Kakak Ipar Melihat Auratku

Kakak Ipar Melihat Auratku
Bersama Kak Zian


__ADS_3

"Ya Allah, Non!" Bi Fatma segera membantu menyingkirkan cobek di dekat kakiku. Ina memegang lenganku karena aku berdiri tak seimbang.


Kak Zian juga berjalan mendekat. Melihat ke arah kakiku.


"Aku tak butuh obat merah dan perban! Aku butuh dipanggilkan dokter!" sindirku pedas, tak ingin Kak Zian sok perhatian lagi.


"I-iya, Non. Bibik telpon dokter Lia," ucap Bi Fatma.


Sumpah, bagian jempol kaki kiri sakit banget, aku berteriak kesal. "Semua ini gara-gara kalian! Perawatan kuku kaki ini mahal tau!"


Aku nelangsa, melihat jempol kaki kiri terus mengeluarkan darah dan kukunya sepertinya ... akan copot.


Kak Zian mundur, dia kembali duduk di kursi dan melanjutkan makan.


"Sabar, Non, sabar," bujuk Ina karena aku terus uring-uringan sambil dituntun ke ruang tengah.


"Sabar, sabar! Sakit tau! Kamu ini pinter banget nasehatin!" Aku masih marah, Ina menunduk dengan wajah segan.


"Dokter Lia masih bertugas di rumah sakit, Non. Jadi gak bisa datang." Bi Fatma memberitahukan.


"Apa gak ada dokter lain? Duh ... kalau terlalu lama menunggu kakiku bisa-bisa kena infeksi," sungutku sambil terus mengaduh karena jempol kakiku semakin sakit.


Ina mengambil tisu hendak membersihkan darahnya tapi malah kena ke lukanya.


"Ina, hati-hati, dong!" Kali ini air mataku menetes tak kuat menahan sakit.


"Maaf, Non."


"Gimana kondisi kakinya, Fai?" 


Kak Zian datang dari arah dapur. Aku melengos. Tak sudi menjawab pertanyaannya.


"Sudah panggil dokter, kan?" Kak Zian kembali bertanya.


Aku masih mengaduh, mengabaikan pertanyaan Kak Zian. 


“Sudah Mas, tapi dokternya pada sibuk.” Ina yang menjawab pertanyaan Kak Zian. 


Bi Fatma menghubungi dokter lain, hanya saja, jam segini, dokter sibuk dengan pekerjaan masing-masing. 


"Gak bisa semua, Non."


"Huh! Gimana, sih!" gerutuku kesal sambil menangis.


"Gimana kalau kuku ini benar-benar copot?!"


Kak Zian masih diam mematung. Bi Fatma tiba-tiba mengusulkan, "Kalau dibawa ke puskesmas bisa minta antar pada Mas Zian, Non."


"Nggak, aku gak mau mengantre di sana!" Aku langsung menjawab kasar. Enak saja nyuruh aku bareng Kak Zian!


Aku lalu menghubungi Mas Raka via vidio call sambil menangis. 


"Sayang kenapa, ada apa?" tanya Mas Raka.


"Kakiku kejatuhan cobek batu, Mas ... kukunya hampir copot."


"Ya Allah, sudah hubungi dokter?" 


"Iya, sudah, tapi gak ada yang bisa semua."


"Loh, segera bawa ke rumah sakit saja."


"Mobilnya gak ada, Pak Salim nganter Mama pengajian. Ini tuh sakit banget, Mas."


"Minta antar Kak Zian dulu, ya. Soalnya aku posisi masih menunggu teman ini, sudah janjian soalnya. Kalau di-cancel, gak enak juga. Ya, Sayang ... bareng Kak Zian.”


Duh! Mas Raka juga menyarankan bareng Kak Zian? Tidak, tidak ....


"Ngg ... nggak usah, Mas. Mau nunggu mobil saja." Jadi tambah runyam kalau disuruh bareng Kak Zian. Males!

__ADS_1


"Katanya sakit, gak apa-apa, kok bareng Kak Zian." Mas Raka memberi izin dan agak memaksa. 


