Kakak Ipar Melihat Auratku

Kakak Ipar Melihat Auratku
Nggak Ada Akhlak?


__ADS_3

Pagi ....


Mas Raka membopongku ke luar kamar, katanya agar aku bisa makan pagi bersama-sama di dapur. 


Sambil menuruni tangga, Mas Raka menggodaku, pura-pura ingin menjatuhkanku.


"Ih ... Mas, ntar aku jatuh sungguhan," ucapku manja, mengeratkan dua tanganku yang melingkar ke belakang lehernya. 


Mas Raka tertawa. "Jatuhnya pasti langsung ke hatiku. Eaaa... eaaa!"


Suamiku yang ganteng ini ngegombal.


"Dih gembel, eh gombal!" Aku pura-pura mencibir. Dalam hati berbunga-bunga meski hanya dengan candaan sederhana.


Kami terus bercanda, sampai di ruang tengah ....


Kak Zian keluar kamarnya, Mas Raka mungkin tak melihat kakaknya itu, tapi aku melihatnya.


Mas Raka menunduk, menatap kedua mataku sambil melangkah pelan. Dia semakin mendekatkan wajahnya ke wajahku. Semakin dekat, semakin dekat ....


Aku mengerjapkan mata. Mengisyaratkan kalau ada Kak Zian, tapi Mas Raka mendaratkan kecupannya di kening dan pipiku tepat saat Kak Zian juga akan menuju dapur.


Entah Kak Zian melihat atau tidak saat Mas Raka mengecup keningku, aku tidak tahu.


"Kau kasihku ... kau sayangku, kusanjung wajahmu ayu ...."


Mas Raka bernyanyi menggombaliku lagi. Dia cuek saja meski ada kakaknya. Aku pun mengimbangi gombalan Mas Raka.


"Hanya kamu ... pria yang aku cintaaaa .... Tak akan pernah ada pria lain yang bisa menggantikanmu. Wahai suamiku tercinta...." Aku nyanyi tak jelas, ngarang saja lagunya.


Mas Raka tertawa. "Terima kasih sayangku, cintaku."


Kembali Mas Raka gemas mencium pipiku.


Kak Zian berjalan cepat di depan kami. Tidak menyapa, kepalanya menunduk. 


"Mas, ada Kak Zian kenapa Mas cium aku. Mesra-mesraan begini?" tanyaku dengan suara pelan.


"Ssssssttt ... biar Kak Zian pengin." Mas Raka berbisik padaku. 


"Hah, maksud, Mas?" Aku tak mengerti.


"Iya, melihat ada pengantin baru begitu mesra, semoga Kak Zian tergerak untuk segera menikah juga." Mas Raka masih berbisik-bisik. Jadi Mas Raka sengaja memanas-manasi kakaknya itu. Ada-ada saja.


"Kenapa, Mas takut kakaknya jadi jomlo karatan?" sindirku.

__ADS_1


"Iya." Mas Raka mengangguk.


"Mas yakin Kak Zian masih jomlo?"


"Entahlah, dia tidak pernah menceritakan tentang wanita yang lagu dekat dengannya. Tapi, kata Nenek Kak Zian banyak yang naksir di sana."


Mas Raka masih berbisik-bisik lalu tertawa pelan.


Banyak yang naksir? Pria model kampungan begitu banyak yang naksir? Halah! Mana mungkin?


Sampai di dapur. Mas Raka menurunkan aku di kursi. Sudah ada mama mertua. Beliau menanyakan kondisi kakiku. Aku menjawab sopan. Kami makan dengan tenang. Aku malas banget, duduk berseberangan dengan Kak Zian. Ipar paling nyebelin!


Suasana hatiku bete, entah... Kak Zian itu bikin perasaanku jadi bad mood terus.


Aku mencoba fokus makan, tak ingin mataku melihat ke arah Kak Zian walau pun hanya sedetik. Tak sudi aku!


Selesai makan Mas Raka kembali menggendongku menuju lantai atas.


"Kakinya dilatih berjalan ya, Sayang. Biar gak kaku," saran Mas Raka saat sampai di kamar. Dia mengecup keningku lama.


"Iya, Mas." Aku pun setuju sambil salah tingkah.


"Aku itu sebenarnya tak ingin jauh-jauh dari kamu, Sayang. Tapi apalah daya, aku harus bekerja." Wajah Mas Raka begitu dekat di depan wajahku.


"Ya jangan kerja, Mas. Aku juga tidak mau jauh-jauh dari Mas Raka."


"Iya, deh. Aku sabar menunggu Mas di rumah. " Aku balas memeluknya erat.


