Kakak Ipar Melihat Auratku

Kakak Ipar Melihat Auratku
Tak Ada Kabar


__ADS_3

"Aku turun," ucapku tanpa menunggu persetujuan Reno. Keluar dari mobil, menuju pinggir jurang. Melihat ke bawah, ke jurang yang gelap dengan hati yang tak karuan.


Lima orang yang sudah mengeroyok Kak Zian, masih tertawa-tawa, seolah-olah sangat bangga sudah berhasil melempar kakak iparku itu.


"Dia sudah mati ...." 


"Sudah mati!"


"Gimana Boss, kerja kami?"


Reno dikerubungi begitu turun dari mobil. Lima orang itu membangga-banggakan perbuatan keji yang baru saja mereka lakukan pada Kak Zian.


"Bagus, bagus! Sebentar lagi aku transfer uangnya ... ayo kita pergi dari sini," ujar Reno. Dia kemudian juga tertawa.


"Siap! Siap, Boss!"


Aku tertegun, tangan dan kaki sedingin es karena tegang dan takut. Melihat motor Kak Zian, di boncengannya ada kardus besar, aku tahu isinya adalah oleh-oleh yang dibawakan mamanya untuk dibawa pulang ke rumah nenek.


Bagaimana perasaan mamanya, jika tahu Kak Zian dianiaya dan dibuang ke jurang? Pasti hatinya akan hancur berkeping-keping.


"Sayang, ayo ...." Reno menggandeng tanganku.


"Apakah Kak Zian sudah ...?" Aku tak kuasa melanjutkan pertanyaan. 


"Iya, dia sudah koit." Reno menjawab enteng. Jawaban Reno disambut tawa lima orang berwajah garang seperti preman itu.


"Ini apaan?" satu di antara mereka membuka kardus di boncengan motor Kak Zian, lalu mengeluarkan isinya.


"Wah, lumayan banyak jajanan!" seru pria itu. Yang lainnya ikut mengambil jajanan di dalam kardus, dibuka dan dimakan sebagian. Sisanya di buang ke jalan sambil menendang motor Kak Zian sampai roboh.


Aku melongo, menelan ludah berat melihat rengginang buatan mama mertua dibuang-buang ke jalan lalu diinjak-injak.


"Ayo, Sayang ...." Reno berbisik mesra membawaku ke mobilnya.


Reno segera mengemudikan mobilnya diiringi lima motor itu. Mereka urakan, tertawa-tawa seolah-olah sedang pawai kemenangan saat melaju di jalan sepi ini.


“Kami ke markas, Boss!” 


“Oke!” Reno mengacungkan jempolnya, lalu menutup kaca mobilnya.


Mereka berlima lalu menuju ke arah lain saat sudah sampai di jalan raya. Entah sejak kapan Reno punya banyak teman preman. Sangat-sangat mengerikan


"Kenapa diam saja, Sayang? Kamu masih takut?" Sebelah tangan Reno menggenggam tanganku. "Santai saja ...."


Senyum Reno merekah saat menoleh padaku. Aku mencoba balas tersenyum walau terasa berat.


"Bila aku, harus mencintai dan berbagi hati, itu hanya denganmu. Namun bila kuharus tanpamu, akan tetap kuarungi hidup tanpa bercinta ...."


Reno bersenandung sambil menggodaku, sementara aku kepikiran dengan ... Kak Zian. pun ketika Reno membawaku ke rumah makan ternama di kota ini, aku sama sekali tidak berselera dengan menu mewah yang disajikan.


"Ayo makan, Sayang ...."


"Iya ...." Bibirku terasa kelu.


Demi menghargai Reno, aku makan. Saat mengunyah makanan, yang terbayang wajah Kak Zian yang bonyok sambil meringis menahan sakit.


Aku menggeleng, untuk apa aku kepikiran pada Kak Zian? Ya, sudahlah! Salahnya sendiri selalu ingin ikut campur dan mengikuti mobil Reno. 


Namun, tindakan Reno menyuruh preman-preman itu menghajar Kak Zian sampai membuang ke jurang apakah tidak berlebihan atau keterlaluan?


"Kok, ngelamun, Sayangku?" tegur Reno, aku langsung batuk-batuk. 

