
Gatal-gatal di dua kakiku mengeluarkan nanah dan bau busuk, merambat ke betisku. Membuat hari-hariku semakin suram.
Apa aku harus mengikuti saran Naya, datang ke rumah Kak Zian untuk minta maaf?
Pagi ini, disaat Naya sudah berangkat kuliah, aku memakai gamis warna ungu, dengan jilbab segi empat warna putih, tak lupa masker untuk menutupi wajahku yang menyeramkan. Memakainya aku sambil menangis, betul kata Naya, dengan sakit ini ... akhirnya aku menutup auratku.
“Pa, Ma ... Fai pamit mau pamit mau ke rumah neneknya Mas Raka di gunung sana?” Aku pamitan pada kedua orang tuaku.
“Ke rumah Zian?” Papa antusias, Mama juga, melihatku dari kepala sampai ujung kaki. Karena penampilanku yang berubah tertutup.
“I-iya. Fai kelamaan di dalam kamar, jenuh. Ingin melihat pemandangan di pegunungan.” Aku beralasan. Masih sambil menggaruk bagian yang gatal. Juga sambil menahan rasa sakit dari luka-luka yang bernanah.
“Boleh, Nak. Papa senang kalau kamu bersemangat.” Papa membawaku ke pelukannya.
“Mama ya juga senang, Pa. Siapa tahu, setelah pulang dari rumah Zian, kamu bakalan sembuh, Nak.”
“Iya, aamiin. Tapi Fai tidak pede, badan Fai bau ya, Pa?”
“Nggak kecium kok, kalau dari jarak satu meter,” sahut Papa.
“Kalau berdekatan begini kecium ya, Pa? Aku gak jadi ke rumah nenek, nanti jadi bahan olokan kalau orang-orang di sana mencium aroma tubuhku.”
Ya ampun, begini banget nasibku sekarang! Sedih dan rasa putus asa itu kembali muncul.
“Kamu malu sama Zian?” Papa seperti menggodaku.
“Sama semua orang, Pa. Fai seperti benda busuk yang berjalan ....”
“Jangan bilang begitu, Nak. Semangat ya. Papa dan Mama boleh ikut tidak ke sana?”
Aku menggeleng, “Jangan, Pa. Biar Fai sama sopir saja. Dan ... jangan bilang-bilang Naya kalau aku ke rumah Kak Zian, nanti dia ledekin aku.” Aku berkata manja.
“Iya, Papa tidak akan bilang ke Naya, kok.” Papa mengelus kepalaku yang kini berbalut jilbab.
Aku menarik napas panjang sebelum masuk ke mobil. Kok aku tegang ya?
Aku, Faizara yang keras kepala, egois dan sombong akan mendatangi rumah Kak Zian untuk ... minta maaf.
❤❤❤
Sampai juga di depan rumah Kak Zian. Rumahnya luas, meski masih model lama. Halamannya asri dengan ditanami pohon buah-buahan dan bunga yang beraneka ragam.
Aku tidak segera turun dari mobil. Menarik napas, menormalkan degup jantung. Ada rasa grogi, malu, dan rasa lainnya campur aduk dalam diri.
Aku turun, Pak Adam sopirku juga ikut turun.
"Assalamualaikum ...." Aku mengucap salam begitu sampai di depan pintu. Belum ada sahutan dari dalam. Aku pun mengulang sampai tiga kali, barulah nenek membuka pintu.
"Waalaikum salam ...." Nenek melihat pada wajahku. "Siapa, ya?" tanya Nenek kemudian. Dua alisnya saling bertaut, berusaha mengingat mungkin karena aku memakai masker dan kaca mata hitam.
__ADS_1
Kubuka kacamata, lalu menyapa beliau. "Saya Faizara, Nek. Istri dari almarhum Mas Raka."
"Ya Allah, Faizara ... maaf, Nak. Mata nenek kurang bisa melihat dengan jelas."
Aku menyalami Nenek. "Iya, tidak apa-apa, saya yang minta maaf karena datang ke sini tanpa mengabari terlebih dahulu."
"Tidak apa-apa, Nak. Mari masuk, Nak, Pak." Nenek juga mengajak Pak Adam masuk.
"Iya, Nek."
Kami masuk, ruang tamunya adem. Aku duduk di kursi kayu jati. Di atas meja, ada rantang makanan. Aku duduk dengan gelisah, mulai menggaruk-garuk bagian tubuhku yang gatal.
Kak Zian tidak keluar. Apa dia tidak mau menemui aku?
"Zian masih di ladang, tunggu di sini, ya. Nenek mau jemput Zian dulu. Barusan nenek bersiap mau mengantar makan siang ini ke ladang buat Zian." Seperti bisa menebak pikiranku, Nenek memberitahukan kalau Kak Zian sedang tidak di rumah.
"Nenek kalau mau mengantar makan siang ini, aku ikut ya, Nek ...."
"Boleh, Nak. Sekalian kita makan siang di ladang." Nenek setuju.
Aku dan Nenek berangkat, Pak Adam tidak ikut karena lelah menyetir. Memilih tiduran di dipan yang diletakkan di teras.
Cuaca siang ini cukup terik membuat gatal-gatal yang aku derita tambah gatal karena keringat yang keluar dari badanku.
"Sudah sampai, itu Zian, Nak." Nenek menunjuk Kak Zian yang sedang membuka baju. Keringatnya membuat dada dan punggungnya mengilat saat diterpa matahari.
"Zian, lihat siapa yang datang," ucap Nenek begitu sampai di dekat Kak Zian. Kak Zian berbalik ....
