Kakak Ipar Melihat Auratku

Kakak Ipar Melihat Auratku
Salma Pergi


__ADS_3

"Astagfirullah ...." Kak Zian mengusap dadanya. "Jangan bilang begitu, Sayang."


"Kenapa? Pokoknya aku mau cerai?!" Aku semakin berapi-api. Tak peduli beberapa tetangga mulai datang ke halaman rumah Nenek, termasuk Ratih. Mungkin dikira ada apa, karena aku teriak-teriak.


"Kalau aku punya salah, aku minta maaf ...." Kak Zian suaranya pelan, wajahnya terlihat gelisah.


"Iya! Kak Zian salah! Salma merencanakan pembunuhan dan Kak Zian dengan mudahnya tidak melanjutkan kasus ini ke polisi hanya karena dulu pernah ditolong bapaknya Salma! Atau karena Kak Zian mencintai Salma?! Ya sudah, aku mau pulang!" Rasa kecewaku sudah sampai di ubun-ubun. Mungkin ini yang terbaik, meski hatiku hancur.


"Sabar, Nak. Sabar ...." Nenek menyentuh pundakku.


"Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini, Nek ...."


"Astagfirullah ... jangan sampai berpikiran sejauh itu, Nak." Nenek memelukku yang sesenggukan.


"Aku mau pulang, Nek." Kulerai pelukan. "Aku ingin bercerai dari Kak Zian. Aku ingin Salma dan Kak Zian bahagia. Aku rela ...."


"Ya Allah, kenapa kamu berpikir begitu? Aku mencintaimu, tidak mencintai Salma lagi." Kak Zian akan menyentuh tangan, tapi kutepis kasar.


"Oo ... jadi Kak Zian dulunya memang sangat mencintai Salma. Kenapa Mas Raka tidak tau kalau kakaknya sudah punya tambatan hati? Sampai-sampai Mas Raka meminta kita menikah ...." Dada terasa begitu sesak, menyebut nama Mas Raka, hatiku semakin hancur.


Aku melangkah, tapi Kak Zian tetap menghalangi. "Jika aku dianggap salah, aku akan menyusul Ustadz Hanafi ke rumah sakit. Aku akan melaporkan Salma ke polisi, aku akan ralat semua perkataanku pada Ustadz Hanafi barusan. Jangan mengucapkan kata cerai, aku tak ingin kita berpisah ...."


Kak Zian ingin menyentuhku, tapi aku mundur meski melihat kesungguhan di kedua matanya. Kak Zian mengacak rambutnya tanda dia kebingungan.


"Aku mau pulang! Aku mau cerai!"


Kalimatku yang nyaring membuat Kak Zian menelan ludah berat. Nenek kembali mengucap istigfar.


"Jika hari ini kamu mau pulang untuk menenangkan diri, aku akan antarkan. Sebelum pulang, tunggu dulu, aku mau ke rumah sakit."


Kak Zian tidak lagi menahanku untuk pulang? Yang benar saja!


Kak Zian berjalan cepat ke kamarnya, keluar sambil memegang kunci motor, dia semakin melangkah tergesa ke halaman dan naik ke motornya. Para tetangga berbisik-bisik. Ratih tertegun melihat Kak Zian, lalu beralih melihat padaku yang menangis tersedu-sedu.


Nenek kembali memelukku dan menenangkanku. "Jangan mengambil keputusan saat marah, Nak. Tidak baik."


"Kak Zian plin plan, Nek. Aku harus bagaimana?"


"Semua orang punya kekurangan dan kelebihan, mungkin Zian sedang kebingungan bukan karena dia masih mencintai Salma."


Suara motor Kak Zian dinyalakan lalu motor itu melaju cepat ke arah jalan.


Kak Zian mau ke rumah sakit, mau meralat ucapannya, dia akan melaporkan Salma ke polisi. Di rumah sakit, Kak Zian melihat Salma yang lagi kritis, lalu dia merasa iba, rasa cinta Kak Zian akan tumbuh lagi pada Salma. Dia tidak jadi melaporkan Salma.


Sementara aku minta cerai, setelah cerai, Kak Zian akan hidup bahagia bersama Salma dan aku bakalan nelangsa. Kehilangan Mas Raka selama-lamanya, lalu akan kehilangan Kak Zian.


Tidak, Tidak!


Pikiran menyimpulkan demikian membuatku sontak melepas pelukan Nenek. "Aku mau menyusul Kak Zian ke rumah sakit, Nek."


Belum sempat Nenek menjawab, aku keluar. "Ratih, antar aku ke rumah sakit," pintaku pada Ratih yang masih berdiri di halaman.


