
Sementara itu, setelah kepergian Noa yang membawa Tera yang tengah pingsan dalam gendongannya, Sandy sesenggukan. Ia menangis.
Isakan pilu itu ingin Dimas hentikan. Sandy terisak-isak, tangisannya semakin menjadi-jadi. Dimas melonggarkan kuncian di leher Sandy. Dengan menutup mulutnya pun isakan itu masih sangat jelas terdengar.
Perih rasanya hati itu. Pedih rasanya bagi yang mendengarkan. Dan Dimas berkesempatan untuk diperdengarkan nyanyian pilu itu. Sebuah kidung kesedihan.
Karena tak tega dengan kondisi Sandy dan keadaan hatinya yang hancur tak tertolong itu, akhirnya Dimas melepaskan kuncian di leher Sandy. Ia tak berniat untuk melaporkan perbuatan Sandy kepada pihak yang berwajib.
Karena Noa pun tak memberikan perintah itu. Ia takut salah langkah. Ia masih ingin menolong seseorang yang salah langkah dengan hati yang sedang tercabik-cabik itu. Bukan tidak mungkin hati itu terkoyak habis di dalam sana.
Setelah kuncian di leher itu dilepaskan oleh Dimas, Sandy terjatuh begitu saja. Jatuh berlutut sembari memegangi dadanya bahkan meremas bagian baju di area dada itu. Ingin melampiaskan rasa yang berkecamuk hebat. Ia menyalurkannya lewat menyakiti dirinya sendiri.
Ia sosok yang tak berdaya. Bahkan kakinya terasa tak mampu untuk menopang beban tubuhnya yang terbebani pula oleh kesalahan. Kejahatan itu pun tak ingin ia lakukan. Ia pasti tak ingin mendapatkan peran yang di benci semua orang.
Sandy bukan pemeran antagonis. Ia hanya membutuhkan semua yang Tera miliki. Ia pun butuh cinta. Ini hanya sekedar rasa iri berlebihan. Bahkan cinta semu pun ia rasa cinta sejati. Bahkan cinta samar pun ia rasa cinta yang abadi. Begitulah butanya cinta. Memang seperti itulah cinta merusak hati.
Sandy memblokir suara tangisannya. Percuma saja. Itu hanya perbuatan yang sia-sia. Kenyataannya suara itu masih terdengar jelas walaupun ia berusaha keras untuk tak memperdengarkannya kepada yang lain.
Dimas yang tak tega melihat pemandangan memilukan itu pun ikut berlutut di hadapan Sandy. Ia berusaha untuk memandang wajah Sandy tetapi usaha itu tak berhasil. Sandy menunduk dalam, tak ingin memperlihatkan kerapuhan di wajahnya.
Ia terus menerus menunduk, membuat Dimas terpaksa harus memegangi dagu Sandy. Dimas memaksa Sandy untuk sedikit mendongak. Ada pancaran kesedihan yang amat sangat. Terpancar jelas dari matanya yang nanar. Bahkan Dimas pun tak sanggup melihatnya.
Dimas membuang muka lalu menengadahkan wajahnya untuk menutupi rasa sedihnya melihat wajah tanpa rona bahagia itu. Air mata itu mati-matian Dimas tahan. Membendungnya sembari terus menengadah agar tak jatuh dan menetes.
Setelah di rasa yakin dirinya siap untuk menghadapi Sandy tanpa uraian air mata, Dimas memulai untuk membuka percakapan.
"Sadarlah !!!"
Hanya itu yang terucapkan di awal percakapan mereka. Sandy masih dengan isakan pelan segera menghapus air matanya.
"Kenapa lo gak laporin kejahatan gue?" lirih Sandy bahkan sulit untuk terdengar jelas karena terganggu oleh isakannya yang masih tersisa.