"Eh, Nek ...." Dia menyapa Nenek, kedua matanya memicing melihatku. "Fai? Kamu ...? Maaf, aku gak pakai baju karena bajunya penuh keringat."
Kak Zian tak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Mungkin dia tak percaya aku datang ke sini, menemuinya. Dia salah tingkah, apalagi sedang tanpa baju membuat dada dan perut sixpack-nya tampak jelas di hadapanku.
"Iya, aku mau tau rumahnya Kakak. Kata Naya, suasananya sejuk. Jadi aku penasaran." Aku menjawab sambil menahan tangan agar tidak menggaruk-garuk badan yang sangat gatal. Aku malu pada Kak Zian.
Kak Zian mengangguk sambil tersenyum, "Iya Fai, di sini sejuk. Dan beginilah aku setiap harinya, Fai. Sibuk di ladang. O iya, katanya kamu sakit, apa kamu tidak capek ? Perjalanan ke sini jauh, kamu juga berpanas-panasan ikut ke ladang. Aku takutnya kamu kelelahan."
Kak Zian menunjukkan perhatiannya padaku.
Aku menggeleng, "Tidak capek, Kak. Aku senang karena di sini udaranya sejuk. Paru-paruku pasti ikut bahagia bisa mendapatkan udara tanpa polusi."
"Zian, makan dulu sama Nak Faizara." Nenek duduk di rumput. Beliau juga memintaku duduk.
Nenek menyiapkan dua piring, membuka rantang makanan yang dibawanya.
"Oh, iya mari, Fai. Eh, tapi Faiza apa mau makan sederhana? Menunya nasi jagung, lauknya juga seadanya."
"Nggak apa-apa, kok, Kak." Aku menelan air liur mencium aroma masakan Nenek.
"Nenek cuma masak nasi jagung, lalapan daun bayam. Lauknya tempe, ikan asin dan perkedel singkong. Kalian makan dulu berdua. Nenek makan di rumah saja, nanti sekalian sama Pak Adam." Nenek berkata pengertian, lalu berjalan menjauhi kami, mencabut rumput di dekat tanaman jagung.
__ADS_1
"Silakan, Fai ...."
"Kak, di dua pipiku juga ada gatal-gatalnya, takutnya Kakak jijik bila aku membuka maskernya." Aku menunduk. Merasa malu sama kakak ipar yang sering aku marahin itu.
"Nggak apa-apa. Aku sudah mendengar cerita tentang sakitmu dari Naya, bukalah maskermu, silakan makan. Aku tak akan merasa jijik." Kak Zian, kenapa dia sebaik itu padaku?
Aku mengangguk. Mengambil piring, mengambil nasi, tempe bacem dan lalapan daun bayam. Tak lupa sambal terasinya. Tak sabar rasanya ingin segera makan.
Masakan Nenek --seperti kata Naya-- rasanya enak meski sederhana. Aku lahap menyantap tempe bacem, lalapan bayam sama sambalnya yang pedasnya nampol.
Makan berdua, berhadapan dengan Kak Zian, di atas perbukitan. Rasanya ... damai, apalagi anginnya sepoi-sepoi. Aku makan dengan lahap.
Cepat habis isi di atas piringku. Aku nambah nasinya. Pertama kalinya aku makan nasi jagung. Enak juga rasanya. Tanganku tergerak untuk mengambil perkedel singkong.
"Fai, yakin kamu mau cobain perkedel singkong?" Sebelah alis Kak Zian terangkat.
"Aku mau coba, Kak." Kugigit perkedel singkong dan mengunyahnya. Anehnya, rasanya jadi enak. Biasanya aku paling tidak suka dengan perkedel singkong.
Kak Zian tertawa kecil, "Perkedel buatan Nenek cocok ke seleramu, kalau perkedel buatanku langsung kamu lepehin."
Aku jadi malu, tapi lanjut mengunyah perkedel sampai habis. Berikut nasinya. Nasinya habis lagi di piringku. Kepingin nambah lagi apa, ya? Makan di udara terbuka begini, selera makanku bertambah berkali-kali lipat.
"Enak ...." Hanya itu komentarku. Melihat Kak Zian tersenyum, sekilas mirip dengan senyumnya Mas Raka.
Aku membasuh tangan, dan minum teh dari cangkir yang disediakan Nenek. Suasana hatiku jadi melow bila mengingat almarhum suamiku.
"Kenapa sudahan makannya, Fai? Apa tidak mau tambah lagi?"
"Sudah, Kak. Aku takut gendut."
Kak Zian tertawa. "Jangan-jangan kamu lagi diet, tapi khilaf melihat masakan Nenek?"
Aku hanya tersenyum. Melihat ke arah jauh sana, dari sini laut kelihatan, rumah-rumah penduduk di bawah sana juga menjadi view yang menarik.
Gatal-gatalku mulai aku garuk. Betis, sampai ke wajahku.
"Kamu nggak apa-apa, Fai?"
"Gatal, Kak. O iya, aku harus segera pulang sebelum sore ... dan aku mau bicara sama Kakak." Aku bicara tanpa menoleh pada Kak Zian. Jantungku deg degan.
"Iya, silakan."
"Kak, aku punya banyak salah sama Kakak. Sejak Kakak kirim surat itu, bawaannya aku ingin marah terus sama Kakak ...." Aku menarik napas berat.
"Iya, terus?" Kak Zian menunggu lanjutan ucapanku.
"Aku mau minta maaf pada Kakak, Kak Zian mau, kan, memaafkan aku?" Aku menoleh, kudapati wajah kakak iparku juga menoleh padaku dengan pandangan lembut. Menambah kharismanya, sebagai lelaki sopan, baik, dan penyabar. Aku mengakuinya sekarang.
Bersambung
__ADS_1