
"Gimana rasanya ditangani sama dokter yang ternyata adalah mantan pacar?" tanya Naya. Aku membulatkan mata sembari menempelkan jari telunjuk di depan mulut.
"Ssssttttt ... jangan sebut-sebut dokter Aldi, gak enak kalau ketahuan sama Kak Zian." Aku menoleh ke pintu, takut Kak Zian datang dan mendengarnya.
"Hah? Jadi Mbak belum cerita sama Kak Zian kalau dokter Aldi adalah mantannya Mbak?" Giliran Naya yang membulatkan mata.
"Ya nggak lah, Nay. Semalam saat Kak Zian tanya, kubilang padanya kalau dokter Aldi itu temanku."
"Yaampyuuuun! Aku sudah cerita ke Kak Zian kalau dokter Aldi adalah mantannya Mbak." Naya menepuk jidatnya.
Aku menganga mendengarnya. "Duh, Naya! Gimana dong? Kak Zian marah nggak ya karena aku tidak jujur padanya?"
"Kak Zian pengertian, mana ada dia marah sama Mbak?"
"Iya juga, sih. Kak Zian pasti mengerti. Aku tidak bilang kalau Aldi adalah mantanku agar Kak Zian tidak cemburu."
"Ya, tapi jangan s3terusnya suka berbohong pada suami Mbak. Kalau ada masalah apa pun, ceritakan dengan jujur." Naya menasihatiku.
"Iya, Nay. Aku juga gak nyaman karena Aldi sepertinya belum move on ...."
"Mbak sih, dulu memutuskan dokter Aldi begitu saja."
"Aku akui memang egois. Aku lebih memilih Mas Raka waktu itu karena Mas Raka kunilai lebih baik dari Aldi. Apa salahnya menentukan pilihan?"
Naya hanya mengangkat bahu. "Tapi dokter Aldi kelihatan masih ada rasa sama Mbak."
"Dia terang-terangan bilang masih berharap, Nay." Aku menarik napas berat.
"Jangan diladeni, Mbak. Kasian Kak Zian."
"Siapa juga yang meladeni? Dokter Aldi saja yang masih baper ...."
Kak Zian masuk, aku dan Naya segera menghentikan pembicaraan. Tak ada tanda Kak Zian marah padaku. Dia selalu perhatian, menyiapkan obat yang harus aku minum dan air mineral lalu mengangsurkan padaku.
Aku tak segera mengambil obat di tangan Kak Zian, memandang wajah yang begitu meneduhkan itu.
"Ayo diminum obatnya."
"Kak ... apa Kakak marah karena aku tidak jujur kalau dokter Aldi sebenarnya adalah mantan pacarku?" Aku meneliti wajah Kak Zian.
"Untuk apa aku marah, Dek? Itu kan hanya masa lalu, jangan terlalu dipikirkan. Aku mengerti, kamu tidak memberitahukan padaku karena tidak enak, takut aku cemburu, kan?"
"Nah, tepat begitu, Kak! Untung suami Mbak pengertian." Naya langsung menyambung, membuatku semakin sayang pada Kak Zian.
❤❤❤
Setelah lima hari pasca operasi, aku diperbolehkan pulang.
Kak Zian menata bantal, agar aku bisa menyandar dengan nyaman di ranjang.
"Kak kapan kita pulang ke rumah nenek? Kasian Nenek sendirian."
"Kita mau malam pertama di sana, hm?" Kak Zian menatap wajahku. Dia memegang dua tanganku lalu diciumnya.
Aku salah tingkah dan menunduk. Hanya senyuman sebagai jawaban.
"Nanti kalau kamu sudah benar-benar pulih, kita pulang ke rumah nenek." Kak Zian mengecup keningku.
"Kak ...."
"Hm?"
__ADS_1
"Menurut Kak Zian, siapa orang yang tega mengirimkan teluh padaku?" Aku menangkup dua pipi Kak Zian dengan dua tanganku.
"Aku tidak tau juga, siapa pun orangnya. Semoga dia segera bertobat dan tidak mengulangi lagi."
"Iya. Aku trauma. Takutnya sakitku terulang lagi, Kak." Aku menatap dua mata elang milik Kak Zian.
"Perbanyak berzikir, dan jangan tinggalkan sholat lima waktu. Teluh atau sihir itu menggunakan perantara jin, jangan takut dan khawatir, derajat kita sebagai manusia lebih tinggi daripada jin." Kak Zian menyentuh pipiku.
"Iya, Kak. Aku ingin jadi wanita yang sholihah, yang taat menjalankan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya."
"Iya, Sayang ...." Kak Zian kembali mengecup keningku membuat rasa tenteram menaungi hatiku.
❤❤❤
Kak Zian, dia begitu sabar menemaniku selama masa pemulihan. Saat dia tidur di sampingku, aku memperhatikan wajahnya.
Pria yang awalnya aku benci, sekarang aku sayangi ....
Kudekatkan wajahku, ingin mencium kening Kak Zian. Kalau Kak Zian tidak dalam posisi tidur, aku malu untuk menciumnya.
Maksud hati ingin mencium keningnya, tapi Kak Zian bergerak sehinghga bibirku mencium pipi kirinya yang bercambang. Ada rasa geli membuatku senyum-senyum sendiri.
Kak Zian terbangun dan membuka mata. "Belum tidur, Sayang?"
"Eh, be-belum, Kak." Aku malu, entah Kak Zian sadar atau tidak aku barusan menciumnya.
