Kakak Ipar Melihat Auratku

Kakak Ipar Melihat Auratku
Pulang


__ADS_3

Mas Raka pulang cepat sore ini dari mengurus pekerjaanya. Katanya karena Kak Zian mau pulang.


Mama keluar dari kamar Kak Zian sambil terus merangkul putra pertamanya itu.


"Tuh, Mama ... masih tak ingin Kak Zian pulang," bisik Mas Raka. Aku mengangguk pelan.


Mas Raka mengajakku ikut mengantar Kak Zian ke teras. Sebenarnya aku malas, tapi demi Mas Raka, aku ikut ke teras.


"Nak, langit mendungnya pekat sekali, apa tidak ditunda saja pulangnya?”


Kak Zian bersalaman pada Mama, lalu mencium keningnya lama. Mereka lalu berpelukan.


" Tidak apa-apa, Ma. Ada mantel kalau hujan."


"Ke sini lagi ya, Nak ...." Air mata Mama jatuh.


Kak Zian tersenyum. "Iya, tentu saja Ma."


"Maksud Mama jangan sampai sebulan. Kelamaan."


Kak Zian tersenyum sembari mengusap air mata di pipi Mama. “Oke, insya Allah.”


Kak Zian kembali memeluk Mama, lalu berganti memeluk Mas Raka. Mereka berbincang sebentar.


Kak Zian juga berpamitan padaku sambil menangkupkan dua tangannya tanpa bersalaman. Aku terpaksa tersenyum padanya. Sangat terpaksa balas menangkupkan dua tangan di depan dadaku.


Kak Zian menuju motor gedenya di halaman, Mama membawakan banyak oleh-oleh dalam kardus besar di boncengan motornya.


Dia mengucap salam dan melambaikan tangan pada kami. Air mata Mama berurai kembali.


Akhirnya ... Kak Zian pulang. Yes! Ada rasa plong di dalam hati. Bagiku, dia tetap ipar nyebelin.


Aku dan Mas Raka masuk setelah Motor Kak Zian keluar dari gerbang rumah. Kami duduk di sofa ruang tengah sedangkan Mama masih duduk di kursi teras.


Aku melihat ke salah satu sudut atas ruangan, di sana terpasang CCTV.


"CCTV itu dipasang di sini dan di depan, karena beberapa tahun lalu pernah ada pencuri masuk."


Aku menelan ludah berat. Pembicaraan Mas Raka mulai membahas CCTV.


"Oh, begitu. Iya bagus itu, Mas." Aku mengangguk.


"Iya, jadi kita gak bisa bermesraan di sini," canda Mas Raka.


Aku hanya mengangkat bahu. Mungkin monitor CCTV terletak di ruangan kerja Mas Raka di salah satu kamar yang belum pernah aku masuki. Ya ampun! Untung suamiku baik.


Sepuluh menit setelah Kak Zian pulang. Hujan turun dengan lebat, angin kencang dan petir saling bersahutan. Listrik langsung padam.


Mas Raka ke teras, aku menyusulnya. Kulihat Mama mondar-mandir melihat ke arah pintu gerbang. Wajahnya terlihat gelisah.


"Ma, masuk biar gak masuk angin," ajak Mas Raka.


"Duh, Zian pasti kena hujan, kenapa Zian tidak balik saja ke sini?" Masih sambil melihat ke arah gerbang, Mama berharap Kak Zian balik.

__ADS_1


"Kakak pasti berteduh, Ma. Tak perlu khawatir." Mas Raka menenangkan Mama.


Mama akhirnya mau diajak masuk. Aku dan Mas Raka naik ke kamar.


"Kemarilah, Sayang." Mas Raka memintaku duduk di pangkuannya. Dia mencium tanganku yang masih diperban.


"Kak Zian tidak menginap lama di sini ...." Mas Raka seperti memancing-mancing pembicaraan.


"Lalu?" Aku menjawab biasa saja.


"Mama masih kurang kangen-kangenan sama kakakku yang tampan lagi baik hati itu." Mas Raka melihat ke wajahku, tepatnya ke mataku.


"Iya, aku tau kakak Mas itu baik, gak usah dipuji-puji terus." Mas Raka sepertinya mulai menyindirku. Jadinya aku jawab saja begitu.


"Makanya, aneh saja kalau ada orang yang tidak suka dengan Kak Zian." Mata Mas Raka masih menjurus ke mataku.


"Mas kira Kak Zian itu selamanya perangainya baik? Mas kira dia tidak punya sisi buruk?" Aku menautkan alis.


"Maksudnya?"


"Kak Zian tidak selamanya baik, dia mengirimiku surat yang membuat aku kesal padanya, hanya karena dia melihat ...."


Aku berapi-api, napasku memburu cepat seolah tengah berlari. Emosiku kembali naik. Aku terpancing dan hampir keceplosan.


"Surat? Melihat apa?" Mas Raka mengejar kalimatku.


Aku sontak menutup wajah. Suamiku sendiri belum pernah melihat tubuhku secara keseluruhan, tapi kakak iparku yang malah melihat duluan.


"I-itu, Mas ...." Ragu ingin kumengatakannya.


"Iya, saya Raka ... adiknya Zian. Apa?!"


