
Tera duduk menatap sawah yang mulai kosong. Sawah kering yang kini menjadi padang luas tanpa kerimbunan.
"Jangan ngelamun." ucap Noa.
Tera sedikit terkejut, ia menoleh ke samping dimana Noa berada tanpa di perhatikan Dimas dan Ahmad yang sedang asyik saling mengejek.
"Kenapa?" tanya Noa yang menatap tepat di manik mata Tera. Mata hitam bulat sempurna yang begitu polosnya.
"Euh, aku..."
Tera tak melanjutkan ucapannya. Ia hanya memegangi jam tangan hadiahnya yang terpasang di pergelangan tangan kiri Noa.
Menunggu kalimat berikutnya, Noa menatap Tera mengisyaratkan dengan anggukan pelan memintanya melanjutkan ucapan yang masih menggantung.
"Aku..."
"Apa?"
Tera ragu untuk kembali melanjutkan ucapannya. Membuat kebingungan semakin bertambah, lipatan di dahi Noa pun masih terpampang jelas.
Mengherankan, setelah ia keluar toilet sewaktu istirahat dan membiarkan Noa lebih dulu ke kantin, Tera menjadi berubah. Ia lebih banyak diam. Hanya melamun seperti kejadian yang lalu, saat mereka baru menapaki status baru sebagai pacar.
"Aku..takut, Noa."
"Takut? Apa?"
Tera hanya membuka mulutnya sedikit, tak ada kata-kata yang keluar untuk menjelaskan semuanya.
"Takut kamu menjauh."
Akhirnya kalimat yang terputus terucapkan. Ingin rasanya Noa meluruskan sesuatu yang di takutkan Tera tak akan pernah terjadi.
"Aku gak akan menjauh. Meskipun kamu ingin. Aku akan tetap bertahan. Meskipun kamu usir. Aku akan tetap setia. Meskipun kamu mendapatkan pengganti aku."
Noa memandangi wajah Tera dengan kesungguhan. Itulah kenyataannya.
"Aku gak akan suruh kamu menjauh. Aku gak akan usir kamu. Aku gak akan cari pengganti kamu." cicit Tera.
"Jadi...gak ada yang mesti kamu takutin lagi kan?" tanya Noa memastikan.
Tera mengangguk dan tersenyum. Ia kembali menjadi Tera yang biasanya. Raut kesedihannya hilang seketika.
"----gak semua harus tergantikan. Masa silam gak akan lekang hanya untuk menjadi kenangan." bisik Noa.
"Maksudnya?" cicit Tera.
"Kamu yang sejak dulu mengisi hati aku, adalah masa silam. Dan yang berlalu sewaktu dahulu, kini masih terjaga. Pemilik hatiku, masa silamku. Bukan untuk menjadi kenangan. Lebih tepatnya, kita akan membuat kenangan bersama untuk diceritakan pada semua yang ingin mendengarkan. Tentang cinta yang melebur jadi satu." jelas Noa.
Penjelasan itu membuat Tera terharu.
"Noa..." lirih Tera.
"Kenapa? Ada apa sama kamu? Takutnya kamu, alasannya apa? Jujur dan jelaskan." kata Noa.
"Gak mau..." lirih Tera.
Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Berpura-pura paham, itu yang Noa lakukan.
Meminta penjelasan padanya tak akan bisa dengan kesabaran. Dengan cara kasar pun Tera akan tetap bungkam. Tera selalu menjaga rahasianya, ia tak tersentuh. Kedalaman hatinya sulit untuk di selami.
"Pengen pulang." bisik Tera.
Wajah memelasnya membuat siapa pun tak tega melihatnya.
Noa membawa Tera pulang ke kosan setelah berpamitan pada dua sahabatnya yang memandang bingung. Mereka menatap pada wajah Tera yang sedikit menunduk dengan tangan yang sedikit terkepal menutupi bibirnya.
Heran, itu yang membuat dua sahabatnya menatap penuh rasa penasaran. Noa diam, Tera bungkam. Dimas yang sangat peka, menatap tajam pada Noa, seakan ia tahu segalanya. Ia mengisyaratkan pada Noa akan sesuatu yang masih abu-abu.
