
"Pagi baby Tera...."
Noa sedang ceria maksimal. Bunga itu selalu tersedia setiap pagi. Tiga kuntum yang selalu setia mengisi pagi hari bagi Tera dan Noa. Seperti rasa Noa pada tera yang selalu setia hingga detik ini.
Noa memberikan tiga kuntum bunga itu pada Tera. Tentunya, ini pemandangan pagi hari yang indah. Pastinya, Tera suka diperlakukan istimewa seperti ini.
Pagi ini kosan selalu ramai seperti biasanya. Kang Acep selalu berulah dan kang Jhon lawan beratnya. Rima hanya manggut-manggut pada dua orang pembuat ulah di kosan ini.
Tera dan Noa yang sedang menikmati pagi yang hangat ini tak bisa beromantis ria seperti biasanya. Mereka hanya memperhatikan para perusuh itu melakukan aksinya.
"Atuh, Jhon. Mafia bukan mapia." kata kang Acep.
"Mapia atuh, Cep." keukeuh kang Jhon.
Rima menimpali. "Itu mapia siapanya bakpia?"
"Ibunya atuh. Cucu dari nenek yang namanya nepia punya anak namanya pakpia yang nikah sama mapia terus beranak mbakpia. Adeknya namanya depia. Terus ompia nikah sama tantepia beranak sepupupia."
Kang Jhon menarik nafas panjang setelah penjelasan ilmiahnya selesai.
"Sue Jhon. Bakpia sama mbakpia gak sama." gerutu kang Acep.
"Sama aja. Tuh buktinya lo nyebutinnya mirip, Cep."
Rima memberikan dukungan pada kang Jhon yang sekarang sedang mengacungkan jempolnya.
"Rima my brosis...two thumbs up..." kata kang Jhon berpuas diri.
"Teu bisa kitu atuh, Rim. Mafia lainan mapia." keukeuh kang Acep yang protes pada Rima.
(Gak bisa gitu dong, Rim. Mafia bukan mapia).
"Lidah sunda mah gitu. Maklumi aja atuh, Cep."
Kang Jhon dengan otak encer kebanyakan di orak arik pakai telor pun kembali membuat alibi.
"Ngeles mulu, Jhon. Lidah lo kecele." omel kang Acep.
"Sue, lidah gue kepeleset maksud lo." kata kang Jhon.
Rima tertawa kencang. "Di lap atuh biar gak kepeleset."
"Lo mah kebanyakan makan gorengan ceu Iroh. Minyaknya bikin lidah kepeleset." kata kang Acep.
Kang Jhon dengan kekuatan sailormoon memulai aksi mengelak kembali.
"Ck, Cep. Gue mah orangnya low propil, kalo gue bener terus ntar gak ada yang namanya dosa gue ke lo."
"Masuk buku hidayah lo sana." dumel kang Acep.
Rima ngakak nista. "Judulnya 'si lidah kecele di azab kuburannya penuh gorengan'. Keren Jhon."
"Keren ya. Gue jualan di alam kubur dong."
Kang Jhon memiting Rima.
__ADS_1
Kang Acep ikut memiting Rima. "Si Jhon ntar sukses di alam kubur, Rim. Gue iri lah."
Yang di piting hanya tertawa lepas. Ia membalas ucapan kang Acep.
"Lo ikut jualan di sebelah si Jhon. Jualan minyak, Cep. Biar si Jhon kalo minyaknya abis belinya ke lo. Gak usah nyari ke warung teh Titin."
"Lo jualan gas melon tiga kilo, Rim." kata kang Jhon.
Mereka bertiga asyik bercanda. Tera dan Noa hanya memperhatikan mereka di kursi ruang tamu. Noa menyenderkan kepalanya sembari tertawa kecil mendengar candaan tiga makhluk idiot yang sedang berulah itu.
TOK TOK TOK
Semua perhatian tertuju pada pintu yang di ketuk. Rima membukakan pintu kosan yang tumben sekali pagi ini di tutup rapat.