"Iya bareng Mas Zian saja, Mbak," dukung Ina. Aku mendelik padanya membuat Ina menunduk.


"Kak Zian ada di situ, kan? Bareng Kakak ya, aku khawatir kamu kenapa-napa." Mas Raka kembali membujukku. 


Aku menggelengkan kepala. “Tidak, Mas. Biar aku nunggu sampai Mama pulang saja.”


“Tapi, Sayang ... lukanya harus segera diobati, kan? Rumah sakit gak begitu jauh, kok. Daripada lukanya didiemin.” Mas Raka terus memaksa agar aku bersama Kak Zian.


Bagaimana ini?


Aku menggelengkan kepala, bimbang juga. Darahnya terus mengucur dari jempol kaki.


“Bareng Kak Zian ya, Sayang ... oke.”


Mas Raka kok terus memaksa ya?


“Aku akan panggil taksi," usul Kak Zian. Siapa juga yang mau minta antar padanya, kagak sudi aku!


“Oh, mau pakai taksi, ya boleh juga, Kak." Mas Raka pun setuju.


“Iya pakai taksi saja, biar diantar  Ina.” Aku merasa selamat, gak kebayang harus dibonceng sama Kak Zian pakai motor gedenya. Ogah!


❤❤❤


Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, aku ngomel-ngomel pada Ina. 


“Ngapain kamu dan Bi Fatma barusan ikut menyuruhku bersama Kak Zian ke rumah sakit, hah?”


“Kan cuma saran, Non ....”


“Saran, saran! Tak perlu pembantu ikut campur, tau!” Aku gusar.


“I-iya, maaf kalau gitu, Non.”


Dari rumah ke rumah sakit cuma sekitar sepuluh menit. Begitu keluar dari taksi, apesnya aku kesandung batu membuat lukaku sangat sakit.


“Ina! Bukannya pegangin aku, huh! Pembantu kok kurang sigap!" Aku langsung emosi. Ina yang ada di belakangku segera memegang lenganku.


Di rumah sakit, aku menunggu giliran, paling malas kalau mengantre, mana perut lapar lagi.


Kusuruh Ina membeli minuman dan roti.


Menunggu sampai agak sore membuatku kelelahan. Begitu selesai mendapat penanganan dari dokter. Kami segera pulang.


Sampai di rumah, obat dari dokter segera aku minum setelah Ina mengambilkan air.


Duduk di ruang tengah ini, sekalian aku mau menunggu Mas Raka pulang. Aku merasa sangat-sangat mengantuk. Pasti efek obat yang aku minum, pikirku.


“Non Faizara mau tidur di sini, atau saya antar ke lantai atas?” tanya Bi Fatma.


“Aku mau ke kamar,” sahutku lemah. Berasa sudah sangat ingin tidur.


Aku mencoba bangun, Bi Fatma membatu memegang dua lenganku. Tapi   aku benar-benar tidak kuat, kembali menjatuhkan tubuh ke sofa.


Mataku pun langsung terpejam.


"Non, katanya mau ke kamar?"


Aku tak sanggup menjawab pertanyaan Bi Fatma. Yang aku inginkan sekarang adalah tidur.


“Kenapa Fai, Bik?” Suara Kak Zian.


“Sepertinya Non Fai mengantuk, Mas."


“Fai tadi sebelum ke rumah sakit masih terlihat baik-baik saja, sekarang kenapa dia jadi lemas begini?” tanya Kak Zian. Suaranya sangat berisik.


“Pasti dia ngantuk karena mengantre cukup lama di rumah sakit, Mas.” Ina menjelaskan. Aku bisa mendengar suara-suara di sekitarku.

__ADS_1


"Tidak mungkin karena itu, apa yang dia makan dan minum sebelum ini?" Entah apa yang dipikirkan Kak Zian. Apa dia kira aku keracunan?


"Minum obat dari dokter, di rumah sakit makan roti dan camilan," sahut Ina.


"Fai ... kamu nggak apa-apa, kan?" Kak Zian suaranya semakin dekat ke arahku. 


"Nggak apa-apa, Mas. Pasti hanya karena kelelahan," sahut Ina menjawab kekhawatiran Kak Zian.


