
"Fai, manusia itu tempatnya salah dan lupa. Manusia juga punya kelebihan dan kekurangan. Sejak mengirimu surat itu, aku tau kamu marah dan benci padaku. Padahal aku mengingatkan yang baik. Aku heran juga waktu itu, kenapa istrinya Raka sangat keras kepala. Apalagi selepas kepergian Raka, kamu semakin garang saja. Aku mencoba memaklumi dan bersabar karena kamu stres setelah meninggalnya Raka. Aku, memaafkanmu ... asalkan kamu benar-benar sudah berubah dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Jadikan kejadian yang telah berlalu itu pelajaran untuk lebih baik ke depannya."
Kak Zian memaafkanku, dengan memberi wejangan juga.
"Terima kasih, Kak." Aku menangkupkan dua tangan depan dada. Ada rasa lega yang menjalari hatiku. Kak Zian memaafkanku. Alhamdulillah.
"Sama-sama, Fai. Aku tau, pilihan Raka tak mungkin salah. Kamu wanita baik, hanya mungkin agak manja dan keras kepala." Kak Zian balas menangkupkan dua tangannya di depan dadanya.
"Terima kasih sekali lagi, Kak. Maaf aku garuk-garuk terus." Sambil garuk-garuk aku melihat ke atas, pada pohon tinggi yang buahnya lebat, ada yang merah dan ada yang sudah hitam.
"Iya, nanti di rumah biar dikasih minyak. Nenek punya minyak, sudah turun temurun minyak itu digunakan, kalau ada tetangga yang kena gatal-gatal, korengan, biasanya minta ke Nenek."
"O ya? minyak apa itu, Kak?" Aku beralih melihat wajah Kak Zian.
"Nggak tau juga. Minyak itu Nenek tambahin minyak kelapa asli. Jadi tidak boleh sampai habis. Mungkin orang zaman dulu, mengambil minyak itu dari tumbuhan apa, aku nggak ngerti juga. Kayak ada akarnya gitu, Fai. Biasanya ampuh mengobati gatal-gatal."
"Ya, nanti Fai cobain, siapa tau bisa sembuh." Aku melihat ke atas lagi.
"Kenapa, Fai. Kamu mau buat juwet?" tanya Kak Zian.
"Juwet? Aku baru kali ini lihat buahnya Kak. Karena tinggal di kota, jadi tidak tau buah juwet."
"Oh, kalau aku sejak kecil sudah menjadikan juwet itu camilan. Aku manjat dulu, ya." Kak Zian bangun dan berjalan menghampiri pohon tinggi itu. Dengan cekatan kemudian dia pun naik.
"Banyak semut merahya, Fai." Kak Zian mengibaskan tangan ke lengannya.
"Nggak usah kalau banyak semutnya, Kak," ucapku sambil terus melihat ke atas. Kak Zian mengambil satu ranting yang banyak buahnya. Buah itu sudah hitam.
"Nggak apa-apa." Kak Zian bergegas turun. Sampai di bawah di berlari kecil ke arahku, menyerahkan buah juwetnya.
Dia sendiri kemudian berjalan menjauhiku, mengibas-ngibaskan tangan ke dada, ke punggung, ke rambutnya mengusir semut-semut merah yang berjalan di bagian tubuhnya.
"Aduh, aduh!" Kak Zian melompat-lompat, tangannya sibuk mengusir semut merah.
Aku menahan tawa melihat tingkah Kak Zian. Tapi, tawaku kemudian keluar juga. Tawa lepas yang tak pernah menghiasi hari-hariku sejak kematian Mas Raka.
Kak Zian melihat ke arahku, dia ikut tertawa sambil bilang, "Ini demi kamu aku sampai dirubung semut, Fai ...."
"Siapa suruh Kakak mengambil juwet!" Aku tak dapat menghentikan tawaku. Nenek sampai melihat ke arah kami dan ikut tersenyum.
Perasaan lega dan damai semakin menghiasi hatiku. Aku sampai lupa untuk menggaruk gatal-gatalku. Beban yang mengimpitku seakan hilang, rasa sedihku juga sejenak aku lupakan. Kenapa aku merasa damai dan bahagia ada di sini?
Kak Zian terus mengibas-ngibaskan tangan ke badannya. Aku masih tertawa sampai perut terasa sakit.
__ADS_1
"Pindah, Kak, jangan di situ." Kupegangi perut, mengontrol tawa agar reda karena kasihan melihat Kak Zian.
Dia lalu berjalan ke arahku. "Iya, nih ... semutnya nakal."
"Kak ...."
"Hm?"
Kak Zian mendongak, manik matanya yang coklat menjurus ke wajahku.
"Itu, semutnya masih ada di rambutnya." Aku menunjuk rambut Kak Zian.
"Oh." Dia mengusap rambutnya. Satu semut merah itu malah berjalan ke arah telinganya.
"Kak, semutnya pindah ke telinga kananmu. Awas masuk telinga!"
Tangan Kak Zian beralih ke telinga. Semut itu dengan cepat berjalan ke dahi Kak Zian. Kak Zian mengusap seluruh wajahnya. Semut itu begitu lihai, tak jatuh meski disentuh tangan Kak Zian.
"Sini aku bantu ambil semutnya, Kak." Aku melangkah maju. Akan mengambil semut yang berjalan di pipi Kak Zian. Semut itu berjalan turun tepat saat kuulurkan tangan.