***
"Noa..."
"Hm, iya..."
"Peluk..."
"Aku pengen bisa menyelami hati kamu."
Bisikan itu, membuat Tera menitikan air mata. Noa penasaran. Sungguh sangat penasaran akan apa yang terjadi pada Tera. Sebelumnya, Tera baik-baik saja.
Ia memejamkan mata, dengan posisi menyamping menghadap Noa. Mengikuti permintaanya, Noa pun memeluk tubuh ringkih itu.
Rapuh, seakan Tera akan remuk dalam pelukan. Rapuh, seakan hatinya bisa hancur kapan saja.
"Noa...aku gak rela..."
Tak ada sepatah kata pun yang terucap dari mulut Noa untuk membalas ucapan Tera. Tenggorokan Noa serasa tercekik. Kerongkongannya terasa mengering, sakit rasanya.
'Semua akan baik-baik aja, Tera.'
***
Kosan Noa di penuhi kekacauan. Pelakunya Dimas dan Ahmad. Untungnya, tiga orang penghuni kost masih di kampusnya masing-masing.
Mereka sedang bermain monopoli jaman dulu. Masih mengocok dadu dan menjalankan bidak secara manual dengan menghitung satu per satu kotak dalam sebuah kertas tebal berbentuk persegi.
Giliran Dimas yang berjalan. Ia mengocok dadu dan mulai menjalankan bidaknya. Mulutnya berkomat kamit menghitung langkah.
Dimas berhenti di kotak yang dipasangkan lima hotel oleh Ahmad. Sialnya, Dimas tak mempunyai cukup dollar untuk membayar Ahmad.
"Ngutang dulu." kata Dimas.
Ahmad berdecak. "Ck, bayar. Gak pake ngutang. Cukup utang lo di warung Pak kumis aja."
"Rese lo." sewot Dimas.
"Pinjem aja duit gue. Nih..."
Noa menyodorkan dollar mainan ke tangan Dimas yang langsung di terima dengan cengiran lebar.
__ADS_1
Saat Dimas bergerak akan membayar pada Ahmad yang sudah bersiap menadahkan tangannya, Noa kembali berbicara.
"----ntar bayar ke gue, ada bunganya. Dua kali lipat." kata Noa.
Tera yang berada di samping Noa pun mendengus geli. Ia menahan tawanya.
Ahmad yang merebut dollar mainan itu kemudian segera menyembunyikan dollar mainan ke dalam celana boxer nya.
Dimas melotot, ia merasa bodoh.
"Ternistai gue. Mau ambil duitnya, ada di celana bau si Ahmad. Lo belajar jadi rentenir, Noa. Berbakat lo."
Jangankan Ahmad yang sedari tadi tertawa, Tera pun ikut tertawa. Dimas yang merasa di zolimi pun merasa di undang untuk tertawa. Hal itu mengundang keriangan di salah satu ruangan kosan.
"Permisi..."
Suara dari luar kosan menginterupsi mereka. Semua mata menengok ingin tahu. Penasaran itu menghilang kala penglihatan Noa menangkap sosok wanita dengan tatapan lembutnya.
"Bunda?" ucap Noa pelan.
Semua terdiam kecuali Bunda yang memasuki ruang tamu, membuat Noa spontan berdiri dan tiba-tiba tersadar sudah dalam pelukan hangat Bunda, pelukan yang sangat dirindukan.
"Duh, Bunda kangen. Kata temen kamu, kemarenan kamu sakit. Bener?" cerocos Bunda.
"Iya. Udah sembuh kok, Bunda." ucap Noa lembut.
"Oh, syukurlah. Mana temen kamu yang namanya Tera?" tanya Bunda.
Tera refleks berdiri, kaku menatap sosok bunda. Dimas dan Ahmad masih setia memperhatikan mereka.
"Ini bukan, nak?" tanya Bunda menunjuk Tera yang masih membeku.
"Iya Bunda. Tera ini..."
"Oh iya. Bunda mau kenalin seseorang."
