Kakak Ipar Melihat Auratku

Kakak Ipar Melihat Auratku
Ijab Kabul


__ADS_3

Aku tidak bisa tidur, mengelus perut yang kurasakan lebih besar dari kemarin. Pernikahanku kurang sehari lagi. Bukan hanya deg degan, aku juga khawatir dengan perutku yang berubah tambah besar secara tak wajar.


Bangun dari kasur, aku berdiri di depan cermin besar. Memegang perutku dengan dua tangan, lalu mendesah berat. Pantas saja Naya mengira aku hamil, memang persis wanita hamil di trimester pertama. Cobaan apa lagi ini?


[Kak Zian menerima aku apa adanya, kan?]


Kukirim pesan itu pada Kal Zian. Centang satu, Kak Zian jam segini pasti sedang tidur.


Sampai sebelum Subuh, aku tetap tidak bisa memejamkan mata. Pesan yang kukirim centang dua biru. Tanda Kak Zian sudah membaca pesanku. Dia mengetik balasan.


[Kenapa bertanya seperti itu, Dek? Kita sudah hampir menikah. Jangan pernah ragukan kesungguhanku]


Aku tersenyum dan mengetik balasan.


[Kalau perutku tidak langsing, Kak Zian tidak ilfil, kan?]


Kak Zian mengirim balasan, tiga emotikon tertawa dan kalimat yang membuatku lega.


[😂😂😂 Mau perutmu langsing atau gendut, aku tetap akan menikahimu, Dek]


[Kak Zian bucin, deh. Aku lagi galau karena perutku mulai gendut, Kak] balasku.


[Gendut karena doyan makan, ya? No problem. Aku tetap padamu😍😁]


Ragu untuk memberitahukan Kak Zian kalau perutku gendut secara drastis. Bukan karena doyan makan. Aku mengakhiri chat agar Kak Zian tidak kepikiran.


[Makasih, Kak. Sampai bertemu di acara ijab kabul]


[Siap, Dek]


❤❤❤


"Masya Allah, Mbak cantik banget." Naya melihatku dengan takjub. Aku hanya tersenyum melihat pantulan diri di cermin.


Wajahku sudah selesai dirias, juga sudah memakai gaun warna pink dengan jilbab warna senada dihiasi aksesoris dan mahkota kecil di kepala.


"Mbakmu ini meski tanpa riasan sudah cantik, apalagi dirias seperti ini," ucap si mbak MUA sambil merapikan jilbabku.


Aku tersenyum, wajahku memang semakin cantik setelah di make up.


Namun, saat tanganku memegangi perut, senyum di bibirku jadi sirna. Aku kembali kepikiran, apalagi ... gaunku sampai di permak dadakan di bagian perut agar bisa muat. Cukup memalukan, karena aku takut dikira hamil duluan.


"Keluarga calon suamimu sudah datang, Nak. Ayo ke ruang tamu." Mama masuk kamarku memberitahukan Kak Zian dan keluarga sudah tiba.


"I-iya, Ma ...." Aku gelagapan. Membayangkan sebentar lagi akan menjadi istri Kak Zian.


"Jangan grogi dong, Mbak." Naya menggodaku membuatku tersipu malu.

__ADS_1


Kami menyambut keluarga Kak Zian dengan suka cita. Aku curi-curi pandang ke arah Kak Zian yang tampak gagah dalam balutan jas hitam.


"Mbak beruntung mendapatkan pria sebaik dan setampan Kak Zian," bisik Naya. Aku segera menunduk sambil melangkah pelan, dituntun Naya untuk mengikuti prosesi ijab kabul yang akan segera dilaksanakan.


Duduk di samping Kak Zian yang siap mengucap ijab kabul di depan penghulu. Papa juga sudah siap menjadi wali nikahku.


Acara segera dimulai dengan kata sambutan dan dilanjutkan ijab kabul. Kak Zian mengucap ijab kabul dalam satu tarikan napas dengan lancar, air mata luruh dari kedua mataku. Air mata haru dan bahagia.


Kata "Sah" menandakan aku resmi menjadi istri Kak Zian, kakak dari Mas Raka. Air mata semakin deras mengalir ke pipiku.


Semua yang ada di ruang tamu mengucap hamdalah.


Kak Zian menghadap ke arahku sambil mengulurkan tangan kanannya, aku menyambut dan mencium tangan suamiku.


Kak Zian mengusap air mataku, dia lalu menyentuh ubun-ubunku, membacakan doa untuk pengantin baru dan meniup pelan.


Acara dilanjutkan dengan doa bersama.


Aku memegang perut yang tiba-tiba seperti ditusuk ribuan jarum. Berusaha menahan rasa sakit dengan menggigit bibir bawahku.


Aku tidak kuat, dan mulai mendesis pelan. Kak Zian menoleh setelah acara doa selesai.


Keluargaku dan keluarga Kak Zian yang hadir mulai berdiri, acara selanjutnya akan ada sesi foto-foto.


"Kenapa, Dek?"


"Perutku sakit, Kak. Sakit banget ...," keluhku sambil meringis dan mulai menangis pelan.


"Bukan, ini sakit banget. Seperti ditusuk jarum."


