
"Stop, jangan cium Faizara!"
Reno membuka matanya saat bibirnya hampir menyentuh bibirku, dia menoleh dan melotot pada Kak Zian yang datang berlari dan berhenti di samping kami.
"Siapa kamu? Berani-beraninya mengganggu kesenangan kami!" bentak Reno melepas dua tangannya yang melingkar di pinggangku. Jelas terlihat kesal dan marah.
"Aku Zian ...."
"Oh, kamu pria gunung itu? Ck! Pantas saja Faizara pergi dari rumah. Ya nggak mau lah dia sama kamu, dekil amat!" Reno langsung nyinyir.
Aku bersedekap. Heran saja, apa Kak Zian sudah sembuh luka tusuknya sampai ikut mencariku? Siapa pula yang memberitahukan padanya kalau aku ada di klub malam ini?
"Iya, aku kakaknya Raka." Kak Zian menjawab tenang tidak terpancing dengan celaan Reno.
"Beda banget sama Raka. Raka pantas mendapatkan Faizara karena dia pria sukses dan tampan, lah ... kamu? berharap menjadi pengganti Raka, jangan mimpi!"
Reno melihat dari ujung rambut sampai ujung kakinya Kak Zian dengan tatapan merendahkan.
"Aku tidak ada urusan denganmu, aku hanya ingin Faizara pulang." Kak Zian melihat padaku sekilas lalu beralih memicingkan matanya melihat Reno yang tambah emosi.
"O ya? Asal kamu tau, mulai saat ini. Urusan Faizara juga menjadi urusanku! Kamu menyuruh Faiza pulang? Kamu siapanya? Hah?"
Reno mendorong dada Kak Zian sampai Kak Zian mundur dan hampir jatuh.
"Faizara sedang tertekan, jadi jangan mengambil kesempatan saat jiwanya labil." Kak Zian berkata serius.
"Kesempatan apa?! Yang tau secara detail tentang Faizara itu aku!" Reno menunjuk dadanya sendiri.
"Barusan, ngapain kamu mau cium Faizara?"
"Faizara menciumku duluan, dia tuh sayang sama aku!" jawab Reno dengan nada tinggi, dia merangkul bahuku.
"Dia lagi tidak normal, jadi jangan memanfaatkan keadaan," ucap Kak Zian. Wajahnya tampak khawatir.
"Aku normal, tidak gila, jadi Kak Zian pergilah!" Aku ikut angkat bicara sambil mengibaskan tangan.
"Tapi, Fai ...?" Kak Zian menatapku lembut.
"Apa lagi? Hah!" Reno semakin kuat mendorong dada Kak Zian, sampai punggungnya membentur motor yang parkir di belakangnya.
"Fai ... papamu sakit, beliau ingin kamu pulang dan ...."
"Halah! Dan kamu mau menikahi Faizara dengan cara cari muka pada Om Gunawan, begitu?!" potong Reno cepat. Dia juga menarik kerah kemeja Kak Zian, sebelah tangannya mengepal seperti siap meninju wajah kakak iparku itu.
"Fai ... ayo, pulang ...," ajak Kak Zian seperti memohon.
"Faiza tidak akan ikut pulang denganmu, apalagi hanya naik motor butut yang biasa kamu boncengin singkong!" cibir Reno kemudian tertawa. Tawa jahat seperti peran antagonis dalam sinetron.
"Lagian, zaman sekarang ada ya, pria yang tidak bisa menyetir mobil? Parah, ndeso!" tambah Reno. Aku yang menceritakan pada Reno, kalau kakak iparku itu tidak bisa bawa mobil.
"Zian, ada apa?" tanya tukang parkir, mendatangi kami. Dia rupanya mengenali Kak Zian. Atau ... tukang parkir ini yang memberitahukan keberadaanku?
Satpam di klub malam ini juga mendatangi kami karena melihat keributan ini. Reno melepas cengkeraman di kerah baju Kak Zian.
"Zian, ini istri almarhum adikmu, kan? Waktu acara pernikahan Raka, aku juga diundang, makanya aku kaget ... dia main ke klub malam sama pria ini." Satpam itu pun bicara akrab pada Kak Zian.
Berarti mereka yang menginfokan pada Kak Zian kalau aku pergi bersama Reno ke sini.
"Iya, dia yang aku cari ... kalian betul."
Reno tambah emosi. Kerah kemeja Kak Zian kembali ditariknya. "Faizara tidak akan pulang denganmu, ngerti! Percuma kamu mencarinya!"
Tanpa rasa takut Reno hampir melayangkan tinjunya pada wajah Kak Zian.
Kak Zian menangkap tangan Reno, tukang parkir dan satpam memegangi Reno agar menjauh dari Kak Zian.
"Jangan bikin keributan disini!" kata tukang parkir.
