
Sampai di tempat kejadian, orang-orang banyak berkerumun tapi belum ada yang turun untuk menolong Faizara dan Pak Adam. Seperti punya kekuatan lebih, aku turun ke jurang curam itu, diikuti beberapa orang yang ikut turun.
"Fai! Pak Adam!" teriakku melihat kobaran api di mobil depan, takut itu mobil meledak. Tak dapat membayangkan jika itu terjadi. Tubuh Pak Adam dan Faizara bisa hancur.
Sampai di bawah, api yang semakin besar membakar bagian depan mobil. Pak Adam dan Faizara tidak bisa aku lihat dari besarnya kobaran api.
"Ya Allah! Bertahanlah, Fai ... Pak Adam ...."
Aku berteriak sampai serak. Membuka jaket, mendekat ke mobil.
"Zian, hati-hati!" pekik warga yang tak berani mendekat.
Aku nekat, membuka jaket. Mengibas-ngibaskannya pada api yang membakar pintu mobil. Panasnya sungguh luar biasa. Tak dapat kubayangkan bagaimana bila ada di posisi Pak Adam dan Faizara.
Faizara pakaiannya sudah dilalap api. Matanya terpejam dengan luka di sana sini.
"Fai!" Kupanggil namanya, tak ada sahutan darinya. Kulihat Pak Adam mengerang kesakitan dan kepanasan. Ya Allah....
"Sebentar, Pak! Fai, aku akan menolongmu!" Suaraku bergetar, dilanda kekhawatiran yang sangat.
Segera kukeluarkan badan Faizara dengan menembus api. Bau hangus dari badannya membuatku sangat khawatir. Apalagi tak ada respons darinya.
Aku terus membaca istigfar. Tak pernah kita ketahui kapan datangnya musibah. Faizara dan Pak Adam sepuluh menit yang lalu tersenyum bahagia saat pulang dari rumah, sekarang mereka terluka parah.
Setelah pelan-pelan meletakkan Faizara di rumput, barulah aku menolong Pak Adam.
Ya Allah! Luka bakar di tubuh Pak Adam tak kalah mengerikan. Pria itu bagian kaki sampai pahanya sudah tampak gosong. Kuharap Faizara dan Pak Adam bisa diselamatkan.
❤❤❤
"Fai, kamu harus kuat," lirihku dengan hati pilu saat sudah berada di mobil ambulans Puskesmas menuju rumah sakit karena di Puskesmas daerahku tak bisa menangani Faizara dan Pak Adam yang sama-sama kritis.
Faizara napasnya dibantu oksigen. Dia masih terpejam, tidak bergerak sama sekali. Jilbab dan rambutnya sudah tidak ada karena dilalap api, menyisakan kepalanya yang kini plontos.
Bayangan buruk melintas, di sebelah makam Raka, ada makam Faizara. Apakah mereka begitu saling mencintai?
__ADS_1
Astagfirullah, aku mengusap muka. Mencoba mengenyahkan bayangan buruk yang ada di pikiran. Sirene dua ambulans terdengar mengerikan di telingaku. Di mobil belakang, Pak Adam pastinya terus mengerang menahan sakit.
❤❤❤
Aku duduk dengan lesu di kursi tunggu. Faizara masih kritis, Pak Adam juga. Keduanya masih ditangani intensif oleh para dokter.
Aku sudah menelepon Naya, dia syok mendengar kabar ini. Dan sekarang bersama kedua orang tuanya dalam perjalanan ke rumah sakit.
Saat dokter keluar dari ruangan, aku berlari ke arahnya.
"Bagaimana kondisi, Faizara, Dok? Apa dia sudah sadar?"
Dokter pria itu menggeleng. "Belum, luka di kepalanya, cukup parah. Belum lagi luka bakar di sekujur tubuhnya, butuh waktu cukup lama untuk pulih."
Aku tambah lemas. Dalam hati berdoa semoga Faizara segera pulih.
Keluarga Faizara dan keluarga Pak Adam datang, raut kesedihan dan air mata seketika tumpah mengetahui kondisi yang cukup serius pada keduanya.
Aku ikut menginap di rumah sakit. Sehari, dua hari ... sampai Fai dipindah ke kamar rawat, dia tak kunjung siuman, sedangkan Pak Adam sudah bisa diajak bicara.
