Kakak Ipar Melihat Auratku

Kakak Ipar Melihat Auratku
Susah Move On


__ADS_3

Tubuh Kak Zian yang berat menimpa tubuhku. Tak ada jarak. Membuatku merasa jijik.


"Maaf, Fai. Maaf ...." Lirih suara Kak Zian. Kak Zian menjauhkan wajahnya, mengangkat dua lengannya, agar tubuhnya menjauhiku.


Tanpa kusadari ada mama mertua dan nenek berdiri tak jauh dari sofa. Beliau pasti keluar dari kamarnya karena mendengarku berteriak-teriak. 


"Maaf, ayo bangun, Fai ...." Kak Zian masih berbaik hati mengulurkan tangannya agar aku bisa bangun. Pipinya memerah bekas aku tampar. Itu pasti sangat perih.


Naya tertegun melihatku terjatuh bareng Kak Zian. Mama menuntun Papa yang jalannya terpincang-pincang karena jatuh. Kak Zian perhatian, dia ikut menuntun Papaku ke kursi.


Aku menangis dan berlari ke tangga. Masuk kamar. Membungkus tubuh dengan selimut tebal. Wajah Mas Raka ... terus bergelayut di pelupuk mata.


❤❤❤


Pagi yang begitu hampa, matahari cerah hangat masuk jendela kamar. Berbanding terbalik dengan suasana dingin dan mendung pekat dalam jiwa ragaku.


Aku rindu Mas Raka.


Rindu paling menyakitkan adalah rindu kepada orang yang sudah tidak ada di dunia ini. Rindu yang tak akan pernah lagi terobati ... karena tak akan pernah bisa bersua walau sedetik saja.


"Mbak, ayolah move on. Jangan merasa menjadi wanita paling malang karena Mas Raka sudah meninggal. Banyak di luaran sana, bahkan ujiannya bisa jadi lebih berat daripada Mbak. Suaminya meninggal saat istrinya hamil, misalnya. Nanti anaknya jadi yatim piatu. Kan nyesek banget."


Naya berusaha menghiburku.


"Mas ... katanya kita mau malam pertama? Tapi Mas bohong, Mas pergi, Mas meninggalkanku." Kuelus foto pernikahanku dengan Mas Raka. Air mata jatuh pada kaca pigura. Lalu kudekap pigura itu dengan perasaan hampa.


“Jadi Mbak belum malam pertama dengan Mas Raka? Ya ampun, sedih banget ....” Naya matanya berkaca-kaca.


Tawaku berderai, tawa aneh melambangkan kekosongan.


“Mas, bisa tidak hidup lagi? Aku tidak mau berjauhan begini.”


Aku tertawa, mengiringi air mata yang lolos ke pipiku. Tawa dalam tangis, baru kali ini kurasakan dalam hidupku. 


"Mbak, Mbak ... aduh! Aku tuh nggak mau punya Mbak CCS alias Cantik Cantik Stres! Sadarlah, lah ... Mbak. Jangan tertawa terus.”


Kuabaikan celoteh Naya. 


"Mbak. Lutut Papa luka dan harus dibawa ke dokter. Mana Papa asam urat, tadi malam sempat ngejar-ngejar Mbak. Jangan nyusahin lagi ya, Mbak. Mbak juga menampar Kak Zian berkali-kali. Untung ipar Mbak itu orangnya sabar, baik hati dan ganteng. Aku tuh cemburu liat Mbak jatuh ke sofa bareng Kak Zian, nempel banget lagi."


Apa sih, Naya? Orang lagi berduka, dia malah mengingat kejadian semalam. Aku jijik saat tubuh Kak Zian menempel pada tubuhku. Berasa ketempelan genderuwo.


Naya mengangsurkan sendok berisi bubur ayam padaku. "Makan, Mbak. Meski sesendok. Agar Mas Raka tenang, kalau Mbak menyiksa diri, arwah Mas Raka juga gak akan tenang.”


Perutku memang sudah keroncongan, kumakan juga bubur yang di berikan Naya. Hanya sesendok. Setelah itu, aku menggeleng saat Naya kembali akan menyuapiku.


Aku menatap lagi foto Mas Raka yang tersenyum padaku. Aku tertawa seolah-olah, Mas Raka mencandaiku.


"Mbakku kok jadi begini? Semoga stresnya tidak lama. Eman cantiknya,” gumam Naya sambil mengusap air mata kemudian memelukku. "Mbak harus kuat ...."


❤❤❤


Mama dan Papa sampai hari ketujuh kepergian Mas Raka masih terus menemaniku yang persis orang gila. Bicara sendirian, tertawa sendirian. Malas makan, malas mandi.

__ADS_1


Selamatan tujuh hari, keluarga menggelar pengajian dihadiri sanak famili dan tetangga sekitar.


Aku tidak keluar dari kamar. Meringkuk di kasur, memeluk foto pernikahan. Tidak mandi, tidak peduli badanku mulai terasa gatal-gatal.


"Mbak bau. Tujuh hari tidak mandi. Jorok!" Naya menutup hidungnya. 


"Mas Raka! Mas Rakaaaa!" Aku menyebut-nyebut nama Mas Raka tanpa rasa capek dan bosan.


Ingin aku peluk Mas Raka, ingin kudengarkan detak jantungnya, dan ingin mendengarnya mengucapkan kalimat cinta padaku.


"Mbak, mungkin Mas Raka ingin Mbak ikhlas. Jadinya, terus membayangi Mbak. Coba deh, Mbak mandi, ambil wudu dan mengaji. Ziarah ke makam Mas Raka. Pasti Mas Raka akan tenang di sana," saran Naya. 