"Harusnya Noa yang laporin lo. Tapi dia gak bilang apa-apa. Itu artinya lo masih bisa dapetin maaf darinya. Itu tanda lo masih bisa berbaikan sama mereka. Sadarlah Sandy." bisik Dimas.
"Semua benci gue. Noa juga gak cinta gue. Padahal gue cinta dia. Cinta banget." teriak Sandy.
"Gue gak benci lo, Sandy. Biarin semua orang benci lo, tapi gue enggak. Lo gak cinta sungguhan ke Noa. Makanya dia gak ngerasain hal yang sama. Rasa lo gak tersampaikan dengan baik bukan karena salah Tera yang berada di sisi Noa. Bukan juga karena Noa cuma cinta Tera. Tapi cinta lo gak bisa meyakinkan dia, cinta lo semu karena peduli semata. Cinta lo samar karena merasa diri lo lebih baik dari Tera. Lo merasa lebih pantas buat Noa. Tapi kerja cinta itu gak kayak gitu, Sandy. Kalo lo pengen yang tulus, lo harus setulus mungkin mencari ketulusan yang pantas."
Dimas berusaha tiada henti untuk menyadarkan Sandy bahwa cintanya ada untuk Sandy dan masih bersabar menanti terbukanya cinta sejati.
__ADS_1
"Kenapa lo dan Noa cuma bilang gue cinta karena peduli. Gue sungguh-sungguh cinta dia." lirih Sandy.
"Emang begitu adanya, Sandy. Sadarlah. Gue sama kayak lo. Gue juga pengen dapetin cinta yang layak. Lo tau, gue itu iri liat Ahmad. Dia yang idiot aja udah laku. Statusnya udah berubah jadi berpacaran. Ceweknya cantik, namanya Imas. Tapi rasa iri gue masih di batas kewajaran. Gue iri dengan di iringi doa. Gue selalu berdoa meminta diberikan cinta dari seseorang yang baik hatinya. Lo juga iri liat Tera. Jangan salahin Tera, dia gak tau apa-apa. Dia cuma menerima bukan mengejar. Lo pengen dapetin sosok pacar kayak Noa kan?"
Dimas berusaha untuk meraih hati yang hampir terjatuh dari tebing lara.
"Gue cuma pengen Noa. Gak ada yang bisa sama persis kecuali gue bisa dapetin dia." ujar Sandy.
"Itu cara yang salah. Cinta gak seinstan itu. Harus ada usaha dan pengorbanan yang gak tanggung-tanggung. Kalo lo pengen yang terbaik, lo juga harus menunjukan diri lo yang terbaik." balas Dimas.
"Gue cuma pengen Noa." keukeuh Sandy.
Dimas masih berusaha menyadarkan sisi hati Sandy yang tertidur.
"Kalo ada yang sebaik Noa, apa lo mau jadi pacarnya? Gue bakal berusaha jadi kayak yang lo mau. Asalkan lo gak ngejar yang gak bisa lo kejar. Noa udah sama Tera. Mereka bahagia. Biarin bahagianya kayak gitu aja."
Sandy masih belum bisa berkata-kata karena ucapan Dimas yang sungguh-sungguh. Keyakinan. Kesungguhan. Ada pada diri Dimas ketika ia berhasil memperdengarkan pernyataannya.
Dimas melanjutkan untuk menyatakan rasanya kepada Sandy.
"----lo baik. Lo ramah. Orang yang ramah dan baik hati. Gue pengen punya pacar yang baik hati kayak lo, Sandy."
"Lo salah, Dim. Gue gak baik hati. Harusnya lo pergi dan menjauh dari gue kayak yang lainnya. Jauhi gue biar lo gak nyesel." kata Sandy.
Sandy terisak-isak, entah karena rasa bersalah itu atau karena terharu oleh pernyataan Dimas.
Dengan kesungguhan, Dimas kembali meraih dagu Sandy. Mengarahkannya untuk menatap langsung ke tatapan mata. Bahwa semua ini ialah sebuah kesungguhan. Bukan hanya bualan belaka.