Reno mendengkus, wajahnya menegang.
__ADS_1
"Sudah, Reno Sayang. Kita pergi dari sini." Aku menggandeng tangan Reno. "Dan ... Kak Zian tak perlu lagi sok perhatian dan mengatur-atur hidupku. Aku mau pulang atau tidak, itu terserah aku!"
"Fai ...." Kak Zian tampak keberatan. Dia seolah akan mencegah aku masuk ke mobil sport Reno.
"Aku sudah dewasa! Biarkan aku memilih jalan hidupku sendiri!" Aku berkata ketus.
"Tapi, jalan yang kamu pilih ... tidak benar Fai."
Kak Zian kayak orang benar saja berkata seperti itu.
Aku tak peduli, segera masuk ke mobil. Reno juga masuk dan duduk di belakang kemudi. Dia menurunkan kaca mobilnya. "Kamu tak akan bisa mendapatkan hati Faizara, dia sekarang adalah ... milikku!"
Reno berbicara dengan nada jemawa dan posesif pada Kak Zian yang berdiri mematung. Mobil bergerak meninggalkan parkiran, aku menoleh ... ke belakang. Kak Zian menatap nanar pada mobil ini.
❤❤❤
Sampai di apartemen Reno, seorang wanita cantik dengan dress warna merah selutut sudah berdiri di depan pintu.
Menatap tak suka padaku yang berjalan di samping Reno.
"Kamu bawa cewek lain lagi, Ren?" tanya wanita itu, sinis.
"Dia sahabatku Faizara. Ada apa, Hen?"
"Aku kangen kamu, ponselmu juga tidak aktif. Dan, kok kamu bawa wanita ini ke apartemenmu. Hadeh!" Wanita seksi itu menarik tangan Reno, memeluk dan mencium ringan bibir Reno. Seperti sudah terbiasa mereka melakukannya.
"Heni ...." Reno melerai kedua tangan wanita yang dipanggil Heni.
"Kita akan party di pesta ulang tahunnya Rara. Besok malam bareng aku, ya."
"Iya, aku ngajak Faiza juga. Lagi pula Rara itu temanmu juga, Fai ...." Reno menyebut nama Rara. Aku mengingat-ingat.
"Rara yang mana?" Aku tak mau menjadi sasaran kecemburuan Heni. Bisa dilihat dengan jelas, rona cemburu dari wajah dengan make up lengkap itu padaku.
"Rara Nadila, teman SMP kita. Dia ternyata sahabat baiknya Heni. Kamu bisa ikut besok." Reno mengajakku.
"Aduh! Ngapain juga ngajakin dia, Reno?" Heni langsung protes.
"Kalau kamu tidak ikut, nanti kesepian sendirian di apartemen, ikut ya." Reno memaksaku.
"Apa? Jadi cewek ini nginep di apartemenmu? Kalian sudah ngapain saja?" Heni langsung ngegas sambil menuding wajahku.
"Kami nggak ngapa-ngapain ...." Aku menjawab yang sebenarnya.
"Oh, hellow ... mana mungkin kalian nggak ngapa-ngapain? Aku sering datang ke apartemen Reno, dan kamu tau apa yang terjadi di antara kami? Kami sudah ...."
"Heni, Heni ... Faiza menginap karena sedang bersedih. Suaminya baru saja meninggal. Dia sahabat baikku dari kecil jadi jangan berpikir yang tidak-tidak," potong Reno cepat.
“Suaminya meninggal, lalu dia sedih dan menginap di apartemenmu, aneh sekali.” Heni mencibir.
“Faiza tidak tidur satu ranjang kok denganku.” Reno mencoba menjelaskan.
“Hadeh, aku gak yakin kamu bakal kuat tinggal dalam satu apartemen bersama wanita.” Heni semakin cemberut.
Heni pamit setelah menyerahkan undangan dari Rara. Dia cium pipi kanan kiri Reno dan minta dijemput saat akan berangkat besok malam.
“Ren, dia pacarmu?” tanyaku setelah Heni pergi.
“Bukan, Faiza.”
“Bukan tapi kalian seintim itu, hmmm ....”
“Aku sulit mencintai wanita lain, selain ... kamu.” Reno menatapku lekat.
“Ren, mulai deh bucinnya.” Aku merasa tak nyaman.
Aku masuk ke kamar Reno. Reno semakin menunjukkan perasaannya padaku.
“Serius, Faiza ... mendingan sama aku, daripada sama si Zian anak gunung itu!”
__ADS_1
“Reno, jangan sebut nama pria ngeselin itu!” Aku bergidik.
“Iya deh, sebut saja namaku, Reno, Reno, Reno ....” Reno melucu.
