ke tempat yang sudah ia persiapkan.
Berjalan dengan langkah pasti menuju depan pintunya, Noa mengetuk pintu itu pelan.
Tera membukakan pintu, tetapi setelah mengetahui siapa yang ingin menemuinya, Tera kembali menutup pintu tersebut.
Noa menahan pintu itu sebelum benar-benar tertutup rapat kembali.
Tera memandang datar. "Gak, Noa..gue gak mau."
"Sebentar aja. Gue mohon."
Noa menampilkan wajah penuh harap padanya.
"Gue gak mau jadi maenan lo lagi." lirih Tera.
"Lo harus ikut gue. Udah itu terserah lo. Gue terima semua keputusan lo, tapi ikut gue dulu." mohon Noa.
Tera terdiam, ia berpikir sejenak kemudian mengangguk. Tak menunggu lama, Noa membawa Tera naik di boncengan motornya, dan Noa membawa Tera ke tempat yang telah dipersiapkan.
***
Dari kejauhan, Dimas dan Ahmad sedang memakan durian yang di tumpuk di satu tempat.
Noa yang baru datang menyangka mereka menjadi tukang buah dadakan sekarang.
Tera turun dari boncengan motor, mereka sama-sama memandangi dua makhluk pemakan buah tersebut.
"Sore, boss." sapa Ahmad.
"Gak usah liatin kita, elah. Lo kesana aja ajakin sebelahnya lo, noh." kata Dimas menunjuk Tera dengan dagunya.
"Lo mau nunjukin ini?" tanya Tera menunjuk ke sekelilingnya.
Noa meraih tangan Tera yang sedang menunjuk ke sekeliling tersebut. Ia membawa Tera masuk ke tengah kebun dimana sesuatu yang lain akan menyambut indera penglihatannya.
Dimas dan Ahmad mengikuti mereka dari belakang sembari membawa lima buah durian utuh.
"Ini...buat lo..." ucap Noa yang menunjukan semuanya pada Tera, sebuah kejutan untuk Tera.
Mata Tera berbinar walau sekejap, ia memandangi nuansa biru yang menyambut kehadirannya. Ia memperhatikan sekeliling dengan tatapan kagum. Tetapi kemudian ia memasang kembali wajah datarnya di hadapan Noa.
"Buat apa?" gumam Tera.
Ia melihat sekeliling kembali, hiasan berbentuk love yang kini melingkari mereka berdiri dengan indahnya di lilit sulur dan bunga mawar biru. Taburan bunga mawar biru membentuk huruf nama Tera. Balon yang juga di persiapkan dan di susun rapi membentuk namanya pula.
Dan, bunga-bunga yang di tancapkan membentuk simbol love tentunya dengan alas duduk untuk mereka telah siap, karpet biru muda yang sudah di bentuk simbol love mengikuti alur bunga mawar biru yang di tancapkan di pinggirannya, menanti sang putri untuk menduduki singgasananya.
Noa membawa Tera duduk di tengah simbol love tersebut, ia pun memulai pernyataan padanya.
__ADS_1
"Gue bukan orang yang romantis. Gue gak pandai berkata-kata dengan ucapan yang manis. Merangkai kata bagai pujangga. Hanya ini yang bisa gue lakukan untuk membuat lo sedikit merasakan keromantisan. Kalo ini masih gak seperti yang lo bayangkan, gue gak tau keromantisan apa lagi yang harus gue persembahkan buat lo." kata Noa.
Tera mendengarkan setiap kata dari ucapan Noa. Menyimaknya dengan ketenangan. Wajah yang datar, masih menanti kelanjutan atas segala kalimat pengantar yang Noa perdengarkan padanya.
"----gue bukan orang baik. Tapi gue sangat menyayangi lo, Tera. Sangat. Apapun akan gue lakukan, tapi bukan meninggalkan. Karena gue gak mau ninggalin lo. Gue pengen berada di samping lo. Menjadi orang yang spesial buat lo. Di spesialkan juga sama lo. Gue pengen ngerasain pacaran, merasakan dicintai dan disayangi. Gue pengen rindu ini juga dirindui seseorang. Gue pengen semua rasa itu berbalas. Gue pengen kayak orang lain di luaran sana, bahagia karena cinta meskipun pasti akan ada sakitnya. Gue pengen bisa membahagiakan lo, meski sesulit apapun itu. Sungguh." ungkap Noa.
Tera masih berdiam menantikan banyak kalimat yang belum berakhir.
"Lo mau gak, bahagia bareng gue? Menemukan kebahagiaan sama gue?" kata Noa.
Tera masih terdiam, memandangi wajah Noa. Bagai menyelami keseriusan yang terpampang di wajah Noa dan menjelajahi kesungguhan yang terpampang di hadapannya.
