
"Faiza, maaf ... aku harus membopongmu ke motor, kamu pasti sedang mabuk." Kak Zian membuang rokok di sela jariku.
"Aku tidak mabuk! Hei, jangan bawa aku, lepas! Lepas!" Ingin meronta-ronta tapi tetap tidak bisa.
Aku hanya bisa menganga saat Kak Zian benar-benar membopongku. Aku sempat melihat ke arah Reno. Reno mabuk berat, mana mungkin dia akan menolongku dari Kak Zian?
Kak Zian mendudukkan aku di boncengan motornya saat keluar dari halaman rumah Rara. Keringat ditubuhku semakin banyak. Aku memakai baju tanpa lengan dipadu rok mini, seharusnya tidak membuatku segerah ini karena pakaianku cukup terbuka.
Aku tak bisa melawan Kak Zian, di hati ini sekali memukulnya dan berontak.
Di pikiran terus sibuk memikirkan sesuatu. Aku kenapa jadi begini? Bertanya-tanya sendiri dan aku tak tahu jawabannya.
Kak Zian memakaikan helm di kepalaku. Anehnya aku menurut. Melihat wajah khawatir Kak Zian, dalam pandanganku, wajah Kak Zian ... berganti wajah Mas Raka. Dan bayangan saat Mas Raka menciumiku penuh gairah terus bermain di pikiran.
Ya, itu yang ada di pikiranku. Adegan-adegan romantis, dan aku kepingin melakukannya.
"Kamu mau pulang ke rumah, atau ke rumahmu? Naya dan mamamu juga pembantumu sedang ada di rumah sakit menjaga Om Gunawan. Di rumahmu sepi."
Kak Zian selesai memasang helm di kepalaku. Dia lalu memasang helm di kepalanya sendiri.
"Aku mau pulang ke rumah, Kak. " Suaraku juga aneh, seperti manja. Rasanya, aku sulit mengendalikan diriku. Ingin marah, tapi tak bisa.
"Oke. Oh, ya ... pakai jaketku. Cuaca dingin."
Kak Zian membuka jaket levisnya, menyisakan kaus putih yang melekat pada tubuh atletisnya. Membuatku semakin membayangkan sesuatu ....
Dia memasang jaketnya padaku. "Kok, kamu berkeringat sebanyak ini? Lain kali jangan minum alkohol lagi, tidak baik, bahaya.”
Dia berkata lembut tepat di depan wajahku, hangat napasnya menerpa pipiku. Aku menatapnya. Wajah Kak Zian ... kata Naya ganteng. Ish! Aku memukul kepalaku.
Kenapa aku jadi kongslet begini?
"Kamu pusing? Pegangan ya, agar tidak jatuh." Kak Zian naik ke motornya, menyalakan mesin.
Dua tanganku langsung melingkar kuat di perut Kak Zian. Kepalaku menyandar ke punggungnya. Wangi parfumnya ... aneh ... membuatku merasa nyaman.
Kak Zian mendesis, "Itu, bekas yang kamu tusuk masih ada rasa sakitnya, jangan terlalu kencang, meluknya, eh pegangannya.”
"Kak Zian barusan nyuruh aku pegangan, gimana, sih?" Aku seperti merajuk, kembali merasa aneh, karena aku membayangkan memeluk Mas Raka ....
Motor Kak Zian melaju standar.
Pikiranku semakin melayang ke mana-mana. Ingat saat Mas Raka mengecup bibirku mesra, ingat saat tangan Mas Raka menjelajah tiap lekuk tubuhku.
Kami belum sempat malam pertama, belum melakukan hubungan suami istri, tapi kami mengisi malam-malam indah sebagai pengantin baru. Dan ... itu yang kini kurindukan.
"Mas ...." Tangan tanpa sadar meraba-raba perut Kak Zian sambil memejamkan mata.
"Faiza ... jangan tidur, ya. Nanti kamu jatuh." Kak Zian mengajakku bicara. Seperti waktu aku kecil, Papa juga akan berkata seperti itu bila memboncengku pakai motor.
Tangan kiri Kak Zian, memegang tanganku di perutnya, seolah takut aku ketiduran dan terjatuh.