Bunda menyela ucapan Noa. Ia mengajak seseorang memasuki ruang tamu, reaksi Noa ialah terbelalak kala melihat sosok yang tak asing lagi. Ahmad pun bangkit berdiri.
"Abah?" seru Ahmad. "Abah ngapain disini?"
Bunda menatap bergantian dari Ahmad ke sosok yang ia gandeng saat ini.
"Loh? Abah? Ini anak kamu, kang?"
"Iya, neng. Ini Ahmad anaknya akang." tunjuk Abah Ahmad.
"Oh, yang ini anak saya. Noa..." kata Bunda.
Abahnya Ahmad mengangguk dan tersenyum.
"Semua teman Ahmad udah saya kenal. Termasuk Noa ini."
"Hm, bagus dong. Nak, Bunda niatnya mau tengokin kamu sekalian ngenalin calon-...." ucapan bunda terpotong.
Ahmad menyela. "Abah nyalonin jadi apa? Menteri perojekan?"
"Bukan. Abah kamu ini..." ucapan bunda kembali terpotong.
Dimas yang duduk refleks berdiri. Ahmad membelalakan matanya.
"Hah???" teriak Dimas dan Ahmad bersamaan.
"Bener Bunda?" tanya Noa meminta pembenaran.
Bunda mengangguk ragu. "Noa, Bunda boleh kan kasih Ayah baru buat kamu? Nak, Bunda..."
"Ahmad punya calon mama tiri, Abah?" tanya Ahmad menyela ucapan bunda kembali.
"Iya, Mad. Tapi kalo kamu dan Noa gak setuj-..."
Kembali di selanya ucapan Abah Ahmad oleh anaknya sendiri.
"Setuju Abah...ehem Bunda, eh salah. Calon Mama tiriku, Ahmad setuju Abah nikah lagi sama calon Mama tiri." kata Ahmad riang.
"Wow, sodaraan lo sama si Ahmad." Dimas menyikut Noa.
Bunda kembali memandangi Noa untuk meminta respon. Wajahnya memelas. Sepertinya Bunda telah jatuh hati pada sosok Abah Ahmad.
"Asal Bunda bahagia..." lirih Noa.
Rasanya Noa sakit melihat wajah memelas Bunda. Lebih sakit lagi, bila ia menolak keinginan Bunda mencapai bahagianya. Dan ia tak bisa mengabaikan Ahmad yang sangat antusias untuk mempunyai keluarga yang utuh lagi, ia yang akan menjadi sodara tiri Noa.
Tak tega rasanya bila Noa menghancurkan harapan Ahmad yang menginginkan keluarga yang utuh. Selintas Noa teringat akan wajah Tera yang menangisi sesuatu yang belum ia mengerti.
"Beneran, nak?" tanya Bunda.
Noa mengangguk membuat Abah Ahmad bernafas lega, Bunda pun mengukirkan senyumannya. Ahmad bersorak gembira, dan tercipta kelegaan dari sosok Dimas. Sedangkan Tera masih diam tanpa ekspresi.
"Yes, lo jadi sodara gue, Noa. Yes, gue punya calon Mama tiri. Eh, Bunda tiri." seru Ahmad.
Bunda dan Abahnya Ahmad tersenyum maklum melihat kelakuan Ahmad. Dimas yang melihat sahabatnya yang kekanakan hanya menepuk dahi keras-keras.
"Bunda..." ucap Noa pelan.
"Iya, nak." kata bunda.
Noa berpikir sejenak. 'Melihat sorot mata bahagia, gurat kegembiraan dan kelegaan di wajah senjanya, juga keriput yang tertutupi samar oleh bahagia yang tercipta. Haruskah di rusak begitu saja? Tapi kapan lagi gue bicara jujur? Bunda ada disini, kapan lagi bisa berbicara secara langsung padanya? Saat ini tentunya, saat dimana gue bisa melihat responnya secara langsung. Apapun reaksi Bunda nanti, biarlah masih menjadi rahasia di detik ini.'
Noa merangkul Tera yang masih terdiam, ia melanjutkan ucapannya. Ia berani akan kejujuran yang ingin disampaikan. Demi seseorang yang bertahta dan berkuasa atas hati dan kebahagiaannya. Masa depannya.
