Kakak Ipar Melihat Auratku

Kakak Ipar Melihat Auratku
Untuk Apa Mencariku?


__ADS_3

"Jangan, Ren ... kamu mau apa?" Aku jauhkan wajah Reno dari dadaku.


"Aku mau ... ka-mu, Fai ... jadi mi-likku. Capek aku me-nyimpan rasa ini, sejak dulu."


Apa maksudnya? Jadi Reno mencintaiku sejak lama? Tapi dia tidak pernah mengungkapkannya?


Aku angkat kepala Reno yang bersandar di dadaku. Kudapati senyumnya , senyum bercampur air mata yang tiba-tiba menetes ke dadaku.


"A-aku frustrasi ka-rena kamu menikah dengan Ra-ka ...." Mata Reno terpejam. Lalu kepalanya terlepas dari tanganku dan kembali jatuh ke dadaku. Aku sangat kaget mendengar pengakuannya.


"Apa? Jadi kamu ....?"


Reno mencintaiku? Dia frustrasi karena aku menikah dengan Mas Raka? Sungguh, aku sulit percaya mendengar pengakuan Reno meski dia dalam kondisi mabuk.


Tak terdengar lagi suara Reno, dia seperti terlelap. Aku segera menyingkir dari badan Reno yang berat.


Aku beranjak ke sofa dan berbaring di sana. Tanpa mematikan lampu. Takut Reno akan mendatangiku. Dalam kondisi mabuk berat, bisa saja dia melalukan sesuatu di luar kendalinya.


❤❤❤


Pagi harinya, aku bangun sebelum Reno bangun. Membuat dua cangkir teh setelah mandi. Juga membuat roti bakar.


Aku tidak menanyakan tentang ucapan Reno semalam setelah Reno bangun di jam sembilan pagi.


Dia baru selesai mandi dan menemui aku di balkon, masih hanya memakai handuk yang dililit ke pinggangnya. Badan atasnya dia biarkan terbuka.


"Aku telat bangun, Fai. Kamu sudah sarapan? Maaf, di kulkas cuma ada roti dan selai. Aku malas mengisi kulkas."


"Hm, aku sudah buat roti bakar dan teh. Untukmu aku letakkan di meja."


"Oke. Makasih, sudah cocok nih jadi istriku," katanya sambil mengacau rambutku.


"Apaan, sih?" Aku menjauhkan kepala.


"Eh, sorry ... maksudku terima kasih sudah dibuatkan sarapan."


Reno masih berdiri di hadapanku. Dia berubah salah tingkah. Entah apa yang dia pikirkan.


"Pakai baju, sana. Jangan parno, Ren!"


Reno tertawa. "Kenapa, Fai? Kamu takut kepingin ya ...?"


"Dih, gak jelas!" O iya, Ren, aku mau buat tato juga." Aku mengalihkan pembicaraan.


"Oke. Tapi jangan ngeluh kalau sakit, ya. Ditato itu sakit, Fai."


"Beres." Aku bersedia, meski sesakit apa pun.


"Setelah ini kita berangkat sahabatku, Sayang ...." Reno dari dulu suka panggil aku pakai kata "sayang". Aku tidak pernah merasa ge-er, tapi ... kali ini jadi aneh saja mendengar Reno memanggilku sayang apalagi mendengar pengakuannya semalam.


❤❤❤


Kami pergi ke tempat pembuatan tato, katanya yang punya temannya Reno. Namanya Faldi.


"Wih, cewek baru lagi. Yang kemarin mana, Bro?"


"Yang ini sahabat baikku, Bro. Beda dari yang kemarin," sahut Reno.


"Oh, kalau yang kemarin teman tapi mesra ya?" canda Faldi membuat Reno keki.

__ADS_1


Aku hanya tersenyum hambar mendengar percakapan basa-basi antara Reno dan Faldi.


Aku masuk ke ruangan, Reno ikut masuk juga. Aku diminta membuka baju, menyisakan kaus dalam. Lalu telentang karena akan dipasang tato di bagian dada atas.


“Binikin nama Raka,” pintaku pada Faldi.


Reno spontan menoleh padaku, dengan tatapan ....


"Kalau pakai nama Raka, kamu bakalan semakin susah move on, Faiza." Dia protes, seperti cemburu. Semakin menguatkan dugaan bahwa Reno memang benar-benar mencintaiku.


"Aku kan sudah bilang ingin mengabadikan nama Mas Raka, Ren. Aku rela ditato dan rela sakit dengan Mas Raka." Aku ngotot. Reno tak punya gak untuk melarangku.


"Oh, iya, iya ...." Reno menjawab hambar.


"Aroma-aromanya ada yang cemburu, nih," celetuk Faldi. Reno menghela napas panjang, rona wajahnya tak dapat menyembunyikan ekspresi ... cemburu.


"Dah, segera tato si Fai, matamu jaga jangan jelalatan." Reno mengingatkan Faldi, karena aku hanya memakai dalaman, membuat belahan dadaku terlihat.


"Halah, aku sudah biasa mentato wanita, bahkan di area ekstrem." Tawa Faldi menggema.


Faldi memulai aktivitasnya. Aku menahan sakit saat ditato, tapi merasa puas sekaligus nyesek setelah selesai, nama almarhum Mas Raka ada di dadaku, untuk selamanya. Tak akan ada pria lain selain dia.


❤❤❤


Seminggu setelah aku tinggal di apartemen Reno ....


"Mana Mbak Fai?"


