
Aku tak ingin melepaskan pelukan saat Kak Zian mencoba menjauh. Urat maluku seakan putus karena pengaruh obat perangsang seperti yang dikatakan Kak Zian, atau entah obat apa yang dimasukkan dalam jus jeruk pemberian Heni.
Heni, dia dalangnya. Apa maunya sampai memberiku obat perangsang?
Pikiranku tidak bekerja dengan normal. Napasku masih memburu.
"Aku ambilkan baju ganti, dulu. Peganganmu tolong lepas, tangannya tolong kondisikan. Aku pria normal, Fai ...."
Kak Zian memberikan warning saat dadaku menempel ke badannya. Aku serasa gila saja. Ada rasa cuek dan tak mendengarkan apa yang dikatakan Kak Zian.
"Aku gak butuh baju ganti, aku butuh yang lain ...." Kalimat itu meluncur begitu saja. Kuperhatikan wajah Kak Zian, wajahnya begitu teduh meski kebingungan.
"Oke, oke. Mungkin kamu butuh minum banyak agar menetralkan kondisi badanmu." Kak Zian menelan ludah, menarik napas, tanpa melihat ke wajahku. Saat kucium lehernya barusan, Kak Zian kaget seperti tersengat listrik. Mungkin jiwa lelaki normalnya bergejolak.
Aku menggelengkan kepala. "Aku tak butuh minum, Kak." Suaraku masih terdengar manja di telingaku sendiri.
"Fai, masa iya kita mau berpelukan begini terus? Apa kamu sedang ngerjain aku?" Kak Zian seperti curiga. Aku tidak sedang ngerjain dia, aku hanya merasa butuh menyalurkan apa yang ada dalam pikiran.
Ingin sekali bermesraan dengannya. Gila sekali memang. Dan ini seperti di luar kontrolku. Namun, Kak Zian juga tidak memanfaatkan keadaan. Tidak pula tergoda denganku yang membuka lebar kesempatan. Kalau dia pria kurang ajar, pasti sudah menuruti keinginanku.
Ponsel Kak Zian berbunyi.
Dia mengambil ponsel di saku celana jins-nya. Akan bergerak menjauh, tapi tanganku begitu kuat memeluknya.
"Bagaimana Mbak Fai, ketemu kan, Kak?" tanya Naya setelah Kak Zian mengangkat panggilan, ponsel di-loudspeaker sehingga aku mendengar jelas.
"Iya, sudah kubawa pulang."
"Ya, jagain dia Kak. Jangan sampai kabur lagi. Kalau bisa iket kaki dan tangannya."
Byuh! Naya kejam amat! Dikira aku gila apa? Dasar Naya!
Kak Zian menghela napas berat. "Kasian mbakmu."
"Di mana dia sekarang?" tanya Naya.
"Di ...." Kak Zian terlihat ragu untuk menjawab.
"Di kamarnya kan, Kak?" tanya Naya lagi.
"I-iya, dia di sini ...." Kak Zian menjawab pelan. Mungkin tidak enak karena ada di kamar bersamaku.
"Aku di sini sambil meluk Kak Zian." Aku buka suara, tidak merasakan malu memberitahu Naya.
Kak Zian mencoba menjauh lagi. Tapi, tetap aku peluk erat.
"Apa, Mbak meluk kan Zian? Katanya benci? Kok sekarang sudah berubah? Apa Mbak sudah sadar kalau Kak Zian orangnya sangat baik dan tampan! Dasar plin plan!" ejek Naya.
"Mbakmu kayaknya nggak sadar, Dek." Kak Zian memberitahukan pada Naya tentang kondisiku yang memang tidak seperti biasanya.
"Sadarkan dia, Kak. Kalau perlu ruqyah agar jinnya pergi. Aku takut Kak Zian diapa-apain sama Mbak Fai. Hati-hati! Kalau dia jadi drakula, menggigit leher Kak Zian misalnya, itu kan bahaya."
Naya seperti punya indra keenam saja, tahu kalau aku baru saja nyosor mencium leher Kak Zian seperti wanita murahan.
__ADS_1
"Baiklah, Nay." Kak Zian mengacak rambutnya. Ada rona malu di wajahnya.
Mereka mengakhiri panggilan.
"Aku dingiiin ...." Aku merasa sangat dingin.
"Fai, makanya ganti baju. Ayolah menurut, jangan keras kepala." Kak Zian melepas tanganku yang bergelayut di lengannya.
Telapak tanganku sedingin es. Rasa gerah juga perlahan hilang, aku berubah kedinginan.
Kak Zian berdiri dan berjalan ke lemariku. Aku merebahkan badan, menggigil.
Kak Zian mengambil pakaian tidurku lengkap dengan **********.
"Ganti bajumu. Aku akan membuat minuman hangat untukmu." Kak Zian meletakkan pakaian ganti di dekatku. Dia menuju pintu kamar.
"Kak ...."
"Hm?" Kak Zian menyahut tanpa menoleh.
"Buatkan aku mie kuah, kasih cabe."
"Baiklah." Kak Zian lalu keluar dan menutup pintu kamarku.
Kalau kondisiku normal, tak mungkin aku bertingkah seaneh ini. Main nyuruh-nyuruh Kak Zian buat mie kuah. Pokoknya, ini bukan aku banget.
Setelah Kak Zian keluar, aku mengganti baju basahku karena sudah sangat kedinginan.
"Fai, boleh aku masuk. Apa kamu sudah selesai mengganti bajumu?" Pintu kamarku diketuk sepuluh menit kemudian.
Kak Zian masuk membawa air mineral satu botol besar dan mie kuah dalam mangkuk.
