
Kepada adik iparku Faizara
di tempat.
Tolong, kalau jemur cucian jangan hanya memakai handuk. Sekian.
Tertanda: Zian
***
Aku menganga setelah membaca tulisan singkat, padat, jelas dan super duper nyebelin yang diberikan kakak iparku saat berpapasan di dapur barusan.
Apa maksudnya kirim beginian?
Pikiranku langsung teringat tadi pagi saat menjemur cucian di samping rumah hanya memakai handuk dan apesnya, handuk yang melilit dada sampai sebatas lutut itu jatuh.
Mataku melotot, berarti dia melihat kejadian itu alias melihat tubuhku yang polos!
Secarik kertas ini aku lempar ke tempat sampah. Napasku memburu. Gigi-gigiku atas bawah saling menggigit. Geram, marah, dan malu.
Tangan kanan refleks menggebrak meja rias. Bedak, lipstik, dan semua yang ada di atasnya berguncang.
Kakak suamiku ini sengaja ingin mempermalukanku! Aku tidak terima! Sumpah demi apa pun aku tidak terima!
Aku menggulung lengan baju, ingin rasanya meninju mukanya, dan menendang perutnya kuat-kuat!
Air mataku menggenang, seiring emosi membuncah dalam hati.
"Assalamualaikum, Sayang. Tumben tidak menunggu suamimu ini di teras?"
Aku terkesiap. Mas Raka masuk kamar. Air mata yang seketika menetes langsung aku hapus. Tak ingin ketahuan kalau sedang menangis.
Napasku masih memburu. Aku menarik napas panjang, lalu berbalik menyambut suamiku.
"Waalaikum salam, Mas." Aku menjawab salam dengan suara bergetar, memaksakan bibir untuk tersenyum sambil berjalan menghampirinya dan mencium tangan kanannya.
"Sayang, kenapa tangannya sedingin es?" Mas Raka membawa tangan kananku ke pipinya sambil menatapku lembut.
"Anu, itu, Mas ...." Aku ragu untuk mengatakannya.
“Anu apa?"
Suamiku yang tampan ini tampak menunggu sambil mengangkat sebelah alisnya. Bibirnya tak lepas tersenyum.
"A-aku dingin, ya ... dingin. Karena aku selesai mandi?" Aku tak jadi mengadu padanya. Tak baik juga suami pulang kerja langsung membicarakan hal yang tidak mengenakkan hati.
"Oh ... gampang, kalau itu." Mas Raka tersenyum, semakin memajukan wajah dan melakukan ciuman di keningku.
__ADS_1
Ciuman hangat dan lembut dari suamiku tak membuat rasa kesalku pada Kak Zian sirna begitu saja.
"Gimana, sudah hangat, kan?" canda Mas Raka sambil tertawa pelan.
"Hangat, eh ...?" Aku gelagapan.
Mas Raka masih tertawa, pasti mengira aku lagi gugup.
"Kamu lagi sakit mata, Sayang?" Setelah mencium keningku, sekarang Mas Raka meneliti kedua mataku.
"Eh ... tidak, hanya agak perih, Mas."
"Oh, sebentar Mas ambilkan obat tetes mata ya," ucap Mas Raka sambil mengecup kembali keningku.
"Ti-tidak perlu, Mas. Sebentar lagi juga sembuh." Aku segera mencegahnya.
“Oke, Sayang." Mas Raka menatapku lekat. Dia lalu mendekatkan bibir ke telingaku, “Sudah suci dari tamu bulanan, kan?”
“Belum, Mas. Biasanya juga tujuh hari sudah bersih. Ini sudah delapan hari, Mas yang sabar ya.”
Aku berkata pelan.
“Mas selalu sabar, Sayang," kata Mas Raka sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggangku.
Aku kaget, Mas Raka tiba-tiba membopongku ke kasur. Lalu menggelitiki pinggangku. Tindakannya membuatku tertawa. Tapi, tak serta merta membuat kekesalanku sirna pada kakaknya.
💗💗💗
"Masak apa malam ini, Sayang?"
"Tadi sore aku cobain buat pizza, Mas?"
"O ya?" Mas Raka langsung antusias.
"Istrimu ini, jago bikin pizza, loh, Ka," puji mama mertuaku.
"Masih belajar, Ma. Fai takutnya tidak enak." Aku memang ragu, takutnya pizza buatanku tidak enak.
