
Binar ceria terpancar dari kedua mata Faizara setelah aku mengatakan akan melamarnya.
Aku tak menduga Faizara begitu serius, seperti mendesak agar aku segera melamarnya. Agak aneh saat Faizara yang membenciku berubah menyukaiku hanya dalam waktu singkat.
Jika kalian tanya, apakah aku suka, sayang atau cinta pada Faizara, maka aku sendiri masih bingung mengartikan perasaanku pada istri mendiang adikku itu.
Permintaan terakhir Raka, membuatku mencoba untuk bisa menerima Faizara. Sayangnya, Faizara beberapa kali mencelakaiku, karena Faizara sangat membenciku. Dia juga terang-terangan menolakku dan lebih memilih Reno.
Aku tidak bisa memaksakan kehendak, walau waktu itu aku kecewa pada Faizara dengan pilihannya. Pasalnya, pria bernama Reno suka mabuk dan main perempuan. Apa jadinya jika Faizara yang emosinya labil bersanding dengan Reno?
Alhamdulillah, kedatangan Faizara ke rumah Nenek untuk minta maaf padaku dan mulai menyadari kesalahan yang telah dia perbuat padaku selama ini, membuatku lega dan sangat bersyukur.
Subhanallah, Allah Maha Pembolak Balik Hati, Faizara yang terkesan sombong dan egois, kini sudah berubah dan berjanji untuk lebih baik lagi ke depannya.
Aku tahu Faizara masih betah berada di rumah Nenek. Dia memintaku mengambil buah-buahan untuk dibawa pulang, katanya Naya ingin makan rujak. Dia juga membantuku mengambil buah jambu.
"Kak, aku masih tidak percaya dengan ucapan Kakak, jangan-jangan Kak Zian nge-prank aku untuk balas dendam karena selama ini aku bikin susah Kak Zian, bahkan pernah membuat Kak Zian hampir kehilangan nyawa."
Saat berada di dekat pohon jambu, Faizara mengungkapkan rasa tak percayanya. Dia seperti berpikir keras sampai keningnya berkerut.
"Mana mungkin aku hanya main-main, Fai?" Aku balik bertanya.
"Bisa jadi, kan? Apalagi, Kakak berhubungan dekat dengan Ratih. Nanti dia patah hati kalau Bang Ziannya ini melamarku."
Faizara membahas Ratih, dari awal bertemu Ratih, Fai terlihat cemburu padanya. Padahal, aku dan Ratih hanya teman biasa.
"Aku dan Ratih kan tidak ada hubungan sapisial," kelakarku sambil kembali memetik jambu kristal.
"Tidak punya hubungan sapisial, tapi punya hubungan spesial. Hm, Ratih tuh dari cara menatap Kak Zian, sepertinya cinta berat, dia sampai membayar seorang pemuda untuk menakutiku dengan memakai kostum pocong."
Aku terkejut dengan penuturan Faizara. "Dari mana kamu tau kalau pocong itu suruhan Ratih?"
"Tadi waktu ke toko, tak sengaja aku mendengar dua anak muda berbincang-bincang di depan toko. Dia katanya senang dapat bayaran dari Ratih dengan menakuti aku. Pemuda itu memakai kaus putih. Dia lari saat mengetahui kedatanganku. Aku tanya pada pemilik toko, katanya nama pemuda itu Jamal."
"Jamal? Dia sepupunya Ratih." Tak menyangka Ratih bisa senekat itu sampai menyuruh sepupunya untuk menakuti Faizara. Pasti tujuannya agar Faizara tidak betah menginap di sini.
"Oh, sungguh terlalu si Ratih itu." Faizara melihat tajam ke arah rumah Ratih.
"Nanti aku akan bicara sama Ratih ...." Ada rasa marah di hati pada Ratih. Untuk apa dia berbuat seperti itu?
"Ya, marahin saja dia, Kak! Kesel aku! Bikin emosi. Eh, Kak. Biar emosiku reda gimana kalau kita foto?"
"Foto?" tanyaku.
"Iya, kita foto. Aku akan kirimkan ke Naya." Faizara mengambil ponsel di tas selempangnya.
"Oke, lah." Aku menyetujui.
"Senyum, Kak."
__ADS_1
Aku tersenyum ke arah kamera, di depanku, wajah Faizara tampak begitu semringah.
Hasil cekrekan itu dia kirim ke Naya. Tak lama setelahnya, Naya memanggil lewat video call.
"Ehhem, yang lagi berbunga-bunga! Makasih ya, Kak. Sudah membuat mbakku bahagia, soalnya kalau stres kayak orang gila sungguhan dia." Naya menggoda Faizara.
"Hus! Jangan bilang begitu, dong, Nay!" Faizara tersipu.
"Tenang, Mbakmu akan kubuat selalu tersenyum, Dek." Aku ikut menimpali sambil melihat ke layar ponsel Faizara.
"Makasih, Kak. Jangan lupa oleh-olehnya, ya ...."
