Kakak Ipar Melihat Auratku

Kakak Ipar Melihat Auratku
Bukan Halusinasi


__ADS_3

"Mas, aku bahagia hidup bersamamu," ucapku pada Mas Raka. Wajah Mas Raka putih bersih, dia memakai baju dan sarung putih.


"Sama, aku pun sangat bahagia. Aku tidak akan meninggalkan kalian," ucapnya lembut. Begitu menenangkan.


Tiga anakku datang ikut memeluk Mas Raka.


"Papa, Papa, tadi aku beli mainan ini?" tunjuk anakku yang paling kecil.


"Papa, lihat, aku menggambar Papa dan Mama." Anakku yang nomor dua menunjukkan hasil karyanya di buku gambar. Dia membuat gambar wajahku dan wajah Mas Raka yang sama-sama tersenyum.


"Papa, tadi aku dapat rangking satu di sekolah." Anakku yang paling besar berkata bangga.


Mas Raka duduk berjongkok, tangannya bergantian menyentuh wajah ketiga anak kami yang semuanya berjenis kelamin laki-laki. Dia memuji ketiga anakku lalu membawa ketiganya dalam pelukan.


Aku tersenyum bahagia. Merasa hidupku sempurna. Tak ada lagi rasa sedih karena berkumpul dengan Mas Raka dan anak-anak. Aku merasa sangat rindu pada mereka. Seolah aku baru datang dari perjalanan jauh


Rumah kami bak istana dengan pilar-pilar tinggi berwarna emas. Ini rumah idaman kami, rumah di atas awan ....


"Papa pergi dulu, ya. Jaga mama kalian," katanya pada anak-anak.


"Mas barusan mengatakan tidak akan pergi meninggalkan kami? Kenapa Mas berubah pikiran?" tanyaku tak terima.


"Aku harus pergi, Sayangku." Setelah berkata seperti itu dia berlari, dalam sekejap menghilang di antara awan-awan putih.


Aku dan anak-anak mengejar Mas Raka.


"Maaaass Rakaaaa! Jangan tinggalkan aku dan anak-anak!" teriakku sembari membuka mataku.


"Pasien sudah siuman."


"Alhamdulillah."


"Mbak ...."


Aku tak mengerti, bingung karena ini bukan rumahku yang megah di atas awan. Wajah-wajah terharu mengelilingi tempatku berbaring.


Ada Papa, Mama, Naya, dan Kak Zian. Ada Mas Raka juga ikut berdiri di samping ranjang ini. Sekejap, sebelum dia keluar lewat pintu.


"Mas! Aku mau ikut Mas Raka! Aku mau pulang!"


Kutepis tangan dokter yang memeriksa tekanan darahku. Kutarik selang infus membuat semuanya panik.


"Mas Raka!"


Aku ingin meronta-ronta, sayangnya tubuhku rasanya sakit sekali.


"Tenang, tenang, ya? Mbak sudah siuman. Jangan banyak bergerak dulu." Dokter dan perawat menenangkan aku.


"Aku ingin ikut Mas Raka, Dok!" Aku berapi-api. "Aku tidak ingin meninggalkan anak-anak. Mana Mas Raka? Barusan dia ada di sini!"


"Mas Raka siapa, ya?" Dokter bertanya heran.


"Suaminya Faiza, Dok. Raka sudah meninggal ...." Papa menjawab pertanyaan dokter dengan mata berkaca-kaca.


"Mas Raka masih hidup, Pa. Dia masih hidup, kita tinggal di atas awan, hidup bersama tiga anak kami!" Aku menjelaskan pada semua orang.


“Nak, Raka sudah meninggal,” ucap Mama pelan.

__ADS_1


Kak Zian tampak tertegun, kedua manik mata coklat itu menatapku iba.


Dokter menggeleng. "Pasien masih berhalusinasi."


"Aku tidak berhalusinasi! Mas Raka masih hidup!"


"Mbak, kita di rumah sakit." Naya memberitahukan tempat yang tidak aku sukai ini. Pokoknya aku mau pulang, aku tidak akan tinggal di sini! Biarkan aku pergi, aku ingin menyusul Mas Raka!"


