
“Puding ini enak banget ya, Sayang. Kamu suka?” Reno menyodorkan sendok berisi puding ke dekat bibirku. Dia akan menyuapi makanan penutup itu setelah kami makan sajian mewah di restoran ini.
Aku makan puding yang Reno sodorkan, “Iya, enak.”
“Nah, gitu, dong! Aku lihat malam ini kamu tidak begitu semangat makan malamnya, apa menunya tidak enak?”
Reno memperhatikan aku sejak tadi. Aku sebenarnya sangat risi dengan tatapannya.
"Enak, Ren."
"Enak tapi kamu gak bersemangat. Apa karena takut orang suruhanku menyuntik Zian, terus dia tidak bangun-bangun lagi alias menyusul Raka, hm?"
"Jangan bawa-bawa almarhum suamiku, Ren!" Reno bicara seenaknya saja. Aku jadi sewot padanya.
"Iya maaf, deh. Tapi kamu seneng kan, kalau Zian pergi untuk selamanya?"
Reno membahas hal yang mengerikan lagi. Aku tidak menjawab. Malas meladeni jika dia membahas tentang hal yang sangat sadis jika itu benar dia laksanakan.
“Reno, mana pertanggung jawabanmu pada anakku, Lila! Dia jadi stres berat, tidak keluar dari kamar, dan hanya menangis siang malam!” Seorang Ibu tiba-tiba datang dan marah-marah sambil menuding Reno.
“Kami sudah putus, seharusnya Lila tidak usah mengharapkan saya lagi.” Reno menjawab santai.
Apalagi ini?
“Apa katamu? Dasar pria buaya! Apa karena wanita ini kamu mutusin anakku?!” Ibu itu mengambil gelas berisi air di meja lalu disiramkan ke wajahku.
Aku bangun dari duduk karena sangat terkejut. Reno juga langsung mendorong kasar si ibu.
“Jangan sembarangan kalau bicara! Dia calon istriku, dan dia wanita baik-baik! Tidak seperti anakmu yang murahan!”
"Heh! Kurang ajar! Akan kulaporkan kamu ke polisi karena telah menodai anakku!" tuding wanita setengah baya itu.
"Salahnya Lila, kenapa dia ngejar-ngejar aku?" Reno berkata cuek.
Keadaan jadi chaos karena ibu itu berteriak-teriak memarahi Reno. Sampai sekuriti di rumah makan ini membawa ibu itu keluar.
“Kamu nggak apa-apa, Sayang?” Reno membantu mengelap wajahku yang basah dengan tisu.
“Apalagi ini, Ren? Aku sudah bilang, selesaikan urusanmu dengan semua wanita yang kamu pacari, agar tidak terulang kejadian seperti ini lagi.” Aku malu banget barusan pengunjung di restoran melihat ke arahku saat ibu itu menyiram wajahku. Kesannya seperti aku perebut pacar orang.
“Santai saja. Sudah tau pesona Reno, kan? Aku jadi rebutan, padahal aku tidak mencintai wanita-wanita ganjen itu. Huh! Aku kan cintanya dan sayangnya cuma sama kamu, Faiza ....”
“Ck! Kamu kejam juga, anak orang kamu mainin, sampai ada yang hamil kayak Laura, dan barusan itu kata ibunya, si Lila sampai stres loh, Ren ....”
Aku tidak sreg dan ragu untuk berhubungan serius dengan Reno jika seperti ini kelakuannya. Dia pasti sudah berganti-ganti pasangan “tidur” tanpa ada ikatan.
__ADS_1
“Mereka saja yang terlalu serius padaku, Faiza. Aku sudah bilang nggak cinta, kok.”
“Nggak cinta? Tapi kalian sampai bobo bareng?” Aku mengambil tas di meja. “Aku mau pulang.”
“Hei, Faiza tunggu! Jangan marah gitu, dong!” Reno mengikuti langkahku sambil terus membujukku. “Aku nggak tidur bareng wanita-wanita itu, percaya padaku.”
Dia berkata pelan nyaris berbisik.
Aku berjalan semakin cepat.
"Bohong!"
"Sumpah aku nggak bohong."
Reno meraih lenganku saat sampai di depan kasir. “Tunggu sebentar, Sayang. Aku mau bayar dulu.”
Aku cemberut, ikut berdiri di depan meja kasir. Reno mengeluarkan dompet, menarik beberapa lembar uang seratus ribuan. Ada yang ikut terambil dari dalam dompetnya dan jatuh ke lantai. Sepertinya Reno tidak menyadarinya.
Aku pun tidak tahu apa yang jatuh itu, kasirnya saling senggol dengan temannya dan berkata, "Mas itu ... kondomnya jatuh."
Barulah aku melotot pada Reno lalu beralih melihat ke lantai, tidak menyangka wadah kecil seperti sampo sachet itu isinya ******. Jijik saja karena Reno menyimpan alat kontrasepsi di dompetnya.