"Ini sudah selesai metik jambu dan buah-buah yang lain." Faizara menunjukkan buah-buahan yang sudah dibungkus plastik.
"Mantap!" ucap Naya sambil menunjukkan jempolnya.
"Kak, kenapa Kak Zian ke Naya panggil Dek, sedangkan ke aku selalu saja menyebut nama saja?" tanya Faizara setelah menutup video call dengan Naya.
"Ya, bagaimana mau panggil adek? Dari awal berjumpa setelah aku kirim surat untuk menegurmu, kamunya selalu marah-marah sama aku, Fai."
"Ya udah, mulai sekarang aku mau Kak Zian panggil adek ke aku," rajuknya padaku.
"Iya, Dek." Aku menuruti permintaannya. Faizara pun tertawa.
"Nah, gitu dong, Kak. O iya di mana tempat yang paling nyaman?"
"Tempat yang paling nyaman itu di pelukan Kak Zian." Faizara menunjukku dengan wajah konyol.
"Yaa ... bucin, deh!" Aku meledeknya.
"Iya, ini gara-gara Kak Zian aku jadi bucin."
"Kok karena aku?" tanyaku iseng.
"Iya, karena Kakak berhasil membuat aku ... jatuh cinta." Faizara nyengir.
"Yah, bucin lagi, deh!" Aku tepuk jidat. Faizara tertawa. Melihatnya bahagia, aku turut bahagia karena tak lama lagi, aku akan memenuhi permintaan terakhir adikku.
❤❤❤
Nenek membawakan banyakan oleh-oleh untuk dibawa pulang, Pak Adam memasukkannya ke mobil.
"Nek, terima kasih, ya. Aku senang berkunjung ke sini. Dan berkat minyak dari Nenek, gatal-gatalku sudah mendingan."
Faizara berdiri di teras, bersiap untuk pulang.
"Iya, Nak. Nanti di rumah rutin dioleskan ya minyaknya."
"Tentu, Nek. Aku ingin cepat sembuh. Kalau aku sudah sembuh, Kak Zian silakan bawa keluarga ke rumahku. Aku siap dilamar."
__ADS_1
Kalimat Faizara membuat kami tertawa.
"Iya, insya Allah ...." Aku mengacungkan dua jempol.
"Nenek turut senang, semoga kalian nantinya selalu berbahagia dan dilimpahi rahmat-Nya."
"Aamiin." Kami mengaminkan doa Nenek. Nenek dan Faizara berpelukan lama.
"Aku pamit, Nek, Kak ...."
"Iya, hati-hati, Dek." Dipanggil Dek, wajah Faizara bersemu merah.
"Hati-hati ya, Nak." Nenek kembali memeluk Faizara.
"Iya, Nek. Mungkin, aku akan kembali berkunjung dan menginap lama di sini, nanti setelah jadi istrinya Kak Zian."
Nenek mengusap rambut Faizara, "Harus itu. Nenek sudah tidak sabar menunggu kalian bersatu. Agar Nenek punya teman saat masak."
Kuakui, Nenek begitu bahagia Faizara menginap di sini.
"Aku pun tak sabar juga, Nek. Agar tidurnya tidak meluk guling." Lagi-lagi Faizara melontarkan kalimat yang membuat kami tertawa.
Aku dan Nenek ikut turun ke halaman saat Faizara dan Pak Adam akan masuk mobil.
Dari kaca yang dibuka, Faizara melambaikan tangannya. Aku membalasnya. Faizara begitu iseng, dia melakukan cup jauh. Aku hanya melotot tapi tersenyum.
Selain keras kepala, Faizara aslinya ceria dan konyol juga.
Mobil itu pun bergerak meninggalkan halaman. Aku dan Nenek kembali masuk rumah setelah mobil Faizara tidak terlihat lagi.
"Dia wanita yang ceria, Nenek sayang sama Faizara," kata Nenek.
"Iya, Nek. Dia ceria dan agak keras kepala, semoga aku nantinya bisa menjadi imam yang akan menuntunnya."
Nenek mengucap aamiin. Aku dan Nenek masih berbincang di ruang tamu. Selang sepuluh menit Faizara pulang, ada motor berhenti di halaman sambil. Lek Karmin tetanggaku, kulihat dari kaca ruang tamu berjalan cepat sambil memanggil-manggil namaku.
"Zian, Zian!"
Ada apa ya? Aku bergegas membuka pintu.
"Ya, Lek?"
"Zian, mobilnya tamu yang menginap di rumahmu kecelakaan di belokan sana. Mobilnya terjun ke jurang dan mobilnya terbakar."
"Astagfirullah! Faizaraaa ...!"
Aku panik. Nenek pun sama. Beliau langsung menangis, sedangkan aku segera mengambil motor. Memacu begitu kencang, membayangkan hal yang tidak-tidak terjadi pada Faizara dan Pak Adam.
Bersambung
__ADS_1