Kakak Ipar Melihat Auratku

Kakak Ipar Melihat Auratku
Menunggu Malam Pertama


__ADS_3

“Iya, ini lantainya licin, hati-hati, Nak," ujar Mama sambil melihat ke lantai.


“I-iya licin, Ma.” Kak Zian menggaruk pipinya yang bercambang tipis. Rona merah di wajahnya masih belum hilang.


Melihat ekspresi wajah Kak Zian seperti itu membuatku bergidik. Dasar omes! Otak mesum!


Pasti dia senang ada insiden seperti barusan. Main peluk-peluk sembarangan. Mana sampai nempel banget.


Wajahku kian memanas, aku menunduk, menyembunyikan wajahku. Semoga mama mertua tidak berpikir yang tidak-tidak. Dan semoga mama tidak menceritakan pada Mas Raka.


Mama mertua berjalan ke dapur. Aku langsung memelototi Kak Zian. "Kakak seharusnya tidak usah pegangin aku, tidak usah peluk-peluk! Sengaja banget kayaknya!"


"Ya ampun, Fai... kenapa kamu selalu berpikiran negatif? Masa iya aku membiarkan kamu jatuh ke lantai. Kalau gegar otak, bisa bahaya. Aku refleks saja barusan. Bukan sengaja mau memelukmu."


"Biarkan saja aku gegar otak, daripada ditolongin Kak Zian!" Aku membuang muka, dan pergi meninggalkannya.


Mas Raka bisa cemburu jika tahu, aku dan Kak Zian berdempetan seperti berpelukan, meskipun itu tanpa disengaja. Huh!


❤❤❤


Naya kembali datang berkunjung ke rumah Mas Raka. Dia ke sini bukan untuk menemuiku, aku yakin itu. Yang dia tanyakan ....


"Mbak, Kak Zian mana?" bisik Naya.


"Oo ... jadi ke sini mau menemui orang gunung itu?"


Naya menutup mulutnya yang tertawa cekikikan. "O iya, dong! Kak Zian lagi di mana, Mbak?"


"Mana gue tau! Cari sendiri pria norak itu, cih!" Aku berdecih. Lama-lama adikku satu-satunya ini ngeselin juga.


Aku geli melihat Naya sok kenal dan sok dekat dengan Kak Zian. Jelas, dia cari perhatian pada Kak Zian.


"Kakak sudah mendingan?" tanya Naya. Dia dengan asyiknya duduk di pinggir kolam menemani Kak Zian yang sedang bersantai di kursi panjang.


"Iya, sudah lumayan."


"Itu artinya, Kak Zian hampir pulang, dong ...?"


"Iya."


"Hm ... kalau kakak pulang, ntar ada yang kangen, loh."


Aish! Si Naya jadi bucin begitu, maunya apa sih dia?


Aku sedang menyiram bunga yang aku tanam di pot-pot kecil di teras samping. Mendengar percakapan tak penting Naya dan Kak Zian. Telingaku jadi gatal. Apalagi kulihat Naya terus memandangi Kak Zian.


"Iya, Dek. Kalau aku pulang, Mama pasti akan kangen padaku." Kak Zian menjawab sambil tersenyum.


"Selain mamanya, pasti nanti ada yang kangen kalau Kakak pulang."


Kak Zian masih tersenyum, "Iya ada, dua adikku, Raka dan Aris pasti juga kangen."


"Iya. Tapi, ada lagi yang bakalan kangen ... coba tebak siapa?" Naya tersenyum malu-malu. Aku menghentikan menyiram bunga, berdiri tegak sambil berkacak pinggang.


Geregetan dengan kecentilan Naya pada kakak iparku.


Kak Zian hanya tertawa pelan. "Emang siapa yang akan kangen padaku?"


"Coba tebak!" pinta Naya lagi.

__ADS_1


"Nggak tau aku, emang siapa?"


"Ada, deeeeh!"


Brrrrrrr! Ingin rasanya kutimpuk Naya yang cengengesan seolah memberi kode pada Kak Zian.