Saat pintu terbuka, terlihat Jati di baliknya sedang tersenyum lebar pada si pembuka pintu. Rima bersender di pintu depan kosan dengan wajah malas dan tangan yang dilipat di depan dadanya.
"Ngapain kesini lagi?" tanya Rima dengan nada judes.
Jati dengan sok ganteng meraih tangan Rima.
"Mau minta maaf, beb. Maafin aku ya. Aku janji gak akan ulangi kesalahan aku."
Rima mendengus kasar. "Udah berapa kali gue sabar dan maafin kesalahan lo. Tapi lo tetep selingkuh."
"Aku janji kali ini gak akan gitu lagi. Aku janji, Rim." ucap Jati dengan wajah melasnya.
Rima tak terketuk hatinya melihat wajah memelas itu.
"Pergi lo. Jangan pernah temuin gue lagi. Kita udah putus dan jangan harap bisa kembali lagi." usir Rima.
Jati masih bersikukuh mendapatkan hati Rima kembali. Ia berusaha meraih tangan Rima untuk digenggamnya. Ia melakukan modusnya pada Rima. Tetapi Rima dengan ketegasannya mengusir Jati.
Jati yang tak mempunyai harapan dari Rima kini berlari ke arah Tera. Ia berlutut di depan mantan pacarnya. Ia menggenggam erat tangan Tera.
Kang Jhon dan kang Acep hanya menganga lebar melihat pemandangan tersebut. Rima pun terkejut dengan perbuatan Jati kali ini.
Jati dengan wajah memelasnya, memohon dengan sangat.
"Tera, kita jadian lagi ya. Aku gak akan selingkuhin kamu lagi." mohon Jati.
Noa menegang seketika mendengarkan ucapan Jati. Tangannya yang tadi merangkul pundak Tera kini berpindah mengait di pinggang Tera. Jari-jarinya menekan pelan disana.
Tera melepaskan genggaman tangan Jati. Tetapi Jati kembali meraih tangan Tera. Noa tak mengucapkan apapun, ia hanya memandangi wajah Jati saat ini. Ia hampir lupa untuk bernafas.
"Maaf, Jati. Gue udah punya Noa." ucap Tera lembut.
"Kamu putusin dia aja. Kita jadian lagi." pinta Jati.
"Gak bisa, Jati. Maaf..." kata Tera.
"Kenapa?" tanya Jati.
"Karena Tera udah punya Noa." kata kang Jhon dan kang Acep berjamaah.
Jati tak menghiraukan ucapan dua orang itu. Ia menggerakan tangan Tera untuk mengisyaratkan meminta jawaban yang ingin ia dengarkan dari mantan kekasihnya.
__ADS_1
"Karena aku udah punya Noa yang bener-bener sayang sama aku." terang Tera.
Noa kini bisa bernafas lega. Ia melonggarkan tekanan di pinggang Tera. Kini ia tak setegang barusan. Noa terlihat lebih rileks di samping Tera.
"Eh, Jati. Maksud lo minta balikan sama Tera apa? Kalian pernah punya hubungan?" tanya Rima dengan nada yang semakin meninggi.
Kang Jhon yang gregetan pun angkat bicara ingin segera menyelesaikan masalah ini. Ia melihat Jati yang tak berani menjelaskan pada Rima.
"Ini cowok pernah pacaran sama Tera. Lo dulu selingkuhannya, Rim." kata kang Jhon yang menjelaskan pada Rima.
Jati berdiri kembali saat kang Jhon selesai menjelaskan semuanya pada Rima. Kang Acep yang di lirik sekilas oleh Rima hanya mengangguk membenarkan ucapan kang Jhon.
Rima semakin murka pada Jati. Ia kembali mengusir Jati dari kosan.