__ADS_1


"Hati-hati makannya biar tidak tersedak." Reno berkata perhatian.


"I-iya." Aku hanya menjawab pendek.


Reno tidak langsung membawaku pulang setelah makan malam. Dia membawaku ke rumah barunya. Aku mencoba antusias, ingin menghilangkan rasa tak nyaman di dalam hati. 


Rumah bergaya modern dengan halaman luas itu begitu megah.


"Rumah ini, selesai dibangun lima bulan yang lalu, tapi masih kosong. Karena aku tidak semangat saat tahu kamu mulai dekat dengan Raka. Sekarang, aku kembali punya semangat, untuk mengisi perabotan di rumah ini, karena nantinya ... akan ada bidadari yang akan menemani hari-hariku ... di rumah ini." 


Reno menangkup wajahku dengan dua tangan, tiba-tiba memberikan ciuman di keningku, lalu akan turun mencium bibirku ....


"Eh, ruang tamunya luas banget ya." Aku menghindar, memerhatikan ruang tamu dengan lantai marmer.


"Iya, luas banget. Enak kalau luas, anak-anak kita nanti akan bebas berlarian di sini." Reno berputar-putar sambil tertawa. 


Mengkhayalnya ke jauhan. Aku belum berpikiran ke arah sana. Lanjut aku melihat-lihat suasana rumah baru Reno sampai ke lantai dua.


"Di sini, nanti kita akan menghabiskan waktu untuk bercengkerama dan bercinta," ucap Reno saat sudah sampai di kamar utama.


Reno memelukku dari belakang, dia tanpa permisi bebas mencium bahuku, lalu pindah ke pipiku. Sambil terus mengucapkan cinta. "I Love you, Faizara ...."


Aku tidak suka cara Reno mengekspresikan cintanya dan jadi merasa bersalah pada Mas Raka ....


"Aku mau pulang, tadi pamitnya sebentar pada Papa." Lagi-lagi aku menghindar dari pelukan Reno. Membuka lengan Reno yang melingkar di perutku.


“Kenapa buru-buru, sih, Sayang? Aku gak bisa lama-lama jauh darimu ....” 


“Halah, bucin!”


Aku sungguh tidak nyaman mendengar gombalan Reno. Tak dapat dipungkiri, aku memikirkan nasib Kak Zian. Apakah Kak Zian masih hidup, atau sudah meninggal?


❤❤❤


Kepalaku jadi mumet.


Sampai waktu Subuh, aku terus memeriksa ponsel. Tak ada berita apa pun. Tidak ada berita ditemukannya mayat di dalam jurang. 


"Naya kalau makan jangan sambil main hape," tegurku pada Naya saat kami sedang sarapan pagi ini. Sedikit memancing Naya, apakah Naya tahu kondisi Kak Zian?


"Apa sih, Mbak. Aku lagi chat-an penting, nih ...."


"Penting apa, sih?" Aku melongok pada layar ponsel Naya.


"Dih, Mbak kepo, deh!" Naya lanjut mengetik di layar ponselnya. Kulihat nama yang tertera adalah nama cewek, pasti teman Naya. "Nggak boleh liat chat-ku ih ... ini rahasia!"


Naya menjauhkan ponselnya.


"Huh! Pasti bahas cowok, nih!"


Papa dan Mama hanya menggelengkan kepala melihat kami ribut kecil.


Reno, tiap setengah jam sekali menelepon, atau kirim WA. Menanyakan hal-hal tidak penting, apakah aku sudah makan, sudah istirahat, sudah mandi atau ... ah, aku agak terganggu dengan perhatian Reno yang berlebihan.


Dengan alasan akan mengecas ponsel pada Reno, aku sengaja mematikan ponsel karena mood-ku sedang tidak baik.


❤❤❤


"Mbak kenapa seharian ini murung?" tanya Naya, dia menghampiriku yang duduk di pinggir kolam sambil mencelupkan kakiku ke air jernih.


"Murung apanya? Aku hanya lagi kecapekan aja." Aku menguap, semalaman tidak tidur, ditambah hampir seharian diganggu Reno membuatku butuh untuk menyendiri. Sore ini malah digangguin Naya.