"Kamu minum dan makan yang banyak. Agar kondisimu kembali stabil. Rumahmu gak ada orang. Naya memintaku menginap di sini. Semoga kamu nggak keberatan aku tidur di ruang tamu."
Aku tidak mengucap Terima kasih sudah dibuatkan mie kuah.
Kak Zian buru-buru keluar, mungkin takut aku akan memeluk dan menciumnya lagi.
Aku makan mie kuah buatan Kak Zian. Rasanya pas, seolah-olah kakak iparku itu mengerti seleraku.
Setelah makan mie, aku minum banyak. Kemudian bergidik, ingat sudah mencium leher Kak Zian.
❤❤❤
Aku tidak bisa tidur, setelah minum banyak air. Aku bolak balik kamar mandi untuk pipis.
Pengaruh obat di tubuhku juga sudah tidak ada. Yang ada sekarang, aku ingin marah karena Kak Zian ikut campur urusanku sampai menjemputku pulang dari pesta ulang tahun Rara.
Keluar kamar, aku menuju ruang tamu. Kakak iparku tidur di kursi panjang, lampu di ruang tamu menyala terang. Kak Zian tidur telentang dengan bersedekap. Dia tampak sangat lelap.
Aku menghampiri dan berdiri di dekat sofa panjang.
"Bangun, bangun!" Suaraku melengking menyaingi suara petir di atas sana. Sampai-sampai Kak Zian langsung berdiri. Pastilah dia terkejut.
__ADS_1
"Ada apa, ada apa?" Katanya terengah-engah. Mungkin mengira telah terjadi sesuatu yang genting.
"Kak, jangan ge-er. Jangan mengira aku sudah luluh dan akan menerima Kak Zian masuk dalam hidupku. Tadi, aku itu eror, jadi tidak sadar dengan apa yang aku lalukan. Sekarang Kak Zian pulanglah!" bentakku mengusir Kak Zian.
Dia mengucek matanya yang merah, Kak Zian menutup mulutnya yang menguap. Sukmanya pasti belum terkumpul semua.
"Maksudnya, Fai?"
"Kak Zian pulang sana! Siapa suruh Kak Zian seenaknya menemani aku, tadi masuk kamarku juga, ih!" Aku kembali jadi Fai yang judes.
Kudorong dadanya sampai Kak Zian terduduk di sofa panjang itu. Dia mengusap wajahnya.
"Fai ... kukira ada apa. Iya, aku paham, Fai." Suara Kak Zian serak. Rambutnya berantakan, dia lalu bersin-bersin. Bajunya tadi basah, itu yang membuatnya flu.
"Kalau sudah paham. Kenapa Kak Zian berlagak menjadi bodyguard-ku! Aku tak butuh dijaga! Aku bisa menjaga diriku sendiri! Sekarang pergilah dari rumahku!"
Aku berkata tega. Tega sekali, tak peduli Kak Zian sudah membawaku pulang dari pesta ulang tahun yang sekaligus pesta tak senonoh campur baur antara laki-laki dan perempuan, dan aku diberi obat perangsang oleh Heni. Seharusnya aku berterima kasih pada Kak Zian.
Namun, aku tak perlu mengucapkan kalimat itu. Tak sudi aku!
Kak Zian terdiam.
"Gak perlu cari muka pada keluargaku seolah-olah menjadi hero yang akan melindungi dan menyelamatkanku. Kenapa diam? Pulanglah!"
Aku berjalan ke pintu, membukanya lebar-lebar disambut angin lumayan kencang. Hujan deras juga masih belum berhenti.
"Silakan keluar!" ucapku ketus. Jika ingat aku memeluk dan mencium Kak Zian, kok rasanya menyesal banget dan jijik banget.
Kak Zian bersin-bersin lagi.
"Kalau aku pulang, apa kamu tidak akan ke mana-mana lagi?" Kak Zian berdiri. Tampak ragu.
"Terserah aku, mau ngapain saja! Tak ada hubungannya denganmu! Cepat pergi, aku mau istirahat!" Aku pun melengos.
Kak Zian seperti tak punya pilihan lain. Dia berjalan ke pintu.
"Jangan lupa kunci pintunya, ingat jangan pergi-pergi lagi, kasihan keluargamu,” pesannya dengan suara lembut tapi serak, lalu bersin-bersin lagi. “Aku pulang ....”
“Jangan pernah menginjakkan kaki lagi di rumah ini!” Aku setengah berteriak.
Kak Zian menuju motornya untuk memakai mantel, aku terus mengawasi sampai dia menyalakan motornya. Menembus hujan, keluar dari pintu gerbang dan menutupnya.
Aku mengunci pintu. Mematikan lampu di ruang tamu. Masuk ke kamar berbarengan dengan lampu yang seketika mati.
Kukira padam, aku menyalakan lampu ponsel. Kalau padam, sinyal ponsel juga biasanya tidak ada. Ini sinyal tampak penuh.
Berarti tidak padam. Aku memastikan dengan keluar kembali ke ruang tamu. Menyingkap gorden. Benar saja, ada lampu menyala dari rumah seberang jalan. Itu artinya tidak padam.
Aku mencari nomor sopirku yang juga ikut ke rumah sakit, Pak Adam ngapain juga tidak pulang saja. Kalau ada yang kongslet, biasanya dia yang akan memperbaiki.
Aku terlonjak kaget saat hendel pintu bergerak-gerak cepat. Seperti ada yang mencoba membukanya dari luar.
Aku mengintip dari gorden. Jantungku serasa mau lompat dari tempatnya.
__ADS_1
“Aaaaaaaaa! Tolooooong!” Spontan aku berteriak. Samar-samar kulihat dua orang berpakaian serba hitam ada di depan pintu.
Bersambung