"Cintai gue meskipun gak sebesar cinta gue ke lo. Sayangi gue meskipun gak sebesar rasa sayang gue ke lo. Rindui gue meskipun rasa rindu lo gak sebesar rindunya gue ke lo. Bales semua perasaan gue dan jadilah pacar gue, Tera." ucap Noa.
Tera masih memandang lekat-lekat, memandangi keseriusan yang tak akan pernah pudar.
"Satu kalimat lagi yang akan gue nyatakan. Satu kali, hanya satu kali." ucap Noa sembari memandang wajah Tera seakan takut esok tak akan bisa melihatnya lagi. Ia menegaskan pernyataan, satu kalimat terakhir.
"Gue sayang lo, Tera." ucap Noa.
Tera memberi respon dengan mengangkat tangannya, ia mengelus pipi Noa dengan lembut.
Tera berbisik. "Gue juga sayang lo, Noa."
Senyumannya menerbitkan senyuman di bibir Noa. Matahari kini berjalan pulang, kembali ke peraduan. Pulang dengan anggunnya, memberikan kesempatan pada sang rembulan memulai kekuasaannya di malam yang akan menjadi saksi kesunyian dua insan yang akan memulai lembaran baru sebagai sepasang kekasih.
Tempat yang sederhana, tetapi lihatlah makna dari semua ini. Buah yang melambangkan ketangguhannya sebagai raja. Mahalnya seperti harga diri. Kekuasaannya yang bisa memberi banyak manfaat.
Tera pantas mendapatkan itu semua. Ia yang paling istimewa, penguasa atas berlanjutnya bahagia Noa.
"Jadi permaisuri hatinya gue ya." ucap Noa pelan dengan penuh keyakinan.
Tera mengangguk lucu dan tersenyum.
"Dengan senang hati, pangeran."
"Aciecie...udah jadian. Pajak mana pajak."
Ahmad saking semangatnya menjatuhkan buah durian yang ia bawa.
"Pajak jadian mulu, Mad. Mending makan duren deh. Ayo duduk sini." Dimas mengajak Ahmad duduk di tempat Noa dan Tera yang sedang duduk saat ini.
"Berasa dayang-dayang nih." canda Ahmad.
Dimas membelah buah durian dan menyimpannya di tengah-tengah.
"Nih, buat raja sama ratu. Gue persembahkan raja buah untuk merajai malam bahagia ini."
Iya, malam ini malam yang merajai hati. Dimana penguasa atas hati Noa kini telah benar-benar memiliki keseluruhan atas dirinya, keutuhan hatinya.
Ia menikmati indahnya malam dengan kudapan yang sedap, anggap ini perayaan atas keberhasilannya menemukan kebahagiaan atas cinta dan tentunya ia akan berusaha membahagiakan Tera yang kini telah menyandang status menjadi kekasihnya.
Tera tersenyum manis menambah kenikmatan saat mereka menikmati makanan ini.
Tera berbisik di sela kesibukan Dimas dan Ahmad yang tengah membelah buah durian.
"Jangan maenin gue ya." bisik Tera.
"Lo bukan maenan. Lo salah satu sumber kebahagiaan gue. Lo hidup gue. Paling utama buat gue." bisik Noa pula.
"Gue seneng..." bisik Tera lagi.
"Gue juga...jangan pernah pergi saat lo udah memutuskan untuk bersama." ucap Noa kala memandang wajah yang kini selalu di hiasi senyuman.
"Iya. Noa.......gue sayang lo."
Bisikan Tera terdengar jelas di indera pendengaran Noa.
"Gue bahkan udah sayang lo dari lama, baby." kata Noa.
Iya. Sejak mereka kembali bertemu beberapa bulan lalu, Noa memutuskan untuk menyayangi Tera tanpa akhir.
"Baby?" tanya Tera.
Noa mengangguk. "Hm, lo gemesin kayak baby."
Tera menunduk malu seraya mengulum senyumnya. Noa memegangi dagu Tera, menuntun Tera untuk kembali memandangnya.
"Jangan pernah menunduk. Tunduk artinya lo gak siap menghadapi hidup di masa depan. Liat ke depan, hadapilah. Pandang gue, karena lo harus menghadapi masa depan bersama gue." ucap Noa penuh kelembutan.
Mereka saling berpandangan, memberi waktu pada hati mengisi lewat mata yang kini saling memantulkan cinta.
"Oy, ntar aja romantisannya napa. Makan duren lagi. Lanjut."
Dimas mengambil satu biji durian dan menyuapi Ahmad yang sedang membelah durian yang lainnya.
Tera mengambil satu untuk Noa, ia menyuapi Noa dengan senyumnya yang masih tersungging sempurna. Terukir dengan indahnya.
'Esok hari saat sang mentari kembali pada kekuasaannya menerangi dan menyinari dunia, engkau masih akan selalu menguasai hati ini. Tak kan berubah. Tak akan terganti.'
__ADS_1
***
Tbc