
Naya pamit, aku tak bisa mengantarnya ke bawah. Lima menit kemudian ....
Suara Naya tertawa dan berbicara sampai ke kamarku. Penasaran aku ke balkon. Bukannya pulang, Naya malah asyik ngobrol sama Kak Zian di halaman samping.
Dasar kecentilan itu anak!
"Kak kapan-kapan ajak aku ke gunung ya, pasti pemandangannya bagus ...."
"Boleh."
"Nayaaaaaaaaa ...!” Aku berteriak. Naya dan Kak Zian kompak menoleh ke atas.
"Iya Mbak, ada apa?" tanya Naya.
"Pulaaaaaaang!" teriakku.
"Mbak jangan teriak-teriak juga kaleeee ...." Naya meleletkan lidahnya.
"Pulaaaaang! Kalau nggak kulempar sandal, nih!"
Kuambil sandal di kakiku. Kutunjukkan pada Naya seperti hendak melemparinya.
Naya malah tertawa. "Harap maklum ya, Kak Zian. Mbakku suka emosian."
"Pulang! Malah nge-gibah!" Aku benar-benar melempar sandalku, membuat Naya menghindar dan kena ... kepala Kak Zian!
"Aduh!" pekik Kak Zian dan memegang kepalanya.
“Mbak gak boleh gitu, dong. Kena Kak Zian, kan. Kak Zian nggak apa-apa?” Naya sontak mendekat ke arah Kak Zian, melihat kepalanya dan menyentuh kepala pria nyebelin itu. Seketika ... ada rasa aneh di hati saat kulihat Naya memegang kepala Kak Zian.
"Naya ... pulang!"
"Iih, Mbak, bukannya minta maaf sama Kak Zian." Naya menyaringkan suaranya. "Mbak nggak sopan!"
Naya terang-terang berkata begitu. Membuatku jadi mengeratkan gigi-gigiku. Belum lagi melihat Naya yang agak lebay terus menanyakan kondisi kepala Kak Zian.
"Kepala Kakak nggak apa-apa, kan?"
"Nggak apa-apa," sahut Kak Zian.
Ya jelas nggak apa-apa, lah, cuma kena sandal jepit doang! Aku menggelembungkan pipi, sebal.
Naya terdengar pamitan pada Kak Zian, lalu berkacak pinggang melihat ke atas.
"Mbak, jangan terus menggelembungkan pipinya, jadi jelek tuh, kayak ikan buntal. Dah aku pulang ya ...."
"Nayaaaaaaa ...." Aku kembali berteriak. Adikku itu bawaannya selalu pengin bercanda, dia tidak sadar apa? Aku marah padanya karena sok akrab dengan Kak Zian.
Naya tertawa dan berjalan meninggalkan halaman samping rumah, menuju motor matic-nya.
❤❤❤
__ADS_1
Aku menggeliat lalu membuka mata, tak kudapati Mas Raka di sebelahku. Awalnya kukira dia ada di kamar mandi. Tapi, tak ada bunyi air dari dalam sana.
Jam menunjuk angka satu dini hari.
Aku bangun, lalu mencarinya di balkon. Mas Raka juga tidak di sana.
Aku jadi penasaran, sampai mencari Mas Raka ke dapur. Nihil. Tak mungkin Mas Raka pergi keluar rumah tanpa pamit padaku.
Kubuka pintu depan. Mencarinya ke teras. Hanya angin malam yang menyambutku. Mas Raka tidak ada di teras. Apa mungkin Mas Raka ke rooftop? Tapi, untuk apa tengah malam dia ke sana?
Aku memutuskan naik tangga pelan-pelan menuju rooftop, meski tak yakin Mas Raka ada di sana. Rooftop yang lumayan luas dijadikan tempat menanam aneka sayur-sayuran dalam pot yang ditata rapi. Ada juga kursi untuk bersantai.
Aku menghentikan langkah kaki sebelum sampai di atas karena kudengar suara-suara. Apa itu Mas Raka?
Aku menajamkan pendengaran.
Sepertinya dia tidak sendiri. Suaranya pelan, tapi angin membawa suara itu ke telingaku. Dan benar, itu suara Mas Raka dan ... Kak Zian.
"Aku juga tidak tau apa maksudnya, Kak."
"Kok bisa kamu gak tau? Apa kamu tidak menanyakan pada istrimu apa maksudnya? Jelas-jelas di CCTV ruang tengah memperlihatkan Fai masuk ke kamarku. Tujuannya apa coba dia memasukkan kotak perhiasan ke ranselku? Lalu memfitnah aku yang mengambilnya?"
Jantungku langsung berdetak kencang. Jadi mereka tahu? Mama mertua apa juga tahu aku melakukan hal tak terpuji itu?
Ya, ampun! Bagaimana ini?
Aku menutup mulut dengan tangan gemetar. Benar kata Naya, Kak Zian dan Mas Raka tahu, bahwa akulah yang sengaja meletakkan kotak perhiasan ke ransel Kak Zian. Duh, kenapa aku tidak teliti? Dan bahkan tak menyadari keberadaan CCTV yang dipasang di ruang tengah?
"Iseng? Seperti ini kamu anggap Faizara sedang iseng?" Ada penekanan pada suara Kak Zian. "Iseng agar aku dituduh mencuri mas kawin kalian? Sangat kurang kerjaan."
Walau suara Kak Zian tidak berapi-api. Aku tahu, dia sangat marah.
Mas Raka tidak menjawab. Entah bagaimana perasaannya kini.
