
Aku menautkan alis, tidak paham maksud Naya. Kak Zian sudah sembuh hanya karena jatuh? Semudah itukah?
Naya mematikan sambungan telepon, tak berapa lama, dia mengirim video lewat WA.
Terlihat Kak Zian di atas ranjang, menoleh kebingungan sambil bertanya, "Kenapa saya di rumah sakit? Mana Faizara? Apa dia baik-baik saja?"
Napasnya begitu cepat, seolah dalam kekhawatiran yang sangat.
Dokter, dan semua yang di sana menenangkan Kak Zian. Mengatakan kalau aku baik-baik saja.
[Mbak, saat baru sadar, yang Kak Zian tanyakan pertama kali adalah Mbak. Itu artinya Kak Zian selalu memikirkan Mbak. Kak Zian mengkhawatirkan Mbak]
Aku jadi tegang. Takut Kak Zian menceritakan kronologinya sampai dia jatuh ke jurang.
[Mbak nggak mau ke sini?] tanya Naya.
[Nggak Nay]
Hanya itu balasanku. Kepalaku jadi mumet.
Aku keluar ke apotek seberang jalan. Membeli obat tidur, lalu sampai di rumah, minum obat tidur tujuh butir, agak berlebihan memang. Sengaja malam ini, aku hanya ingin tidur pulas tanpa memikirkan apa pun.
Mama bolak balik membangunkanku. Aku bisa mendengar, hanya mata rasanya sulit terbuka.
"Faiza, apa kamu sakit, Nak? Sekarang sudah jam sebelas siang." Mama menyentuh keningku. Aku menggeliat, badanku terasa meriang, persendianku sakit semua, kepalaku juga nyut-nyutan.
"Ya, aku sakit, Ma ...." Aku menyahut dengan suara serak.
"Mama akan telpon dokter Alan," ujar Mama.
❤❤❤
Kesembuhan Kak Zian, membuat keluargaku senang. Berulang kali Papa dan Naya menceritakan kalau Kak Zian mengkhawatirkan aku. Entah apa yang dia khawatirkan. Lebay sekali dia.
Aku tidak datang menjenguk karena sakit. Untung juga aku sakit, jadi punya alasan untuk tidak menjenguk Kak Zian.
Tiga hari aku demam. Reno sudah dua kali menjengukku. Malam ini dia kembali datang dengan membawa banyak oleh-oleh.
"Zian katanya sudah sembuh." Reno duduk di kursi sebelah ranjangku.
"Iya. Masih untung dia tidak melaporkanmu pada polisi."
__ADS_1
"Aku yakin, dia tidak akan berani menceritakan pengeroyokan malam itu," ucap Reno jemawa. "Kamu cepat sembuh, ya. O iya, 40 harinya Raka sudah besok lusa, itu artinya hari untuk melamarmu akan segera tiba. Cepat sembuh ya, Sayang." Reno mengelus rambutku sambil tersenyum.
Aku hanya mengangguk lesu.
"Fai, 40 harinya Raka apa kamu akan ke rumah Raka?"
"Iya, aku usahakan datang meski belum sembuh, Ren."
Wajah Reno berubah tidak ceria. "Fai, kalau kamu masih sakit, nggak usah datang ya ...."
Dia memang posesif, tapi tidak membolehkan aku ke selamatan 40 harinya suamiku, itu sangat terlalu.
"Aku harus datang, Ren. Nggak etis jika aku tidak ikut mendoakan Mas Raka."
Reno mendesah berat. "Oke, lah. Tapi di sana kamu akan bertemu Zian. Jangan bicara kalau tidak penting." Reno mewanti-wanti agar aku tidak berdekatan dengan Kak Zian saat 40 harinya Mas Raka.
Siapa juga yang mau sok akrab dengan Kak Zian?
❤❤❤
Aku memakai pashmina warna putih, juga gamis warna putih. Duduk di ruang tengah rumah Mas Raka. Beberapa sanak saudaranya sudah datang. Tinggal menunggu para tetangga, juga anak-anak yatim dari panti asuhan dekat rumah Mas Raka yang akan disantuni setelah nanti doa bersama.
Mama dan Naya membantu menata kotak-kotak makanan yang akan diberikan pada para tamu. Sedih dan masih tak percaya, Mas Raka sudah 40 hari meninggalkan kami untuk selamanya.
Memakai baju koko warna putih dan celana bahan warna putih, Kak Zian juga memakai peci hitam, membuat tampilannya tampak seperti Pak Ustadz.
Kak Zian menyapa Mama, Naya, dan suadara-saudaranya yang ada di ruang tengah. Dia juga menganguk padaku, sambil tersenyum, wajah itu ... terlihat tenang.