Aku bingung, di mulut mengucapkan kata cerai, dalam hati tak ingin Kak Zian bertemu Salma. Apalagi menikah dengannya. Aku kecewa berat pada Kak Zian. Rasa kecewa itu yang kini mendominasi.


"Ayo, Ratih. Cepetan!"


"I-iya." Ratih berlari ke rumahnya. Mengambil motor. Aku naik ke boncengan Ratih.


Tetangga-tetangga Kak Zian berbisik-bisik, mereka melihat kepadaku dengan tatapan penasaran.


Motor Ratih melaju, aku tidak sabar. Melihat ke depan. Motor Kak Zian sudah tidak kelihatan dari saking cepatnya.


"Ratiiih ... ayo cepetan!" desakku, Ratih tidak mempercepat laju motornya karena jalannya berliku.


"Mbak, ada apa, sih? Kenapa Mbak mau cerai dengan Bang Zian?"


"Kak Zian memaafkan Salma, dia tidak memproses kasus ini ...."


"Ya lebih baik begitu agar damai. Aku berjanji tidak akan mengulangi lagi, Mbak," potong Ratih.


"Enak saja! Cepetan!"


"Kalau Mbak mau melaporkan Salma dan aku ke polisi, Mbak turun saja, deh! Aku gak mau ngejar Kak Zian." Ratih sewot, dia menghentikan motornya.


"Kamu gimana sih, Ratih? Sudah salah masih ingin dimaklumi!" Suaraku meninggi.


Ratih menghela napas berat. "Lebih baik maafin aku, Mbak. Biar kita hidup tenang setelah ini."

__ADS_1


"Tidak semudah itu!"


"Oh, ya udah!" Ratih lalu melajukan motor cepat. Meninggalkanku.


"Ya ampun! Jahat banget!" Ratih tega, tak mungkin dia mau mengantarku. Dia menganggapku musuh.


"Pak, tunggu! Saya mau ngojek!" Aku menyetop bapak pengendara motor yang melintas.


"Mau ke mana, Neng? Saya bukan ojek."


“Mau ke rumah sakit, Pak. Saya minta tolong ya, Pak. Antarkan saya.”


“Baiklah, Neng.”


Aku naik ke boncengan motor bapak yang tidak aku kenal dan sudah berbaik hati ini, sayangnya motor Kak Zian tidak terkejar.


Setelah sampai di rumah sakit, aku berjalan cepat menyusuri koridor, mencari-cari kamar Salma tempat dirawat inap.


Aku tidak bertanya di mana kamar Salma pada petugas rumah sakit, jadinya agak lama mencari-cari sampai kulihat Kak Zian berdiri menghadap ke pintu sebuah kamar. Dia bersedekap, dari samping, wajahnya tampak suram.


"Kak!" panggilku. Kak Zian tidak menoleh, semakin dekat ... terdengar tangisan dari dalam kamar itu.


"Kenapa kamu menyakiti diri sendiri, Nak? Kenapa meninggalkan kami secepat itu?" Suara ibu Salma, dan suara tangisan dari beberapa orang memenuhi ruang kamar.


"Ya Allah, Salma ... kenapa harus pergi dengan cara ini?" Suara Ustadz Hanafi.


Salma meninggal?


Innalilahi wainna ilaihi roojiuun ....


Kak Zian menoleh padaku, meraih lenganku untuk mendekat kepadanya. "Salma sudah ...."Kak Zian tak melanjutkan ucapannya.


"Kak Zian sedih?" Aku menatap nanar ke dalam kamar itu, di mana jenazah Salma dikelilingi keluarganya


"Entahlah ...." Kak Zian mengusap wajahnya. Dia lalu menarik tanganku, berjalan menjauh. Mungkin Kak Zian tak ingin berlama-lama melihat jenazah Salma, wanita cantik yang pernah sangat dia cintai.


"Kita ke rumah Salma, takziah. Sekaligus membantu-bantu di sana." Kak Zian semakin cepat melangkah. Jenazah Salma masih di rumah sakit. Untuk apa pergi ke rumahnya?


Dalam perjalanan, aku enggan berbicara dengan Kak Zian. Tidak pegangan seperti biasanya. Sampai tangan Kak Zian meraih sebelah tanganku untuk memegang perutnya. Aku tidak menuruti, menarik kembali tanganku.


Nenek terkejut mendengar Salma sudah tiada. Kami bersama para tetangga datang ke rumah Salma. Menunggu jenazahnya datang dari rumah sakit, mempersiapkan segala sesuatu untuk pemakaman. Ratih juga membantu, dia menjaga jarak denganku. Aku yakin dia ketar ketir, takut dilaporkan di polisi.


