Kakak Gemes

Kakak Gemes
Taburan bintang


__ADS_3

"Pagi cantik..."


"Noa..."


"Iya cantik..."


"Aku gak cantik..."


"Kamu cantik."


Noa memuji Tera secara beruntun. Mungkin ia sedang kejar setoran di kantor khusus memberikan pujian. Ponsel Noa berdering, ia meminta izin kepada Tera untuk menerima panggilan telepon tersebut yang langsung mendapatkan respon anggukan kepala dari Tera.


"iih, kucel gini di bilang cantik. Noa matanya rabun." monolog Tera.


Tetapi senyuman mengembang setelah mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.


"Hehe...ah, lopelope Noa ku.."


Tera cengengesan seperti bukan dirinya yang biasa. Ia pun seperti tak mengenal diri sendiri.


Noa, sosok yang merubah kepribadiannya menjadi lebih baik. Setidaknya, ia bisa lebih ramah dan lembut kepada orang-orang di sekitar.


"Kamu kenapa?"


Tubuh Tera menegang seketika masih dalam posisi telungkup. Matanya melotot saat mendengar suara itu. Suara Noa. Tera pun merubah posisi untuk melihat lebih jelas.


Noa masih belum merubah ekspresi herannya, membuat Tera malu dan canggung sendiri. Kini hanya menunduk yang Tera lakukan untuk menutupi rasa malu.


"Jangan nunduk."


Noa merendahkan tubuhnya, ia membungkuk berusaha melihat Tera lebih dekat.


Mata yang saling bertemu pun bertatapan tanpa berkedip. Tatapan mata teduh Noa selalu sukses menghentikan pergerakan Tera.


"Pemandangan disini indah ya."


Satu kalimat yang begitu ambigu pun Noa lontarkan.


"Tera...cantik..." sanjungnya.


Senyuman terbit kala bisikan itu ia perdengarkan hanya untuk Tera. Hanya mengusap pipi yang Tera lakukan pada kekasihnya.


"Cantik..." puji Noa.


Ia menggoda Tera. Desiran aneh pun Tera rasakan. Sensasi unik membuat perutnya terasa di gelitiki dari dalam. Seperti banyak kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya.


Pandangan Noa begitu penuh dengan kekaguman. Pantulan matanya menangkap wajah Tera. Tertangkap dalam fokusnya dan memerangkap dalam kenangan.


"Tera...kamu curang...kenapa aku harus tergila-gila sama kamu?" bisik Noa.


'Mengapa? Bahkan aku pun kini menggilai kamu. Sungguh. Aku pun telah jatuh terlalu dalam, jatuh dalam pesonamu. Jatuh yang membahagiakan.' batin Tera.


"Noa...kita impas..."


***


"AC nya mati, Noa." kata Ahmad menjelang siang ini.


Noa dengan santainya menjawab ucapan Ahmad.


"Kubur dong. Ntar bau bangkai."


"Koplok siah." kata Dimas yang tertawa menanggapi ucapan super kalem dari Noa.


"Kubur? Gue jadi 'Ahmad gayung' mandiin AC nya." canda Ahmad.


"Pantes AC nya mati. Dedemitnya lo, Mad." kata Dimas yang semakin terbahak.


"Kuburannya dimana sih. Gue belum ngelayat." canda Noa.


Ahmad melirik sinis pada Noa dan Dimas. Ia selalu menjadi bahan candaan dua sahabatnya. Dua orang yang dilirik hanya menaikturunkan alis membuat suasana menjadi netral kembali.


Dimas menjitak Ahmad yang manyun berat.


"Elah, disini dingin, Mad. Gak usah pake AC juga udah adem."


"Mad, gue tau kenapa itu AC gak idup." ucap Noa masih dengan kalemnya.


Ahmad antusias dan bertanya. "Lo tau? Lo bisa benerin?"


"Gue tau. Gue tau banget. Tau kalo lo bodoh." kata Noa.


Ahmad kembali manyun, Dimas yang masa bodo dengan kelakuan sok imut Ahmad hanya menatap Noa, ia menunggu kelanjutannya.


"----lo nyalain AC pake remote tivi."

__ADS_1


Dimas melirik tangan Ahmad yang memegangi suatu benda yang ternyata remote televisi. Semakin terbahaklah Dimas dibuatnya. Ahmad yang menyadari kebodohannya hanya menunjukan deretan giginya dengan wajah sok polos. Ia nyengir lebar.


Sandy yang sejak tadi hanya duduk diam, kini menggelengkan kepala dan meraih remote AC yang di letakan sembarangan di depan televisi.


"Kebalik, Mad. Semalem lo nyalain tivi gak idup-idup gara-gara pake remote AC." kata Sandy.