"Oh, sudah hampir jam dua belas malam." Kak Zian melihat ke arah jam dinding. Dia lalu memelukku. "Tidur, ya ... tidur ...."
Kak Zian mengusap-usap punggungku seperti menina bobo-kan bayi.
Aku mengangguk, semakin menempelkan pipi ke dadanya, merasakan wangi dan hangatnya pelukannya.
❤❤❤
Namun, aku menolak. Kondisiku sudah pulih, jadi lebih baik naik motor bersamanya.
Perjalanannya cukup jauh. Tapi aku senang. Ini kali pertama aku naik motor dengan jarak yang jauh. Kedua tanganku tak lepas pegangan ke perut Kak Zian.
"Capek?"
"Ngg ... lumayan, tapi aku senang, Kak."
"Kita berhenti di sini, ya." Kak Zian berhenti di depan warung bakso. Dia membukan helmku. "Makan bakso jumbo dulu, yuk."
Aku yang tidak biasa makan di pinggir jalan, hanya mengangguk saja. Lalu mengekor suamiku itu masuk ke warung yang cukup ramai.
Kak Zian memesan bakso yang lumayan besar untuk kami berdua. Aku ragu apakah bisa menghabiskannya.
Melihat Kak Zian begitu lahap menyantap baksonya, aku yang awalnya kurang suka melihat bakso sebesar itu akhirnya ngeces juga.
Enak juga ternyata, aku pun ikutan lahap menyantap bakso jumbo itu.
Kak Zian meraih tisu. "Sini aku lap, belepotan." Kak Zian mengelap pinggir bibirku. Aku sampai tidak sadar kalau belepotan. "Maaf, aku mengajak makan di warung pinggir jalan, bukan di restoran. Kamu tidak suka makan di pinggir jalan, kan?"
Loh, Kak Zian kok bisa tahu aku tidak pernah jajan di pinggir jalan? Apa dia punya indra ke-enam?
"Aku tau dari Naya kalau kamu tidak suka street food." Kak Zian tersenyum sambil kembali mengelap bibirku.
Naya, Naya! Dia cerita apa saja tentang aku ke Kak Zian? Dasar!
"Kukira Kak Zian punya indra ke-enam, bisa ngeramal gitu."
__ADS_1
Kak Zian tertawa. "Dikira aku para tak normal? Gimana baksonya? Enak, kan?"
Aku ikut tertawa pelan. "Enak kok, Kak. Sepertinya, aku akan ketagihan makan di sini.”
“Dan aku siap membayarnya.”
Aku dan Kak Zian makan sampai baksonya habis. Alhamdulillah, kenyang dan senang.
Kami melanjutkan perjalanan. Sampai di depan rumah Nenek, beliau ternyata sudah duduk di teras menunggu kami. Di sana juga ada Ratih.
"Assalamualaikum, Nek." Aku mengucap salam.
"Waalaikum salam, Nak. Nenek kangen kalian ...." Nenek memelukku erat. "Nginep yang lama di sini, ya, Nak? Biar Nenek punya teman."
"Iya, insya Allah, Nek." Kami melerai pelukan. Gantian Kak Zian yang menyalami Nenek dan memeluknya.
"Akhirnya kamu menikah juga, Nak."
"Iya, Nek. Masa mau jomlo terus." Nenek tertawa dan menepuk-nepuk punggung Kak Zian. "Semoga selau bahagia."
"Aamiin ...."
Ratih menyalamiku. Dia ... tidak seperti saat awal-awal berjumpa denganku. Kali ini wajahnya tidak judes dan terkesan ramah.
"Mbak Faizara yang lama tinggal di sini, biar aku ada temanya kalau mau cuci pakaian di sungai."
"Di sungai?" tanyaku.
"Iya di sungai, emang Bang Zian tidak cerita kalau di sini sungainya bagus, airnya jernih? Pemandangannya juga bagus, loh."
"Memang bagus sungai di sini, tapi turunnya harus pelan-pelan." Kak Zian menanggapi ucapan Ratih.
“Ya kapan-kapan aku mau ikut mencuci di sungai.” Aku penasaran dengan pemandangan di sungai yang tak kan kutemui di kota.
“Wah, senangnya ....” Ratih jadi berbunga-bunga sampai dia melompat kecil.
❤❤❤
Nenek masak banyak untuk makan malam. Malam ini malam Jumat. Sejak makan malam, aku mulai grogi karena akan melaksakan malam pertama.
Selesai makan malam, aku dan Kak Zian sholat isya' berjamaah.
Aku semakin salah tingkah saat bersalaman dengan Kak Zian setelah selesai berdoa. Kak Zian mengecup keningku dan berbisik, "Sudah siap ya?"
"Siap, tapi Kakak harus keluar kamar dulu, aku mau ganti baju."
"Ngeliatin yang ganti baju masa gak boleh?" Kak Zian mulai menggodaku.
"Aku malu, Kak. Kakak keluar dulu ya."
"Oke, deh." Kak Zian mengusap kepalaku lalu bangkit dan keluar.
Berdiri di depan lemari, aku bingung mau memakai apa. Aku sudah menyiapkan lingerie, tapi kok malu ya mau memakai baju dinas para istri itu.
Akhirnya, aku memilih memakai baju tidur yang cukup seksi tanpa lengan dan panjangnya sampai paha berwarna merah.
Ketukan di pintu tanda Kak Zian mau masuk. “Sayang, boleh aku masuk, ya?"
“Bo-leh, Kak ....”
Bersambung
__ADS_1