__ADS_1


"Hayooo, Mbak pasti kepikiran atau ... sudah rindu pada Kak Zian?"


"Apa, sih, Nay?" Aku mencipratkan air pada Naya.


"Ih, basah, Mbak? Ngaku saja, Mbak. Padahal baru semalam Kak Zian pulang Mbak sudah rindu!" Naya menghindar sambil terus menggodaku.


"Bilang saja kamu yang rindu, Nay! Kak Zianmu itu sudah balik jadi tukang kebun lagi. Dia pasti sudah sibuk dengan pohon andalannya, yaitu singkong!" Aku mengejek. 


Dalam hati tidak yakin Kak Zian masih hidup. Tapi, kalau Kak Zian sudah meninggal, seharusnya keluarganya sudah tahu lebih dahulu. Ini tidak ada berita apa pun sampai sore hari. Aneh.


"O iya, dong! Kak Zian sudah pasti sekarang menghirup udara sejuk pegunungan, tidak seperti di sini. Panas, dan ditambah selalu dibuat susah oleh Mbak, kan kasian Kak Zian."


"Emang dia sudah ngabarin kalau sudah sampai di rumah neneknya?" Aku memancing Naya lagi. Semakin penasaran.


Naya ikut duduk di pinggir kolam, melihat ke arah matahari sore yang hampir terbenam.


"Belum. Kak Zian tidak mengabari. WA-nya sejak sore kemarin tidak aktif. Mungkin di sana susah sinyal," sahut Naya. Dia melihat ke layar ponselnya.


"Apa kamu tidak tanya pada Aris?" 


Naya menoleh padaku. "Ya, nggak lah, Mbak. Malu juga. Kenapa? Mbak beneran kangen sama Kak Zian, kalau gitu aku coba telpon ya ....?"


"Eh, eh .. jangan, Nay!" cegahku.


Naya tetap menelepon, disambut suara operator, "Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau  berada di luar jangkauan ...."


"Yaaaah ... nomernya masih gak aktif."


Tidak aktif, itu artinya ....? Jantungku berpacu lebih cepat. Mana mungkin aktif kalau Kak Zian sudah meninggal di dalam jurang.


❤❤❤


Sehari, dua hari tidak ada kabar tentang Kak Zian. Tiap memeriksa ponsel, jantungku berdebar tak karuan.


"Zian sepertinya masih hidup, entah sekarang dia berada di mana? Awas saja, tetap akan kuburu sampai dia ...."


"Ren ... sudahlah, jangan cari penyakit. Nanti kamu yang dilaporkan ke polisi. Kak Zian jika dia masih hidup tak akan lagi berani menggangguku lagi setalah dihajar habis-habisan oleh teman-temanmu."


"Iya juga, sih." Reno dengan santainya menyeruput kopi. Kami sedang berada di sebuah kafe.


"Reno Sayang ...."


Seorang wanita cantik tiba-tiba sudah berdiri di samping tempat duduk kami.


"Laura ... kamu?" Reno tampak terkejut.


"Iya, aku mencari kamu sampai ke apartemenmu tapi tidak ada. Oh, jadi karena kamu sudah ada cewek lain lagi, sampai ngeblokir nomerku?" Wanita dengan pakaian ketat itu menoleh tak suka padaku.


"Dia sahabatku, dan sebentar lagi akan jadi istriku. Jadi, sorry ... jangan lagi cari aku ....”


Belum selesai Reno bicara, kurasakan rambutku sangat sakit saat dua tangan wanita bernama Laura ini menjambak rambutku sambil berteriak ....


"Apa? Jadi demi wanita ini kamu seenaknya mencampakkan aku! Kamu lupa sudah berapa kali meniduriku!"


"Aduh, aduh! Lepaskan, lepaskan!" Aku juga berteriak kesakitan. Tanganku balas menjambak rambut panjangnya. Laura menendang kakiku, aku balas menendangnya.


"Sudah, stop, stop!" Reno mencoba melerai kami. 


Laura bukannya melepas jambakannya di rambutku, dua tangannya pindah ke wajahku, mencakar dua pipi mulusku dengan kuku-kuku panjangnya. Sakit!


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2