
Saat mencoba bangun miring, punggungku berbunyi seperti salah urat. Aku pun kembali mengaduh, dan tak kuasa menahan tangis.
Mataku jadi buram karena air mata. Kak Zian berbalik dan berjalan cepat ke arahku.
"Jangan ngeyel, Fai. Kamu perlu bantuanku. Maaf ...."
"Hei, turunkan aku, turunkan!" teriakku. Ingin meronta-ronta tubuh sakit semua.
Aku kaget setengah mati, jantungku berdebar tak karuan karena marah dan tak menyangka Kak Zian mengangkat tubuhku. Dia membopongku! Keterlaluan dia! Apa tidak malu membopong istri adiknya?
Kami sudah tak ada jarak. Mana aku saat ini memakai kaus ketat lengan pendek, dengan bawahan rok mini selutut.
"Turunkan! Turunkan! Kamu sengaja mengambil kesempatan dalam kesempitan!"
"Kalau diturunkan, kamu gak bakal sanggup naik ke kamarmu." Kak Zian berkata lembut. Matanya lurus ke depan.
"Kata siapa?! Aku bisa jalan sendiri, hei turunkan!" Kali ini aku sambil memukuli dada bidangnya.
Sudah seperti samsak saja, kupukuli dada Kak Zian yang membopongku naik tangga. Pipiku menempel pada dadanya. Detak jantung Kak Zian terdengar ke telinga persis di mimpi itu ....
Mimpi jadi kenyataan! Kenapa mimpi buruk itu harus jadi nyata?
"Turunkan, turunkan!"
Aku terus memukuli dada Kak Zian, membuat pria berbadan atletis ini menggigit bibir bawahnya, menahan sakit mungkin.
Waktu terasa lama untuk sampai di lantai atas. Tanganku dua-duanya masih memukul dada Kak Zian.
Sampai ke kamarku, Kak Zian membungkukkan badan menurunkanku di ranjang membuat wajah kami sangat dekat. Napas Kak Zian cepat, pasti dia capek. Belum lagi dadanya sakit karena aku tinju.
Wajahku memanas, marah dan ... malu.
"Kamu perlu tukang urut, akan aku telpon Bi Hafsah, dia langganan keluarga kami," katanya tepat di depan wajahku. Hingga aroma segar nafasnya jelas mampir ke hidungku.
Aku tak sadar, gelang di tangan kananku tersangkut di kancing kemejanya.
Pantas tanganku yang akan menyingkir dari dadanya agak kesulitan.
Kak Zian, akan membantu melepaskan. Tapi karena aku marah, kutarik saja lenganku membuat kancingnya lepas dan bagian dada atas Kak Zian terlihat.
Aku melengos, mengusap air mata yang masih membasahi pipi.
Berada sedekat ini dengan Kak Zian, spontan bulu romaku berdiri, dan tubuhku bergetar. Seperti kedinginan.
Kak Zian seolah paham. Dia menarik selimut tebal sampai ke leherku, lalu berdiri tegak. Mengusap wajahnya yang keluar titik-titik keringat. Tidak protes meski aku memukuli dadanya tanpa ampun.
“Aku gak mau diurut!” Aku tetap jaim.
"Istirahatlah," ucapnya. Kak Zian menuju pintu dengan langkah lebar dan keluar kamarku.
Aku menghela napas, bisa jantungan aku kalau dekat-dekat dia terus, huh!
Aku meringis, tangan yang terkena pisau terasa sakitnya karena barusan memukul dada Kak Zian.
Tak berselang lama, seorang tukang pijat diantar Kak Zian. Kak Zian tidak ikut masuk, mengantar sampai pintu kamarku. Kak Zian tidak berkata apa-apal lagi. Bi Hafsah, dia memperkenalkan diri.
Aku memang lagi butuh diurut. Bi Hafsah mengurutku sekitar setengah jam. Dan pulang sebelum mama dan dua pembantu datang.
__ADS_1
Mataku melihat kancing baju warna hitam milik Kak Zian kasur. Aku ambil, tahu apa yang terbayang saat memegang kancing baju ini? Dada Kak Zian!
“Hiy!” Aku melempar kancing baju itu.
Aku tidak akan berani menceritakan pada Mas Raka atau siapa pun kau dibopong Kak Zian. Kuharap Kak Zian tidak menceritakan juga. Sumpah, aku malu banget dan enggak enak sama Mas Raka.
❤❤❤
Sore ini, bunyi ponsel menandakan ada pesan masuk.
[Surprise! Aku sudah ada di teras, Mbak keluar ya]
Pesan WA dari Naya. Tumben itu anak tidak mengabari kalau mau datang. Tahu-tahu sudah ada di di teras.
[Kakiku sakit yang mau turun] Balasku.
[Halah, Mbak manja amat, turun cepetan ya, kalau kakinya tidak dibawa jalan. Ntar Mbak pincang sungguhan] Diikuti emotikon ngakak.
[Amit-amit! Kamu ini nakutin Mbak]
Aku tak menceritakan kalau habis jatuh dan dibopong Kak Zian. Bisa-bisa diledekin oleh Naya.
[Makanya segera turun]
Aku pun turun pelan-pelan ke lantai bawah. Setelah tadi dipijat oleh Bi Hafsah, sakit-sakit di badanku mendingan.Ini demi Naya juga. Tadi aku gak kuat bangun, apalagi naik tangga. Bi Hafsah benar-benar jago.