"Istri baik, baik sholehah.... " Mas Raka kembali mengecup keningku.


❤❤❤


Mama mengajak Ina dan Bi Fatma belanja bulanan setelah sarapan. Mas Raka berangkat ke kerja, Marini setelah beres-beres izin pulang karena anaknya sakit. 


Rumah sepi. Sambil nonton drakor, aku sudah menghabiskan dua bungkus makanan ringan. Kalau lagi haid, aku memang jadi banyak makan dan banyak ngemil. Biasalah ya wanita.


Mas Raka bilang, kakiku harus dibawa berjalan, aku berjalan pelan-pelan keluar dari kamar. Akan ke dapur mau ambil camilan lagi di kulkas dan mau buat jus buah juga.


Meskipun berjalan pelan-pelan, jempolku masih agak sakit. Apalagi saat menuruni tangga begini.


Naasnya, sampai di tengah tangga, kakiku tergelincir dan ....


"Aduh, aduh, aduh ...." 


Aku tak bisa mengendalikan tubuhku yang tiba-tiba menggelinding ke bawah. Mau pegangan saja tak sempat karena kejadiannya begitu cepat. Tahu-tahu tubuhku sudah tergeletak di lantai.

__ADS_1


"Aduuuh!" pekikku. Mulai dari kepala yang membentur lantai, lengan, kaki, semuanya terasa sakit.


Aku meringis, air mata langsung menggenang. Lalu air mata itu berjatuh ke pipi. Kenapa aku apes terus?


“Ina! Bi Fatma! Marini!” panggilku sambil berteriak dan tak ada yang datang. Aku lupa kalau mereka semua tidak ada di rumah.


“Huuu ... huuu, kenapa nasibku malang begini?” Tangisku pecah. Mau bangun terasa sangat sulit. Bagaimana caranya aku bangun?


"Fai ... kamu jatuh?"


Suara pria yang sangat menjengkelkan itu. Aroma parfumnya mulai familier di hidung. Tubuhnya yang tegap berdiri di dekatku. Dia langsung berjongkok.


"Sudah tau aku jatuh! Masih saja tanya!" Aku langsung nge-gas. 


"Ayo, aku bantu bangun." Kak Zian mengulurkan tangan kanannya. Dan aku ... sama sekali tidak minat menyambut tangannya meski aku perlu bantuan untuk bangun.


"Ayo ... aku bantuin." Kak Zian mengulangi. Keningnya berkerut membuat wajahnya seperti khawatir padaku. Napas hangat Kak Zian berembus ke wajahku. Ini entah kali keberapa wangi segar napasnya berembus ke wajahku membuatku merinding.


Aku tak ingin seperti di dalam mimpiku, dibopong Kak Zian naik ke kamar. Dih, amit-amit. Tapi ... aku memang butuh bantuan. Gimana ini?


"Nggak! Aku tak butuh bantuanmu! Dasar ipar gak ada akhlak!" teriakku sambil menangis. Kata-kata yang sama seperti dalam mimpiku ....


"Nggak ada akhlak?" Kak Zian menggumam, dia menggelengkan kepalanya. "Aku hanya ingin membantumu, apa itu salah?"


Kak Zian masih mengulurkan tangannya. Aku sok kuat, padahal tubuh terasa remuk. Mencoba bangun tapi kesulitan. Tak pernah aku jatuh sekeras ini.


Keluhan tak bisa kutahan keluar dari mulutku karena pinggang seperti kena encok.


"Pegang tanganku, Fai, kamu harus dibantu." Tangan Kak Zian semakin mendekat.


"Kamu puas liat tanganku luka, jempol kakiku juga luka, sekarang seluruh tubuhku sakit semua! Apes ini berasal dari dari kamu, tau!"


Aku jatuh sendiri, yang aku salahkan Kak Zian, buntut dari surat itu, aku selalu kesal dan banyak mendapat musibah. Pokoknya ini salah Kak Zian!


"Fai, pegang tanganku ...."


"Gak usah!" Kutepis tangan Kak Zian kasar. Aku terisak-isak. Masih seperti ular melungker di lantai marmer ini.


"Kamu mau ke dapur? Mau ambil apa? Biar aku yang ambilkan."


Aku melebarkan mata, melihat pada wajah Kak Zian yang sok baik padaku. Jijik aku melihatnya.


"Aku gak perlu bantuanmu! Pergilah!" Aku mengusirnya.


"Baiklah kalau tidak mau dibantuin," ujar Kak Zian. Dia pun berdiri, dan perlahan melangkah.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2