Kakak Ipar Melihat Auratku

Kakak Ipar Melihat Auratku
Jurang Pemisah


__ADS_3

"Kenapa bisa lecet-lecet begini, Nak?" tanya Papa saat aku sudah sampai di rumah.


"Tadi ada orang gila mengamuk, Pa. Aku lari karena dikejar. Sampai lompat tembok sama Kak Zian." Entah, mulutku keceplosan menyebut Kak Zian.


"Mbak ketemu sama Kak Zian? Pasti Kak Zian yang nolongin Mbak dari orang gila itu." Naya tiba-tiba nongol ke ruang tamu. "Emang dasar kalau jodoh itu sering ketemu."


Apalagi ini? Ingin rasanya kujitak kepala Naya.


Papa tersenyum mendengar ucapan Naya. "Semoga seperti itu," doa Papa.


Hadeuh! Papa sangat mendukung.


Tak berapa lama, ada suara motor berhenti di halaman. Itu Kak Zian!


"Aku ke dalam dulu," ucapku. Tak sudi rasanya bertemu dengan Kak Zian.


"Eits, Mbak mau ke mana? Gak usah malu kalau ada calon suami." Naya menahan lenganku.


"Iya, di sini saja, Nak." Papa juga memintaku untuk duduk.


Malas berada di situasi seperti ini. Aku memasang wajah masam.


Papa menyambut Kak Zian. Mempersilahkan dia duduk. Mendengar ada Kak Zian, Mama ikut datang ke ruang tamu. Tampak begitu senang dengan kedatangan Kak Zian.


"Saya ke sini mau pamit, Pa, Ma. Nanti sore, saya akan balik ke rumah nenek. Karena sudah cukup lama meninggalkan pekerjaan saya di ladang."


Aku bersorak dalam hati. Akhirnya, aku bisa bebas setelah Kak Zian pulang. Tanpa gangguan Kak Zian lagi.


"Iya, Nak. Hati-hati," ujar Papa.


"Loh, Kak Zian kok mau pulang? Apa nggak nunggu setelah melamar Mbak Fai, terus kalian akad nikah, terus boyong Mbak Fai ke rumah neneknya. Pasti bakalan asyik, karena mbakku ini butuh refreshing, butuh udara segar agar segala stres dan sedihnya hilang."


Nayaaaaa ...! Aku melotot padanya.


Papa dan Mamaku tertawa kecil. "Betul itu saran Naya, Papa setuju. Gimana, Ma?"


Papa menoleh pada Mama.


"Mama juga setuju." Mama mengacungkan dua jempolnya.


Aku yang tidak setuju! Apa-apaan ini? Kak Zian harus tahu diri. Tadi malam, aku sudah jelas menolaknya.


Kak Zian menunduk dengan senyum kaku. "Tapi, maaf ... Faiza tidak memilih saya untuk menjadi pendamping hidupnya. Bukankah Faiza sudah punya calon?"


"Calon? Siapa, Faiza?" tanya Papa.


Senyum yang barusan menghiasi bibir Papa, seketika sirna. Beliau melihat padaku, hingga dahinya berkerut.


Memang orang tuaku harus tahu juga secepatnya, bahwa aku tidak akan pernah mau menikah dengan Kak Zian.


"Fai memilih Reno, Pa, Ma, karena Reno sangat mencintai Fai, dia juga sudah sejak kecil bersahabat dengan Fai. Papa Mama juga sudah sangat akrab dengan Reno. Fai tidak ingin menikah dengan Kak Zian hanya karena terpaksa, ujung-ujungnya bisa menyiksa juga, kan? Aku berharap, semuanya bisa menerima keputusanku ini."


Akhirnya, aku bisa mengutarakan isi hatiku. Biar semuanya tidak berharap lagi aku akan menerima Kak Zian.


Papa menarik napas berat. "Kita memang tidak bisa memaksakan kehendak pada orang lain. Semoga Nak Zian tidak kecewa."

__ADS_1


Yeay! Papa pengertian.


Kak Zian mengangguk pelan. "Apa pun keputusan Faiza, saya terima dengan lapang dada."


Kak Zian tidak banyak bicara. Huh! Ya iya lah! Dia harus sadar diri.


"Yaaah ... tapi, Kak?" Naya hendak protes. Aku mendelik ke arahnya.


"Sudahlah Naya, apalagi yang ingin dibahas?" ucapku agar Naya tidak ikut mengatur-ngatur hidupku.


Kak Zian hanya tersenyum tipis pada Naya. Tak lama setelah itu Kak Zian pamit, dia bersalaman dengan mama dan saat bersalaman dengan Papa, Papa memeluk Kak Zian ... lama.


Papa juga mengantar Kak Zian, bukan hanya sampai di teras, tapi sampai ke halaman. Naya juga ikut-ikutan mengantar sampai ke halaman. Lebay sekali dia!


Papa terlihat kembali memeluk Kak Zian. Cukup lama. Sambil bicara, mengusap-usap pundak Kak Zian yang gagal jadi calon menantunya.


Aku terus bersorak dalam hati. Merasakan bebas, sebebas-bebasnya.


❤❤❤


Malam ini Reno datang menjemputku.


"Om, saya izin mau mengajak Faiza makan malam."