Aris menyapaku saat lewat di teras samping, dia sudah pulang dari pendakian tadi malam. Aris lalu bergabung bersama Naya dan Kak Zian.


Aris membuka percakapan dengan menyapa Naya, obrolan selanjutnya dia menceritakan pengalamannya naik gunung.


Mereka mengobrol seru sekali.


"Sayang, kenapa nggak ikut gabung sama mereka?" Mas Raka pulang lebih awal.


"Eh, Mas. Maaf ... aku nggak tau Mas sudah pulang."


Tangan kanan Mas Raka aku bawa ke hidung untuk kucium. Mas Raka balas mengecup keningku.


Saat mata melihat ke arah kolam ... ada sepasang mata Kak Zian yang melihat ke arah kami.


Entah, spontan aku berjinjit dan balas mencium kening Mas Raka. Mas Raka merengkuh tubuhku lalu mencandaiku sambil menggelitiki pinggang dan berulang kali mencium pipiku membuatku tertawa.


"Woyyy, Mas, Mbak ... jangan bermesraan di situ, di sini para jomlo jadi ngiri, nih!" celetuk Aris dari dari pinggir kolam.


Mas Raka pun tertawa, “Sorry, harap maklum, pengantin baru mah bebas.”


Aris dan Naya tertawa mendengar ucapan Mas Raka, sedangkan Kak Zian hanya tersenyum, pandangannya beralih pada air kolam yang jernih.


"Nay, kalau sama Kak Zian. Kamu itu gak cocok. Kalau sama Aris cocok." Kujodoh-jodohkan saja sama Aris. Saat Naya pamit pulang, dan kami sudah berjalan di ruang tamu.


"Tapi lebih macho kakaknya dari Aris. So? Tetap hatiku pro pada Kak Zian."


"Payah!" Dua jempol tangan kuhadapkan ke bawah.


Kugetok kepala Naya. "Kamu ini, baru saja lulus SMA tapi seleranya om-om!"


"Kak Zian masih muda, Mbak, bukan om-om kaleeee ... cocok kalau jadi calon suami.” Naya meleletkan lidahnya.


"Hiiii ... muda dari hongkong! Kuliah dulu yang bener, jangan mikir jauh ke calon suami!”


“Lah, kenapa emang, aku siap kok nikah muda asal sama Kak Zian.”


“Wew! Ngawur!” kugetok lagi kepala Naya biar sadar sadar kalau khayalannya tak bermutu.


❤❤❤


Hari-hari selanjutnya, aku merasa sangat risi bila bertemu dengan Kak Zian. Entah itu saat sarapan bersama, makan siang dan makan malam. Jantungku deg degan.


Bahkan, saat tak sengaja berpapasan di ruang tengah, atau bertemu di teras. Aku merasa jijik.


Ini kuyakini sebagai rasa benci yang makin bertambah padanya.


Prang!


"Aduh!" Kak Zian mengaduh saat kami tanpa sengaja terbentur di dekat pintu dapur.


Teh panas yang aku bawa pakai nampan tumpah kena dada Kak Zian, gelasnya sampai jatuh dan pecah.


Kak Zian mengusap-usap dadanya yang pastinya panas. Aku hanya diam tanpa mengucap maaf. Jantungku langsung berdebar karena terkejut saat akan berbelok tak sadar Kak Zian datang dari arah berbeda.

__ADS_1


"Ina! Tolong bersihkan pecahan gelas ini!" Kupanggil Ina. Ina tidak menjawab.


"Ina!" Suara semakin aku nyaringkan.


"Ina barusan aku lihat pergi keluar, mungkin ke toko," ujar Kak Zian sambil masih mengusap dadanya. Lalu dia berjongkok. Tanpa berkata-kata mengambil pecahan gelas yang berserakan.


"Kakak ini gimana? Habis kecelakaan bukannya banyak istirahat malah keluyuran!" Lagi dan lagi, mulut tak bisa menahan untuk menyalahkan Kak Zian.


"Fai, kepala dan tanganku sudah mendingan. Aku bosan kalau di kamar terus." Kak Zian fokus mengambil dengan hati-hati pecahan-pecahan gelas yang tajam.