"Ya Allah ...." Mama sampai terisak-isak melihatku seperti kesetanan.


Hari-hari setelahnya, aku banyak ngelamun, memandang ke langit-langit tempatku di rawat. Saat diajak bicara oleh siapa pun yang menjagaku, aku memilih diam karena tak sabar ingin pulang ke rumahku di atas awan.


Aku akan berteriak saat sekilas melihat Mas Raka ada di dalam kamar ini. Begitu terus, sehingga dokter memberikan obat penenang agar aku bisa istirahat.


Seperti malam ini. Mas Raka melambaikan tangannya di dekat pintu, dia ingin aku ikut. Aku akan bangun, tapi ....


“Mas, jangan pergi!”


"Dek, aku Zian ...." Semakin dekat berjalan ke pinggir ranjang, wajah Mas Raka berganti berubah menjadi wajah Kak Zian. Aku jadi benci dengan semua ini.


Aku menutup wajah lalu menangis.


"Kamu perlu sesuatu? Mama masih pulang mengantar Papa yang kurang sehat. Naya, dia juga ikut pulang. Biasanya kalau keluargamu pulang, Bi Darsih pembatumu yang menginap, tapi katanya dia pulang kampung karena menikahkan anaknya. Jadi, malam ini, kita hanya berdua saja ...."


"Kenapa Kak Zian terus menungguiku? Aku tidak betah di sini, aku ingin pulang!" Kutatap tajam pria yang menatapku lembut itu.


"Hei, makanya kamu harus cepat sehat. Agar bisa segera pulang, ya ...."


"Aku mau pulang ke rumahku di atas sana! Rumah Mas Raka! Bukan ke rumah yang lain! Anak-anakku pasti sedang menungguku!" Kupelototi Kak Zian yang mengucap istigfar.


"Dek, katanya gak sabar ingin segera aku lamar, kenapa sekarang berubah pikiran, hm? Sekarang berbaringlah, sudah malam. Istirahatlah."


Kak Zian akan memakaikan selimut, tapi aku tepis dan melempar selimut itu ke lantai.


"Siapa yang ingin dilamar! Aku sudah punya suami!" tegasku lalu berbalik, tidur membelakangi Kak Zian sambil menangis.


"Sebelum tidur, minum obatnya, yuk," bujuk Kak Zian. Pasti obat yang kata dokter bisa membuat aku tenang dan segera pulih. Rasanya sudah bosan minum obat terus, makanya aku cuekin saja Kak Zian yang sok perhatian padaku.


❤❤❤


Dingin sekali. Aku meringkuk, memeluk tubuhku sendiri. Gigi-gigiku saling beradu. Ruangan ini sepi. Mas Raka tidur duduk, kepalanya bertumpu ke sisi ranjang tempat aku berbaring.


"Mas, a-aku di-dingin ...." Kuguncang lengannya, Mas Raka tak kunjung bangun. Kuelus-elus rambutnya sambil berkata," Mas, mana selimutnya? Aku dingin ....."


Barulah Mas Raka membuka matanya yang memerah, tampak sangat ngantuk sambil menguap.


"Kamu kedinginan, Sayang?"


"Iya, selimuti aku."


Dia tersenyum. "Tadi mau aku selimuti, kamu tidak mau." Mas Raka bangun, lalu menyelimuti dari kaki sampai ke dadaku sambil membungkuk.


Melihat wajahnya secara dekat, dia begitu tampan, kulit wajahnya putih, hidungnya mancung dan ... bibirnya yang merah membuat gairahku sebagai istri tiba-tiba datang.


Dia selesai menyelimutiku. Saat hendak berdiri, segera kulingkarkan dua tangan ke belakang lehernya dan menariknya sampai wajahnya sangat dekat denganku.


Dia tampak terkejut, sampai menelan ludah berkali-kali, "Dek ...?"

__ADS_1


Napasnya semakin menggelitik, membuatku tak sabar untuk ....


"Eh, eh, Dek ... kamu mau apa?" Mas Raka melebarkan dua matanya saat aku memajukan bibirku. Minta dicium.


