
Saat membuka mata, aku berbaring di ranjang. Ada Naya, Mama dan Papaku, wajah-wajah sedih itu ....
Pikiranku teringat saat pria yang kucintai mengembuskan napas terakhirnya.
Tidak, tidak!
"Mas Raka! Mas Raka masih hidup kan, Pa? Mana Mas Raka? Mana?!" Aku bangun sembarangan, membuat kepalaku berdenyut dan sakit.
"Sabar, Nak. Sabar ...." Papa memelukku erat.
"Bilang padaku kalau Mas Raka masih hidup! Jangan katakan suamiku sudah meninggal!" Aku menangis sejadi-jadinya.
"Nak, kuatkan hatimu. Raka sudah tidak ada. Ayo bacakan doa buat suamimu." Mama berucap sambil menangis dan mengusap kepalaku.
“Tidak, Ma! Jangan bilang begitu, Mas Raka masih hidup. Mas Raka belum meninggal ....” Suaraku serak, aku tak mau menerima kenyataan. Suamiku tak boleh meninggal.
Mama juga memelukku. “Ayo kita mengaji, jasad Raka ada di ruang tamu.”
“Tidaaaak!” Aku menutup telingaku. "Mas Raka masih hidup, masih hidup ...."
Naya, menyentuh tanganku. "Mbak, ayo kita ke ruang tamu. Doakan Mas Raka ...."
Mata Naya sembab, dia juga berkaca-kaca.
"Tidak, aku tidak mau melihat jasad Mas Raka, suamiku belum meninggal, kalian jangan bercanda...." Aku putus asa. Tangisku semakin menjadi-jadi.
❤❤❤
"Maaaaas!" Aku berlari, terhuyung ... mendekap tubuh kaku diselimuti kain panjang. "Bangun, Mas! Bangun!"
Aku tak kuasa melihat jasad suamiku di ruang tamu. Beberapa kerabat sedang duduk mengaji mengelilingi. Mama mertua dipeluk Kak Zian yang memakai kopiah pasti selesai mengaji.
Sama sepertiku mama mertua terus saja menangis. Beliau pasti sangat syok berat.
"Mas, bangun, Mas. Aku menunggu Mas di kamar, kenapa Mas tidak datang? Kenapa Mas tega meninggalkanku selamanya?"
"Nak ... ikhlaskan, jangan diratapi." Papa berbisik di telingaku.
"Bangun, Mas! Mas Rakaaaa!"
Kuguncang jasad itu. Suara-suara dan beberapa tangan menyentuh bahuku.
Aku tak mendengarkan wejangan siapa pun, tetap berteriak memanggil-manggil suamiku. Tubuh terasa lemas, berputar-putar, kemudian kembali gelap.
❤❤❤
Pagi.
Jasad suamiku selesai di mandikan, dikafani dan disalatkan.
Tak terhitung berapa kalinya aku pingsan. Tak sanggup melihat dan belum percaya kalau Mas Raka benar-benar sudah tiada.
Naya menyiapkan pakaian warna hitam panjang dan kerudung untukku.
Aku tak memikirkan mau ganti baju. Tak memikirkan untuk minum setetes air pun, dan tak menyentuh makanan yang mama siapkan untukku.
Semua bersiap ke makam. Aku tetap duduk, menangis. Memeluk lututku di atas ranjang.
Naya membawaku ke kamar mandi. Membantu mengganti pakaianku. Aku bagaikan patung. Aku hanya ingin Mas Raka hidup. Tak ingin apa-apa lagi selain itu.
"Mbak, jangan terus diratapi, agar Mas Raka bisa kembali pada Allah dengan tenang." Naya selesai mengganti pakaianku.
"Siapa yang meninggal? Mas Raka masih hidup!" teriakku membuat Naya terlonjak kaget.
“Mbak ... kasian almarhum, ikhlaskan ya ....” Naya mengusap wajahku.