Aku tak sanggup untuk melihat makam Mas Raka. Selama tujuh hari, menghabiskan waktu dengan menangis, kadang terbengong seharian, kemudian tertawa. Itu saja kegiatanku.


Nenek beberapa kali masuk kamar ini. Wanita tua itu menatapku iba. 


"Nduk, terimalah ketetapan Allah. Semuanya sudah diatur-Nya. Pasti ini yang terbaik.” Begitu kata beliau. Aku tidak menjawab apa-apa. Kalimat-kalimat bijak seakan tak berlaku untukku. 


Tetap saja aku sulit menerima kenyataan pahit ini. Kenapa harus aku yang kehilangan suamiku, kenapa?


❤❤❤


Aku lelah, siang malam tidak bisa tidur. Papa membelai lembut rambutku. Memintaku istirahat.


Malam sudah larut. Mata mulai berat, aku tertidur, sekejap. Lalu terbangun. Papa, Mama, dan Naya pelan-pelan keluar dari kamar.


Aku diam-diam ikut turun, berhenti di tengah tangga, menguping pembicaraan mereka dengan keluarga Mas Raka.


"Hm, i-iya, Zian juga tidak masalah. Zian bersedia ...." Kak Zian menjawab.


Ck! Bersedia apaan, sih?


Aku merutuk dalam hati.


"Iya, katanya Fai dan Raka belum sempat malam pertama. Jadi, tidak ada masa iddah bagi Faizara." Papa pun ikut setuju. Pasti Naya bercerita kalau aku dan Mas Raka belum sempat malam pertama.


Apa mereka ingin aku dan Kak Zian segera menikah. Tidak, tidak! Kepalaku menggeleng kuat, detak jantungku berdebar kencang.


"Segerakan saja pernikahan mereka, Pa. Agar duka lara Mbak Fai segera terobati, aku sedih liat Mbak Fai seperti orang tak waras," timpal Naya.


Aku mengeratkan gigi-gigi atas bawah. Dasar Naya! Bocah cilik sok mendukung! 


Bahaya ini? Apa mereka pikir aku akan bahagia bila menikah dengan Kak Zian? Aku masih berduka, mereka malah membicarakan pernikahan. Terlalu!


Pikiranku semakin mumet. Mencari cara agar tak ada pernikahan antara aku dan Kak Zian. Amit-amit aku punya suami kayak dia!


Bagaimana kalau aku lanjut gilanya? Ide gila itu terlintas begitu saja. Mumpung mereka menganggap aku lagi stres. Jadi, aku akan menunjukkan kalau aku benar-benar telah gila.


Kak Zian bakalan ilfil melihatku, dan pasti tidak akan jadi menikahiku.


❤❤❤


Siang hari yang panas, dengan baju yang sudah delapan hari tak mau diganti dan rambut yang acak-acakan. Tanpa sandal pula, aku keluar dari kamar.

__ADS_1


“Mas Raka, ayo kita jalan-jalan. Hihihi ... tunggu aku, Sayang.”


“Mbak, mau ke mana?” tanya Naya, dia baru saja selesai mandi. Dia tetap setia menemaniku, Mama dan Papa sudah pulang untuk istirahat.


Dengan langkah cepat aku menuruni tangga.


“Mas Raka, mari jalan-jalan, Mas!”


Cuek aku bicara sendirian. Kak Zian dan Aris ada di ruang tamu sedang menemani beberapa pelayat yang masih terus datang. Baik dari karyawan, sahabat, rekan bisnis dan entah siapa lagi.


"Kejar, Kak Zian, ayo kita kejar!" teriak Naya. 


“Fai, jangan ke mana-mana. Ayo, masuk!” Kak Zian sontak mengejarku yang mulai berlari ke arah halaman. Lalu berlari ke jalan.


Aku tertawa-tawa di jalan beraspal. Panas dan sakit telapak kakiku sebisa mungkin aku tahan.


Naya, dan Aris ikut mengejar. 


“Fai, hati-hati!” Kak Zian hampir menjajari langkahku. Dia panik karena aku menyeberang sembarangan.


Tak kehilangan akal, aku berbelok ke perumahan padat penduduk. Sampai akhirnya ....


"Orang gila, orang gila ...." Anak-anak kecil meneriaki aku.


Aku lebih baik dicap gila, daripada harus menikah dengan Kak Zian.


"Hahahaha ... aku gila! Aku emang gila!” Kukejar anak-anak kecil yang meneriaki aku. Mereka lari, ada yang menangis dan jatuh.


Apesnya, ibu-ibu mereka keluar dari rumah masing-masing.


“Huuus, huuus, ada orang gila!” pekik mereka mengusirku. Ada yang bawa pentungan. Aku jadi takut mereka memukuliku.


“Dia bukan orang gila! Menyingkir kalian!” bela Kak Zian.


Aku masuk ke pekarangan yang ada beberapa sapi makan rumput. 


“Fai, tunggu! Di sana ada sungai dan jalan buntu! Nanti kamu jatuh!” teriak Kak Zian. Aku tidak peduli, berlari di dekat sapi-sapi yang duduk.


Satu sapi berbunyi, tiba-tiba berdiri dan tanduknya hampir menyerudukku. 


“Fai ... awas!”


Bug! Bug! Bug! 


Bunyi perut Kak Zian yang diseruduk sapi jantan itu. Dia terpental dan jatuh duduk sambil meringis memegangi perutnya.


Rasain! Aku tertawa-tawa.


Sialnya, saat berbalik, kakiku menginjak kotoran sapi. Aku mengumpat, lariku tidak secepat tadi dengan aroma kotoran sapi. Asem banget!


Napasku ngos-ngosan. Ternyata, nggak enak banget jadi orang gila. Capek. 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2