
Naya, Papa dan Mama datang berkunjung malam ini. Katanya, sekalian mau menjenguk Kak Zian. Naya membawa keranjang berisi buah-buahan.
“Mbak, Kak Zian mana?” bisik Naya di teras, tapi tidak aku tanggapi.
"Papaa ... Mama, aku kangeeeen!" Kupeluk Papa erat, lalu memeluk mama.
"Huuu ... anak kesayangan papa tuh, si manja!" olok Naya.
"Emang anak kesayangan. Iri, ya?" cibirku.
Aku memang sangat manja dan tentu saja dimanja, terutama oleh Papa. Dulu, waktu aku kecil, sering sakit-sakitan. Jadinya orang tuaku memberikan perhatian lebih padaku. Semua keinginan dituruti, membuatku terbiasa hidup mewah. Aku sadar, aku orangnya agak keras kepala dan egois karena terbiasa dimanja oleh orang tuaku.
Papa dan Mama hanya tersenyum karena kami ribut sambil bercanda.
Aku mempersilakan masuk. Mas Raka menyambut keluargaku di ruang tamu. Mama mertua menyapa dan salaman sama orang tuaku, dan ... Kak Zian datang ke ruang tamu.
Tiap melihat Kak Zian, wajahku langsung cemberut. Ini orang benar-benar membawa aura negatif. Huh!
Kami berbincang-bincang sambil menikmati hidangan yang disuguhkan pembantu. Aku duduk di sebelah Mas Raka.
Saat aku melihat pada Naya, dia sering curi-curi pandang ke arah Kak Zian yang menceritakan kronologi saat kecelakaan.
Naya tampak mengetik di layar ponselnya.
Notif WA muncul di ponselku.
[Mbak, minta tolong fotoin Kak Zian diam-diam]
OMG! Apasih Naya ini? Norak banget!
[Buat apaan? Buat nakut-nakutin tikus]. Aku membalas cepat.
[Buat diliat kalau aku kangen, dong]. Diikuti emotikon love warna merah.
[Dia bukan artis, ngapain mau fotoin dia?]
[Plis, fotoin ya, Mbak. Meski bukan artis, tapi tampannya kayak artis indiahe. Ada brewok-brewoknya gitu. Bikin gemes] diikuti emotikon ketawa ngakak.
[Nggak. Jangan ganjen Naya! Hadeuh!] Aku melotot padanya. Naya malah nyengir kuda.
Suara notif muncul lagi.
[Kumohon, Mbakku Sayang. Sekalian tanyain, Kak Zian lagi jomlo nggak, ya?]
Ngawur! Kumatikan jaringan WIFI, nggak enak kalau Mas Raka melihat pesan dari Naya karena kami duduk berdampingan.
Aku kembali melotot pada Naya yang tersenyum pada Kak Zian. Apa Naya benaran naksir Kak Zian? Dasar! Seperti tak ada pria lain. Seleranya payah!
“Kak Zian, ayo kalau mau main-main ke rumah,” ajak Naya saat Papa dan Mama sudah di teras hendak pulang setelah dua jam lebih kami mengobrol. Aku, Mas Raka, Mama mertua dan Kak Zian mengantar ke teras.
__ADS_1
“Insya Allah kapan-kapan, Dik, ” jawab Kak Zian.
“Oke siap!” Naya mengacungkan jempolnya.
Naya pamit sambil mencium pipiku lalu berbisik, “Semoga Kak Zian ke rumah sambil bawa seserahan.”
Dih! Tidak aku tanggapi ocehan tak jelas Naya. Memilih salaman pada Papa dan Mama dan memeluk mereka.
“Anak kesayangan berpelukan kayak teletubbies,” ledek Naya membuat semuanya tertawa. Tak terkecuali Kak Zian, dia tersenyum.
❤❤❤
Jam sembilan pagi. Mas Raka seperti biasa sudah berangkat sejak selesai sarapan tadi.
Kayaknya enak saat cuaca sedang hujan begini makan mie kuah. Malas mau ke dapur, aku kirim pesan pada Ina untuk dibuatkan mie kuah.
Lengkap memberitahukan kalau mie kuah kesukaanku rasa soto, ditambah sedikit sayur sawi, tomat dan cabai rawit merah dan telur mata sapi.
Tak berapa lama, Ina mengetuk pintu.
"Masuk saja!"
"Permisi, Non." Ina masuk membawa nampan.
"Letakkan di meja dulu ya. Aku masih mau ke kamar mandi."
"Baiklah, Non."
Aku keluar membawa mie itu. Di ruang tengah Marini sedang mengepel.
“Masih licin, Mbak. Hati-hati,” katanya tapi tidak aku sahuti.
Aku ingin menemui Ina dan akan memarahinya karena mie kuahnya tidak sesuai dengan keinginanku.