Pandai sekali menasihatiku, coba dia ada di posisiku.
__ADS_1
Dalam perjalanan ke makam. Duniaku kosong. Ikut duduk di mobil jenazah, kupandangi kurung batang yang ditutup kain berwarna hijau.
Naya mendampingiku, ada juga Kak Zian yang terus mengucap, “Laailahaillallah ....”
“Aaaaaa! Mas Raka bangun!” Aku berteriak. Hati tak menerima kalau di dalam kurung batang itu adalah jasad suamiku.
“Mbak tenang! Tenang! Mbak katanya ingin ikut di mobil ini, jangan berteriak dan menendang-nendang!” Naya memegang dua kakiku.
"Mas Rakaaaa! Bangun!"
Tubuhku lemas.
"Fai, astagfirullah!" Kak Zian menangkap tubuhku yang hampir jatuh ke arahnya.
Lagi dan lagi, aku tidak bisa melihat dunia. Semuanya gelap gulita.
❤❤❤
Saat Mas Raka akan dimakamkan, aku menjerit-jerit ....
"Jangan kubur suamiku! Dia masih hidup! Hei ... hentikan!"
Keluargaku menenangkanku. Aku ingin berlari dan mencegah orang-orang yang menutupi tanah di makam Mas Raka.
Gundukan tanah merah. Batu Nisan bertuliskan nama suamiku, Raka Rafandi, tak dapat kupercaya.
Kupeluk batu nisan, aku tak ingin pulang. Sampai sore menjelang, tetap bersimpuh di makam Mas Raka.
Tak peduli matahari tenggelam dan malam pun datang, aku tetap memeluk batu nisan Mas Raka.
Semua keluarga membujukku. Tak terkecuali si pria nyebelin. "Kita semua berduka, mari saling menguatkan. Ayo kita pulang, Fai ....”
Kak Zian berdiri di seberangku.
Siapa dia? Mengatur-ngatur aku? Aku tak ingin pulang. Aku ingin menemani Mas Raka. Aku tak ingin Mas Raka sendirian.
Aku masih saja memeluk batu nisan Mas Raka seolah-olah memeluk tubuh hangatnya.
Angin membelai wajahku, aroma bunga kamboja. Aku memejamkan mata ....
Bangun, Mas. Bangunlah suamiku ... jangan tinggalkan aku ....
Duniaku sangat gelap. Aku tak bisa menyentuh wajah Mas Raka ....
Saat bangun, aku sudah berada di ranjang.
Entah siapa yang membawaku pulang?
"Mana, Mas Raka? Mana!" Aku meraba-raba kasur. Suamiku tidak ada ... dan tidak akan pernah kembali lagi.
Aku berteriak! “Tidaaaak!”
“Sabar, Mbak!” kata Naya.
“Sabar, Nak!” kata Mama dan Papa.
❤❤❤
Dua hari, tubuhku tidak diisi apa-apa. Rasa lemah tak aku pedulikan.
"Mbak itu menzalimi diri sendiri, jangan menyiksa diri seperti itu. Lihatlah, semua keluarga ikut sedih. Papa apalagi, coba lihat!”
Telunjuk Naya mengarah pada Papa yang duduk lesu di sofa kamarku. Anggota keluargaku tidak ada yang pulang. Terus menguatkan, memaksaku untuk makan dan minum.
Aku tetap diam di kamar, entah siapa saja yang datang melayat. Kata Naya ... teman-teman dan sahabat-sahabatku banyak yang datang. Sayangnya, aku tidak mau menemui mereka.
Duduk sambil mendekap foto Mas Raka. Tak bicara sepatah kata pun. Saat nenek dari Mas Raka yang dari desa datang ke kamar. Menyapaku, aku tidak menjawabnya. Mata tua itu tampak sedih.
__ADS_1
"Ikhlaskan, Nduk. Sabar, ya." Nenek juga menguatkanku. Aku tidak menjawab, tak peduli dianggap tidak sopan oleh beliau.
