
Kakiku mundur setelah melihat dua orang berpakaian hitam dengan penutup kepala mencoba membuka pintu.
Tubuhku langsung gemetar. Ada pencuri! Mereka pasti pencuri!
"Toloooong!" teriaku lagi berharap pencuri itu pergi. Yang terjadi selanjutnya justru kebalikannya.
Hendel pintu bergerak-gerak terus, sebelum akhirnya mereka membuka pintu dan masuk. Semudah itu?
Kaget, gugup, takut, membuatku diam di tempat. Tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Dalam pikiran, pastilah mereka akan melakukan kekerasan padaku karena telanjur kepergok.
"Jangan bergerak!"
Benar saja. Satu pencuri dengan penutup kepala itu menodongkan senjata tajam padaku. Dalam remang suasana ruang tamu, senjata tajam mengilat saat ada kilatan petir dari luar.
Tamatlah riwayatku!
Aku ngeri! Membayangkan belati tajam itu melukai tubuhku.
"Jangan coba-coba melawan!" hardik yang menodongkan senjata tajam. Bagaimana aku mau melawan? Tubuhku rasanya lemas karena ketakutan.
"Tunjukkan di mana barang-barang berharga disimpan!" bentak yang satunya lagi.
"I-iya, tapi ... jangan pakai kekerasan." Aku menyahut lemah. Air mata mulai bercucuran.
Seandainya ada yang datang menolongku, seandainya, seandainya ....
Itu tidak mungkin, pencuri ini tahu di rumahku lagi tidak ada orang kecuali aku. Mereka pasti sudah memperhitungkan masak-masak aksi yang mereka lakukan ini.
"Ayo! Tunggu apa lagi!" Aku di dorong sampai hampir terjerembap.
"Ja-ngan ada kekerasan, akan aku tunjukkan." Aku melobi para pencuri ini dengan suara bergetar. Mereka orang jahat, tak mungkin mendengarkan apa yang aku katakan.
Lenganku ditarik keras, setengah menyeretku masuk.
Sial! Andaikan Kak Zian tidak usah membawaku pulang dari ulang tahun Rara, maka aku tidak akan menghadapi para pencuri ini sendirian.
Senter dari pencuri menerangi, menginstruksikan agar aku menuju brankas dan tempat barang-barang berharga lainnya.
Sampai di depan kamar utama tempat tidur Papa dan Mama, mereka semakin mendorongku masuk. Sampai aku duduk di lantai depan brankas.
"Buka brankasnya!" titah mereka.
"A-ku tidak tau di mana kunci brankas ... awww!"
Rambutku dijambak. "Bohong! Mana kuncinya?!"
"Orang tuaku di rumah sakit, sumpah aku tidak tau di mana mereka meletakan kunci brankasnya." Aku jujur memang tidak tahu di mana Papa meletakkan kuncinya.
"Aaaahh! Dasar!" Satu pencuri menarikku dan mendorongku ke kasur.
Jantungku semakin berdetak tak karuan. Aku menjerit saat tiba-tiba satu pencuri melompat ke kasur,
"Tidaaaakkk! Toloooong! Hmmmmppp!"
Mulutku ditutup dengan tangan kasarnya. Sementara, temannya memegangi dua kakiku sampai terbuka.
"Kita gilir saja!" Suara satu orang membuatku syok.
Aku meronta-ronta. Tenagaku tidak sebanding dengan kekuatan tangan pencuri yang duduk di atas perutku.
Aku sudah putus asa. Membayangkan sebentar lagi keperawananku akan diambil oleh dua penjahat ini.
Celana tidurku ditarik sampai melorot.
"Hmmppp! Hmmmppp!" Aku berusaha menerjang. Tapi sia-sia.
Seringai dari satu pencuri di atasku begitu menakutkan dan menjijikkan.
"Inilah akibat bila kamu berbohong, cantiiik!"
Mereka tidak percaya padaku.
"Hhhmmmppp!"
__ADS_1
"Kita mulai kawan!" Pencuri yang duduk di atasku membuka tangan yang membekap mulutku. Dua tangannya pindah mencengkeram pergelangan tanganku. Sakit.
"A-aku tidak tau di mana kuncinya! Lepasakan aku! Lepaskan aku! Ambil saja perhiasan di kamarku! Kumohon jangan perkosa aku ...."
"Kita main-main dulu, cantiiiikkk ...."
Wajahnya mendekat. Mulai mengendus-endus dadaku. Sementara yang satunya, memegangi dua kaki lalu berubah meraba-raba paha.
