
Suara Azan Subuh berkumandang, membangunkanku. Rasanya masih betah dengan selimut, karena cuaca pagi ini sangat dingin.
Nenek sudah tidak ada di sampingku, sepertinya Nenek sudah ke dapur.
Melawan rasa dingin, kusingkap selimut. Menarik napas panjang, merasakan udara pagi yang segar.
Nenek sudah sibuk membuat kopi dan teh saat aku hendak ke kamar mandi.
"Maaf, Fai baru bangun, Nek."
Nenek menoleh, wanita yang sudah berumur tapi tampak sehat itu tersenyum padaku, "Tidak apa-apa, Nak. Setelah salat, minum teh ya. Nenek juga sudah membuat jemblem untuk mengisi perut pagi-pagi."
"Iya, Nek. Nenek masih subuh sudah repot-repot." Aku merasa kasihan, terharu, dan tidak enak karena Nenek begitu perhatian.
Keluar ke belakang, di kamar mandi masih ada orang. Entah itu Kak Zian atau Pak Adam yang sedang berwudu, aku berdiri menunggu.
Pintu kamar mandi dibuka, ternyata Kak Zian. Aku semakin terpesona melihatnya, wajah basah itu semakin memesona di mataku.
"Fai, silakan ...."
"Eh, iya ...." Aku gelagapan.
Usil, saat hampir berpapasan dengan Kak Zian, aku pura-pura terpeleset.
"Aduh, aduh, aku mau jatuh!"
Benar saja, Kak Zian spontan menarik sebelah lenganku sehingga kami berdiri sangat dekat. Karena tak seimbang, dua tanganku begitu nakal melingkar di leher Kak Zian.
"Hati-hati licin," katanya.
Hatiku terasa damai bila berdekatan dengan kakak iparku ini. Wajahnya begitu meneduhkan. Rasanya ingin selalu berada di dekatnya.
Kukira setelah kematian Mas Raka, hatiku akan sulit terbuka untuk pria lain, nyatanya? Aku yang semula benci dengan Kak Zian, sekarang mulai tumbuh benih-benih cinta ....
"Fai ... aku mau wudu lagi." Aku yang terbengong, masih belum melepas pegangan tanganku di leher Kak Zian.
"Eh, i-iya, Kak ...."
"Bang Zian ...."
Aku sontak melepas peganganku. Ratih berdiri sambil bersedekap. Dia seperti hantu saja, tiba-tiba datang mengganggu kebahagiaanku.
"Iya, Rat, ada apa?" sahut Kak Zian.
"Aku mau minta tolong setelah Bang Zian selesai salat. Regulator kompor gasku eror, bantu benerin ya."
"Iya, aku mau salat dulu."
"Oke, Bang. Makasih sebelumnya. Abang selalu baik padaku." Senyum Ratih mengembang. Dia sepertinya sengaja mengucapkan kalimat itu agar aku cemburu.
Ratih lalu berjalan ke arah dapurnya.
"Oh, jadi si Abang ini selalu ada buat ngebantu Ratih?" tanyaku menyindir Kak Zian.
"Sesama tetangga bukankah harus saling membantu, Fai?"
"Iya sih, Kak. Tapi kalau terlalu sering minta bantuan dari Kak Zian, itu cari perhatian namanya." Hatiku dilanda cemburu membayangkan Kak Zian sebelum-sebelumnya kerap membantu Ratih.
__ADS_1
"Aku hanya membantu kok, Fai. Ratih cari perhatian atau tidak, ya aku tidak tau. Aku mau wudu dulu ya, ya." Kak tersenyum lalu kembali masuk ke kamar mandi untuk berwudu.
"Ih, sebel! Ratih pasti cari perhatian, huh!" gerutuku setelah Kak Zian masuk kamar mandi.
❤❤❤
Aku salat di kamar Nenek, Kak Zian dan Pak Adam salat di musala.
Setelahnya, aku membantu Nenek di dapur. Pagi ini Nenek akan membuat tumis kangkung. Aku membantu mengiris kangkungnya.
"Gatal-gatalnya sudah mendingan ya, Nak?"
"Alhamdulillah, Nek. Sudah tidak gatal lagi. Terima kasih, minyaknya mujarab sekali." Aku sangat bersyukur, menemukan obat untuk penyakitku di rumah Kak Zian. Untung aku mengikuti saran Naya untuk datang ke sini.
"Syukurlah, nanti pulangnya bawa minyaknya yang banyak ya. Biar benar-benar pulih."
"Wah, terima kasih, Nek."
Kak Zian sudah datang dari musala, aku rasanya berat melihat pria gagah itu berjalan ke arah dapur Ratih.
Cukup lama Kak Zian di sana, kulihat dari jendela dapur, Kak Zian belum keluar juga.
"Nungguin Zian, ya, Nak?" tanya Nenek seperti mengerti kegelisahanku.
"Hmm, Kak Zian sudah biasa bantuin Ratih ya, Nek? Apa Kak Zian dan Ratih punya hubungan?"
Nenek tertawa, gigi-giginya masih lengkap berwarna kemerahan karena terbiasa mengunyah kapur, sirih, pinang, dan gambir.
"Nenek tidak tau urusan anak muda. Tapi, bapak Ratih pernah berkata ingin sekali punya menantu seperti Zian."
Bahaya! Ratih bakalan jadi saingan terberatku. Aku harus gerak cepat, tidak boleh Kak Zian sampai jadi dengan Ratih.
"Makan pagi kali ini bakalan lebih enak, karena kangkungnya diiris langsung oleh chef Faizara."