"Iya itu, jadi menyusahkan orang lain, kan? Coba barusan kita tidak berbenturan, teh itu sudah kuberikan pada Mas Raka, sekarang aku harus bikin lagi!"


Kak Zian bangun, di tangannya sudah ada pecahan gelas. "Ya buat lagi saja, ini hanya masalah sepele, tak perlu dibesar-besarkan."


Kak Zian berbalik, berjalan ke tepat sampah dan memasukkan pecahan gelas.


"Masalah sepele buatmu, buatku masalah besar!" Aku berkata kasar dan berjalan ke dapur. Kembali akan membuat teh buat Mas Raka.


Kapan sih, Kak Zian pulang? Kak Zian selalu membuatku bete dan bikin mood-ku jelek terus kalau ada dia.


“Kenapa cemberut, Sayang?” tanya Mas Raka saat aku membawakan teh tawar padanya di kamar.


“Mas, kenapa Mas punya saudara yang nyebelin seperti Kak Zian?” Aku duduk di sebelah Mas Raka lalu menyandarkan kepala pada lengannya.


“Kenapa lagi, Sayang?”


“Kak Zian menabrakku barusan, gelasnya sampai pecah, ini teh aku buat lagi,” ceritaku.


“Ya dia pasti tidak sengaja, Sayang. Jangan marah terus, nggak kasian apa sama Kak Zian?”


Aku manyun. Kasihan pada Kak Zian? Tidak! Untuk apa kasihan padanya?


Mas Raka mengelus rambutku dan mengecup puncak kepalaku. “Karena kamu belum mengenal secara mendalam, jadinya menganggap Kak Zian itu tidak menyenangkan, padahal dia orangnya asyik. Tak kenal maka tak sayang, bukan? Kalau sudah kenal akan sayang.” Mas Raka mencium pipiku.


Sayang? Hiy! Amit-amit! Aku tak ingin mengenal Kak Zian lebih jauh lagi.


"Sama kakak ipar tidak perlu terlalu akrab, apalagi harus kenal lebih jauh," sanggahku.


"Iya, tapi kakak ipar itu adalah saudara, dia yang akan melindungi kamu." Mas Raka menautkan jemari tangan kanannya pada tanganku.


"Yang akan melindungi dan menjagaku adalah suamiku yang tampan ini. Bukan Kak Zian." Aku tetap tidak setuju dengan ucapan Mas Raka. Aneh, kenapa Mas Raka berkata seperti ini?


Kubawa tangan kami yang saling bertaut ke bibir untuk mencium tangan Mas Raka.


"Karena tak mungkin selamanya aku di sampingmu, Sayang. Aku tiap hari sibuk dengan beberapa bisnisku.”


"Mas bicara apa, sih?" Aku merajuk. Bosan kalau arah pembicaraan mengarah pada Kak Zian. "Meskipun Mas sibuk, aku tak perlu pria lain untuk melindungiku, kecuali suamiku."


Mas Raka terlihat gemas, dia membawaku ke pelukannya. "Begitu ya? Tapi ipar perannya juga penting kok, Sayang...."


"Ih, Mas bahas ipar terus." Aku jadi bete.


"Ya udah, kita bicara tentang ... malam pertama."


"Eh, iya, Nih. Aku haidnya hampir selesai, sudah tiga belas hari." Aku berubah semangat.


"O ya? Paling lamanya haid kan lima belas hari, wah ... siap-siap nih kita. Aku sudah tak sabar menunggu malam itu." Mas Raka tak kalah semangat. Dia mencium keningku lama.


"Tentu, Mas. Aku juga sudah tak sabar." Aku memeluk suamiku tercinta ini. Kami saling berpelukan erat.

__ADS_1


Mas Raka sabar menunggu, sampai hampir lima belas hari, kasihan juga. Semoga malam pertama kami nantinya tak ada kendala. Mas Raka, pria yang akan membuatku jadi istri seutuhnya ....


Bersambung


__ADS_2