Ahmad semakin menunjukan wajah polosnya membuat Dimas mau tak mau menjadi gemas dengan kelakuan sahabatnya tersebut.


"Mad, lo gemesin ternyata. Asli, begonya original. Kampungan, ndeso, norak, monyet turun gunung...hm, apa lagi, Noa?" kata Dimas yang merangkul Ahmad. Ia bertanya dan memandang Noa meminta dukungan.


"Kerdus...kera dusun." ucap Noa cuek.


Ahmad bukannya marah, ia malah tertawa mendengarkan penuturan Dimas dan Noa yang mengejeknya.


Tera pun tersenyum melihat pemandangan aneh ini. Persahabatan mereka semakin erat dengan lontaran candaan khasnya.


"Sini, baby."


Noa menggerakan tangannya meminta Tera untuk duduk di pangkuannya.


Menuruti permintaan Noa, Tera pun beranjak dari duduk di sofa yang lain menuju ke pangkuan Noa. Sembari memainkan ponsel Noa, ia membuka sosial media milik Noa yang selalu di penuhi chat dari banyak orang yang terpesona pada kekasihnya termasuk salah satunya adalah Sandy.


Noa mengaitkan tangannya di pinggang Tera. Ia merebut ponselnya dari tangan Tera agar perhatian Tera tertuju padanya.


Noa pun meraih tangan Tera untuk merangkul pundaknya. Tangannya yang mengait posesif di pinggang Tera kini menekan pelan.


Dimas dan Ahmad berdeham, memutus kontak mata antara Noa dan Tera. Noa mengalihkan pandangan pada dua sahabatnya. Tera pun berpindah memandang Sandy yang memperlihatkan wajah geramnya.


"ups, awas ada yang....GAHAR..." ledek Ahmad.


Noa mengabaikan mereka semua. Ia hanya terfokus pada satu hal yang ia sukai.


"Gue penggemar Tera. Gue ngefans sama dia. Tera itu favorit gue."


Noa berbicara dengan nadanya seperti untuk di dengarkan sahabatnya tetapi menujukannya pada Tera. Ia fokus memandangi wajah gadis manisnya.


"Kampret, lo ngomong sama siapa?" tanya Dimas.


"Sama lo pada lah." jawab Noa cuek.


Sekilas Tera melihat ekspresi dari mereka semua.


"Liatnya kemari dong." ucap Ahmad.


"Gak bisa. Udah nyaman kayak gini."


Noa tak melihat itu semua, ia masih mengunci tatapannya pada wajah Tera.


Sandy berdeham, ia mulai berbicara kembali. Meminta perhatian pada semuanya, khususnya pada Noa agar perhatian Noa teralihkan untuk sementara.


"Noa, hari ini kita mau jalan kemana?" tanya Sandy.


"Ah, ke Gunung Mas." usul Dimas.


"Ke Kebun Raya Bogor." usul Ahmad.


"Lo udah punya kebon, Mad." kata Dimas.


"Ck, kebon gue masuknya gak bayar, gak pake tiket. Terus nama tengahnya gak pake kata 'raya.' Kita kesana ya, please atuh lah." rengek Ahmad.


"Ke Jungle Land Sentul aja." usul Sandy.


Noa mendengarkan semua usulan mereka.


"Gunung mas mah deket, lo tinggal loncat indah kesana. Ke Kebon Raya atau Sentul? Pilih satu, pilihan yang laen buat besok."


"Kita kan liburan di Puncak. Tapi wisatanya lumayan berjarak jauh. Macet lagi. Kamu kan masih sakit." ujar Tera yang cemas akan kondisi Noa yang belum pulih sepenuhnya.


Noa hanya tersenyum menanggapi ucapan Tera. Mungkin ia hanya ingin membuat semuanya gembira di liburan sekolahnya.


"Jungle Land." teriak Dimas dan Ahmad.


"Yes, jungle Land. I'm coming."


Sandy mengacungkan jempol untuk duo idiot.


Noa menepuk pelan pinggang Tera. Semua bersiap diri untuk perjalanan menyenangkan hari ini.


Seperti biasa, Noa yang menyetir di temani obrolan yang selalu di hadirkan oleh Sandy. Kehebohan yang di buat dua makhluk idiot sahabat Noa adalah kegaduhan yang hakiki. Tera diam, ia duduk tertib memandang lurus ke depan ke jalanan yang mereka tempuh.


Jungle Land. Semua antusias. Semua semakin bersemangat bermain dan berkeliling disana. Terutama Dimas yang kelakuannya bersaing dengan monyet peliharaannya, Justin.


Untung Justin tak di ajak berlibur, bila Justin di bawa bisa dipastikan akan ada dua makhluk kembar yang tak bisa di bedakan mana yang manusia sungguhan dan mana yang hanya dimiripkan manusia.


