
"Sudah jelas-jelas kotak perhiasan itu ada di ransel Kak Zian, ngapain Kakak masih mengelak dan pura-pura tidak tau?" Aku mendebatnya.
Mama mertuaku berjalan ke arah kami, melihat padaku lalu beralih pada Kak Zian.
"Yang jelas, bukan aku yang meletakkan kotak itu di ransel." Kak Zian berkata tegas. Ketika mata Kak Zian bertemu dengan mataku, jantungku seakan mau copot. Aku takut ketahuan kalau sedang berbohong.
"Sudah, kalian tak perlu berdebat, yang penting kotak perhiasannya sudah ketemu, Nak." Mama menengahi sambil mengusap pelan punggungku. Mungkin agar aku tidak memperpanjang masalah.
"Tapi, Ma ...." Aku tak ingin masalah yang aku rencanakan ini berakhir segampang ini.
"Maaf, Zian ke kamar dulu," pamit Kak Zian, dia berbalik dan melangkah keluar kamarku. Dia juga enggan sepertinya meladeniku.
"Nak, tak mungkin Zian yang mengambilnya, percaya sama mama." Mata Mama tiba-tiba berkaca-kaca, beliau membela anak sulungnya itu.
Aku bingung harus berkata apa. Apalagi, air mata Mama mulai jatuh ke pipinya.
"Dulu, waktu kecil, mama pernah juga menuduh Zian mengambil perhiasan di lemari," tutur Mama dengan nada gemetar. Air mata Mama mertua semakin deras. Beliau mengusapnya.
"Sampai Mama pukul dia supaya mengakui." Suara Mama tercekat seiring air matanya yang kembali jatuh.
"Tapi, ternyata ...." Seakan tak kuasa melanjutkan kalimatnya. "Mama, ke kamar ya, Nak."
Mama pamit, beliau tidak jadi bercerita. Wajah Mama tak bisa digambarkan, seakan mengingat sesuatu yang membuat hatinya sangat sedih.
"Iya, Ma. Silakan. Maaf, Fai ... menyusahkan Mama membantu mencari perhiasan ini."
"Nggak apa-apa, Nak." Mama lalu keluar, suara isak tangisnya kembali terdengar.
❤❤❤
"Mas, kok bisa kotak perhiasan itu ada di tas ransel Kak Zian, ya?"
Aku memeluk Mas Raka yang menyadar pada kepala ranjang malam ini. Aku menceritakan kejadian tadi pagi padanya.
"Ya nggak tau juga, Sayang. Kalau menuduh Kak Zian yang hendak mencuri perhiasanmu, tak mungkin, lah." Mas Raka balas memeluk dan mengecup keningku.
Sama dengan mama mertua, Mas Raka juga tidak percaya kalau Kak Zian yang mengambil kotak itu. Rencana yang aku jalankan jadi sia-sia.
Barusan saat makan malam, tak ada pembicaraan tentang perhiasan yang pindah tempat ke ransel Kak Zian. Itu membuatku tidak puas.
"Bukan nuduh, jelas-jelas kotak itu ada di tas ranselnya, mungkin takut ketahuan, sebelum digeledah kamarnya, Kak Zian memberikan kotak itu padaku." Aku terus mencoba meyakinkan Mas Raka kalau Kak Zian pelakunya.
"Sayang, kasian juga kalau menuduh Kak Zian," potong Mas Raka. Dia menatap kedua mataku. "Tak mungkin Kak Zian yang mengambilnya."
"Berarti tiga pembantu di sini ada yang berbohong. Sengaja mungkin agar Kak Zian yang dituduh?" Aku playing victim.
__ADS_1
"Entah, Mas jadi bingung juga. Kejadian ini, jadi mengingatkan pada masa lalu." Mas Raka menautkan jari-jari tangannya pada tanganku. Ada desah berat dari bibirnya.
"Maksudnya?"
"Dulu, kotak perhiasan Mama ditemukan di kamar Kak Zian, waktu itu dia masih kelas tiga SD. Kotak perhiasan, isinya juga mas kawin. Mama memukul Kak Zian, mengira Kak Zian yang mengambilnya."
Mas Raka menjeda kalimatnya, aku diam menyimak.
"Kak Zian tidak mengaku, karena itu Mama terus memukul lengan dan kakinya pakai tongkat kecil. Aku gak ngerti kenapa Mama begitu panik dan marah pada Kak Zian ... sampai Kak Zian lebam-lebam."
Mas Raka membawa tanganku ke dadanya, kurasakan detak jantung pria yang sangat aku cintai ini.
"Nenek yang kebetulan menginap di rumah, mencoba menghentikan, tapi Mama tetap saja memukuli Kak Zian, tak ingin punya anak yang tidak jujur dan suka mencuri, padahal ...."
"Padahal?" tanyaku penasaran.
