
Kak Zian menyerahkan kolak pemberian Ratih pada Nenek. Nenek menuangnya ke baskom untuk diberikan pada Pak Adam.
Nenek juga menyajikan singkong rebus dan yang sudah digoreng padaku. Aku kembali terheran-heran karena menyukai singkong goreng buatan Nenek.
Kak Zian terlihat bahagia karena aku lahap makan singkong goreng.
Hujan deras tak kunjung berhenti, sampai hampir Magrib.
"Nginep saja, Nak. Telpon papamu untuk minta izin," saran Nenek.
Pak Adam setuju, karena jalanan pastinya licin, belum lagi turunan dan belokan cukup tajam akan menjadi kendala jika berkendara di tengah hujan deras.
"Iya, Nek."
Kuambil ponsel di tas, lalu menghubungi Papa.
"Assalamualaikum, Nak."
"Waalaikum salam, Pa. Fai masih di rumah Nenek, di sini hujan deras, malam ini Fai dan Pak Adam bolehkah menginap di sini? Takutnya bahaya kalau pulang saat hujan deras, Pa."
"Iya boleh, Nak ...."
Belum selesai Papa bicara, Naya ikut bicara. Sepertinya dia berada dekat dengan Papa.
"Sudah, Mbak nginep seterusnya di sana gak apa-apa, kok. Nasi jagung buatan Nenek enak, kan? Di sana cuacanya juga sejuk. Aku yakin Mbak kerasan dan nggak mau pulang. Itu kualat namanya ...." Naya tertawa ngakak.
"Jangan ganggu Mbakmu, Nay ...." Papa terdengar ikut tertawa pelan. "Iya Papa ngizinin kamu nginep di sana, Nak."
"Terima kasih, Pa."
Nenek memintaku beristirahat setelah telepon kututup. Aku masuk ke kamar yang ada di ruang tamu. Kata Nenek, kamar ini sediakan bila ada kerabat yang datang.
Pak Adam tidur di kasur lantai di ruang tamu juga.
Biasanya, tiap malam aku susah tidur karena menggaruk-garuk gatal-gatal sampai tengah malam. Alhamdulillah, malam ini gatal-gatalku tidak separah hari-hari kemarin. Minyak dari Nenek mujarab juga.
Karena lelah, aku mudah terlelap. Entah jam berapa, telingaku mendengar bunyi dari luar jendela kamar. Hujan di luar tinggal rintik-rintik. Lampu kamar ini sengaja tidak aku matikan.
Aku duduk dan mengucek mata. Bunyi seperti ada yang menggaruk-garuk jendela dari luar. Suara apa ya? Apa itu hewan? Aku bertanya-tanya sendiri.
Bulu kudukku meremang karena merinding, tapi penasaran juga, makanya tanganku membuka perlahan jendela ....
"Aaaaa ... poc-pocooooong!" pekikku saat melihat wajah putih dengan mata yang pinggirannya hitam. Dua mata itu melotot padaku. Kepalanya dibungkus kain putih lusuh lengkap dengan talinya di atas kepala. Persis mayat yang akan dikuburkan.
Aku terus berteriak, pocong itu melompat-lompat menuju tempat gelap membuat jantungku seakan mau keluar dari tempatnya.
__ADS_1
"Fai, ada apa? Buka pintunya!" Kak Zian mengetuk-ngetuk pintu.
"Ada apa, Mbak?" Suara Pak Adam.
Aku tak kuasa menjawab, masih saja berteriak menyebut-nyebut pocong sambil melotot melihat keluar jendela.
Ketukan di pintu semakin kencang, seluruh tubuhku gemetar. Baru kali ini aku melihat makhluk halus secara langsung.
"Fia, buka pintu!"
Aku melompat dari tempat tidur, membuka pintu dengan tangan bergetar, lalu menabrak dada Kak Zian untuk memeluknya. Efek dari rasa takut yang amat sangat, aku butuh perlindungan.
"Fai?" Kak Zian terkejut.
"Ada apa, Nak?" tanya Nenek, mengusap kepalaku.
"Hantu pocong, Nek. Pocong!"
"Pocong?" Serentak Kak Zian, Nenek, dan Pak Adam bertanya.
"Iya ...," sahutku, kali ini air mataku jatuh ke dada Kak Zian yang mungkin karena terburu-buru bangun, tidak sempat mengancingkan kemejanya.
"Benarkah? Apa kamu tidak mimpi buruk? Di sini belum pernah ada orang yang melihat pocong, Fai." Kak Zian tidak yakin dengan penuturanku.
"Pocong di luar jendela, Kak. Sungguh aku benar-benar melihatnya." Tetap kupeluk Kak Zian. Kak Zian tidak balik menyentuhku. Dua tangannya tidak jadi menyentuh pundakku.
"Tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa," ucap Kak Zian lembut.
Nenek datang mengambil air untukku. Aku minum air putih pemberian Nenek dari tangan Kak Zian.
Dari pintu, muncul laki-laki berkumis, disusul seorang ibu dan Ratih ikut masuk ke ruang tamu Kak Zian. Sepertinya mereka ikut terbangun mendengar teriakanku.
"Ada apa, ya?" tanya bapaknya Ratih.
"Ini, Lek. Faizara terkejut melihat ada penampakan di luar jendela," jawab Kak Zian.
"Oh. Jadi dia melihat hantu? Oalah, kenapa hantu menampakkan diri hanya pada tamu kamu, Zian?" Bapak Ratih menggelengkan kepala, seperti keheranan.
Ibu Ratih malah tersenyum, seolah tak percaya kalau aku benar-benar melihat pocong. Sedangkan Ratih, gadis cantik itu menyipitkan mata melihat padaku yang masih memeluk Kak Zian.
"Entah, mungkin ada jin iseng yang menakuti Faiza," ujar Kak Zian.
"Lah, terus kalau lihat hantu, endingnya harus pelukan gitu?" Sinis sekali perkataan Ratih. Dia seperti kepanasan, wajahnya sampai memerah.
"Namanya juga ketakutan, Rat," jawab Kak Zian.
__ADS_1
"Ada-ada saja," gerutu Ratih. Dia nyinyir juga ternyata. Makanya, kupeluk Kak Zian semakin erat, kutempelkan sebelah pipiku ke dada wangi maskulin itu membuat Ratih melengos.
Dia keluar terlebih dulu, sambil mengentakkan kaki, disusul bapak dan ibunya.
Pak Adam datang dari luar. "Tidak apa-apa di luar, Mbak. Mungkin yang dilihat Mbak Faiza memang makhluk halus."
"Iya, Pak. Biar tidak takut, kamu tidur di kamar Nenek ya," kata Kak Zian padaku.
"Ayo, tidur sama nenek saja." Nenek dengan sayang mengelus rambutku.
"Iya, Nek."
"Nenek siapkan bantalnya dulu ya." Beliau lalu masuk kamarnya terlebih dahulu.
Rasanya nyaman memeluk Kak Zian, dan tak ingin melepaskannya. Awalnya, aku spontan saja memeluk Kak Zian karena takut. Tapi sekarang, timbul rasa lain saat memeluk Kak Zian. Kok, aku jadi sayang sama Kak Zian, ya?
"Fai, jangan lama-lama meluknya, kita belum halal," bisik Kak Zian.
Apa katanya? Kita belum halal? Berarti Kak Zian masih berharap bisa menghalalkanku?
Aku mendongak, Kak Zian menunduk sehingga pandangan kami bertemu.
"Kalau sudah halal?" tanyaku manja.
"Kalau kita sudah halal, mau pelukan sehari semalam juga gak masalah." Senyumnya jelas konyol, kan Zian hanya bercanda, pikirku.
"Emang Kakak mau sama aku? Wajahku sudah jelek, tubuhku juga banyak gatal-gatalnya?" kejarku. Kepingin tahu apa jawaban Kak Zian.
"Aku yakin kamu akan sembuh. Dan seperti apa pun adanya dirimu, tetap aku terima, Fai ...." Senyum Kak Zian semakin misterius, sambil menaikkan dua alisnya.
"Kakak gombal!" Kucubit perutnya. Dasar tanganku tidak bisa dijaga. Kak Zian meringis lalu menggigit bibir bawahnya.
"Kok gombal? Kita lanjut bicara seriusnya saat nanti kutemui papamu. Sekarang lepas pelukanmu, aku pria normal, Fai ...." Kak Zian berkata lirih. Aku merasakan perubahan pada napas Kak Zian yang semakin cepat. Pasti karena aku menempel erat kayak prangko.
"Kakak serius apa bercanda, sih?" Aku ingin apa yang dikatakan Kak Zian itu serius.
"Dua rius, Fai! Lepas pelukanmu ...." Napas Kak Zian semakin tak karuan.
"Ehhem!" Pak Adam berdehem.
Barulah aku merasa malu dan melepas pelukan. Karena begitu nyamannya memeluk Kak Zian, aku lupa kalau Pak Adam ada di ruang tamu.
Kak Zian menyugar rambutnya, sepertinya dia juga tengah malu.
"A-aku ke kamar Nenek dulu." Aku ngacir ke kamar Nenek. Gara-gara melihat pocong, Kak Zian mengucapkan kalimat yang membuatku bahagia.
__ADS_1
Eh, Kak Zian serius tidak, sih? Jangan-jangan hanya nge-prank!
Bersambung