Lek Hasyim juga terlihat lesu. Pasti juga takut Ratih sendirian yang akan dilaporkan ke polisi.


Jenazah Salma datang, tangisan riuh melihat Salma sudah terbujur kaku. Warga desa banyak yang sayang pada Salma. Ibu Salma sampai seperti orang gila, menangis mengelilingi jasad Salma.


Ustadz Hanafi menenangkan istrinya. Mengajak mendoakan Salma daripada meratapi. Suasana agak tenang. Aku melirik Kak Zian yang ikut menyiapkan pemandian untuk almarhum. Wajah Kak Zian tak dapat menyembunyikan kesedihan.


Kami ikut ke pemakaman Salma di makam desa. Meski harus menahan telinga dari nyinyiran tetangga, sanak famili Salma menyalahkan Kak Zian. Sebagian juga cuek padaku, terang-terangan melengos.


❤❤❤


Sepulang dari rumah Salma, aku siap untuk pulang.


"Aku pulang ya, Nek."


"Iya, hati-hati. Zian jaga Nak Faizara."


"Iya, Nek." Kak Zian bergantian denganku memeluk Nenek. Setelah itu, Kak Zian membawa barang-barangku ke luar. Juga kardus berisi oleh-oleh.


Nenek melambaikan tangan, jujur kasihan meninggalkan Nenek sendirian. Aku sebenarnya betah tinggal di sini, entah ke depannya apa bisa berkunjung ke sini lagi? Aku terlanjur minta cerai.


Apakah Kak Zian akan memenuhi permintaanku dan kami benar-benar bercerai?


Aku hanya pegangan ke jaket Kak Zian. Tidak memeluk seperti biasanya saat berboncengan dengannya.


"Pegangan, Sayang ...." Kak Zian melingkarkan tangaku ke perutnya, seperti saat tadi pulang dari rumah sakit.


Malas banget harus menempel ke punggung Kak Zian. Kak Zian menahan tanganku, kemudian dia lepas karena harus fokus menyetir.


Motor melaju standar. Semakin sore, cuaca tambah mendung. Mendung pekat tanda akan hujan lebat. Angin kencang mewarnai perjalanan kami. Tiba-tiba aku jadi khawatir karena di pinggir jalan banyak pohon tinggi. Kilat diikuti bunyi petir menggelegar mengejutkan.


Kak Zian fokus menyetir. Tak mungkin juga balik ke rumah Nenek karena perjalanan sudah cukup jauh.


Di tengah rasa khawatir, sampailah di jalan yang mulai ada vila dengan pagar-pagar tinggi. Motor Kak Zian masuk ke salah satu gerbang sebuah vila yang terbuka.


"Kenapa ke sini?" tanyaku membuka kaca helm.

__ADS_1


"Mau hujan, kita berteduh dulu."


"Berteduh?"


"Iya."


Banyak vila yang disewakan bagi wisatawan yang berlibur ke daerah ini. Tapi yang ini seperti privat karena tak ada yang menginap. Tak ada kendaraan terparkir. Beda dengan vila-vila sebelumnya.


Motor Kak Zian masuk ke parkiran dan berhenti. "Tunggu di sini, aku mau menutup gerbang."


Gerimis mulai turun, angin sangat dingin menusuk tulang. Kak Zian berlari ke arah gerbang dan menutupnya.


Jaketnya agak basah saat Kak Zian balik ke teras vila ini. Dia lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya, menuju pintu kokoh dengan ukiran klasik, memasukkan kunci, dan membuka pintunya.


"Masuklah ...." Kak Zian meraih tanganku. "Kita akan tinggal di sini beberapa hari.


"Apa? Tidak. Ngapain kita di vila ini?"


Kak Zian gimana, sih? Katanya mau berteduh di vila ini? Berteduh tapi memintaku masuk, dan akan tinggal di sini selama tiga hari? Ini vilanya siapa?


"Ini vila milik almarhum Papa. Sejak Papa meninggal, Mama sudah tidak pernah ke sini lagi, waktu Raka masih ada, dia juga sudah tidak pernah ke sini lagi. Sekarang vila ini atas namaku." Kak Zian menjawab tanya dalam hatiku.


"Vila ini dulunya disewakan, tapi sekarang sudah nggak lagi. Aku ingin vila ini kembali hanya untuk keluarga kita saja. Silakan, Sayang ...." Kak Zian mengunci pintu lalu meraih tangan kananku. Aku ragu untuk masuk. Hujan turun deras, membuatku kedinginan. Akhirnya aku masuk dan kaget.