Semut merah sampai di bibir Kak Zian, jariku berhasil mengambilnya. Tentu saja, tanganku menyentuh bibirnya. Sejenak pandangan kami bertemu, lalu kami sama-sama tersenyum.
"Ini nih, semut nakalnya," ucapku sambil membuang semut itu. Sekaligus mengusir grogi berada dekat dengan Kak Zian.
Aku mengambil satu buah juwet, memakannya setelah ikut duduk di rumput.
"Rasanya manis, ada sedikit asem dan sepetnya. Tapi, lebih dominan rasa manisnya, lumayan." Aku me-review juwet yang aku makan.
"Kamu suka?" tanya Kak Zian.
Dia menoleh. Aku juga menoleh padanya sambil mengangguk. "Aku suka Kakak."
"Maksudnya? Kamu suka juwetnya, kan?" tanya Kak Zian lagi.
"Suka Kakak." Aku mengernyitkan kening karena Kak Zian tertawa pelan setelah mendengar jawabanku.
"Suka, Kakak. Seharusnya kamu bilang begitu, kasih jeda atau tanda koma. Kalau jawabnya suka kakak ... bisa-bisa aku ge-er." Kak Zian masih tertawa. Dia mengajak bercanda rupanya.
Aku kembali mengambil satu buah juwet, kalimat Kak Zian membuat wajahku memanas. "Dikira aku suka sama yang ngambilin juwetnya?" Aku bertanya pelan, malu juga karena Kak Zian tertawa kecil mendengar kalimatku.
"Guyon, Fai. Aku senang karena kamu suka makan juwet, eh gimana kabarnya Reno. Kapan kalian menikah?" Kak Zian langsung mengubah topik pembicaraan.
Kenapa Kak Zian masih bertanya tentang Reno, apa Naya tidak bercerita pada Kak Zian kalau aku sudah tidak berhubungan dengan Reno lagi?
__ADS_1
Aku tidak menjawab, suasana hatiku berubah tidak enak kalau membahas Reno.
"Maaf, Fai. Barusan aku cuma bercanda, jangan diambil hati. Maaf kalau bercandaku keterlaluan. Aku tau, kamu dan Reno sudah bersahabat lama. Reno pastinya sangat mencintaimu. Kamu juga pasti mencintai Reno. Kalian saling suka dan saling mencintai. Jangan lupa undang aku kalau kalian mau ke pelaminan, ya ...."
Kak Zian minta maaf lagi. Mungkin dikira aku marah karena guyonannya.
Jadi, Kak Zian tidak tahu kalau aku tidak menerima Reno?
"Aku dan Reno sudah tak ada hubungan apa-apa, Kak." Aku menggeleng.
"Oh. Maaf, Fai. Aku tidak tau. Kukira kamu dan Reno sudah merencanakan pernikahan."
"Nggak, Kak. Aku takut diselingkuhin kalau jadi nikah sama Reno, sekarang saja dia masih gonta-ganti pasangan."
Kak Zian melepas napas panjang, seperti ikut lega. "Syukurlah, semoga kamu nantinya dapat pasangan yang bisa menjagamu, membahagiakanmu, setia, dan saleh." Kak Zian memandang ke arah langit.
"Sekarang tubuhku penyakitan, wajahku juga jelek. Siapa yang mau sama aku, para pria pasti jijik melihatku."
Aku menunduk, memegang satu buah juwet, tak jadi memakannya.
"Kata siapa tidak ada pria yang mau sama kamu? Ada kok, Fai ...."
Kami saling pandang sejenak. Ingin bertanya siapa yang mau sama aku? Malu, takutnya dikira memancing pembicaraan.
"Kak, kita pulang, yuk. Kasihan Pak Adam sendirian."
Kak Zian mengangguk. "Oke. Nek, ayo kita pulang ...."
Nenek menoleh. "Iya, ayo ...."
❤❤❤
Nenek menyiapkan makan siang untuk Pak Adam. Setelah itu beliau katanya menghangatkan minyak untuk gatal-gatal agar bisa secepatnya dioles ke badanku.
Aku menunggu di ruang tamu. Kak Zian mandi, dan salat Zuhur. Keluar dari kamarnya, Kak Zian masih memakai baju koko dan sarung serta kopiah hitam. Wajah Kak Zian terlihat bersih dan berseri. Dia duduk mengobrol dengan Pak Adam.
Aku kesulitan mengontrol mata. Saat Kak Zian bicara, aku melihat ke arahnya. Pria itu begitu sopan, baik, dan tampan. Pasti banyak wanita yang mengidamkannya di daerah sini. Tapi, kenapa Kak Zian masih betah melajang?
Aku ikut tersenyum saat Kak Zian tertawa renyah mendengar cerita Pak Adam.
Memandang Kak Zian, rasanya tak ada bosannya. Wajahnya meneduhkan dengan mata elang yang dinaungi alis tebal, hidungnya mancung, bentuk rahangnya kokoh, pokoknya wajahnya laki banget. Ditambah bentuk badannya bagus karena dia pekerja keras.
Aku segera menunduk saat Kak Zian tiba-tiba melihat padaku. Tak ingin ketahuan kalau aku ... mulai mengagumi dirinya.
__ADS_1
Bersambung