Kakak Ipar Melihat Auratku

Kakak Ipar Melihat Auratku
Kebahagiaan Semu


__ADS_3

Rokok aku isap dalam membuatku terbatuk-batuk. Terus batuk sampai dadaku sakit.


Reno keluar dari toilet.


"Faiza? Ngapain ikut ngerokok juga?" Dia berjalan cepat ke arahku.


"Aku ingin tenang, Ren." Aku kembali mengisap rokok merk terkenal itu. Air mataku menggenang lalu turun deras tak terbendung.


"Faiza ... ck!"


Reno akan mengambil rokok di sela jariku, tapi aku tepis tangannya. Mencoba lagi mengisapnya.


"Fai, kamu selalu keras kepala." Reno menggelengkan kepala, duduk sebelahku. Dia sudah tahu karakterku seperti apa dari dulu.


Aku masih batuk-batuk.


"Hm, rapatkan bibirmu. Tempelkan lidah pada langit-langit mulut agar asapnya berembus ke atas. Dan tiup udara dari hidung agar asap keluar." Reno memberitahukan tutorial mengisap rokok.


Aku mengikuti yang Reno katakan, sampai akhirnya bisa mengisap rokok dalam-dalam, dan mengembuskan asap dari hidung.


"Terus kamu juga akan terus merokok, Faiza-ku?" Reno mengusap air mataku. Menangkup dua pipiku dengan telapak tangannya.


"Iya. Ini enak. Sejenak aku melupakan semua masalahku, Ren."


Reno menertawakanku. "Iya lah. Tapi, kalau suatu saat ada masalah pada paru-parumu, bagaimana?"


"I don't care!"


Peduli amat, toh hidupku sudah hancur.


Aku dan Reno tertawa. Entah menertawakan apa. Kami memang tidak jelas.


❤❤❤


Reno memesan makanan dan dia bela-belain membeli pakaian ganti untukku di toko baju dekat apartemen. Setelah makan malam. Kami duduk lesehan di balkon apartemen. Pemandangan kota saat malam hari terlihat jelas dari sini.


Ini rokok yang ke lima yang aku isap. Mulai terbiasa, mungkin ke depannya aku akan ketagihan.


"Apa tidak sakit, badanmu ditato seperti itu?" Reno membiarkan badan atasnya yang berkeringat tanpa baju diembus angin malam yang lumayan kencang.


"Sakit. Tapi lebih sakit patah hati karena ditinggal nikah. Kenapa, Fai? Kamu mau ditato juga?" Reno terkekeh.


"Pengin. Ingin mengabadikan nama Mas Raka di tubuhku. Hm ... kamu kok nggak pernah cerita kalau ditinggal nikah? Ngenes amat!"


Tumben Reno menutupi dari aku, kalau sekarang dia juga sedang punya masalah.


Reno tersenyum, menoleh padaku. Dua mata itu ... lekas berpaling melihat ke atas langit sana.


"Karena aku ingin dia selalu bahagia, walau bukan denganku. Dia juga tidak pernah tau perasaanku yang begitu mencintainya, bahkan melebihi diriku sendiri." Reno mendesah berat.


"Dih, masa sampai segitunya?" Kudorong bahunya.


Aku sulit percaya, Reno yang biasa gonta-ganti cewek bisa serius mencintai satu orang wanita.


"Bisa lah ... kadang aku berpikir, tidak akan menikah, kalau bukan dengan dia." Reno kembali beralih menatapku. Begitu dalam.


Kuembuskan asap rokok ke wajahnya. "Bucin!"


"Serius Faiza, tapi sayang banget dia tidak peka." Reno mengangkat dua bahunya.


"Kalau kamu nggak bilang ke cewek itu, ya dia tidak tau, Ren."


"Iya, tapi biarlah aku saja yang jatuh cinta sendirian." Reno menatapku lagi.


"Kasian banget deh kamu." Aku jadi tambah kasihan pada Reno.

