Kakak Ipar Melihat Auratku

Kakak Ipar Melihat Auratku
Cacat


__ADS_3

"Jangan suka marah-marah, Faizara ...," kata Kak Zian pelan. Napas hangatnya berembus ke pipiku. Bulu romaku merinding. Jantungku berpacu cepat. Aliran darahku memanas.


Kak Zian yang tepat berada di belakang tubuhku, posisinya masih seperti memelukku dari belakang. Sesaat aku tercekat dan kesulitan menelan ludah.


"Waaaa ... kucari Mbak, ternyata lagi bersama Kak Zian. E cieeee, kalian lagi ngapain? Maaf mengganggu." Naya ternyata mencariku sampai ke rooftop.


Aku membetulkan posisi berdiriku setelah Kak Zian melepas pegangannya. Dia tampak salah tingkah karena ada Naya.


"Apa sih, Nay? Aku barusan mau jatuh ...."


"Terus aku menangkap tubuh Faizara," lanjut Kak Zian menjelaskan sambil menggaruk rambutnya.


"Iya, Kak. Aku yang minta maaf karena mengganggu kalian, silakan dilanjutkan." Naya tersenyum penuh arti, dia lalu berbalik.


"Tunggu, Nay!" Aku berlari kecil ke arah Naya. "Ayo bantu aku beres-beres pakaian." Kugandeng lengan Naya. Berusaha menormalkan debaran jantungku.


"Loh, Mbak kok mau ikut turun, terus Kak Zian ditinggal sendirian?" Naya masih menoleh pada Kak Zian.


"Silakan, Dek Naya. Nggak apa-apa," ucap Kak Zian.


"Sudah, ayo!" Semakin cepat kutarik lengan Naya. Turun ke lantai dua, dan masuk ke kamar Mas Raka. Debaran jantungku tetap belum normal, huh! Kak Zian main peluk-peluk aja! Dasar emang dia suka mengambil kesempatan dalam kesempitan!


❤❤❤


Pakaianku satu persatu kumasukkan dalam kopor. Nyesek rasanya melihat baju-baju Mas Raka di dalam lemari masih tertata rapi. Kata Mama mertua, baju-baju yang masih bagus itu akan disedekahkan.


Kuambil satu bajunya Mas Raka lalu memeluk di dada. Seolah-olah memeluk suamiku, sambil berlinang air mata.


Naya mengelus pundakku.


"Mbak jangan sedih ...."


"Aku masih seperti mimpi ditinggalkan Mas Raka untuk selamanya." Aku sesenggukan, air mataku jatuh pada kemeja Mas Raka yang kupeluk dan kuciumi.


"Mbak, Kak Zian begitu perhatian pada Mbak. Yakin Mbak lebih memilih Kak Reno daripada Kak Zian?" tanya Naya. Meragukan pilihanku.


"Aku lagi sedih, kenapa bahas Kak Zian? Aku tetap memilih Reno, Nay." Aku tetap pada keegoisanku.


Naya membantu memasukkan beberapa aksesorisku.


"Kak Zian, dia berusaha memenuhi keinginan terakhir Mas Raka untuk menjaga Mbak. Mbak yang tidak mau, sungguh amat disayangkan," keluh Naya.


"Keputusanku sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat, Nay."


Naya selalu terlihat kecewa mendengar ucapanku yang tetap tidak goyah meski Naya mengingatkan kalau Mas Raka yang meminta Kak Zian untuk menikahiku.

__ADS_1


"Kasian aku sama Kak Zian ...." Naya berkata lesu.


"Aku tidak kasihan padanya, aku kasihan pada diriku sendiri dan akan mencari kebahagiaanku sendiri. Jadi, sudahi membahas topik ini."


Naya hanya mendesah berat.


Selesai memasukkan pakaian pada kopor, aku turun. Berlama-lama di kamar Mas semakin membuatku sedih.


Kedua orang tuaku menunggu di ruang tengah. Ada mama mertua, Kak Zian, dan Aris. Inilah saatnya aku untuk berpamitan.


"Saya pamit, Ma." Suaraku bergetar.


Aku bersalaman pada Mama mertua, beliau memelukku sambil menangis.


"Iya, datanglah ke sini kapan pun kamu mau, Nak. Kamu tetaplah anakku."


Kami sama-sama menangis.


"Iya, Ma. Terima kasih selama ini sudah perhatian dan menyayangi saya."


"Sama-sama, Nak."


Aku melerai pelukan. Mengusap air mata di pipi mama mertuaku, sebaliknya beliau juga melakukan hal yang sama. Mengusap air mata di kedua pipiku.


"Dek, Kak ... aku pamit," ucapku menoleh pada Aris dan Kak Zian sambil menangkupkan dua tangan di depan dada. Aku masih punya sopan santun, meski sebal sama Kak Zian, aku tetap berpamitan padanya.


Kami pun pamit. Mama mertua, Aris, dan Kak Zian mengantar kami sampai teras.