"Maaf, Kak, atas perbuatan istriku." Mas Raka meminta maaf. Suaranya terdengar lesu.
"Lebih baik istrimu diingatkan agar tidak mengulangi hal serupa. Biar tidak terbiasa melakukan hal tak terpuji. Bagaimana jika dia melakukan itu pada orang lain? Bisa-bisa urusannya bakalan panjang."
"Fai lagi menstruasi, mungkin dia lagi bad mood, jadi dia melakukan itu, Kak.”
"Raka, itu bukan alasan untuk berbuat yang tidak terpuji. Dan ... kamu sekarang adalah suami, pemimpin rumah tangga, jadilah suami yang bisa membimbing istrimu pada jalan yang benar."
"Iya, Kak. Maaf."
Hening. Keduanya tidak bicara apa-apa lagi. Sebelum mereka tahu aku mendengar sedikit pembicaraan dua kakak beradik itu, kakiku segera turun dengan langkah pelan dan gemetar.
Mas Raka pasti menahan malu atas perbuatanku. Itu yang membuat ruang rasaku jadi sesak.
Sampai di kamar aku minum air mineral sampai tandas, karena jantungku masih terus berdetak kencang.
Aku pun kembali berbaring dan memakai selimut. Apa yang akan terjadi setelah ini? Apakah Mas Raka akan memarahiku? Aku tambah gelisah, keringat mulai bermunculan di dahiku.
__ADS_1
Tak lama setelah itu, terdengar Mas Raka masuk kamar, aku jadi tegang di dalam selimut. Takut Mas Raka marah, takut kadar cinta Mas Raka padaku berkurang karena aku sudah melakukan perbuatan tidak baik pada kakaknya.
Mata kupejamkan rapat-rapat. Tapi gelisah di hati tak jua mereda. Mas Raka naik dan berbaring, dia miring menghadap padaku, bisa kurasakan napasnya berembus ke wajah.
Aku tambah deg degan. Terdengar Mas Raka mengembuskan napas berat. Sebelah tangannya menyentuh dahiku. Kukira dia akan membangunkanku dan menanyakan masalah yang aku ciptakan untuk memfitnah kakaknya. Ternyata tidak, Mas Raka mengelap keringat di dahiku, lalu mengecup keningku.
Dia juga masuk ke selimut dan memelukku. Tak lama setelahnya Mas Raka mendengkur halus tanda dia sudah tidur.
Aku membuka mata sedikit. Melihat wajah suamiku yang sudah terlelap. Betapa baiknya dia ... tidak marah seperti yang kubayangkan, dan mencoba membelaku di hadapan Kak Zian. Rasa sayangku bertambah berkali-kali lipat pada Mas Raka.
Kak Zian, dia tahu aku telah berbuat tak baik padanya, tapi saat aku jatuh terguling dari tangga, Kak Zian tetap menolongku, dia juga tidak menegur dan menanyakan langsung kenapa aku memfitnahnya. Tapi, aku berbuat seperti itu karena berasal dari salahnya Kak Zian.
Tetap saja aku tidak mau dianggap bersalah ....
❤❤❤
Saat sarapan pagi ini, tak ada pembahasan tentang perhiasan yang sengaja aku letakkan di ransel Kak Zian.
Betapa keluarga ini menjaga perasaanku. Aku dilanda rasa tak nyaman, tapi mencoba ikut tersenyum saat kakak beradik itu mengobrol.
Kak Zian pagi ini berbicara tentang singkong dan terlihat bersemangat.
“Dik, gimana kalau kamu buka usaha dibidang per-kripikan, nanti aku yang akan memasok singkongnya. Kamu kan jago bisnis, pasti nanti akan banyak peminatnya."
“Boleh juga, Kak. Singkongnya gratis kan?” Mas Raka tertawa kecil.
"Boleh." Kak Zian menjawab enteng.
Keduanya kemudian tertawa renyah. Mama jadi ikut tertawa. Begitu semringah mendengar candaan dua anaknya itu.
"Atau kalau kamu mau sekalian belajar menanam singkong juga boleh langsung praktik,” ucap Kak Zian.
“Siap! Sekalian aku ke sana sambil bulan madu.” Mas Raka mengedipkan sebelah matanya padaku. Aku jadi ... malu.
“Iya silakan. O iya, Ma, nanti sore aku akan pulang." Kak Zian mengubah topik pembicaraan. Wajah Mama seketika berubah, senyumnya hilang.
"Nak, apa tidak besok saja? Kalau pulang sore, sampainya malam. Katanya daerah sana rawan begal karena sepi."
Mama mencegah Kak Zian yang pamit pulang. Jelas terlihat masih ingin Kak Zian tinggal di sini.
"Aku akan hati-hati, Ma. Kasihan nenek kalau aku terlalu lama di sini.” Kak Zian tetap mau pulang.
Akhirnya, aku berhasil membuatnya tidak kerasan di sini.
“Tapi, mama masih kangen, Nak. Ya, kalau mau pulang, hati-hati di perjalanan.” Mata Mama mertua berkaca-kaca.
“Tentu, aku akan hati-hati, Ma.” Kak Zian tersenyum, bangkit dan menghampiri mama untuk mengusap air matanya.
Mas Raka menghela napas, sepertinya merasa kasihan, kakaknya buru-buru pulang karena aku yang memfitnah sehingga Kak Zian tidak kerasan.
Aku tak peduli, yang jelas aku senang kakak ipar nyebelin itu akan pulang.
__ADS_1
Bersambung