Suara Naya di pintu apartemen Reno saat aku ada di meja makan. Aku melihat sekeliling, menemukan kardus besar nganggur, aku masuk ke dalamnya agar tidak diketahui Naya.


"Kok nyari Mbakmu di sini, Naya?" Reno balik bertanya.


"Nggak ada. Aku baru datang dari luar kota.” Reno mengelak.


"Huh! Bilangin ke Mbak Fai. Papa sakit karena memikirkan Mbak Fai. Dia itu egois banget. Main pergi-pergi aja setelah menusuk Kak Zian. Untung Kak Zian masih hidup." Naya terdengar nyerocos menyalahkanku.


"Siapa Zian?" Reno pura-pura tidak tahu.


"Kakak iparnya Mbak Fai, sekaligus calon suaminya."


Cih! Calon suami dari hongkong?


"Kalau mbakmu tidak mau ya jangan dipaksa, Naya. Sekarang bukan zaman Siti Nurbaya. Agar Faiza tidak pergi dari rumah."


"Kenapa Kak Reno tau Mbak Fai tidak mau sama Kak Zian? Pasti dia sudah curhat banyak. Mana sekarang dia?" Naya terdengar memaksa masuk.


"Eh, eh, jangan masuk, bocil! Ini kamar pria," cegah Reno.


"Aku bukan bocil, Kak Reno. Mana Mbak Fai?" Naya kekeh dan kudengar langkahnya masuk ruangan.


"Nggak ada, kamu kok nggak percaya. Sini, deh, aku kasih duit buat jajan. Segera pulang, gih!" Reno terdengar tegang.


"Iiih, Kak Reno pasti sembunyiin Mbak Fai. Buktinya nyuruh aku pulang.”


"Naya ... nggak ada Faiza di sini.”


"Aku nggak percaya!"


Aku menahan napas saat Naya mengetuk pintu kamar mandi, mengira aku ada di dalamnya.

__ADS_1


"Keluar, Mbak. Jangan sembunyi di kamar mandi!" katanya dengan cempreng.


"Naya, Naya ... nggak ada mbakmu di sini, mana mungkin dia akan sembunyi di apartemen cowok.”


"Huh! Ke mana sih, dia? Ya udah, kalau Kak Reno ketemu mbak Fai, bujuk untuk pulang. Dia tuh aneh, suaminya baru meninggal malah keluyuran nggak jelas. Pura-pura gila pula, menyusahkan!” gerutu adikku.


"Oke, oke ... pulang ya, anak maniiis ...."


"Iya, mana uangnya, barusan katanya mau ngasih uang." Naya menagih ucapan Reno.


"Oke, lima ratus ribu ya. Dan nggak usah balik ke sini lagi."


"Kurang, Kak Reno kaya masa ngasihnya cuma segitu? Sejuta-lah ...."


"Oke, kecil-kecil suka malak."


"Wewww! Rasain." Naya tertawa. Pasti puas ngerjain Reno.


Aku mengusap dada setelah Naya keluar dari apartemen Reno. Tertawa melihat wajah Reno yang konyol memandangi dompet kulitnya.


"Adikmu cerdas juga."


"Iya lah, kenapa habis uang cash-nya? Kan tinggal ngambil lagi, Reno."


Reno pun tertawa. “Iya, sih. Uang segitu nggak ada apa-apanya buatku. Kecil.” Reno menyombongkan diri.


❤❤❤


Aku tiap malam masih ke klub malam, tapi tak membolehkan Reno mabuk berat lagi. Kami minum, tapi sedikit.


Namanya juga alkohol, minum sedikit, tetap saja ada efek fly-nya.


Aku keluar bergandengan tangan dengan Reno menuju tempat parkir. Reno akan membukakan pintu mobilnya untukku.


Dia memang sweet orangnya.


Aku berdiri dan mata sekilas melihat area parkir. Dadaku seketika bergemuruh. Ada seseorang berdiri di dekat motor gede. Pria ... yang aku benci. Bagaimana dia bisa ada di sini? Apa dia mencariku? Dasar suka ikut campur urusan orang. Emang aku apanya Kak Zian sampai dia ikut mencariku?


Emosiku langsung naik.


"Silakan, Faiza ...." Reno mempersilakan.


"Ren ...." Dua tanganku melingkar ke belakang leher Reno.


"Hm, iya ...?" Reno langsung gelagapan.


"Makasih, ya, sudah baik sama aku ...."


Reno mengangkat sebelah alisnya. Dia mungkin speechless dengan apa yang aku lakukan. Apalagi saat dua kakiku berjinjit dan mencium pipi kanannya.


"Mmmuuuach!" Sengaja aku nyaringkan suara ciuman ini.


"Fai-za?" Suara Reno lirih, seperti mempertanyakan kenapa aku menciumnya. Reno pun balas melingkarkan dua tangannya ke pinggangku agar tubuhku semakin dekat dengannya.


Aku yakin dia senang sekaligus tak menyangka aku menciumnya. Ciuman yang terpaksa aku lakukan karena ada Kak Zian.


"Makasih, Reno sayang, kamu pria yang sangat baik," pujiku. Ekor mataku bisa menangkap tubuh tegap Kak Zian. Yakin dia tengah mengawasi kami.


"Tentu, apa sih yang nggak buat kamu ...." Mata Reno menatap pada bibirku. Mata itu kemudian memejam, seiring semakin mendekatnya wajah Reno pada wajahku dan dia memiringkan kepalanya, tanda akan mencium bibirku.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2