Aku barusan tidak melihat ke dalam, dari pintu masuk, terhampar karpet merah panjang sampai ke dalam. Di atas karpetnya ditaburi kelopak bunga berwarna-warni. Wangi.


"Ayo ...." Kak Zian mengajakku melangkah.


"I-ini maksudnya apa, Kak? Kenapa ada bunga-bunga segala?" Wangi bunga sedap malam juga tercium hidung. Bunganya berada di dalam pot-pot antik di pojok ruangan.


"Untuk menyenangkan bidadari ini." Kak Zian menggandeng lenganku. Berjalan pelan, seperti raja dan ratu di film-film. Entah apa maksudnya.


"Apaan, sih?"


Kak Zian tersenyum, entah siapa yang menghias vila ini. Sampai naik ke lantainya, masih ada karpet merah dan kelopak bunga. Di pegangan tangga, bunga melati di rangkai melingkari pegangan tangga.


Sampai di kamar atas, ranjang dihias persis kamar pengantin membuatku tercengang. Di meja ada banyak makanan mewah. Aku tidak mengerti maksud Kak Zian.


"Aku mempersiapkan ini untuk besok sebenarnya, sudah dari jauh-jauh hari aku merencanakan menginap di sini, tapi karena istriku ini marah besar dan mendadak mau pulang, aku meminta dihias dadakan dan baru kelar. Orang-orang yang menghias baru saja pulang. Maaf kalau kurang perfect ya, Sayang ...."


Kak Zian merangkul bahuku, lalu mencium pipiku. "Di saat usia pernikahan yang baru seumur jagung, kita dihadapkan dengan cobaan berat. Sampai terlontar kata cerai darimu." Kak Zian menghela napas panjang.


"Kak Zian katanya mau pulang karena Mama meminta untuk pulang, kok malah ke sini?" Aku tak ingin membahas kata cerai yang sempat aku ucapkan.


Jantungku mulai deg degan karena Kak Zian kembali mencium pipiku. Malu, serasa baru saja menikah.


"Iya, Mama memang pengin kita pulang karena mau membicarakan hal penting, tapi sebelum pulang, aku ingin kita refreshing ke vila dulu, honeymoon." Kak Zian mengajakku duduk di kasur empuk yang dihias begitu bagus.


Dia lalu membuka kemejanya, tampaklah badan atasnya yang atletis. Aku menunduk, grogi tingkat tinggi. Bayangan adegan romantis memenuhi hati dan pikiran, menggeser rasa kecewa pada suamiku.


Dengan mudahnya kuucapkan kata 'cerai' disaat umur pernikahan masih seumur jagung seperti kata Kak Zian, sementara Kak Zian memperlakukanku secara romantis, merencanakan ini jauh-jauh hari. Aku merasa bersalah.


Kak Zian seperti tidak sabar, dia berdiri dan membuka celananya di depanku.


"Ih ... Kak, parno banget!" Spontan mata aku tutup dengan telapak tangan. "Jangan buru-buru, dong!"


Kak Zian tertawa lepas. "Yeee ... ge-er amat sih. Aku kebelet mau BAB, kamu siap-siap ya, Sayang. Setelah ini, kita makan dulu. Lalu bermesraan.”


“Dih!” Aku tersipu malu.


Kak Zian sengaja menggodaku. Aku melihat dari celah jari, suamiku itu berlari ke kamar mandi hanya dengan memakai ****** *****. Ampun, dah!


Aku pun tertawa, membuka tangan yang menutup wajah. Beban di hati seketika sirna, pun pikiran-pikiran ruwet tentang Salma. Salma sudah tiada, aku tak perlu mengungkit lagi tentang wanita yang pernah ada di hati Kak Zian itu.


Aku berdiri. Berjalan ke arah lemari, iseng kubuka lemari itu. Bibir tak berhenti tersenyum. Ada beberapa pakaian Kak Zian tergantung. Ada handuk-handuk, dan selimut-selimut tebal di tap bawah.


Ada kertas sedikit menyembul di bawah tumpukan selimut. Aku tarik. Ada tulisan rapi dengan tinta warna hitam, aku baca ....


'Terima kasih Bang Zian, sudah mengajakku ke vila yang bagus ini. Aku mencintaimu setulus hati. Tak sabar rasanya ingin selalu berada di dekatmu ... bukan hanya malam ini.'


Salma, kekasih hatimu.


Tanganku gemetar, kertas ini aku buang! Hatiku yang baru saja bahagia berubah kecewa lagi.


Jantungku berpacu kencang, Salma dan Kak Zian pernah bermalam di sini. Astagfirullah! Apakah mereka pernah melakukan ...?


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2