Dimas kemudian mensejajarkan wajahnya dengan wajah Sandy. Lalu ia membuat satu pernyataan terakhir. Sebuah pernyataan yang sungguh harus diberikan jawaban.
"Gue pengen ngerasain pacaran. Gue pengen ngerasain malem mingguan sama pacar. Gue pengen dapetin cinta dari lo, seorang yang baik hatinya. Mau ya, jadi pacar gue." ucap Dimas.
"Gue...gak bisa, Dim. Lo salah." lirih Sandy.
"Mananya yang salah? Kasih tau gue." tanya Dimas.
"Gue..."
Tetapi Dimas menyela ucapan itu.
__ADS_1
"----lo benar. Lo selalu benar buat gue. Jadiin gue cowok yang sempurna dong. Cowok yang bahagia karena dapetin cinta yang sempurna." bisik Dimas.
"Enggak. Lo salah." bisik Sandy.
"Kalo gue masih salah, gimana kalo lo jadi kebenaran dan penyempurna hidup gue." ujar Dimas.
Sandy menggeleng kuat-kuat. "Sadarlah, Dim. Gue bukan impian lo. Gue bukan orang yang baik hati."
"Rasa iri menutupi kebaikan lo yang seharusnya muncul itu. Lo baik. Lo baik hati. Kalo yang laen gak bisa liat itu, biar gue aja yang liat. Lo sama gue aja. Gue janji, bakal bahagiakan lo. Gue bakal berusaha jadi pacar seperti yang lo mau." kata Dimas.
"Lo nembak gue?" tanya Sandy.
Dimas mengangguk pasti. "Iya, Sandy."
"Lo beneran nembak gue kan?" ulang Sandy.
Dimas mengangguk yakin. "Iya. Beneran. Gue yakin sama lo. Sebaliknya, lo juga harus yakin sama gue. Biarin gue bahagiakan lo. Biar itu jadi tugas gue aja. Lo terima aja semua yang gue usahakan. Mau ya."
Sandy mengangguk kecil sebagai jawaban atas pernyataan cinta yang teruntuknya tersebut.
"Jadi sekarang kita pacaran?" tanya Sandy polos.
"Hm, waktu lo angguk barusan kita udah resmi pacaran." jawab Dimas.
"Lo gak romantis." lirih Sandy.
Dimas tertawa kecil menanggapi kepolosan itu.
"Gak romantis ya. Hm, gue akui itu. Tapi buat apa cowok romantis kalo dia gak bisa kasih ketulusan dan kesungguhan. Gue punya keyakinan buat bikin lo bahagia, dan gue pasti bisa. Gue bakal berusaha buat jadi pacar romantis kayak yang lo mau. Gue bakal berubah demi lo. Kasih tau gue gimana caranya bikin lo seneng. Gue bisa seromantis yang ada dalam khayalan lo."
Sandy tersenyum tipis. "Lo mau usaha sampe segitunya buat gue?"
"Demi lo. Gue mau. Gue bisa. Gue udah sering liat Noa dan Tera. Sempet kaget di awal tapi gue belajar banyak setelahnya. Gue sering tanya Noa tentang ini dan itu. Percaya sama gue. Lo bakal bahagia." bisik Dimas membuat Sandy tersenyum untuk yang kedua kalinya di saat mereka telah menyandang status sepasang kekasih beberapa menit yang lalu.
Dimas memberanikan diri untuk mendekati wajah Sandy. Tangannya masih memegangi dagu Sandy. Dengan perlahan ia mengecup sekilas bibir itu. Satu kecupan curian setelah status berpacaran. Kecupan pertama bagi mereka, di kehidupan remaja mereka.
"Lo romantis." bisik Sandy.
"Ternyata sederhana ya. Gak susah jadi romantis." bisik Dimas.
__ADS_1
***
Tbc