
“Sssssttt, sini!” tanganku ditarik. Sampai menabrak dada Kak Zian. Kak Zian menemukanku. “Sembunyi di sini,” katanya. Mengajakku pada sebuah lubang, setinggi tubuhku.
Tak ada pilihan lain, suara pria-pria mabuk semakin dekat. Aku melompat ke dalam lubang, Kak Zian juga. Tangan Kak Zian lalu menutup atasnya dengan rumput.
Kami berdiri berhadapan.
Dia melindungi tubuhku dengan lengannya, posisi ini membuatnya persis memelukku. Dadanya yang wangi maskulin tepat ada di depan wajahku karena lubang ini hanya cukup untuk orang dua.
“Kamu nggak apa-apa, hm?” bisiknya, nada suaranya sangat khawatir. Dagunya, mau tak mau menempel di atas kepalaku.
Lari dari rumah Mas Raka, bukannya semakin menjauhkanku dari Kak Zian. Tapi membuat kami semakin dekat secara fisik.
Huh!
"Mereka lari ke sini!"
"Tapi kok hilang?"
"Dahlah ... ayo lanjut minum!"
Pria-pria mabuk bukannya pergi dari sini. Mereka terdengar duduk di sekitar jurang.
Aku semakin tegang.
"Tenang, tenang ya ...." Kak Zian berbisik, napasnya serasa menggelitik telingaku.
Mau tenang bagaimana? Aku tak tahan lama-lama berada sedekat ini dengan Kak Zian. Hangat tubuhnya, detak jantungnya bisa kudengar dari saking dekatnya tubuh kami.
Sedetik, dua detik ... waktu berjalan begitu lambat. Dalam hati aku mengumpat. Saat ada hewan kecil, entah hewan apa terasa naik ke kakiku, inginnya aku berteriak.
Sungguh, ini benar-benar menyiksa. Aku menggerak-gerakkan kakiku, hewan itu tetap stay. Aku sengaja menginjak-injak dua kaki Kak Zian.
"Sssst ... hanya hewan kecil, jangan takut, di kakiku juga ada."
Kuinjak semakin kencang. Kak Zian mengambil napas panjang. Pasti menahan sakit. Rasain!
Dua tanganku berada di depan dada, agar tidak menempel pada dadanya.
Plung!
"Aaawww!" Aku memekik kecil! Botol minuman dilempar oleh salah seorang pemabuk, masuk menembus rumput yang dijadikan penutup dan kena kepalaku.
"Suara perempuan itu!"
"Kita cari!"
Gawat! Mereka mendengar suaraku. Suara langkah kaki mereka masih di seputar jurang.
"Ssssstttt ...." Tangan Kak Zian sontak mengelus-elus kepalaku. "Tahan sakitnya," bisik Kak Zian lagi.
Asli aku geram, bukan karena kepala sakit, tapi kesal dengan perhatian Kak Zian padaku. Terlalu lebay!
Aku mulai merasa gerah. Keringat keluar dari dahi, leher, dan dada membuatku semakin gelisah.
Kak Zian peka, meniup-niup di depan dahiku. Menciptakan angin yang lumayan menyejukkan.
"Sabar, ya ... sebentar lagi kita keluar dari sini," lirihnya di sela-sela meniup-niup dahiku.
Sabar, sabar! Huh!
Kak Zian pasti merasa beruntung bisa sedekat ini denganku. Dikira aku tidak gelay, tidak jijik?
Aku sedang gila, jadi bebas melakukan apa saja. Kucakar-cakar wajah Kak Zian.
Kak Zian tetap meniup-niup dahiku. Tapi sambil mendesis.
"Fai ... kukumu tajam." Kak Zian mencegah tanganku mencakarnya dengan menyatukan jari-jari tangannya dengan jari-jari tanganku.
Ish! Kok jadi adegannya sok romantis begini? Enak saja!
Kutarik dua tanganku, lalu kembali mencakar-cakar wajahnya. Kurasakan bulu-bulu tipis di pipinya membuat sensasi geli saat tersentuh telapak tanganku.
"Kita cabut!"
"Dua orang itu sudah disembunyikan jin!"
__ADS_1
Suara-suara pemabuk menjauhi jurang.