Mereka tidak memedulikan ucapanku. Aku menjerit! Minta tolong ....
Di luar hujan begitu derasnya. Tak akan ada yang mendengarkan suaraku.
Dari lampu senter yang diletakkan di kasur, pencuri yang duduk di atasku bisa kulihat sedang membuka resleting celananya ....
"Aaaa! Tidaaaak! Lepaskan akuuuu!"
Ketakutanku begitu luar biasa. Habislah riwatku. Setelah diperkosa, aku pasti dibunuh oleh mereka.
"Lepaskan Faizara!"
Suara Kak Zian datang membentak. Langkah kakinya begitu cepat, seakan tanpa takut masuk ke kamar orang tuaku. Sambil mengarahkan senter ke kasur.
Dua pencuri tersentak. Mereka melihat ke arah Kak Zian. Dan ... satu orang pencuri mengambil belati yang barusan diletakkan di kasur.
"Jangan mendekat, atau leher wanita ini akan aku tebas!"
Aku tak bisa menelan ludah. Level takutku sudah mencapai puncaknya saat belati ada di dekat leherku.
Sorot lampu dari ponsel Kak Zian tiba-tiba mati.
Aku hanya bisa berteriak saat kasur dilompati Kak Zian dan terjadi baku hantam antara Kak Zian dan pencuri yang mengancam akan melukai leherku.
Suara benda jatuh. Kak Zian berhasil melempar senjata tajam ke lantai.
Lampu dari pencuri juga dimatikan, aku beringsut akan turun dari kasur. Bunyi pukulan demi pukulan dilayangkan pada Kak Zian, bisa kudengar erangannya.
Kak Zian hanya sendirian, dengan mudahnya mereka memukul Kak Zian.
Aku turun dari kasur. Hendak berlari tapi sayangnya ....
Leherku tiba-tiba dicekik.
"Aku kembali karena melihat dua pencuri ini dan aku sudah menelepon polisi!" Kak Zian berkata lantang. Dia sepertinya berhasil mendorong pencuri sampai jatuh dari kasur.
"Kurang ajar! Lari!" pekik salah seorang pencuri. Cekikan di leherku terlepas. Aku batuk-batuk.
Aku terus menangis. Membetulkan celanaku yang barusan ditarik oleh oleh pencuri itu. Duduk menggelesot dan menyandar ke tembok. Tubuhku lemas karena jantung berpacu kencang.
Kak Zian menyalakan lampu ponselnya. Mengarahkan pada pencuri yang lari dari kamar orang tuaku. Kak Zian ikut berlari ke luar.
Tak berapa lama, listrik hidup. Pasti Kak Zian menghidupkannya. Kak Zian kembali ke kamar Papa Mamaku.
"Mereka sengaja mematikan listriknya. Fai ... kamu nggak apa-apa?" Kak Zian bertanya dengan napas terengah-engah.
Kak Zian menanyakan kondisiku, dia sendiri, di bawah mata kirinya lebam akibat pukulan pencuri itu. Dari dua sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"Mereka sudah pergi ...." Kak Zian duduk di dekatku. Menyandar ke tembok juga. Mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya.
Dia terlihat kelelahan, wajahnya masih tegang.
Aku melihat ke pintu. Takut dua pencuri itu balik lagi.
"Maafkan aku, masih menginjakkan kaki di rumahmu. Aku sudah hampir sampai di belokan selatan sana, saat menoleh ke belakang. Kulihat dua orang melompat ke dalam gerbang rumahmu."
Kan Zian bercerita sambil meringis menahan sakit.
"Ini tuh gara-gara Kak Zian! Hampir saja aku diperkosa pencuri! Kak Zian menyusahkan hidupku! Aku jadi trauma!"
Aku menangis tersedu-sedu.
Jangan dikira aku terkesan karena Kak Zian sudah menyelamatkanku. Aku tetap menyalahkannya.
"Ya, maafkan aku. Ini harus segera diberitahukan pada ketua RT. Agar ditindaklanjuti dan dijaga agar lingkungan rumahmu aman. Biar jera para pencuri itu. Aku belum sempat menelepon polisi, hanya barusan menakut-nakuti dua pencuri itu."
__ADS_1
Kak Zian bangun, dia mengambil air mineral yang tersedia di kamar Papa.
"Minumlah ...."
Aku tak menerima air mineral pemberian Kak Zian. Kak Zian menunggu, dia lalu meletakkan air mineral di lantai dekat aku duduk.