Papa sejak tadi seperti lemas setelah mendengar penolakanku pada Kak Zian. Beliau tiduran di ruang tengah, melihat ke arah langit-langit rumah. Seperti sedang memikirkan sesuatu.


“Iya, tapi jangan terlalu malam, ya,” pesan Papa.


“Tentu, Om.”


"Kamu bilang Zian sudah pulang, kan?"


"Iya, dia tadi siang pamit pulang pada keluargaku."


"Bohong! Coba lihat ke belakang!"


Reno berdecih melihat pada kaca spion mobilnya.


Aku menoleh, dan ... pria dengan motor Gede itu ada di belakang mobil Reno.


"Dia cari gara-gara. Maunya apa ngikutin mobilku?" Reno memacu mobilnya pelan.


"Iya, tadi siang dia tau-tau juga ada di makam Mas Raka. Sepertinya dia memang mengikutiku." Aku mengadu pada Reno.


"O ya?" Reno menyeringai. Sebelah tangannya mengambil ponsel dengan rahang mengeras.


"Kamu lagi nganggur malam ini? Ada pekerjaan mudah dan bayarannya tinggi."


Entah siapa yang Reno telepon. Dia memberitahukan alamat pada seseorang di seberang telepon.


Mobil Reno berbelok ke jalan kecil yang sepi.


"Ren, kita kemana?” tanyaku heran.


"Kita akan melihat pertunjukan spektakuler, Faiza ...." Reno mengedipkan sebelah matanya padaku.

__ADS_1


Aku tidak mengerti maksud Reno, motor Kak Zian agak jauh dari mobil ini.


Dari arah berlawanan, beberapa motor datang, lalu mengepung motor Kak Zian di belakang sana.


Reno menepikan mobilnya.


"Setelah ini, kita akan bebas mengekspresikan cinta kita Faiza, tanpa gangguan Zian lagi. Pria seperti dia memang harus dibasmi secepatnya."


Aku menoleh ke belakang. Lima motor masih menyalakan lampunya dengan deru yang lumayan mengganggu telinga.


Dari sorot lampu motor-motor itu. Terlihat jelas, pria-pria berjaket hitam dengan badan kekar memaksa Kak Zian turun dari motor.


Tak butuh waktu lama, Kak Zian ditarik kerah bajunya, dia tak sempat melawan saat ditinju. Lengannya dipegangi, lalu tinju wajah dan perutnya, berulang-ulang.


"Ren? Apa yang mereka lakukan?" Aku berubah ketakutan.


"Santai, Faiza ... biarkan mereka menghajar Zian, sampai babak belur, sampai dia ... end!"


Aku ngeri mendengar ucapan Reno, Kak Zian mencoba meronta-ronta. Sayangnya, dia tak akan mampu melawan lima orang sekaligus.


Wajah Kak Zian sudah bonyok dengan darah yang mulai keluar dari hidung dan bibirnya.


Dia menjadi bulan-bulanan pria-pria suruhan Reno. Di oper kelima orang itu untuk dipukuli.


"Ren, kita bisa berurusan dengan polisi!" Aku tidak setuju dengan pengeroyokan pada Kak Zian. Lagian, kenapa Kak Zian pakai mengikuti mobil Reno segala? Sekarang dia merasakan akibatnya.


"Kita akan aman-aman saja, Faiza ... karena buka kita yang memukul Zian, kan?" Reno tertawa licik.


Aku meringis melihat Kak Zian sama sekali tidak bisa melawan. Dia sudah sempoyongan. Loyo. Kemeja putihnya kotor dan mengeluarkan warna merah darah di bagian perutnya.


Itu luka yang aku tusuk beberapa waktu lalu belum pulih betul, sekarang luka itu dipukuli bertubi-tubi.


Reno tertawa, "Lihat, sebentar lagi dia akan ...."


"Ren! Stop teman-temanmu! Jangan sampai mereka membunuh Kak Zian!" teriakku manakala melihat Kak Zian tumbang jatuh ke jalan.


Dengan mudahnya mereka menyeret dan ....


Aku gemetaran, ponselku berdering. Sebuah pesan WA dari Naya ....


[Sedih, Kak Zian sudah pulang. Papa sangat sayang sama Kak Zian, tadi Papa memeluk Kak Zian lama, mengucapkan kata maaf berulang kali karena Mbak telah menolaknya. Mbak nggak tau, kan? Papa tadi nangis, loh. Beliau sebenarnya ingin, Mbak menikah dengan Kak Zian, karena yakin Kak Zian akan mampu menjaga Mbak, seperti pesan terakhir Mas Raka ....]


Mataku memanas setelah membaca pesan Naya.


Reno semakin tertawa terbahak-bahak, melihat Kak Zian yang sudah tak berdaya diseret lalu ....


"Ren! Mereka mau ngapain?!" Aku mengguncang-guncang lengan Reno. Melihat Kak Zian diseret ke pinggir jurang.


"Kita lihat saja Faiza ... lihat! Mulai sekarang, si Zian anak gunung itu, tak akan pernah lagi mengganggumu."


Tubuh Kak Zian diangkat lalu dilempar ke jurang ....


Tawa Reno meledak seperti tokoh jahat dalam film. “Selamat masuk ke jurang pemisah ... masihkah dia hidup atau sudah mati?”


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2