Aku tertawa, Reno sangat konyol. Tiba-tiba aku ingat Kak Zian saat di tempat parkir tadi. Kuharap, dia ilfil melihat kelakuanku dan Reno.
❤❤❤
Ulang tahun Rara bukan ulang tahun biasa. Ulang tahun mewah yang digelar dengan konsep garden party. Diadakan di depan rumahnya yang punya halaman luas dan sejuk.
Semuanya yang datang adalah muda-mudi, tak ada orang tua satu pun. Hidangannya juga mewah, tak ketinggalan minuman beralkohol yang bebas dikonsumsi para tamu.
Aku mengisap rokok. Barusan sudah memberikan ucapan selamat pada Rara. Rara senang aku bisa ikut datang bersama Reno meski tanpa diundang.
Acara dilanjut dengan berdansa.
"Ayo, kita dansa ...." Reno mengulurkan tangannya. Beberapa pasang tamu sudah terlihat romantis berdansa di bawah kelap-kelip lampu.
"Eits, sebelum dansa, minum jus dulu." Heni tiba-tiba datang, dia mengangsurkan jus jeruk padaku. Heni yang agak judes padaku berubah ramah dan tersenyum. "Ambillah, Faiza, kulihat kamu hanya ngerokok tanpa mengambil minuman."
"Iya, terima kasih, Hen."
“Habiskan, ya. Biar segar,” kata Heni. Aku mengangguk dan meminumnya sampai habis.
Reno mengajakku berdansa. Kami berdiri berhadapan. Sangat dekat, mulai berdansa mengikuti alunan musik.
“Kamu cantik sekali, Faiza ....” Reno memujiku. Matanya tak lepas menatapku. Aku hanya tersenyum, melihat ke arah lain. Di mana Heni menatap ... cemburu padaku.
Tenggorokanku terasa kering. Badanku perlahan mengeluarkan keringat. Tidak merasa segar setelah meminum jus jeruk pemberian Heni.
“Ren, aku ambil minum dulu. Kamu silakan lanjut dansa, sama Heni. Sepertinya dia ingin berdansa denganmu."
Aku melepas tangan Reno yang memegang dua bahuku.
“Biar aku ambilkan Faiza.” Reno mengikutiku yang berjalan cepat.
“Nggak usah, aku ambil sendiri.”
Reno dicegat Heni, dia sepertinya diajak berdansa. Aku lanjut mengambil minuman sendiri. Aku memilih jus jeruk, dan anehnya jus yang aku minum ini rasanya lebih enak dari yang barusan diberikan Heni.
❤❤❤
"Faiza ... kita pulang. Papamu dibawa ke rumah sakit. Naya yang memberitahukan."
Kak Zian lagi, Kak Zian lagi! Dia mengikuti ke mana aku pergi. Dia semakin mengusik ketenanganku. Sampai ikut masuk ke acara ulang tahunnya Rara. Ini keterlaluan!
"Kak Zian mau apa ke sini? Aku pulang bareng Reno! Pergilah, jangan mengurusi aku!"
"Reno? Lihat dia, bahkan untuk berjalan saja tidak bisa. Biarkan dia dibawa pulang teman-temannya."
Aku gelisah. Melihat Reno tertawa dan bicara tidak jelas. Dirangkul Heni sambil minum alkohol.
Kulihat sebagian besar yang hadir sedang dalam kondisi teler. Sama seperti Reno setelah pesta ini berjalan satu jam.
Ada yang bebas berciuman. Ada pula teman-teman Rara yang dipegang-pegang oleh beberapa pria, entah pacar atau siapanya.
"Faiza, segera pulang. Ini sepertinya bukan pesta ulang tahun biasa, lihatlah ...."
Sebagian ada yang masuk ke dalam rumah Rara sambil terus berciuman. Satu wanita diapit dua pria.
"Bisa jadi mereka akan melanjutkan pesta ini dengan perbuatan tak senonoh. Astagfirullah." Kak Zian mengucap istigfar.
Sementara tubuhku semakin memanas, tapi aku tidak sedang demam. Napasku juga tidak karuan. Keringat keluar dari badanku, padahal udara malam ini cukup dingin.
"Kamu juga minum? Oh, Faiza ... buang rokokmu," pinta Kak Zian. Dia menggelengkan kepalanya. Seperti miris melihatku.
"Ayo pulang!" Kak Zian agak memaksa. Aku ingin marah padanya, tapi rasanya tak berdaya. Badanku seperti habis meminum obat yang over, jantung berdegup tak karuan. Aku kenapa?
Seingatku, hanya minum segelas jus yang diberikan Heni padaku. Lalu aku minum jus yang aku ambil sendiri. Tidak minum alkohol, tapi aku merasa aneh.
__ADS_1
Kenapa dalam pikiran, muncul bayangan-bayangan romantis? Apakah aku berhalusinasi?
Bersambung