Aku mengambil pizza cutter dan memotong pizza dengan topping sosis, pepperoni, dan keju mozzarela itu menjadi beberapa bagian.
"Wah ... pasti yummy, nih!" Mas Raka tersenyum. Dia menelan ludahnya tanda tergiur dengan pizza yang aku bikin.
Mama dan Mas Raka duduk menghadap meja makan. Kami bersiap makan malam.
Sore tadi, aku sudah senang karena berhasil membuat pizza, sebelum akhirnya, si kakak ipar tak tahu diri masuk ke dapur dan memberikan secarik kertas tanpa berkata apa-apa. Surat yang membuatku meradang dan sangat kesal padanya.
“Ina, panggil Zian untuk makan malam,” ucap Mama pada Ina, pembantu yang bertugas memasak.
__ADS_1
“Iya, Nyonya.”
Huh! Ngapain juga si Zian itu juga dipanggil? Aku malas melihat wajah kakak iparku itu.
Tak berapa lama kakak iparku datang ke dapur, menarik kursi dan duduk. Dia tidak berkata apa pun. Mas Raka pernah menceritakan, kalau kakaknya yang tinggal bersama neneknya di daerah pegunungan ini orangnya pendiam.
Mama dan Mas Raka yang menyapanya terlebih dahulu. Aku tak peduli, dan tak sudi berbasa-basi padanya.
Mas Raka mempersilakan Mama mengambil potongan pizza.
“Enak,” ucap Mama di sela-sela mengunyah pizza buatanku.
“Iya enak banget, sudah seperti pizza ber-merk terkenal itu.” Mas Raka menyetujui ucapan Mama setelah menggigit dan mengunyah pizza full topping buatanku.
Aku tersenyum, dalam hati begitu bahagia. Ingin melupakan kemarahanku akibat pria tak tahu diri yang duduk di kursi seberangku.
“Silakan cobain masakan istriku, Kak Zian.” Mas Raka mempersilakan.
Pria bercambang tipis itu dari tadi hanya melihat pizza buatanku sambil meringis. Entah apa yang ada di pikiran kakak ipar yang baru kemarin sore datang menginap di rumah ini.
Iya, seminggu lalu saat pernikahanku dengan Mas Raka, dia tidak datang, Mama terdengar sering meneleponnya memintanya agar datang ke sini, tapi katanya pas hari pernikahanku, neneknya jatuh, dan harus dibawa ke puskesmas. Jadinya, dia tidak bisa datang.
Seharusnya nenek dan Kak Zian datang jauh-jauh hari ke sini dan ada saat hari bahagia kami. Entah, aku belum menanyakan kenapa Mas Raka tidak menjemput nenek, ibu dari almarhum papanya itu.
Dari ekor mataku, Kak Zian terlihat mengulurkan tangan kanan, mengambil sepotong pizza, mengucap basmalah dengan suara pelan lalu ....
Aku tersenyum pada Mas Raka yang lahap menyantap pizza buatanku. Aku juga sambil mengunyah pelan. Berusaha menikmati pizza buatanku.
Suara kakak iparku terbatuk-batuk. Aku awalnya tak peduli, tapi saat sekilas melihat padanya, dia bukan hanya batuk-batuk, tapi ... menyemburkan pizza di mulutnya ke meja makan membuatku melotot. Dasar orang aneh dan kampungan!
“Ma-maaf, aku tersedak,” ucapnya di sela-sela batuk. Mengambil air di gelas dan meminumnya.
Mas Raka malah tertawa melihat ekspresi kakaknya. Ibu mertuaku juga tersenyum pada anak pertamanya itu.
“Saking enaknya ya, Kak, pizza-nya?”
Mas Raka bertanya maklum. "Buatan istriku gitu, loh!" lanjut Mas Raka sambil mengelus kepalaku.
“Eh, iya ... enak, tapi aku gak suka. Kejunya bikin eneg.”
What?!
Suami dan Mama mertua mengatakan pizza ini sangat enak, sedangkan si Kak Zian terang-terangan bilang eneg. Sama sekali tidak menghargai makanan!
Ngajak ribut dia!
Awas saja, aku akan bikin perhitungan dengannya. Sepertinya, aku harus membuat kakak iparku ini tidak kerasan dan segera pulang ke rumahnya di gunung sana. Bagaimana pun caranya!
__ADS_1
Bersambung