"Hmm ... panas, gerah ...." Semakin menjadi-jadi rasanya.
"Sampai rumah langsung mandi, mungkin itu efek alkohol yang kamu minum."
Kak Zian tetap mengira aku minum alkohol di pesta ulang tahun Rara. Efek minum alkohol beda sekali dengan yang aku rasakan sekarang. Ada rasa gairah yang menggebu-gebu dalam diri.
Punggung Kak Zian yang hangat, tangan Kak Zian yang memegang tanganku, aku remas. Dua tanganku lalu bergerak, tidak lagi memegang perut Kak Zian, tapi pindah ke pahanya.
__ADS_1
Bayangan adegan romantis dengan Mas Raka terus menari di kepala, membuat dua tanganku mengelus paha Kak Zian.
"Faizara ... aku sedang menyetir, kalau tanganmu bergerak-gerak seperti itu, aku tidak konsentrasi karena geli." Kak Zian sedikit menoleh ke belakang, helm-nya sampai membentur helm yang aku pakai.
Aku yang biasanya sangat benci pada Kak Zian, tanpa rasa malu menempelkan dada ke punggungnya kayak prangko. Entah, ini dorongan apa.
"Hmmm panas, gerah ... gairah ...."
"Apa?" Kak Zian mungkin mendengar gumamanku.
"Itulah bahayanya minum alkohol, pikiran jadi melayang ke mana-mana." Kak Zian mengingatkanku.
Angin di jalan ini berubah kencang, lalu membawa titik-titik gerimis.
"Kita minggir dulu, pakai mantel."
Aku menggelengkan kepala.
"Aku mau mandi air hujan, aku kepingin, "racauku tidak jelas.
"Jangan, nanti kamu sakit." Motor Kak Zian melaju pelan. Akan berhenti di depan toko yang sudah tutup.
"Aku mau mandi air hujan!" Kali ini nadaku berubah tinggi. Dua tanganku pindah ke dada Kak Zian, kaus di dadanya sedikit basah.
"Hm, kalau kamu sadar apa yang kamu lalukan, Fai ... nanti kamu akan marah padaku. Mengira aku yang sengaja mepet-mepet ke kamu." Suara Kak Zian terdengar lirih. Mungkin karena aku begitu erat memeluk dadanya.
Motor berhenti di lampu merah.
"Woi, pengantin baru ya, romantis amat?" celetuk pemuda di atas boncengan motor yang berhenti di dekat motor Kak Zian. Temannya yang menyetir tersenyum simpul melihat ke arah kami.
“Mentang-mentang pengantin baru gak tau sikon.” Pria itu kembali melontarkan kalimat yang membuat Kak Zian menggaruk helm di kepalanya tanpa berkata apa-apa.
“Kalau gak pegangan gini, aku takut jatuh ....” Aku beralasan.
❤❤❤
Sampai di halaman rumah, gerimis belum reda. Kak Zian membuka helm-ku.
"Masih pusing?"
Aku menggeleng. Lalu mengangguk. Bingung. Melihat badan Kak Zian yang basah membuatnya semakin gagah.
"Kak ...." Aku merentangkan tangan.
"Oke ayo turun." Kak Zian mengulurkan tangan, setelah melepas helm di kepalanya.
"Gendoooong ...." Suaraku keluar persis seperti saat bermanja dengan Mas Raka.
"Oh, oke." Kak Zian mengangkat tubuhku.
Tanpa malu-malu, aku melingkarkan dua tangan ke leher Kak Zian. Dan terus menatap wajahnya sampai Kak Zian masuk ke kamarku di lantai atas.
Kak Zian menatap lurus. Tidak melihat padaku yang aku sendiri merasa aneh dan tak wajar karena seolah tak ingin lepas menatap wajahnya.
Rumah sepi. Semuanya ada di rumah sakit.
"Kamu mau minum?" Kak Zian menurunkan aku pelan-pelan di ranjang king size.
"Aku haus ...."
__ADS_1
"Sebentar aku ambilkan air minum."