"Tera ini...pacar Noa.."
Ia menghembuskan nafas lega kala terucapnya hal yang ingin di sampaikan. Tera menegang dalam rangkulannya. Reaksi Bunda jelas sangat terkejut.
"Pacar? Dia bukan temen kamu. Dia pacar kamu?" tanya Bunda.
"Iya...Bunda." ucap Noa yang menatap tak lepas pada Bundanya.
Respon bunda seperti tak merelakan begitu saja. Tapi itu bukan alasan untuk melepaskan.
__ADS_1
"Bunda cuma takut kamu nikah muda, dan Bunda tau gimana sulitnya." lirih bunda.
"Tapi, Noa gak mau ninggalin Tera. Janji Noa untuk Tera. Bunda pernah bilang kan, lelaki jantan bisa dipegang janjinya." ucap Noa lembut.
"---biarkan Noa menepati janji, mewujudkan impian yang berasal dari sebuah ikrar. Bunda, demi janji yang harus di tepati. Demi Tera yang Noa ingin perjuangkan."
"Tante, Noa bahagianya sama Tera. Dimas jadi saksinya. Kalo mereka di pisahkan, Noa tersakiti dan Tera pun sama." kata Dimas.
Bunda menatap Tera yang menunduk. Begitu intens seperti ingin membedah ruang hati, menyelami kedalaman hati yang tak mampu Noa selami hingga detik ini.
Abah Ahmad menepuk pundak bunda lembut. Ia memberikan senyuman menenangkan.
"Biarkanlah...relakan mereka bahagia. Mereka sudah menyetujui hubungan kita. Melanjutkan ke jenjang pernikahan."
Bunda berjalan mendekat, ia memegangi kedua bahu Tera, membuat Tera mengangkat kepalanya. Dua orang yang Noa sayangi kini saling bertatapan. Lama, Bunda memperhatikan lekat-lekat wajah manis di hadapannya.
"Nama kamu Tera?" tanya Bunda dan langsung mendapat anggukan kepala dari Tera.
"----kamu sayang anak saya?"
Tera kembali mengangguk, ia membuka mulutnya tetapi belum mampu mengucapkan sepatah kata pun. Wajah memelasnya menyayat hati.
"----pantes Noa jatuh hati sama kamu. Pesona kamu terlalu kuat."
Ucapan Bunda membuat Tera membuang jauh-jauh rasa takut dan sedihnya. Raut bingung dengan rona kemerahan menghiasi wajahnya. Menggoda. Memabukan.
"----kamu gak mau putus sama anak saya?" tanya bunda.
Tera menggeleng. "Enggak, tante..." lirih Tera.
Bunda menatap wajah yang kini menampilkan kesedihan yang lebih nyata.
"Saya gak rela kalian pacaran. Lalu apa yang akan kamu perbuat untuk membuat saya merelakan kamu bersama anak saya?" tanya Bunda pelan namun tegas.
"Bunda..."
Noa angkat bicara tetapi bunda mengangkat tangannya menghentikan ucapan Noa.
"Ucapan di terbangkan angin. Janji harus ditepati. Janji kamu akan di terbangkan angin menembus ke langit." kata Bunda penuh penekanan.
Tera memberanikan diri menatap Bunda. Pasti, tak ada keraguan.
"Saya sayang Noa. Saya selalu melangitkan janji untuk anak tante, untuk Noa."
"Begitukah?" tanya Bunda.
"Saya akan selalu melangitkan namanya dalam untaian doa. Dia kerinduan saya. Janjinya telah saya langitkan. Saya gak akan meninggalkan kecuali saya meninggalkan hidup saya." jawab Tera lembut.
"Jawaban yang patut untuk di berikan apresiasi. Noa, Bunda merelakan kamu untuk melanjutkan hubungan bersama si manis Tera." ucap Bunda penuh ketegasan.
Bunda trauma, tentu saja. Ia pernah mengalami hal yang tak baik di masa lalunya. Ia ditinggalkan pasangannya. Tentunya, ia tak ingin Noa berniat menikah muda dan harus merasakan kandasnya sebuah hubungan. Ia hanya ingin Noa memiliki pasangan satu untuk selamanya.