Saat keluar ke teras, kulihat Naya berbicara sama ... Kak Zian membuat aku seketika naik darah. Tak suka melihat Naya mengobrol dengan Kak Zian.
"Naya? Ck!" Aku berdecak sebal sambil bersedekap.
"Beli nasi goreng sampai jauh ke sini," protesku.
"Aih, ada adiknya bukannya disambut dengan bahagia, sekalian mau jenguk Mbak. Untung cuma kakinya yang luka kena cobek batu, bukan hatinya ...."
Naya tertawa pelan. Naya memang gadis yang ceria, sempat-sempatnya masih mengolok-olok aku.
"Apa sih? Ayo, masuk, Nay ...."
"Bentar dulu. Ini untuk Kak Zian, kebetulan aku beli banyak," kata Naya membuatku melotot padanya. Naya menyerahkan sebungkus nasi goreng untuk Kak Zian yang duduk di seberangnya.
"Eh, iya makasih Dek Naya," ucap Kak Zian. Dia bahkan sudah tahu adikku bernama Naya. Sudah berapa lama mereka mengobrol? Aku semakin tak suka.
Kutarik lengan Naya agar masuk.
"Iiih, pelan-pelan dong, Mbak ...." Naya protes karena hampir terjatuh saat aku menarik lengannya.
"Ngapain kamu ke sini nggak bilang-bilang?" tegurku.
"Ssssttt ... ini karena aku penasaran sama kakak iparnya Mbak," bisik Naya. Melihat ke arah teras.
"Hah? Ngapain juga penasaran sama dia?" Aku masih menarik pelan tangan adikku.
"Ya penasaran, ternyata eh ternyata ... lumayan." Naya senyum-senyum tidak jelas sambil naik tangga.
"Lumayan apa?"
"Ganteng dan terlihat dewasa, hm ... apalagi ada cambang tipisnya, membuatnya tambah keren." Naya cekikikan.
__ADS_1
"Hus, Naya! Apaan, sih? Jangan kecentilan!" sewotku.
Keren? Orang gunung dibilang keren! Halah!
Aku tidak setuju dengan penilaian adikku terhadap Kak Zian yang nyebelin.
"Kak Zian memang gagah kok, Mbak." Naya masih kekeh.
"Dah, jangan bahas dia, bikin bete saja!"
Naya menuntunku naik tangga sambil tertawa terus dia.
Sampai di kamar. Aku membawa Naya ke sofa lalu berbisik menceritakan tentang kotak perhiasan yang sengaja aku letakkan di tas ransel Kak Zian.
"Ya ampun Mbak Fai, kok Mbak jahat banget?" Belum selesai aku bercerita Naya terheran-heran, dia melotot padaku. "Kasian kakak iparnya dituduh begitu. Tapi, rencana Mbak kurang matang, sih. Mana mungkin ada yang percaya."
Naya menggelembungkan pipinya.
Aku manyun. Mama dan Mas Raka memang tak percaya kalau Kak Zian pelakunya.
"Yang ada, Kak Zian pasti tau kalau Mbak sendiri yang melakukan perbuatan tak terpuji itu. Tak mungkin menuduh pembantu-pembantu di sini juga."
Jantungku tiba-tiba deg degan, iya juga. Suami dan mertuaku jangan-jangan berpikiran sama?
"Jangan sampai lah begitu." Aku bertopang dagu. Mulai dilanda khawatir.
"Hm, heran, deh, Mbak tega bersandiwara hanya agar Kak Zian cepat pulang, TER-LA-LU." Naya mencibir.
"Ih, kamu kok nggak ngedukung mbak sih, Dek?"
"Lah, Mbak aneh-aneh saja, sih. Untuk apa aku ngedukung. Kak Zian tidak ada salah apa-apa sama Mbak. Mbak saja yang mudah tersinggung dan baperan."
"Hilih! Sok bijak!"
"Mbak nggak asyik. Seharusnya bersyukur Kak Zian memperingatkan Mbak lewat surat itu." Naya masih terus membela Kak Zian. Bikin aku bad mood saja.
"Huh, kok ngebela dia, sih. Kak Zian melihat tubuhku saat handuk lepas. Itu ...."
"Itu rezeki Kak Zian!" Naya kembali tertawa, lepas! Membuatku menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Asem kamu, Dek!" Geregetan aku sama Naya.
"Mbak aku mau pulang, Mbak." Naya bangun dari sofa.
"Ngapain kamu datang ke sini kalau baru sampai udah buru-buru mau pulang?"
“Kenapa, Mbak ingin aku nginep di sini? Boleh juga tuh, sekalian aku ingin kenal lebih jauh dengan Kak Zian.” Naya malah bercanda.
“Jangan, untuk apa pengin tau lebih jauh sama pria gunung itu?" Aku buru-buru mencegah.
Aku merinding. Jadi ingat saat tadi dibopong Kak Zian, ingat saat memukuli dadanya, ingat saat wajah itu dekat dengan wajahku, ingat saat kancing kemejanya lepas dan aku melihat dadanya.
“Ya, kalau aku nginep di sini kan bisa cuci mata melihat pria yang gagah itu.” Naya terus saja nyengir kuda.
Kugetok saja kepalanya sambil mengatakan, "Jangan ganjen!"
Bersambung
__ADS_1