__ADS_1


Aku dan Reno sama-sama tidak bisa tidur. Cukup lama mengobrol ngalor ngidul.


Reno, meski hidupnya bergelimang harta, dia dibayang-bayangi tidak harmonisnya keluarganya.


Mamanya pergi dengan pria lain sejak Reno dan adiknya masih SD. Kurang sukses apa papanya sampai mamanya meninggalkan sang papa, entahlah. Kekayaan belum tentu bisa membeli kebahagiaan.


Papanya, begitu sibuk, seperti tak ada waktu untuk keluarganya. Reno juga biasa melihat papanya yang juga dikelilingi wanita-wanita cantik tanpa ada yang dinikahinya sejak ditinggal mamanya. Itu kayaknya nurun ke Reno, suka gonta-ganti pasangan.


Reno produk broken home. Begitu seringnya dia mengatakan betapa beruntungnya aku, punya keluarga lengkap yang sangat menyayangi.


Namun, tidak seperti yang dipikirkan Reno. Buktinya, aku pergi dari keluargaku, ingin mencari ketenangan sendiri pasca meninggalnya Mas Raka, juga bentuk penolakan terselubung, agar ... aku tidak jadi dinikahi Kak Zian si nyebelin itu.


"Ren, ajak aku bersenang-senang ... ayo!" Kutarik tangannya agar berdiri.


"Siap! Di kamar apa di tempat lain, Faiza?" Reno berdiri tegak.


"Keluar, yuk ...." Kugandeng tangannya. Reno setuju. Dia segera bersiap, memakai bajunya dan kami pun keluar.


❤❤❤


"Yuuuhuuuuu ....!"


Aku tertawa saat Reno mengebut dengan mobil sport warna merahnya. Nostalgia kebiasaan kami dulu, ngebut malam-malam di jalanan lengang.


"Tertawa lepaslah, Faiza ... buang masalahmu! Kita berbahagia ....!"


Aku masih tertawa. Tawa yang entah, karena hatiku sedang menangis ....


Reno, selalu bisa diandalkan, dulu sering banget dia menjadi makcomblang bila aku naksir seseorang. Dan Reno, selalu berhasil, aku beberapa kali pacaran dengan pria idamanku. Sebelum semuanya kandas, dan aku memilih serius menikah dengan Mas Raka yang membuatku tergila-gila.


Dari jalanan lengang, mobil kembali bergabung dengan jalan utama yang masih ramai lancar.


"Kita ke mana, Ren?"


"Tenang aja, Faiza ... kita ke tempat yang bikin kita bisa happy-happy ...."


Mobil terus meluncur dan berhenti di sebuah klub malam.


"Di sini?" Aku mengernyitkan dahi.


"Iya, Faiza ... dijamin bisa melupakan masalah dan kepenatan." Reno membukakan sabuk pengamanku. Wajah sahabatku ini begitu dekat dengan wajahku, dia tersenyum dan menowel pipiku. "Ayo kita turun, Faiza sayang."


Aku membalas senyum Reno. "Ayo ...."


Kami dulu sering hang out, tapi tak pernah ke tempat dugem seperti ini.


Kami masuk. Irama musik begitu keras, asap-asap rokok memenuhi penciuman.


Aku berjoget-joget mengikuti irama disko. Jiwaku yang patah, menemukan hiburan, berharap segala resah dalam hati ikut keluar seiring keringat yang keluar dari tubuh ini.


Reno pun sama, dia tertawa lepas sambil merokok mengikuti irama musik. Seperti tak ada capeknya, terus mengajakku ajojing.


"Mau minum apa, Faiza?"


Setelah lelah berjoget-joget. Reno mengajakku duduk di kursi bar.


"Air putih," sahutku spontan membuat Reno tertawa.


"Gak seru kalau ke sini cuma minum air putih!" katanya nyaring mengimbangi bunyi jedag jedug di ruangan ini.


"Jus ada?" tanyaku.