Bernafas lega dan tersenyum itu yang kini Noa lakukan. Ia tak menyangka, Tera bisa mengutarakan isi hatinya pada Bunda. Bahkan ia hanya terdiam mendengarkan penuturannya.
Tera tersenyum manis dalam pelukan Bunda. Dimas dan Ahmad mengelus dada penuh kelegaan. Abah Ahmad menatap Noa dan mengangguk pelan dengan senyuman khasnya, begitu bijaksana.
"Kalo bisa sih, bikinin Bunda cucu ya. Nanti tapi...inget nanti...nanti." peringat Bunda.
"Kalo sekar-...emm."
Celetukan Ahmad terputus, di potong oleh bekapan Dimas yang memasang senyum palsu pada Bunda.
Tera canggung melihat kesana kemari. Noa bersikap santai. Noa tahu kekhawatiran Tera yang belum mengalami datang bulan. Yang terpenting Bunda sudah mengetahui hubungannya bersama Tera. Dan Bunda sudah menyetujuinya. Itu sudah lebih dari cukup.
Obrolan santai kini menghiasi ruangan yang penuh keriangan. Mereka duduk bersama, bersenda gurau. Tiga orang penghuni kost yang baru pulang kuliah pun larut dalam kebersamaan mereka.
Bunda berpamitan bersama Abah Ahmad dengan kendaraan terpisah. Bunda hendak memasuki mobilnya, Noa menyentuh tangannya lembut dan Bunda menoleh dalam diam menunggu apa yang akan di sampaikan oleh anak semata wayangnya.
"Kalo Bunda nikah sama Abahnya Ahmad, terus kerjaan Bunda dan dinas-dinas berpindah kota gimana?" tanya Noa penasaran.
Jawaban Bunda tak terlalu mengejutkan.
"Bunda udah pensiun dini. Mau buka pesanan catering. Bikin jajanan oleh-oleh juga, mungkin."
"Bunda mau menetap disini?" tanya Noa ragu.
"Hm, harusnya. Abahnya Ahmad kan tinggal disini. Lagian Bunda mau menyaksikan kelanjutan kisah cinta kamu."
Bunda tersenyum lebar. Berdiam sejenak, ia pun melanjutkan bicara.
"----dia... Tera maksudnya? Ehm, cantik tau."
"Ggahahaha...cantik kan? Bener apa kata aku."
Noa meraih tangan Tera yang sejak tadi bersembunyi di belakang mobil.
"Eh, ada orangnya? Duh, tengsin deh." kata Bunda.
"Dih, Bunda gengsi jangan di gedein. Jadi Bunda udah pensiun nih? Kapan mulai tinggal disini?" tanya Noa.
"Masih proses. Bentar lagi, kalo udah sah sama yang duduk di jok motor itu." kata Bunda menujukan pada Abahnya Ahmad.
Dimas duduk di atas motornya, begitu pula Ahmad beserta Abahnya menanti Bunda memasuki mobil. Tiga orang penghuni kost masih setia berdiri di depan pintu kosan.
"Bunda pergi dulu ya. Tera, baik-baik sama Noa ya." pamit Bunda.
"Hati-hati di jalan, Bunda." ucap Tera.
Kini ia mulai terbiasa memanggil 'Bunda'. Setelah di paksa Bunda berkali-kali.
"Daah, cantik..." kata Bunda sembari memasuki mobilnya.
Tera melambaikan tangan, kendaraan satu per satu meninggalkan kosan. Di awali dari mobil Bunda, motor Abah dan Ahmad di boncengannya dan di ikuti oleh motor Dimas. Para penghuni kost pun sudah menghilang dari depan pintu.
Semua memasuki kamar masing-masing. Di ruang tamu, Noa dan Tera duduk berhadapan.
"Jangan meragu. Aku yang merindu. Aku yang sabar menunggu. Tak mungkin meninggalkanmu." kata Noa.
Tera tersenyum. "Ucapan kamu telah terbawa angin. Dilangitkan dan akan turun saat kamu menepatinya."
__ADS_1
***
Tbc