Kak Zian yang membungkuk, akan berdiri. Tapi, aku mencegah dengan menarik belakang lehernya dengan dua tanganku.
"Aku bukan haus air, Kak?" Aku menggigit bibir bawahku. Persis wanita ganjen. Tak dapat mengontrol keinginan yang begitu kuat dalam diri.
"Haus apa, Fai? Apa mau kubuatkan teh hangat?"
"Tidak, tidak ... aku mau ...." Aku bergerak-gerak seperti cacing kepanasan dan semakin menarik belakang leher Kak Zian agar mendekat.
"Fai? Pokoknya, lain waktu jangan minum alkohol lagi. Biar tidak sedeng." Kak Zian mengernyitkan dahinya. Wangi napasnya membuatku tersenyum padanya.
Senyum yang tak pernah kutunjukkan sebelumnya. Kak Zian semakin mengerutkan kening.
"Di sana aku cuma minum jus jeruk." Suaraku disertai *******. Lidah melet-melet kayak ular.
"Hanya jus jeruk? Mana mungkin jus jeruk membuatmu aneh begini? Siapa yang memberimu minuman?"
Heni. Tapi aku enggan menjawab. Fokusku adalah wajah Kak Zian yang ... terlihat dewasa dan machoo. Bibirnya begitu ... menggodaku untuk ....
Napasku semakin cepat.
"Apa teman priamu itu?"
Aku menggeleng. Bukan Reno.
"Bajumu basah, segera ganti agar tidak masuk angin." Kak Zian tidak peka dengan isi otakku yang mulai ngeres.
"Bukain jaketnya," pintaku.
Kak Zian dengan sabar mengikuti kemauanku. Dia membuka jaket, menyisakan bajuku yang memperlihatkan dadaku yang penuh dengan belahan yang menggoda.
"Mandi air hangat, ya. Dan tunggu di sini. Aku mau ke dapurmu mau bikin minuman hangat."
"Tak perlu, Kak." Aku kembali menarik lengan kekar Kak Zian. Sampai Kak Zian terduduk di pinggir ranjang. Aku bangun, lalu mendekatkan wajah pada wajah Kak Zian. Berharap ... Kak Zian .....
"Faizara, kalau ada masalah seberat apa pun, jangan ulangi pergi dari rumah. Tempat ternyaman untuk berbagi keluh kesah adalah keluarga, juga perbanyak berdoa. Salah jika kamu memilih menginap di apartemen teman priamu. Lalu curhat padanya, bisa jadi dia memanfaatkanmu. Kamu sampai seperti ini.”
"Hhmmm, Kak Zian banyak bicara," potongku. "Aku tidak mabuk."
Kak Zian menjauhkan wajahnya.
"Iya, kamu tidak mabuk. Tapi kamu sadar tidak? Kalau kamu sepertinya ada dalam pengaruh obat."
"Hmmm ...." Kupeluk lengan Kak Zian. Tak ada rasa canggung sedikit pun.
Pengaruh obat, obat apa? Aku tidak minum obat-obatan.
“Fai, Fai ... bagaimana jika aku tidak menyusulmu ke pesta ulang tahun itu dan tidak membawamu pulang? Bisa saja kamu sudah dibawa ke kamar dan diapa-apain oleh pria yang tak bertanggung jawab.” Kak Zian menarik napas berat. “Silakan ganti bajumu, kalau tidak mau mandi tak apa-apa, asal ganti baju kering agar tidak flu. Aku akan keluar.”
Kak Zian hendak bangkit ....
“Gak mauuu ... jangan tinggalkan aku sendirian.” Aku memeluk Kak Zian. Wajahku bersembunyi di lehernya.
Dorongan aneh dalam diriku semakin menunjukkan diri. Aku ... ingin sekali menciumi leher Kak Zian.
Aku pun melakukan perintah tak wajar dari otakku.
“Aduh, Fai ...? Jangan seperti ini. Kita belum sah. Kamu sadar tidak? Sepertinya kamu diberi obat perangsang ....” Kak Zian memegang kepalaku dan menjauhkannya, dia tidak membiarkan aku mencium lehernya lagi.
__ADS_1
Bersambung