Kak Zian humoris juga, dia mulai berkelakar.
Aku mengangkat bahu, "Iya, dong. Siapa bilang hanya Ratih yang jago masak?"
Kak Zian tertawa, seakan terhibur melihatku sewot karena cemburu.
"Siap, Chef! Kutunggu masakannya ya." Kak Zian pakai hormat segala membuat Nenek tetawa.
❤❤❤
"Lumayan tumis kangkungnya, bumbunya meresap dan kangkungnya berasa kangkung," ucap Kak Zian setelah mencicipi tumis kangkung buatanku.
"Iiih ... Kakak ngeledek masakanku, ya?" Dua pipiku menggelembung.
"Jangan ngambek, dong, Fai ... masakanmu enak, serius enak banget, loh. Iya kan, Nek?"
"Iya, enak," sahut Nenek.
Aku pun tersenyum. Bahagia bisa makan bersama sebelum pulang. Asli, aku belum ingin pulang, tapi malu kalau menginap lagi tanpa alasan yang jelas.
Sebagai rasa terima kasih, sebelum pulang, aku akan membelikan Nenek sembako. Kulihat toko tak jauh dari sini, kata Nenek tidak usah, tapi aku tetap berangkat jalan kaki sendirian, nanti setelah selesai biar Pak Adam yang mengangkat belanjaanku.
Saat hampir sampai di toko itu, aku kaget mendengar percakapan dua pemuda di depan toko, kebetulan mereka duduk membelakangiku.
__ADS_1
"Sekarang jadi pocong itu dibayar," ucap yang memakai kaus putih.
"Jadi pocong gimana?" tanya temannya.
"Jadi pocong, nakutin orang baru. Dapet, deh bayaran. Makanya sekarang aku traktir kamu banyak camilan." Pemuda itu tertawa.
"Emang siapa yang membayar?" Temannya bertanya lagi.
"Ada, deh ... Mbak cantik yang berlesung pipit."
Jantungku langsung bergemuruh kencang. Ratih! Jadi dia yang sengaja menyuruh orang untuk menakutiku?
Aku berdehem. Dua pemuda itu menoleh dan yang baju putih terlonjak kaget seperti bertemu hantu. Dia menarik baju temannya, temannya bertanya ada apa. Belum dia jawab, pemuda berbaju putih lari tunggang langgang karena kupelototi.
Oke, Ratih menabuh genderang perang padaku, akan aku buat dia gigit jari. Lihat saja!
Setelah belanja sembako, Kak Zian menyusulku ke warung, Pak Adam juga membantu mengagkat belanjaan.
"Fai, kenapa repot-repot membelikan sembako?" Kak Zian bertanya setelah meletakkan sembako itu di dapur.
"Nggak apa-apa, Kak. Aku berterima kasih karena Kakak dan Nenek sudah menerimaku dengan baik. Juga, gatal-gatalku sudah mendingan." Aku merangkul Nenek. Sayang banget sama beliau.
"Iya, sama-sama, Nak." Nenek memelukku.
Sebelum pulang, pokoknya aku harus bicara serius dengan Kak Zian.
" Oh, iya, Kak, aku mau bicara serius."
Kak Zian mengangguk. "Boleh."
Nenek dan Pak Adam pengertian, membiarkan aku dan Kak Zian bicara di ruang tamu.
"Kak Zian serius mau sama aku?"
"Kenapa tanya begitu, Fai? Kalau aku, sejak Raka meninggal, sangat berharap kamu mau menikah denganku. Tapi, kamu memilih Reno. Sekarang, jika kamu dan Reno tidak ada hubungan lagi, aku masih berharap bisa menikah denganmu. Seharusnya aku yang bertanya, maukah kamu menikah denganku?"
Aku menganga, lalu menutup mulut. Speechless mendengar ucapan Kak Zian. Dari sorot matanya, ada kesungguhan di sana.
Aku mengangguk berulang kali. "Mau, Kak. Aku tak akan menolak Kak Zian lagi, tak ada alasan buatku untuk menolak pria sebaik Kakak."
Aku takut keduluan Ratih. Makanya, aku menjawab jujur. Agar Kak Zian tidak ragu, dan tidak kecewa.
Kak Zian tersenyum, manis sekali. "Alhamdulillah ... Aku akan datang ke rumahmu, Fai. Aku akan melamarmu."
Mantap sekali ucapan Kak Zian membuat kami sama-sama tersenyum bahagia dan rasa haru menyeruak. Mata kami kompak berkaca-kaca.
"Segera ya, Kak." Lolos air mata di kedua pipiku. Jadi ingat dengan Mas Raka. Dulu, dia berkata semantap itu saat akan mau menerimaku sebagai istrinya.
"Ya, insya Allah secepatnya ...." Suara Kak Zian bergetar haru. Dia mengusap air mata di dua sudut matanya.
"Ya, bimbing aku ya, Kak, agar aku nantinya jadi istri yang baik dan salihah. Aku sadar, selama ini begitu egois, mudah emosi dan kekuranganku yang lain begitu banyak." Air mataku semakin deras.
"Sama, Fai. Aku juga banyak kekurangan. Kalau sudah menikah, kita akan saling melengkapi agar pernikahan kita selalu diberkahi."
Aku terharu, bahagia, dan tak menyangka akan segera dilamar oleh Kak Zian.
"Boleh peluk, tidak?" Aku merentangkan tangan. Kak Zian menggeleng lucu.
__ADS_1
"Belum halal, Mbak. Nanti saja kalau sudah menikah." Pak Adam muncul dari pintu depan membuat kami jadi tertawa.
Bersambung