Dua tanganku masih mencakar-cakar wajah Kak Zian.
"Oke, oke ... kita naik. Mereka sudah pergi." Kak Zian tetap bicara lembut, tak ada emosi dalam nada bicaranya. Ini orang kenapa sabar banget menghadapi ulahku?
Kak Zian naik lebih dulu. Dia mengulurkan tangannya. Terpaksa aku terima karena sulit untuk naik sendiri dari jurang ini.
Keluar dari jurang. Sebelah tangan Kak Zian terus menggenggam tanganku. Pasti takut aku akan lari. Aku mencoba menepis, tapi pegangan tangan Kak Zian begitu kuat.
"Maaf, Fai ... izinkan aku melindungimu," katanya bak hero. Tatapannya begitu lembut, sambil tersenyum pula. Bisa kulihat ekspresi itu dari bulan yang menyinari di atas sana.
Cih!
Melewati rumah tua yang gelap, lalu sampai pada jalan sepi. Di depan sana, pria-pria mabuk masih terlihat. Jadi Kak Zian memelankan langkahnya. Sampai mereka tidak terlihat lagi.
Saat berjalan di gang yang ada banyak rumah-rumah warga ....
"Toooolooong! Aku akan diperkosa!"
"Fai?" Kak Zian terperanjat. Menoleh padaku dengan tatapan bertanya.
"Toloooong aku akan diperkosa!"
"Astagfirullah! Fai, aku bisa digebukin warga ...." Kak Zian tak dapat menyembunyikan kepanikannya.
Tak butuh waktu lama. Warga yang terbangun mendengarku berteriak, dengan cepat berkerumun.
"Toloooong! Pria ini akan memperkosaku!" Aku berteriak menunjuk wajah Kak Zian dengan tangan kiriku.
"Tidak, tidak, bukan begitu ...." Kak Zian mencoba menjelaskan.
"Lepaskan wanita itu!" pinta seorang bapak berbadan gempal.
"Tidak, saya bukan orang jahat." Kak Zian membela diri.
"Mana ada orang jahat ngaku!"
"Lepas! Atau kami akan telpon polisi!"
Dengan mudahnya kutarik tanganku dari genggaman Kak Zian bersiap untuk berlari. Keburu Kak Zian berkata," "Aku mencari adik iparku ini yang lari dari rumah. Pikirannya agak terganggu. Mohon dimaklumi."
Dia berkata cepat.
"Tidak! Dia akan memperkosaku! Dia akan memperkosaku!" Aku mencoba meyakinkan warga. Sambil menangis.
"Itu Zian, kakak almarhun Raka!" celetuk salah seorang warga yang mengenali Kak Zian.
"Iya, saya kakaknya Raka. Ini istrinya." Kak Zian membenarkan.
Warga tak jadi memegangi Kak Zian. Mereka beralih menatap ke arahku.
"Jadi istrinya stres karena kematian Raka? Kasian ...."
Suara-suara di sekelilingku berubah pelan. Tatapan prihatin dari para bapak-bapak dan ibu-ibu yang mengelilingi kami.
"Maaf, Mas. Ayo kami bantu kalian untuk diantar pulang."
Kak Zian membawaku kembali ke rumah Mas Raka dibantu beberapa warga naik mobil.
Yaaaah! Gagal lagi untuk pergi dari sini.
Sampai di rumah Mas Raka. Mama mertuaku memandang kami dengan cemas.
"Mama lelap tidur, tidak tau kalau Nak Faizara keluar kamar."
"Iya, Ma. Zian yang mengejar Faizara." Kak Zian
"Itu wajahmu kenapa luka-luka, Nak?"
"Hm, tidak apa-apa, Ma ... hanya kena kukunya Fai."
Mama menggandeng lenganku. Aku tak berani meronta-ronta. Segan juga. Menuruti untuk dibawa masuk ke kamar Mas Raka sambil tertawa-tawa.
Ina dan Bi Fatma ikut masuk ke kamar untuk menemani aku. Jadinya kami tidur berempat.
__ADS_1
"Sabar dan ikhlas ya, Nak. Tak perlu kabur dari rumah ini. Kalau mau pulang ke rumahmu, besok pagi saja. Tak baik keluar malam sambil berlari." Mama mertua mengelus rambutku.