Mama juga datang menjenguk. Saat hanya berdua saja dengan Mama, kuungkapkan apa yang kurasakan.
"Fai datang ke rumah Nenek untuk minta maaf pada Zian, Ma. Dia juga meminta Zian segera melamarnya. Tapi, kejadian naas menimpanya," ceritaku sedih.
"Mama mengerti kesedihanmu, Nak. Kamu dan Raka sama-sama pemuda baik, Mama salut kamu berusaha memenuhi permintaan terakhir adikmu." Mama mengusap pundakku.
Iya, bisa saja aku memilih wanita lain untuk dijadikan istri, tapi itu tidak aku lakukan, aku selalu berdoa dan berharap Faizara sadar dan bisa menerimaku.
Namun, disaat apa yang kuharapkan jadi kenyataan. Ada ujian lain. Semoga semuanya akan baik-baik saja, aku dan Faizara nantinya bisa menyatu dalam pernikahan. Aku terus berharap yang terbaik akan jadi nyata.
❤❤❤
Tak kunjung siuman, Faizara dipindahkan ke rumah sakit yang lebih lengkap dan canggih peralatan medisnya tepat saat sebulan dia tak sadarkan diri.
Aku rela menemani, hanya sesekali pulang untuk melihat Nenek, seluruh pekerjaanku di ladang aku perkerjakan pada tetangga.
__ADS_1
Selepas salat tahajud di musala rumah sakit, aku keluar ke parkiran untuk membeli air mineral. Ada toko yang buka 24 jam di depan rumah sakit.
Tak sengaja aku mendengar isakan tangis seseorang yang duduk di dekat mobilnya. Seorang pria menunduk, dia seperti bicara sendirian.
"Fai ... sadarlah! Aku ikut sakit jika kamu seperti ini ...."
Aku melebarkan mata, Fai? Dia menyebut Fai? Aku tidak salah dengar, kan?
"Kamu boleh menolakku! Berbahagialah dengan siapa pun pilihanmu ... itu lebih baik daripada melihatmu koma ...."
Aku berhenti di dekatnya. Dan menebak siapa pria memakai jaket hitam ini. Aku baru menyadari mobil sport ini persis mobilnya Reno.
"Reno?" tanyaku.
Pria itu mendongak, air matanya memenuhi dua pipinya.
"Iya, ini aku. Faizara masih koma, kan? Ketahuilah, aku dan Faizara sahabatan sejak kecil, dan akulah pria yang selalu ada untuknya, aku pria yang sangat mencintainya, Zian!" Reno berkata penuh emosi sambil menggebrak mobilnya.
"Dia memilih kamu, kan? Dia memilih pria baik sebagaimana dulu dia memilih Raka. Dia tak ingin punya suami sepertiku, yang hidupnya tak karuan! Aku patah hati berkali-kali ... kubiarkan diriku hancur asal Faiza bahagia. Aku sakit .... sakiiit ... jika Faizara masih belum sadar, kapan dia akan siuman, Zian?"
Kubiarkan dia mengeluarkan isi hatinya. Ternyata, Reno ... cintanya begitu besar pada Faizara. Melihat Reno frustrasi begini, aku kasihan melihatnya.
"Aku juga sangat sedih, Ren. Aku juga tidak tau, kapan Faizara akan siuman." Kuembuskan napas berat, kepalaku pening.
Reno menepuk pundakku. "Aku minta maaf, aku pernah jahat padamu, tapi kamu tidak melaporkanku pada polisi. Faizara patut mendapatkan pria sebaik dirimu. Jaga Faizara, semoga kalian nantinya berbahagia."
Reno kembali menangis sampai sesenggukan.
"Iya," lirihku. Reno sudah minta maaf, "asalkan kamu tidak mengulang kesalahan yang sama, Ren."
"Ya, Zian. Aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Dan aku akan pergi jauh dari hidup kalian."
Reno menelan ludah berat. Kedua matanya semakin merah, air mata jatuh berkali-kali ke pipinya. Baru kali ini kulihat pria menangis sampai sesenggukan. Pasti karena cintanya yang begitu besar pada Faizara ....
Aku masih merasa kasihan pada Reno, semoga dia juga menemukan wanita yang baik nantinya.
__ADS_1
Bersambung