"Nggak apa-apa bagaimana, Ina? Faizara bukan tidur tapi pingsan!" 


Pingsan? Aku tidak pingsan. Aku bisa mendengar suara-suara di sekelilingku, tapi mata rasanya berat.


"Tidur kok, Mas. Dan lebih baik Non Fai istirahat, karena kalau nggak ... dia suka marah-marah, orangnya egois, angkuh juga. Suka menyalahkan orang lain. Menantu baru sikapnya arogan banget."


Ina! Berani-beraninya dia bilang begitu?! Ingin rasanya kusumpal mulut Ina, sayang sekali aku tidak punya tenaga dan tidak bisa membuka mata.


"Dia pingsan." Suara Kak Zian lagi. 


Setelah mendengar kalimat itu dari Kak Zian. Tubuhku seperti melayang sesaat, dan aku merasa Kak Zian sedang membopongku. Bisa kurasakan wangi parfumnya, bisa merasakan detak jantungnya karena telingaku menempel di dadanya.


"Hei ... ngapain kamu bopong aku! Turunkan! Turunkan tubuhku!" Aku berteriak. Tapi seolah-olah Kak Zian tidak mendengar suaraku.


"Turunkan aku! Aku ini istri adikmu!'


Kak Zian tetap melangkah membawaku naik tangga. Apa dia tidak mendengar suaraku? Padahal aku berteriak sekencang mungkin. Ingin kubuka mata tapi masih tidak bisa.


Aku sangat marah padanya, kupukul saja dadanya kuat-kuat. "Turunkan aku! Turunkan akuuuuuu!"


Kak Zian tak kunjung menurunkan aku. Aku semakin emosi. "Turunkan! Turunkan!"


"Faizara ... Sayang! Faizara istriku ...."


"Turunkan! Dasar ipar gak ada akhlak!"


"Sayang, bangunlah ... sudah Magrib. Ipar mana yang nggak ada akhlak?" Lamat-lamat kudengar suara Mas Raka. Mas Raka sepertinya memegang dua tanganku yang mengepal ingin terus memukul dada Kak Zian.


Napasku memburu, rasanya gerah sekali, tenggorokanku terasa kering karena berteriak kencang.


Aku membuka mata ....


Ada wajah Mas Raka di dekat wajahku. Kulihat sekeliling. Ini di kamar Mas Raka.


"Mas, ke-napa a-ku ada di kamar? Bukannya aku tidur di sofa ruang tengah? Siapa yang membopongku ke sini?" Aku langsung duduk menyadari sudah ada di kasur. Panik!


Mulut mengeluarkan banyak pertanyaan dalam kondisi bingung karena sukma belum terkumpul semua. Bukankah barusan kakak ipar tak tahu diri itu yang membopongku ke kamar ini?


Mas Raka tersenyum. "Aku yang membopongmu ...."


"Bu-bukan Kak Zi ...." Aku tidak melanjutkan kalimatku.


"Bukan Kak Zian." Mas Raka menggeleng, seperti paham apa yang ingin kutanyakan.


Aku mengatur napas. "Mas nggak bohong kan? Bukan Kak Zian yang membopongku ke sini?"


Aku mengucek mata, tak percaya dengan ucapan suamiku. Jika itu mimpi, kok rasanya begitu nyata?


"Nggak lah, Sayang. Mana mungkin Kak Zian membopongmu?" Mas Raka menangkup wajahku. "Kamu hanya sedang bermimpi."


Mas Raka mengecup keningku, lalu mengusap keringat di dahiku.


Hanya mimpi, hanya mimpi ... Kak Zian tidak membopongku.


Aku meyakinkan diriku sendiri, diam-diam kucubit lenganku. Rasanya sakit. Aku mengembuskan napas lega.


"Iya, Mas, hanya mimpi," ucapku lalu memeluk Mas Raka. Amit-amit, jangan sampai Kak Zian membopongku seperti dalam mimpi barusan.


Mimpi yang sangat ngeselin, bisa-bisanya pria tak tahu diri itu masuk dalam mimpiku. Ini sudah sangat menggangu kenyamanku.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2