"Kenapa? Tumben Mas Raka tidak mau menciumku?" tanyaku agak terheran-heran dengan penolakannya.


"Aduh, Dek ... makanya obatnya harus rutin kamu minum agar tidak seperti ini." Mas Raka mencoba melepas pegangan tanganku di belakang lehernya.


"Cium dulu ...," rajukku. Menarik kuat belakang lehernya sampai keningnya terbentur ke keningku, hidungnya juga membentur hidungku. Napas kami beradu di malam sepi ini, tapi Mas Raka seperti tidak nyaman. Dia menarik wajahnya.


"Sadarlah, Dek ... aku Zian," katanya, dia menjauhkan wajahnya setelah melepas tanganku.


Betapa malunya aku, wajah itu seketika berubah menjadi wajah Kak Zian! Aku kecewa dan marah. Kupukul kepalaku sendiri yang kini baru ditumbuhi rambut.


"Kenapa aku?! Kenapa aku selalu melihat Mas Raka tapi dia tidak nyata!" Aku kebingungan, seperti inikah halusinasi itu?


"Sekarang minum obatnya ya." Kak Zian menyiapkan obat yang harus aku minum berikut air putih segelas.


Tak ada pilihan lain, aku begitu tersiksa dengan semua ini. Kuambil segelas air di tangan Kak Zian, lalu menelan satu-satu butiran pil di telapak tangan Kak Zian sambil menangis. Meyakinkan diri sendiri, kalau suamiku sudah meninggal, dan apa yang aku lihat hanya halusinasi belaka.


"Bagus, kamu pasti akan sehat kembali, Dek," ucap Kak Zian setelah aku menghabiskan obatnya.


Aku mengangguk, pikiranku jadi lumayan tenang dan bisa kembali tidur. Terbangun saat ada suara bunyi pintu di buka.


Jam di dinding sudah di angka empat pagi. Kukira Kak Zian yang datang dari salat Subuh di musala rumah sakit, tapi ....


"Reno?"


Reno tidak menjawab. Wajahnya tampak beringas dengan menyeringai. Dia berdiri di samping ranjangku.


"Kamu kaget aku yang datang? Bukan Zian? Dan kamu akan lebih kaget saat aku ...." Reno mengambil dengan kasar satu bantal yang aku pakai di kepala.


Aku ingin bertanya apa maksudnya, yang terjadi setelahnya membuat mataku melotot, aku tidak bisa bicara dan bernapas! Reno membekap wajahku dengan bantal!


"Hhmmmppp! Hmmmmp!"


Apa-apaan ini? Reno jangan bercanda! Dia tidak sedang ingin membunuhku, kan?


Aku meronta-ronta karena tidak bisa menghirup udara.


"Tenang, Faiza ... kamu akan istirahat dengan tenang. Dan Zian, akan merasa sedih karena calon istrinya ini akan segera terbujur kaku menyusul Raka!" bisik Reno di telingaku.


Sadis! Jadi dia ingin membunuhku! Kaki dan tanganku masih meronta-ronta. Sayangnya, tak banyak yang bisa aku lakukan, bekapan di wajahku begitu kuat, aku tak bisa bernapas!


Kak Zian ... Mama, Papa, Naya ... Dokter, perawat, tolong aku!


"Hhhhmmmmppp!" Aku berharap ada yang datang menolongku sebelum aku mati di tangan Reno.


"Saat aku minta maaf di parkiran pada Zian, dia percaya .... dikiranya aku benar-benar menyesali apa yang aku perbuat padanya. Dia juga tidak tau kalau aku yang membuat mobil rem mobilmu blong. Dikira aku rela kamu berbahagia di rumah Zian? Dikira aku ikhlas dia akan menikahimu? Makanya, aku yang selalu tau kemana pun kamu pergi, merusak rem mobilmu saat malam hari di depan rumah Zian!"


Reno seperti setan! Dia sudah merencanakan semuanya!


"Hmmmmppp!"


Aku tidak berhalusinasi, ini nyata! Reno, sahabat baikku, ingin membunuhku!


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2