Mas Raka kembali mendesah berat. "Padahal, aku kecil yang telah mengambil dan meletakkan kotak itu ke lemari, di atas tumpukan baju Kak Zian. Namanya juga aku masih keci umur lima tahun. Kukira itu isinya mainan. Aku sampai sekarang merasa bersalah kalau mengingat kejadian itu. Mama juga pasti sangat menyesal."
Mas Raka menoleh dan melihat kedua mataku. Matanya sendiri tak bisa menyembunyikan kesedihan.
"Itu yang membuat nenek marah pada Mama karena memukuli Kak Zian tanpa ampun dan mengajak Kak Zian untuk tinggal bersamanya. Mama awalnya tak setuju, tapi Kak Zian sendiri juga terus mengatakan ingin tinggal bersama nenek."
"Oh ...." Aku hanya menanggapi pendek. Jadi itu yang membuat Mama tadi pagi nangis.
"Mama, entah kenapa dulu, sering marah-marah pada Kak Zian. Almarhum Papa sering menegur Mama agar tidak terlalu keras pada Kak Zian, akibatnya mereka sering bertengkar. Kak Zian, anak yang pendiam dan penurut, hanya ... Mama sering menyalahkan Kak Zian untuk hal-hal kecil. Beda perlakuan Mama padaku yang begitu lembut."
“Hm, jadi begitu ceritanya.”
“Iya, makanya ... aku yakin, Kak Zian tidak mengambil mas kawin kita.” Mas menatap dua mataku. Aku menunduk, tak ingin ketahuan kalau sedang berbohong besar.
❤❤❤
Keesokan harinya setelah Mas Raka ke pabrik tekstil yang baru dibukanya, aku memilih tinggal di kamar.
Sebenarnya bosan hampir setengah hari berdiam di kamar. Tapi, aku mencoba tidak keluar kamar. Pun saat Ina mengetuk pintu memberitahukan kalau makan siang sudah siap.
"Ina, bawakan saja makan siangku ke kamar ya," kataku pada Ina sambil membuka pintu.
"Iya baik, Non." Ina mengangguk. Baru saja Ina melangkah, aku berubah pikiran, kalau aku makan siang di dalam kamar, Mama nanti tambah curiga.
"Ina, Ina!"
"Ya, Non." Ina berbalik.
"Aku tidak jadi makan di kamar, aku akan turun sebentar lagi."
__ADS_1
"Baik, Non."
Terpaksa aku turun ke dapur. Mengira Mama sudah menungguku, tapi di dapur Mama belum ada.
Menu makan siang sudah tertata di meja. Aku duduk, melihat menu makan siang lengkap itu. Ada perkedel juga. Salah satu makanan favoritku.
"Mama mana?"
"Nyonya keluar, Non. Pergi pengajian rutin."
"Oh ... iya, hm ... ya sudah aku makan sendirian, nih." Kucomot perkedel dan menggigitnya.
"Makan siangnya bareng ... Mas Zian, Non." Ina mengatakan itu tepat saat si nyebelin datang ke dapur. Wangi parfumnya memenuhi hidung.
Aku cuek, mengunyah perkedel ... dan perkedel yang aku makan bukan perkedel kentang tapi perkedel ... singkong!
"Ini perkedel singkong?" Aku buru-buru bangun dan menuju tempat sampah. Melepihkan dan membuangnya.
"Iya, kenapa, Non? I-itu buatan Mas Zian." Ina bicara pelan.
Buatan Kak Zian? Hah?
"Ih, gak enak banget!" Aku berkata tanpa perasaan. Persis saat Kak Zian menyemburkan pizza buatanku. Rasain!
Kak Zian terlihat menggaruk kepalanya. Dia kemudian menggulung kemejanya dan duduk. "Maaf kalau tidak enak."
Ngapain ngucapin maaf segala?
"Aku gak suka singkong. Aku sukanya keju!" Aku mencibir.
"Wah jadi mirip lagu, Non. Aku suka singkong, kau suka keju." Ina tiba-tiba melucu, sambil menuang air ke gelas.
Bik Fatma yang ada di dapur ikut menimpali sambil nyanyi. "Aku suka jaipong, kau suka disko, oy ... oy!"
"Ina, Bik Fatma! Ini buka dapur rekaman, jangan nyanyi gak jelas!" Kumarahi saja Bi Fatma dan anaknya itu.
"Ma-af, Non. Kami hanya bercanda." Bi Fatma menangkup dua tangan depan dadanya. Senyumnya seketika sirna.
"Aku ini majikan, apa pantas pembantu bercanda seperti itu?!" Aku semakin ketus. Melirik Kak Zian yang tidak bersuara. Dia mengambil nasi ke piring, dan dua buah perkedel singkong buatannya.
"Maaf, Non." Ina menunduk.
"Aku gak jadi makan! Mau pesan online saja!" Aku akan berbalik, sialnya lengan malah menyenggol cobek dari batu. Dan ....
"Awwww!" teriakku. Cobek batu jatuh dan kena kaki kiriku. Rasanya sakit banget. Kakiku serasa remuk, bahkan jempol kakiku langsung berdarah.
__ADS_1
Bersambung