Aku tak balas menyunggingkan senyuman padanya. Bagiku, itu tidak perlu.
Kak Zian berjalan ke arah ruang tamu, bisa kulihat dia duduk di dekat Papa, dan berbicara entah apa. Yang jelas, Papa terlihat semringah saat mengobrol akrab dengan Kak Zian.
"Ehhem! Dari Kak Zian keluar dari kamarnya, sampai Kak Zian duduk di ruang tamu, Mbak nggak lepas menatapnya. Kenapa? Mbak rindu pada Kak Zian?" bisik Naya membuatku gelagapan. Baru sadar mataku tak dapat dikontrol, melihat Kak Zian dari wajah sampai pakaian yang dikenakannya.
"Hayooo ... Mbak mulai terpesona pada Kak Zian ya?" bisik Naya lagi sambil menyenggol lenganku.
Apa?! Terpesona?
Tidak, tidak, terpesona apaan?
Di ruang tamu, Kak Zian melihat ke sini. Ke arahku? Seperti sadar sedang dibicarakan. Jantungku seketika berdegup kencang, saat mata kami saling bertatapan.
__ADS_1
❤❤❤
Acara pengajian 40 harinya Mas Raka berjalan lancar. Mulai dari acara pengajian sampai ikut membagikan santunan pada anak yatim, air mataku terus jatuh. Tak kuat rasanya menahan kesedihanku.
Hari ini juga, aku akan membereskan pakaian dan barang-barangku di kamar Mas Raka sekalian pamit pada mama mertua.
Satu persatu kerabat dan tetangga pulang setelah acara selesai. Hanya tinggal sebagian yang membantu untuk beres-beres.
Di ruang tengah, aku berpapasan dengan Kak Zian. Kebetulan sedang tidak ada orang.
"Kak, aku mau bicara," ucapku.
"Iya, Fai." Kak Zian menghentikan langkahnya, dia sekilas melihat padaku, lalu beralih melihat ke arah lain.
"Kita bicara di rooftop aja."
Kak Zian mengangguk dan mempersilakan aku naik ke tangga terlebih dahulu. Aku butuh bicara padanya, berdua saja, mungkin ... ini untuk yang terakhir kalinya.
Sampai di atas, aku menarik napas dalam-dalam, berdiri di dekat besi pembatas, dari sini bisa dilihat rumah-rumah tetangga, jalan besar di depan rumah Mas Raka, dan gedung-gedung perkantoran yang tinggi menjulang.
Angin membawa aroma wangi lembut dari parfum Kak Zian yang ikut berdiri sejajar denganku berjarak sekitar satu meter.
"Mau bicara apa, Fai?" tanya Kak Zian, dia menatap langit sore yang biru cerah.
"Kak Zian jangan melaporkan Reno pada polisi, salahnya Kak Zian sendiri mengikuti mobil Reno malam itu sehingga Reno marah, dia memanggil teman-temannya untuk memukuli Kak Zian." Aku langsung menyampaikan maksudku.
Kak Zian menarik napas berat. "Malam itu, aku sebenarnya ingin pulang kampung, melihat kamu ada di dalam mobil bersama Reno, aku khawatir, jadinya aku mengikuti mobil Reno."
"Iya, itu salahnya Kak Zian, kan?" Suaraku agak keras sambil menoleh, melihat tajam pada Kak Zian yang juga menoleh padaku dengan tatapan lembut. "Lagi pula Kak Zian khawatir apa, sih?"
"Aku khawatir saja kalau kamu bersama Reno, Fai." Kak Zian memandang langit, entah apa yang dia pikirkan.
"Untuk apa mengkhawatirkan aku? Reno orangnya baik, dan Kak Zian jangan pernah mengganggu kami lagi, karena Reno akan segera melamarku. Jangan halangi kebahagiaan kami!" Aku berucap tegas. Tanganku semakin kuat mencengkeram besi pembatas.
Kalau bicara sama Kak Zian, bawaannya mau marah terus.
"Asalkan kamu bahagia, aku tidak masalah. Aku hanya khawatir karena Reno suka mabuk dan ...."
"Dan apa?! Aku bukan anak kecil! Tau mana pilihan terbaik untuk diriku!" Aku langsung emosi, menendang besi pembatas, apesnya kakiku jadi tidak seimbang dan hampir jatuh karena satu kakiku masuk ke celah besi.
Kak Zian melompat dan spontan memegangi aku dari belakang, posisi kepalaku menyandar pada dadanya. Dua lengan Kak Zian melingkar ke perutku.
__ADS_1
Bersambung