Tak peduli ada Kak Zian sedang minum kopi duduk di kursi dapur. Kumarahi Ina.
"Ina! Sudah kubilang kasih cabainya yang merah, kenapa cabainya hijau? Dan siapa suruh cabainya diiris-iris, aku sukanya cabainya utuh biar aku sendiri yang menghancurkan pakai sendok!" Suaraku seperti petir, aku memang begitu orangnya. Ceplas-ceplos, tidak anggun seperti Naya.
"Maaf, Non, adanya cabe hijau ...." Ina gelagapan. ”Dan saya tidak tau kalau Non sukanya cabe utuh bukan diiris.”
"Mie apa ini?!" Kubuang mie di tempat cuci piring sama baskomnya sekalian. "Buatkan lagi!"
Kuhardik Ina, tak peduli dia menganggapku galak.
"I-iya, Non, maaf!”
Aku melangkah lebar meninggalkan dapur. "Bikin mie saja nggak becus!" Aku terus saja uring-uringan.
"Fai, tunggu, Fai!"
__ADS_1
Kak Zian mengikuti langkahku sampai ke ruang tengah. Apalagi ini orang? Sudah tahu aku lagi emosi.
"Apa?" Aku menghentikan langkah tanpa berbalik.
"Fai, kalau ada makanan yang tidak cocok buatan pembantu, jangan langsung dibuang, mubazir ...."
"Hei, ngapain Kakak ikut campur urusanku?" Aku berbalik, melihat pada Kak Zian sambil gigi-gigiku gemeletuk karena tambah emosi.
"Bukan ikut campur, hanya ... mengingatkan. Kasian kalau Ina dimarahi." Kak Zian berkata lembut. Tapi, bagiku dia sok baik.
"Apa?! Kalau pembantu salah ya dimarahi, emang kenapa?” Aku nyolot.
“Kasian, bicaranya jangan sambil marah-marah juga.”
“O ya? Penting itu buat Kak Zian? Heran deh, ada kakak ipar yang sok banget kayak Kakak! Memperingatkan seolah-olah aku ini tak punya adab. Mulai saat ini kakak gak perlu lagi ikut campur urusanku, ngerti?”
Habislah kesabaranku. Kak Zian tak menjawab. Enak saja mau ngatur-ngatur aku.
Aku kembali melangkah lebar. Lantai licin baru saja di pel membuat kakiku tergelincir. Aku melotot, tubuhku seketika condong ke depan, dan ....
"Fai!"
Sebelah lenganku ditarik cukup kuat oleh Kak Zian, sampai-sampai aku berbalik dan ....
Dadaku membentur dada Kak Zian. Aku menganga dan semakin melotot. Begitu juga Kak Zian. Apesnya, kami sama-sama kembali mau jatuh karena tak seimbang.
Dengan gerakan cepat dua tangan Kak Zian melingkar ke belakang punggungku. Aku tidak tahu harus ngapain, bibir cuma menganga saat posisi kami seperti berpelukan erat. Waktu seolah berhenti berputar.
"F-Fai ... ha-hati, hati ...." Suara Kak Zian juga seperti tercekat sambil menelan ludah. Wajahnya hampir tak berjarak dengan wajahku. Sementara dada kami masih dempet kayak kembar siam.
Hangat napas Kak Zian yang berembus ke wajahku membuat bulu romaku berdiri.
“Kak ....” Aku berucap lirih. Kenapa jadi sulit bicara? Aku ingin marah dan mengatakan ‘lepaskan aku! Lepaskaaaan!’
Namun, suaraku tidak keluar.
"Kak.... " Hanya suara lirih itu lagi yang keluar dari bibirku yang gemetar.
"Ya...?" Kak Zian pun hanya menanggapi pendek, dia seperti kebingungan juga. Berkali-kali menelan ludah dengan embusan napas cepat.
Apa dia tidak sadar sudah memelukku erat? Bukannya dilepas, dia tetap memelukku!
"Uhuh, uhuk ...." Suara batuk Mama. Beliau sudah berdiri di dekat kami sambil menatap heran.
Tubuhku memanas saat Kak Zian melepas dua tangannya di belakang punggungku. Kak Zian seolah seperti baru tersadar kalau sudah memelukku.
Kami sama-sama mundur. Sumpah aku malu ketahuan mama mertua sedang berduaan dan berdempetan dengan Kak Zian. Entah apa yang beliau pikirkan.
“I-itu, Ma. Aku bantuin Fai yang barusan hampir jatuh.” Kak Zian segera memberitahu Mama sebelum ditanya. Wajahnya pun memerah mirip kepiting rebus. Tak dapat menyembunyikan, kalau dia juga grogi. Pasti dia grogi karena barusan tak ada jarak denganku.
__ADS_1
Bersambung