"Jahat lo. Jati, gue gak sangka lo sejahat ini. Gue udah berusaha jadi pacar yang baik tapi lo gak bisa kasih balasan yang pantas. Keluar lo. Pergi dan jangan kembali. Lo juga jangan ganggu hubungan Tera dan Noa."
Jati pergi setelah mempermalukan dirinya sendiri di hadapan dua mantan pacar yang selalu ia selingkuhi.
Rima membanting tubuhnya untuk duduk di kursi. Ia menghela nafas dan menghembuskan dengan kasar. Dadanya naik turun menandakan dirinya sedang berusaha mengatur emosinya untuk menurunkan tensi dan sedang berusaha mengubur rasa sesal dan kesalnya.
Noa tak berkata apa-apa. Ia hanya diam memandangi Rima. Kang Acep menepuk pelan paha Rima saat memposisikan duduknya di sebelah Rima. Kang Jhon pun menepuk pundak Rima memberikan kekuatan untuk kembali bersemangat.
"Masih pagi, lur. Hari ini masih panjang untuk dilalui. Lo harus kubur emosi kayak gitu. Bikin hari lo jelek aja." ujar Noa saat ia merasa Rima sudah sedikit tenang.
Noa itu seorang yang bisa menyembunyikan banyak rasa yang buruk di hadapan orang lain. Tera cukup mengerti Noa. Sesungguhnya Noa lebih merasa kesal pada Jati saat Tera di minta untuk kembali padanya.
Tera menelusuri tangan Noa dan berakhir di jari-jari tangannya. Ia menggenggam erat tangan hangat itu. Tangan yang dahulu terulur saat ia merasa kesepian. Tangan yang merangkul saat ia merasa butuh topangan. Tangan yang memeluk saat ia merasa butuh kenyamanan.
Tera tersenyum. 'Dia. Noa. Sang kekasih. Satu-satunya cinta yang bertahan hingga detik ini. Di saat gue merasa terjatuh dalam lubang yang gelap, Noa mengulurkan tangannya untuk gue raih. Dia membawa gue ke pintu masa depan dengan secercah cahaya terang. Mengubur lubang hitam yang ingin menenggelamkan gue di dalamnya.'
Noa membalas genggaman jari-jari tangan Tera. Bahkan hangatnya menjalar hingga ke hati. Ia tersenyum dan memeluk Tera dengan curahan rasa sayang yang tersalur begitu saja.
Tera pun menyalurkan rasa sayang pada Noa dalam sebuah pelukan yang kini sedang di perhatikan tiga orang penghuni kosan lainnya. Mereka tersenyum melihat sesuatu yang manis.
Walaupun sekilas semua yang melihat pun tahu bahwa tatapan lembut itu selalu bisa menghipnotis yang menatapnya.
Tera tersenyum pada Noa yang sungguh bisa membuat perasaannya semakin tumbuh bersemi. Meluaskan rasa berbunga-bunga. Menerbangkan ke langit biru, bermain di atas awan dan menjatuhkannya di atas taman merindang kepuasan.
Rima mendesah berat. Terdengar suara sesenggukan setelahnya. Noa pun bertanya dengan rasa penasaran.
"Kenapa lo?" tanya Noa pada Rima.
"Gue masih jomblo..." kata Rima.
"Eh, dulu gue juga jomblo dan selalu di nistain semua orang. Jomblo itu keren. Sampe yang punya pacar aja ngaku jomblo ke yang laen. Jomblo itu tren masa kini." kata kang Jhon.
"Bodo amat, Jhon. Pokonya hari ini gue mesti dapet pacar. Cariin gue pacar." ujar Rima.
"Sabar...gue juga jomblo..." kata kang Acep seraya mengupil yang ia peperkan di kaus kang Jhon.
Rima mengancam semua orang. "Cariin gue pacar atau gue bakal minum aer kloset sampe keracunan."
TOK TOK TOK
Mereka belum menjawab nada ancaman Rima, tiba-tiba pintu depan terdengar di ketuk kembali.
__ADS_1
***
Tbc