❤❤❤
Mas Raka pulang kerja, dia memelukku. Tubuhnya wangi bunga kamboja. Dia lalu menggendongku ke kasur.
Dia menggelitiki kakiku. Geli.
Aku tertawa dengan kelucuannya. "Mas sudah pulang? Jangan pergi lama-lama, ya. Nanti aku kangen, tau."
Aku kembali tertawa.
"Aku tak akan pergi jauh lagi, Sayang ...." Mas Raka tersenyum. Meneduhkan hatiku.
"Mbak, Mbak, jangan tertawa dan bicara sendirian? Ngeri, ah!" Naya mengguncang-guncang lenganku.
Aku sibuk dengan Mas Raka. Kutepis lengan Naya, bangkit dari tempat tidur. Aku mau ikut Mas Raka keluar. Aku tertawa lagi.
"Mbak ... duh! Mbak kayak orang stres."
"Nak ... mau kemana?" tanya Papa dan Mamaku bersamaan.
"Mas Raka tungguin!" Kakiku semakin cepat keluar kamar.
"Nak, jangan ke mana-mana!" cegah Mama.
"Aaaaaarrrgggg!" Aku berteriak karena keinginanku dihalang-halangi. Kulihat Mas Raka sudah menuruni tangga.
"Pa, kita bawa mbak Fai ke psikiater. Jiwanya lagi terganggu. Dia berhalusinasi!" ucap Naya, dia kemudian mengejarku. Papa dan Mama ikut berlari di belakangku.
Sampai di bawah, Mas Raka menghilang. Aku kebingungan. "Mas, Mas Raka!"
Aku memanggil. Kaki berlari ke ruang tamu.
"Fai, Fai ... mau ke mana? Ini tengah malam." Suara orang yang aku benci.
Terus saja aku keluar ke halaman.
"Kak Zian, cepat kejar Mbak Fai!" Suara Naya begitu heboh. Suara Papa mengaduh, sepertinya Papa jatuh karena mengejarku. Aku menoleh, Papa kesulitan bangun, Mama membantu memegang lengannya.
Aku berlari ke arah pintu gerbang. Pokoknya aku harus mengejar Mas Raka.
"Fai ...." Saat mulai naik ke gerbang besi. Ada tangan kekar melingkar ke perutku dari belakang. Membawaku turun!
"Lepas! Lepaskan! Aku mau mengejar suamiku!" Aku meronta-ronta. Tenagaku kalah, rasanya lemah, sementara tangan kekar itu mengangkat tubuhku dan membopongku.
Separuh ingatanku masih menganggap Mas Raka masih hidup. Separuhnya lagi, ingat dengan permintaan terakhir Mas Raka. Dia meminta Kak Zian menikahiku.
"Aku tidak mau nikah denganmu! Lepaskan aku! Aku tidak mau menikahi pria gunung dan jelek sepertimu!"
Aku kembali meronta-ronta dan menangis.
Kutampar saja pipi Kak Zian yang membopongku. Dia tidak tahu diri, berani-beraninya mencegahku mengejar Mas Raka.
"Mbak! Kok Kak Zian ditampar?" tanya Naya.
Kak Zian tidak berkata apa-apa, dia hanya mendesis seperti merasakan perih. Langkah kakinya cepat masuk ke ruang tamu.
Aku mengamuk terus menampar pipi bercambang tipis itu, sampai telapak tanganku terasa sakit.
“Pukul saja, Fai ... bila itu membuat hatimu menjadi lega,” kata Kak Zian dengan suara lembut. Tidak marah dengan apa yang aku lakukan.
Tiba-tiba ....
Kami jatuh ke sofa panjang ruang tengah akibat kaki Kak Zian kesandung, membuat posisiku ada di bawah dan Kak Zian di atasku.
Dahi Kak Zian membentur dahiku, otomatis, ujung hidungnya menyentuh hidungku.
__ADS_1
Bersambung