Kak Zian menelepon Aris adiknya memberitahukan apa yang terjadi di sini. Dia juga meminta nomor Pak RT padaku. Dia yang menginfokan kalau baru saja hampir terjadi pencurian dan kekerasan.
Tak berapa lama. Rumahku didatangi Pak Rt dan jajaran perangkat terkait. Beliau juga menelepon polisi.
Polisi datang, mengamankan barang bukti berupa belati. Wajah Kak Zian yang lebam juga difoto. Aku juga menceritakan kronologi sampai hampir diperkosa dua pencuri itu.
Polisi akan melakukan pengejaran pada dua pencuri.
Naya dan pembantuku datang menjelang Subuh.
"Ya ampun. Untung ada Kak Zian yang menolong Mbak," ucap Naya duduk di sisi ranjangku.
"Hanya kebetulan saja." Aku berkata dingin.
"Ya elah, Mbak tetap saja keras kepala. Seharusnya Mbak berterima kasih ada Kak Zian yang jadi super hero bagi Mbak. Dia tulus melindungi Mbak, loh." Naya memuji-muji Kak Zian.
Aku sudah istirahat di kamar. Tapi tak bisa memejamkan mata. Masih syok dengan kejadian tadi. Kak Zian dan Aris juga belum pulang, ada di ruang tamu menemani Pak Rt sampai polisi selesai olah TKP.
"Super hero apaan?!" Aku tidur membelakangi Naya. "Keluar, gih ... aku mau istirahat."
"Hm, kapan Mbak Fai akan sadar dan tidak egois? Kasian Kak Zian sudah ditusuk perutnya sama Mbak. Masih sangat sabar dan tidak marah pada Mbak. Sekarang bertaruh nyawa sampai babak belur karena menyelamatkan Mbak dari pencuri, perjuangannya masih juga tidak dihargai ...."
Naya berkata panjang lebar. Pasti kesal padaku. Biarin saja!
“Siapa suruh menolongku!”
“Ya, kalau tidak ditolong nasib Mbak akan end!”
“Sudah, Nay. Aku tidak mau berdebat! Keluar sana!”
Naya keluar kamarku sambil menggerutu.
❤❤❤
Siang harinya ....
Papa terbaring lemah karena asam lambung. Begitu melihatku datang ke ruang rawat inap, Papa tersenyum tapi ada air mata menggenang di kedua matanya.
"Pa ...."
"Jangan pergi lagi, Nak. Kami semua sayang padamu, kami mengkhawatirkanmu. Katanya ada pencuri masuk rumah? Untung ada Zian yang melawannya."
Aku mengangguk pelan. Papa pasti bahagia aku datang ke rumah sakit dalam keadaan selamat.
"Papa jangan khawatirkan aku, aku bisa jaga diri, Pa. Fai ... cuma dalam kondisi sangat sedih jadi ingin mencari ketenangan."
Mama memelukku saat aku ada di samping ranjang. "Kami jelas khawatir, Nak. Papamu langsung kambuh asam lambungnya."
"Iya, maafkan Fai Ma, Pa ...."
"Apa Mbak pura-pura gila, lalu pergi dari rumah karena takut dinikahkan dengan Kak Zian?" tebak Naya.
Aku menyeka air mata.
"Aku sedih karena kematian Mas Raka. Dan ... aku tak siap bila harus menikah dengan Kak Zian."
Aku mulai jujur.
"Semuanya terserah padamu, Nak. Tapi, Papa sangat mendukung bila kamu memilih Zian sebagai pendamping hidup. Raka juga yang memintanya, bukan? Itu artinya dia percaya kakaknya bisa menjagamu," ucap Papa. Menggenggam tanganku.
Kak Zian sudah mendapatkan lampu hijau dari keluargaku. Aku harus mencari cara agar tidak dinikahkan dengan Kak Zian.
"Fai masih ingat terus sama Mas Raka. Fai ... belum siap untuk menikah lagi."
Kuharap keluargaku mengerti. Bukan menikah dengan Zian lantas rasa sedihku akan hilang begitu saja. Tinggal seatap dengan orang yang kita benci dan tidak kita cintai, itu hanya akan menyiksa lahir dan batinku.
"Huh! Mbak banyak alasan. Awas nanti menyesal kalau Kak Zian menikah dengan orang lain." Naya mencibirku.
__ADS_1
Kalau Kak Zian nikah dengan orang lain, justru aku akan senang. Semoga saja itu yang akan terjadi.
Bersambung