Tera tak bisa menikmati kesenangan ini seperti yang lainnya. Perhatiannya tercurah hanya pada Noa yang tengah duduk lemas dengan peluh membasahi sekujur tubuhnya yang masih terasa sangat panas.

__ADS_1


"Noa..." lirih Tera yang merangkul bahu Noa.


Hal itu membuat Noa menoleh ke samping. Ia memandangi Tera dengan senyum yang di paksakan. Tubuhnya hampir tumbang apabila tak di tahan oleh rangkulan Tera.


"Panas..." bisik Noa.


"Pulang aja ya." ucap Tera yang di respon gelengan kepala kekasihnya.


"emm...jangan sampe mereka tau ya. Biarin mereka seneng-seneng menikmati liburannya." lirih Noa.


"Kenapa harus maksain diri sih." omel Tera.


"Kalo gak di paksa, sakitnya makin manja." kata Noa.


Kepala Noa bersender di bahu Tera. Mereka melihat sosok Dimas dan Ahmad yang berlarian kesana kemari sembari menyeret Sandy.


"Gabung sama mereka, gih." suruh Noa.


"Aku disini aja. Sama kamu..." bisik Tera.


Noa tak merespon apapun. Ia hanya diam, sesekali Tera mencuri pandang pada Noa yang tengah memejamkan mata dengan penuh ketenangan. Sebegitu pintarnya ia menutupi sakitnya.


Harapan Tera ialah segera berakhirnya liburan mereka disini. Tera ingin merawat Noa di kosan sampai ia benar-benar sembuh.


***


"Seru barusan. Ggahahaha...Sandy, yaelah jangan ngambek dong." rayu Dimas seraya mencolek dagu Sandy.


"Dih, ngambek. Deudeudeuh..." ledek Ahmad.


"Lo..lo juga. Kejam nyeret gue kesana kemari. Gue ngerasa kayak kambing tau. Nyebelin ya lo berdua." gerutu Sandy.


Kelihatannya mereka bertiga mulai akrab. Tera berharap Sandy tak akan merusak hubungannya lagi. Ia berharap Sandy akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik.


'Karena sungguh gue gak akan pernah rela bila Noa di rebut orang lain. Gak akan merelakan bila dia di miliki hati yang lain. Gak akan...rela.' batin Tera.


"Baby, ke belakang villa yuk. Aku liat banyak bintang bertaburan di langit malem ini." bisik Noa.


Tera menoleh memandangi Noa, berbalut jaket ia membawa Tera ke belakang villa. Bahkan ia memakaikan jaket pula pada Tera.


Duduk di depan Noa dengan bersender nyaman di dadanya, Tera menengadah melihat pemandangan yang ramai di langit sana. Kerlipan bintang menggoda, langit gelap bertabur bintang tak membuat keindahan Noa meredup.


Noa menunduk, membuat perhatian Tera tertuju padanya. Nafas panas, wajah pucat, matanya yang tak berbinar seperti biasanya menggores hati.


"Cepet sembuh, sayangku." bisik Tera tepat di depan wajah penuh pesona itu. Wajah yang selalu berkharisma, wajah berwibawa dan...tampan.


Noa tersenyum. Ia melakukan sesuatu yang manis. Ia membuat cincin dari batang rumput. Lalu memakaikannya di jari manis tangan kanan Tera.


"Nanti aku ganti pake cincin asli. Sementara pake ini dulu ya. Tagih janji aku, kalo aku lupa." bisik Noa lembut.


Tera mencurahkan sesuatu dalam hati. 'Terharu. Sungguh. Ia manis. Apapun yang ia lakukan, apapun yang ia sampaikan semua itu membuat hati berbunga-bunga. Bahagia rasanya.'


"emm...kamu percaya gak, kalo aku bener-bener sayang kamu." lirih Tera.


Noa mengangguk. "Percaya. Semua itu aku rasain di dalem sini."


Ia menunjuk dadanya dan jari itu berpindah ke dada Tera.


"----perasaan aku udah sampe kesini."


"Udah lama." bisik Tera.


Ia mengulangi ucapan itu agar Noa puas mendengarnya.


"----udah lama, Noa."


"Hm, makasih cantik." kata Noa.


Pujian itu kini begitu Tera sukai. Ia igin kembali mendengarkan pujian dari Noa. Satu kali saja.


"Lagi..." bisik Tera.


"Sebanyak apa?" balas Noa yang berbisik.


"Satu kali lagi..."


"Cantik..."


Tera duduk menyamping masih dengan posisi di depan Noa, ia memeluk Noa dengan sangat erat.


Tera membatin. 'Sungguh, hanya ia yang bisa membuat hati ini merasakan banyak rasa yang indah untuk dirasakan.'


***


Tbc

__ADS_1


__ADS_2