Ina memberiku segelas air. Kuteguk sampai tandas. Lalu cekikikan lagi.
Bi Fatma dan Ina melihat ngeri kepadaku.
"Banyak membaca istigfar, sholawat, agar pikiranmu tenang ...." Mama mertua memintaku berbaring. Memakaikan selimut sampai sebatas dadaku.
"Istirahatlah, Nak ... jangan memikirkan yang berat-berat."
Beliau ikut berbaring di sebelahku.
Ina dan Bi Fatma tidur di kasur lantai. Saat mama mertua terlelap kudengar Ina dan Bi Fatma berbicara pelan.
"Kasian juga Non Fai, tapi aku takut juga, dia bisa-bisa membahayakan kita, Bu."
"Sssst, jangan berkata begitu Ina, Non Fai hanya lagi stres biasa saja, bukan gila," sanggah Bi Fatma.
"Kata siapa, Bu? Dia gila. Itu efek dia sering marah-marah. Setannya semakin menjadi-jadi dalam tubuhnya saat dia kehilangan Mas Raka."
"Uhuk-uhuuuuk!" Aku sengaja terbatuk. Ina dan Bi Fatma langsung terdiam.
❤❤❤
Pikiran kembali merencanakan untuk pergi dari sini. Sebelum Subuh, aku kembali keluar dari kamar. Mama mertua dan dua pembantu belum bangun.
Aku ke dapur. Mengambil ... pisau.
Kali ini, penghuni rumah ini tidak akan berani menghalangi lagi. Tidak juga Kak Zian. Pasti dia akan takut melihatku membawa senjata tajam.
"Fai ... ini ponselmu. Tadi kutemukan di belakang rumah kosong saat mengejarmu."
Aku melompat kaget. Bagaimana aku bisa tidak menyadari keberadaan Kak Zian di dapur yang remang-remang ini?
Dia mengangsurkan ponselku.
"Ini ...," ucapnya lagi karena aku hanya terdiam.
"Kamu lapar? Mau masak?" Dia berkata semangat. Apa dia mengira aku sudah baik-baik saja?
Aku mengambil cepat ponsel di tangan Kak Zian.
Lampu dapur Kak Zian hidupkan.
"Semangat masaknya ya, lalukan hal-hal positif agar kesedihan dan pikiran negatif tidak menguasaimu. Aku percaya, kamu akan kembali normal dan baik-baik saja ...."
Kak Zian tersenyum. Dia menggunakan kaus singlet dengan bawahan celana boxer. Sesekali menutup mulutnya yang menguap. Semalaman Kak Zian mungkin tidak tidur.
"Minggir!" Aku mengacungkan pisau kr arah Kak Zian.
"Duh, Fai ... gunakan pisau untuk memotong sayur ya, jangan dibuat mainan."
Kak Zian pasti takut sekarang.
"Minggir ... aku benci kamu, benci kamu!" Aku melotot. "Minggir, jangan halangi aku pergi! Jangan mengejarku! Biarkan aku pergi!"
Aku maju, pisau itu semakin kudekatkan pada perut Kak Zian.
"Kamu mau pergi ke mana? Dalam kondisi tidak stabil, aku takut kamu membahayakan dirimu sendiri. Tenang, letakkan pisau itu di meja ...."
Apa? Dia takut aku membahayakan diri sendiri. Aku tidak gila. Mana mungkin akan menyakiti diri sendiri?
"Minggir!"
Kak Zian tidak minggir. "Aku akan minggir, letakkan dulu pisau itu di meja," pintanya.
"Tidak! Kalau kau tidak minggir! Akan aku ...."
Tanganku melayang dengan enteng, sementara Kak Zian ... menganga, dua matanya melebar.
"Pisau-nya ... me-nusuk pe-rutku. Aaaahhh ....” Kak Zian mengerang dengan suara berat.
Aku yang sekarang ikut menganga. Tak percaya, pisau tajam itu benar-benar melukai perut bagian kanan Kak Zian. Aku menusukkan pisau itu ke perutnya!
Bersambung
__ADS_1