Aku membawa mobil sendiri. Mama, Papa, dan Naya pakai mobil yang satunya lagi di belakang mobilku.


Sambil menangis, mobil kulajukan keluar dari pintu gerbang rumah Mas Raka, langsung dengan kecepatan tinggi seiring ruang rasaku yang teramat sesak.


Bunyi benturan sangat keras dan rasa sakit yang teramat sangat di bagian kakiku membuatku langsung tersadar. Bagian depan mobilku ditabrak bus!


Tak konsentrasi menyetir, ditambah mata buram karena berlinang air mata, keluar dari pintu gerbang, aku kebablasan membawa mobil dengan tidak mengerem, meluncur cepat, tidak menoleh kanan kiri sehingga bus yang melaju kencang juga tidak sempat mengerem dan menabrak bagian depan mobilku.


Aku berteriak. Kaget dan takut. Apalagi mobilku keluar asap. Kakiku terjepit, tidak bisa bergerak. Sakitnya luar biasa.


Suara-suara banyak orang, datang melihat. Kudengar jeritan Mama, suara Papa memanggil namaku, juga suara Naya yang mengucap istigfar.


Pintu mobil yang penyok dibuka. Kak Zian melongok dan mengulurkan dua tangannya. Dengan gerakan cepat, membopongku keluar dari mobil. Naya mengikuti, disusul Papa dan Mama.


Spontan, kulingkarkan dua tanganku ke leher Kak Zian yang berlari ke arah mobil Papa. Kepalaku kliyengan, rasa sakit tak tertahankan di bagian kaki.


"Bertahanlah, Fai. Kita ke rumah sakit!"

__ADS_1


Kak Zian melihat pada wajahku. Ada kekhawatiran dari dua mata elang itu ....


Di jok tengah, Kak Zian memangku dua kakiku, darah yang terus keluar dari betis dan kakiku mengotori celana putih Kak Zian.


Kepalaku menyandar pada Naya, dia mengucap istigfar berkali-kali dan terus menenangkanku.


❤❤❤


"Jadi saya akan cacat seumur hidup, Dok? Saya tidak akan bisa jalan lagi?" Aku menangis sejadi-jadinya setelah tahu kaki kiriku patah. Cobaan apa lagi ini.


Cobaan berat yang bertubi-tubi membuat jiwaku labil.


"Tenang, Mbak jangan berpikiran negatif, yakinlah kaki Mbak akan bisa pulih kembali." Dokter memasang perban, melilit luka yang teramat sakit.


Kupegang terus tangan Mama. Papa mengusap kepalaku, memberikan semangat. Kak Zian juga ikut menemani di UGD.


Saat dipindahkah ke kamar rawat, aku terus menangis. Membayangkan seumur hidup hanya duduk di kursi roda ....


Reno datang, dia menyapa orang tuaku, lalu bergegas mendatangiku.


“Gimana keadaanmu, Sayang?” Reno bertanya khawatir.


“Kakiku kiriku patah, Ren. Bakalan lama sembuhnya, jika sembuh pun, kemungkinan aku akan pincang. Apa kamu mau nantinya punya istri pincang?” Tangisku kembali pecah.


Reno memegang tanganku dan menciumnya. “Seperti apa pun keadaanmu, aku akan terima, Faiza ....”


Reno kembali mencium tanganku. Lama. Aku tahu dia bersungguh-sungguh dengan perkataannya.


Kulihat Kak Zian mundur perlahan-lahan, lalu keluar. Sejak saat itu, Kak Zian tidak balik lagi ke rumah sakit.


Seminggu di rawat, aku diperbolehkan pulang dan akan dirawat di rumah. Saat Mama mertua dan Aris datang menjenguk, Kak Zian tidak ikut. Karena, kata mama mertua, Kak Zian sudah pulang ke rumah neneknya.


❤❤❤


"Mbak, kayaknya Kak Zian sedang galau, atau sedang patah hati," kata Naya saat aku duduk sendirian di atas kursi roda di teras samping. Menatap nanar bunga mawar yang bermekaran.


Sedih, sekarang aku tidak bisa ke mana-mana lagi. Tambah sumpek karena Naya datang dan membicarakan Kak Zian.


"Apa hubungannya denganku? Mau dia galau dan sedih, itu bukan urusanku. Kamu tidak lihat kondisiku sudah seperti ini, malah membahas Kak Zian." Aku sewot.


"Hm, begitu, ya? Tapi ... Kak Zian galau ada hubungannya dengan Mbak deh, coba lihat status WA-nya, Kak Zian jarang update status, kemarin dia bikin status begini." Naya memperlihatkan ponselnya ke hadapanku. Aku membacanya.


💔Aku pulang. Semoga kamu cepat sehat dan selalu berbahagia.


Begitu isi status WA Kak Zian. Seperti tertuju padaku....

__ADS_1


"Lebay!" Aku menyingkirkan ponsel Naya. Buat apa sih, dia bikin status WA begitu? Kayak cari perhatian padaku saja! Huh!


Bersambung


__ADS_2