Segera saja aku melangkah cepat meninggalkan Reno.
"Sudah cukup, Ren, tak perlu lagi menjelaskan apa-apa!" Aku berlari ke pinggir jalan dan menyetop taksi.
Mobil Reno mengikuti taksi yang kutumpangi. Sampai di depan rumah, aku keluar dari taksi, Reno juga keluar dari mobilnya dan berlari ke arahku.
"Fai ... tunggu, sini aku jelasin!" Reno meraih lenganku.
"Pulanglah, Ren!" Kutepis tangannya. Aku benar-benar bete padanya.
"Plis, aku minta maaf, ya. Aku tak akan mengulangi lagi berbuat yang tidak baik ... Fai." Reno berjalan mendahului, dia mengacak rambutnya, terlihat frustrasi. Berdiri di depan pintu, mencegah aku masuk.
"Aku gak nyangka, gaya berpacaranmu sampai merusak banyak wanita, Ren ...."
"Anggap saja semua itu bagian dari masa laluku Faiza, aku janji akan memperbaiki diri. Jadi, kumohon jangan ilfil padaku ...." Reno menyentuh tanganku. Akan menarikku ke palukannya, tapi aku menolak.
"Ren, pulanglah. Aku butuh untuk sendiri," pintaku. Reno tidak menuruti, tetap saja berdiri menghalangiku masuk rumah.
"Fai, aku janji. Suwer, aku tak akan mengulanginya lagi, itu terjadi karena aku patah hati saat kamu dan Raka menikah, jadi pelariannya ke arah sana."
"Jangan jadikan itu alasan, Ren." Aku menyingkirkan tubuh Reno lalu membuka pintu dan masuk. Suasana rumah sedang sepi.
"Maafin aku, ya, Fai ...." Reno mengikutiku masuk. Memohon-mohon agar aku memaafkannya.
__ADS_1
"Ya sudah, perbaiki diri dulu, aku masih mikir-mikir untuk ke depannya."
"Kok gitu, Fai?" Reno mencegah langkahku. Mata Reno merah, sepertinya dia menahan tangis.
Ponselku berdering. Kuangkat panggilan dari Naya.
"Mbak nggak mau ke rumah sakit, Kak Zian mengamuk dan berteriak memanggil Mbak. Cepetan ke sini, Mbak ...."
"Aku masih sibuk, Nay ...." Pikiranku tambah kacau.
"Sibuk apa, sih, Mbak?"
Kututup telepon sebelum Naya bicara panjang lebar.
"Papa, Mama, dan Naya ke rumah sakit untuk melihat kondisi Kak Zian, sedangkan kamu menyuruh orang untuk membunuhnya." Aku mendengkus pada Reno.
"Aku cuma bercanda, Fai. Siapa yang mau membunuh Zian? Jadi dari tadi, sampai kamu nggak enak makan karena memikirkan itu?" Sebelah alis Reno terangkat. Kedua matanya semakin memerah.
"Bercandamu nggak lucu, aku takut akan terseret juga kalau kamu menghabisi Kak Zian." Aku bersedekap dengan wajah cemberut.
"Ya udah, maafin aku ya." Reno mengelus rambutku. Lalu memelukku. "Aku janji, akan menjadi lebih baik lagi ke depannya. Aku akan menjagamu, Fai."
Ada titik air mata yang jatuh ke pipi Reno. Baru kali ini kulihat Reno menangis. Mungkin, dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Pulanglah, Ren ...." Aku melerai pelukan.
"Kamu memaafkan aku, kan, Fai? Jangan ragu, dan jangan batalkan apa yang sudah kita rencanakan. Aku akan melamarmu setelah 40 harinya Raka, oke?" Reno membingkai wajahku. Dia meneliti wajahku.
Aku hanya bisa mengangguk pasrah.
"Terima kasih, Sayangku." Reno mengecup keningku lama. Reno kemudian pamit pulang.
Sepulang Reno, Naya kembali meneleponku.
"Mbak kenapa telponnya dimatikan. Barusan Kak Zian ngamuk-ngamuk, saking kuatnya tenaganya sampai-sampai dokter, Aris, Papa, aku, ikut memegangi Kak Zian. Kak Zian jatuh, kepalanya membentur lantai," cerita Naya. Aku diam mendengarkan.
"Mbak mau dengar kabar baik?"
"Kabar baik apa?" tanyaku datar.
"Kak Zian sudah sembuh. Masya Allah ... dokter sampai mengucap syukur berkali-kali. Ini seperti keajaiban. Saat membentur lantai itu, bangun-bangun Kak Zian kebingungan dan menanyakan kenapa ada di rumah sakit. Sebentar aku bagi videonya ...."
Kak Zian sudah sembuh?
Bersambung
__ADS_1