Aku mengernyitkan dahi, Mas Raka tampak tegang mendengar suara seseorang. Suara yang sayup-sayup kudengar dari ponsel Mas Raka yang mengabari kalau Kak Zian ....


"Ya Allah, gimana kondisi kakak saya, di rumah sakit mana?" Wajah Mas Raka langsung pias.


"Oke, baiklah." Dia menutup teleponnya sambil mengucap istigfar. "Kak Zian kecelakaan, kita ke rumah sakit sekarang," ajak Mas Raka padaku. Dia menekan dada kirinya ....


"Kak Zian kecelakaan?" Aku memasang wajah terkejut, padahal di hati tak ada rasa prihatin sedikit pun.


Aku pun segera mengambil air untuk Mas Raka karena dia pasti terkejut sampai memegang dada kirinya.


"Iya, kecelakaan tunggal, motor Kak Zian menabrak pohon besar yang tiba-tiba tumbang ke jalan katanya. Semoga kakak tidak parah," ujar Mas Raka sambil mengambil air yang aku sodorkan.


“Duh, iya semoga Kak Zian baik-baik saja.” Aku pura-pura simpati. Berbanding terbalik dengan isi hati.


"Aamin. Semoga Mama tidak syok mendengarnya." Mas Raka mengkhawatirkan Mama yang dari tadi memang sepertinya agak berat dengan kepulangan Kak Zian.


Ikatan batin seorang ibu sangat kuat pada anaknya.


"Iya semoga ...."


Kami segera bersiap ke rumah sakit, lalu turun menuju kamar Mama. Mas Raka mengetuk pintu kamar Mama.

__ADS_1


"Ma ...."


"Iya, Nak?" Mama membuka pintu.


"Kita ke rumah sakit sekarang ...."


"Siapa yang sakit?" Wajah Mama langsung tegang.


"Eng ... Kak Zian ... kecelakaan."


"Ya Allah, Zian!" Mama terlonjak kaget dan histeris.


Mas Raka menenangkan Mama. "Tenang, Ma. Kita doakan kakak tidak parah."


"Zian ...." Tangis Mama pecah.


Wanita lima puluh tahun itu terlihat pucat. Mas Raka memapah Mama menuju ke mobil.


Mama terus menangis saat menuju ke rumah sakit. Aku memeluk mertuaku itu.


"Kenapa Zian harus buru-buru pulang? Mama tadi sudah mencegahnya." Suara Mama di antara isak tangisnya.


"Ini musibah, Ma. Mama yang sabar, ya." Mas Raka yang duduk di jok depan menoleh pada Mama yang terus kupeluk di jok tengah. Mas Raka sendiri masih memegangi dada kirinya.


Sampai di rumah sakit ....


Kak Zian mendapat penanganan di UGD. Dia terluka di bagian kepala depan dan lengan kanannya. Kak Zian tetap sadar sambil meringis menahan sakit.


Tidak terlalu parah, aku mencibir diam-diam. Tepat saat itulah, pandangan mata Kak Zian tertuju padaku. Aku berubah jadi pasang tampang prihatin.


"Ya Allah, Nak. Pasti sakit kepalamu, ya?"Mama bertanya sambil menangis.


"Tenang, Bu. Anak ibu kuat, tidak gegar otak meski darahnya banyak yang keluar. Pasien jangan diajak bicara dulu ya," pinta Dokter.


Kak Zian dipindah ke kamar rawat setelah itu. Dokter barusan membuka kemeja Kak Zian waktu lengannya diperban membuat dada bidang dan perut sixpack-nya sekilas kulihat.


Mata ... ngapain juga melihat ke arah sana? Brrrrrr!


Aku pamit ke toilet pada Mama dan Mas Raka, padahal tidak lagi ingin buang air kecil. Tangan terasa gatal untuk memberitahukan pada Naya.


Aku menelepon Naya.


"Apa, Mbak?" tanya Naya saat panggilan terhubung.


"Aku di rumah sakit, Dik. Kak Zian kecelakaan saat balik ke rumahnya.”


"Astagfirullah ... gimana kondisinya?" Naya terdengar kaget.


"Biasa aja, gak parah-parah amat. Sebel, deh! Aku tadi sudah senang dia pulang. Huh, alamat dia bakalan stay di rumah Mas Raka selama masa pemulihan." Aku langsung curhat sambil berjalan di koridor rumah sakit dengan langkah pelan.


"Ya, Allah, Mbak. Kak Zian sedang dapat musibah, dan Mbak masih saja berpikiran begitu? Mbak punya masalah apa, sih? Sampai sebegitu bencinya pada Kak Zian? Masa hanya karena Kak Zian memperingatkan Mbak tentang handuk itu dan tak sengaja melihat aurat Mbak, sampai sekarang Mbak masih saja mempermasalahkannya? Hadeh!"


"Sudah gak usah ceramah!" sewotku. Aku curhat malah diceramahi. Gusar kututup panggilan sebelum Naya ceramahnya tambah panjang.

__ADS_1


Menyesal juga aku menelepon Naya. Dia ada di kubu Kak Zian. Jangan-jangan Naya suka sama Kak Zian? Jangan sampai ....


Bersambung


__ADS_2