Tawa Reno kembali meledak membuat bar tendernya menggeleng-gelengkan kepala.


"Nggak keren kalau jus, Fai ... sudah biasa. Sesekali minum yang luar biasa."

__ADS_1


"Terserah kamu aja, deh."


Reno memesan minuman, aku tahu itu minuman beralkohol. Makanya aku ragu, karena ini baru pertama bagiku.


"Coba aja sedikit, gak bakal mabuk kok, Fai,” ujar Reno saat minuman dalam gelas kecil itu ada di hadapanku.


Aku mencium aromanya. Lalu membawa gelas ke bibirku.


“Come on! Ini enak, kok.” Reno meyakinkan keraguanku.


Aku meneguk sedikit. Awalnya dingin, tapi kemudian tenggorokan serasa terbakar. “Pait!”


“Masih lebih pait jamu, coba teguk lagi. Mari kita bersulang!" Reno mengangsurkan gelas untuk diadu dengan gelasku.


Setelah itu, aku kembali meneguk sedikit. Ada sensasi melayang di kepala. Aku mengerjapkan mata. Tak ingin meminumnya lagi.


Sementara Reno meminumnya sampai tandas. Dia meminta gelasnya untuk diisi lagi dan lagi.


“Ayolah, Fai ... kita nikmati malam ini.”


Ada beberapa pria menyapa akrab Reno.


"Siapa, Bro?"


"Sahabat baikku," sahut Reno, tersenyum manis padaku.


“Cantik. Sepulang dari sini, pasti langsung ngamar bareng,” celetuk pria dengan anting sebelah. Derai tawa terdengar dari teman-temannya.


Reno ikut tertawa. Dia banyak minum, juga mentraktir teman-temannya sampa mereka teler.


❤❤❤


Reno mabuk berat, dia aku rangkul untuk keluar dari klub malam ini, sementara aku juga merasakan pusing dan panas di perut meski minum sedikit.


Aku yang menyetir, pulang kembali ke apartemen Reno.


"Akhir-nya Faiza-ku kembali, hiks, hiks!" Di dalam lift, Reno berbicara tidak jelas, sesekali tertawa dan cegukan. Tak ada orang lain selain kami di lift ini.


Aku tak menanggapinya. Ingin cepat-cepat sampai ke kamar apartemen Reno, ingin segera tidur.


“Kamu happy bersamaku, Sayang, hhhmmm?”


Reno menoleh, bau alkohol begitu menyengat dari mulutnya.


“Happy, Ren.”


Sampai di kamar Reno. Reno dan aku jatuh ke ranjang yang empuk sampai memantul pelan.


"I Love you, Faiza ... i love you pull!"


Aku tertawa. Dasar orang mabuk, ngomongnya gak bener.


"Aku pusing, Ren. Mau tidur ...." Tidur telentang di samping Reno yang juga awalnya dalam posisi telentang. Namun, dia berubah miring ke arahku, tangannya ada di atas perutku.


“Jawab, Faiza sayang ... apakah kau sambut cin-ta-ku? Hmmm ....”


Wajah Reno khas orang mabuk, kuyu, kedua matanya merah. Bibirnya menyunggingkan senyuman ... aneh.


“Reno ... istirahatlah, aku mau tidur di sofa.” Aku akan bangun, Reno mencegah cepat lenganku sampai aku kembali telentang.


“Faizara Putri Pratiwi, cinta pert-ama dan terakhir-ku ... sahabat jadi cinta, hahaha ... lucu-lucu banget, aku men-cintaimu se-jak SD.”


Reno berkata terbata-bata. Hah? Apa katanya? Mencintaiku sejak SD. Aneh banget si Reno kalau lagi mabuk, makanya aku tak percaya kata-katanya. Akan kembali bangun, tapi Reno berbalik dan ... mengambil posisi di atasku. Sebelum aku cegah, kepala Reno menempel ke dadaku.


“Duh, minggir, Ren!”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2