"Astagfirullah. Ayo istirahat di kamar." Kak Zian mengulurkan tangannya mengajakku masuk.


Untuk berdiri saja, aku rasanya tidak bisa. Tangan dan kakiku mulai sedingin es, sementara perutku sakitnya semakin menjadi-jadi. Aku tak malu menangis membuat yang hadir di acara ini melihat ke arahku.


"Aku bopong ke kamar, ya. " Kak Zian membopongku, wajahnya menunjukkan kekhawatiran.


Sebagian sanak famili menghampiri dan menanyakan. Kak Zian menjawab dengan nada khawatir. Wajah-wajah panik tertuju padaku.


Tak terkecuali Papa dan Mamaku, melihatku dibopong masuk oleh Kak Zian, beliau lalu mengikuti ke kamar. Naya juga ikut berjalan cepat di belakang Kak Zian.


"Aduuuh ... sakiiit, sakiiit ...." Aku menggelinjang saat sampai di kasur, kasurku yang dihias dengan kelopak bunga mawar seketika lungset karena aku seperti cacing kepanasan.


Kak Zian dibantu Naya membuka gaunku, lalu membaluri perutku dengan minyak kayu putih.


Ini bukan sakit perut biasa, mungkin ada hubungannya dengan perutku yang tiba-tiba membesar. Minyak kayu putih tidak mempan sama sekali. Aku tambah kesakitan dan mulai menjerit-jerit.


"Kita ke rumah sakit," ucap Kak Zian. Mama membantu memakaikan pakaian longgar dan jilbab kaos instan setelah MUA membuka jilbab yang kupakai saat acara ijab kabul tadi.

__ADS_1


Kak Zian tidak memikirkan untuk ganti baju. Dia membopongku ke mobil masih memakai jas.


"Sakiiit ... sakiiit ...." Aku menjerit-jerit.


"Tenang, Dek ...." Kak Zian memegang erat tanganku setelah masuk ke mobil. Orang tuaku dan Mama mertua ikut ke rumah sakit. Acara jadi terganggu karena aku kesakitan.


❤❤❤


Setelah diperiksa dokter, dan perutku selesai di-rontgen. Tak ada penyakit apa pun yang terdeteksi.


Dokter mengatakan tak ada masalah dalam perutku, juga di organ lainnya. Aneh. Aku masih terus menjerit kesakitan. Lalu ini penyakit apa?


Baru setelah minum obat pereda rasa sakit, perutku agak mendingan. Rasa capek begitu terasa, membuatku lemas.


Keluargaku menunggu di luar saat aku dipindahkan ke ruang rawat inap. Hanya aku dan Kak Zian di ruangan ini. Dia masih memegang sebelah tanganku, sambil menatapku iba.


"Semoga cepat pulih, ya ...." Kak Zian mengecup keningku lama. Ada rasa tenang yang sejenak mengalir di ruang rasaku.


"Kak ...."


"Hm?" Kak Zian menatapku lekat. Wajahnya sangat dekat, embusan napasnya yang hangat menerpa wajahku.


"Maafkan aku," lirihku sambil menyentuh sebelah pipinya yang bercambang tipis.


Kak Zian menaikkan sebelah alisnya. "Maaf ...?" tanya Kak Zian.


"Ya, aku minta maaf, malam pertama kita bukannya di kamar pengantin yang penuh hiasan, tapi malah kita akan bermalam di rumah sakit. Kak Zian tidak kecewa padaku, kan?" tanyaku sambil mengelus pipi kirinya.


Kak Zian tersenyum. "Aku tidak kecewa, Dek. Semoga kamu segera pulih ya, dan kita bisa malam pertama. Dirapel nanti ya."


"Dih maunya!" Aku terhibur dengan candaan Kak Zian. Apalagi saat Kak Zian kembali mencium keningku. Berasa adem di hati. "Kak, kenapa ciumnya di kening terus?"


Kak Zian melepas ciumannya di keningku. Dia memicingkan matanya, "Lalu maunya dicium apanya?"


Aku tertawa kecil melihat wajah Kak Zian tepat di depan wajahku. Kedua matanya beralih melihat ke arah bibirku. Sekalian kumajukan bibirku. "Bagian ini,” tunjukku.


Kak Zian tertawa pelan juga. "Ya sudah, aku pejamkan mata dulu."


Kak Zian memejamkan mata dan memiringkan kepalanya, bibirnya juga dimajukan. Ekspresi lucunya membuatku kembali tertawa pelan. Aku tahu Kak Zian ingin menghiburku.


Belum sampai bibir Kak Zian di bibirku, perutku kembali sakit seperti ditusuk-tusuk jarum, bahkan sekarang lebih sakit ....


"Sakiit, Kak. Sakiiitt ...."


"Belum juga diapa-apain kok sudah sakit?" Kak Zian membuka matanya. Dia mungkin mengira aku mencandainya seperti barusan.


"Perutku sakit lagi, Kak. Sakiiit, lebih sakiiiit ...." Aku mengerang, dua kakiku menendang-nendang.

__ADS_1


Kak Zian melebarkan dua matanya. "Astagfirullah. Aku akan panggil dokter ...."


Bersambung


__ADS_2