Kakak Ipar Melihat Auratku

Kakak Ipar Melihat Auratku
Gara-gara Kak Zian


__ADS_3

"Maaf, Zian ke kamar dulu," pamitnya seraya mengangguk pada Mama dan pada Mas Raka.


Huh! Ke kamar, kek, loncat sumur, kek. Aku tidak peduli!


Benar-benar dia pria yang tidak sopan, makan pizza satu suapan lalu disemburkan. Yang lain belum selesai makan, mau pergi begitu saja. Huh!


"Loh, tidak mau dihabiskan itu, Kak?" tanya Mas Raka saat Kak Zian berdiri.


"Hm, maaf ... aku tidak bisa makan keju."


"Iya, tidak apa-apa, Nak." Mama terus memakluminya.


Aku, Ibu dan Mas Raka melanjutkan makan pizza, setelah si pria nyebelin berlalu dari dapur.


"Zian tidak biasa makan keju, walau pun di rumah neneknya dia memelihara sapi perah, tapi dia tidak menyukai olahan dari susu." Mama menjelaskan, mungkin agar aku tidak tersinggung.


"Iya, Kak Zian sukanya singkong. Dulu, kami sering rebutan singkong goreng." Mas Raka tertawa kecil.


"Betul, sebelum Kak Zian memilih tinggal bersama nenek dari almarhum papanya sejak dia kelas tiga SD ke daerah pegunungan.” Mama lanjut bercerita.


Loh, kok malah membahas si nyebelin itu?


Aku terpaksa mengangguk.


"Orangnya terlihat cuek dan pendiam. Pemalu juga, tapi dia sangat baik." Mama menambahkan. Ada binar bangga di kedua matanya.


"Iya, semoga Kak Zian segera mendapatkan pendamping hidup, sudah 29 tahun dia bulan Juni ini."


Mas Raka tersenyum padaku yang hanya diam mendengarkan.


"Oh ...." Aku hanya menanggapi pendek.


Masih berlanjut membahas tentang Kak Zian. Mungkin, agar aku mengenal kakak iparku itu. Sejak tiga bulan menjalin hubungan dengan Mas Raka sebelum kami memutuskan menikah, tak sekali pun aku berjumpa dengan kakaknya tersebut. Dan Mas Raka juga belum pernah mengajakku bertemu nenek yang tinggal di daerah pegunungan.


Kurasa, Mas Raka dan Kak Zian jauh berbeda, bagaikan langit dan bumi.


Suamiku berkulit putih, dia sopan, bicaranya lembut, dan seorang pengusaha muda. Tak butuh waktu lama untuk kami saling dekat, karena dia kakak tingkatku di kampus dulu.


Aku menyukai kerja kerasnya dalam merintis usaha, sehingga dia sesukses sekarang. Itu yang membuatku jatuh cinta pada sosoknya. Walau pun aku anak orang kaya, tapi pria yang menjadi bintang di kampus karena ketampanan dan kecerdasannya itu tetap menjadi pilihanku di antara banyaknya pria tajir yang mendekatiku.


Beda dengan Kak Zian, kakak suamiku kulitnya sawo matang, pembawaannya kaku, wataknya pasti kasar dan nyebelin! Kuyakin karena itu tak ada wanita yang mau dengannya.


Aku menyimpulkan demikian, lalu mencibir, rasa tak sukaku bertambah berkali lipat meski telingaku masih mendengar Mas Raka dan Mama memuji Kak Zian.


“Mama berharap kali ini dia menginap beberapa hari di sini, kalau bisa seminggu. Mama masih rindu padanya," ucap Mama penuh harap


Apa seminggu? Aku inginnya dia enyah sekarang juga dari rumah ini!


"Kalau seminggu gak mungkin, Ma. Nenek pasti kebingungan kalau Kak Zian lama di sini," ujar Mas Raka.


"Iya juga, sih."


"Maaf, kenapa nenek tidak dibawa tinggal saja di sini," selaku.

__ADS_1


"Ibu tidak pernah mau, Nak. Sudah dari dulu kami mengutarakan itu," sahut Mama sambil tersenyum padaku.


"Iya, alasannya karena nenek sudah terbiasa hidup di pegunungan yang sejuk, kalau ke sini biasanya gak betah karena hawa di kota panas dan bising," tambah Mas Raka sambil tersenyum.


"Oh, seperti itu."


Baguslah, tidak bisa kubayangkan jika harus tinggal serumah dengan Kak Zian dalam waktu yang lama. Pasti aku bakalan bad mood tiap hari.


❤❤❤


Tengah malam, aku terbangun. Perutku melilit sakit. Hal yang biasa terjadi saat aku datang bulan.


Kulihat Mas Raka tidur pulas, napasnya teratur dengan suara dengkuran halus.


Miring ke kanan, miring ke kiri. Perutku semakin sakit. Aku meringis. Membuka selimut pelan agar tidak membangunkan suamiku.


Tak punya persediaan kunyit asam, aku berinisiatif ke dapur untuk membuat air hangat.


Jika dikompres, biasanya kram perut ini akan mendingan.


Aku keluar kamar, turun pelan-pelan dari tangga sambil memegangi perutku.


Masuk dapur, aku kaget setengah mati karena hampir bertabrakan dengan Kak Zian di dekat pintu dapur.


"Eh, Fai?" Dia mundur. Di tangan kirinya, singkong rebus dalam piring masih mengepul asapnya.


Datang ke rumah ini, dia membawa sekarung singkong dan oleh-oleh khas dari daerah pegunungan.


Rasa sakit di perut kalah dengan emosiku yang mendadak naik.


"Ngapain tadi kamu kirim surat seperti itu!" ucapku tanpa basa basi dan ketus.


"Fai, kalau mau singkong rebus, di dandang masih banyak," sahutnya dengan nada datar. "Aku lapar, jadi ngerebus singkong."


Aku tanya apa, eh dia menjawab apa. Pikirannya memang kongslet kali! Atau mungkin dia tak mau disalahkan jadi mengalihkan pembicaraan?


Aku menatapnya tajam. Kak Zian membuang pandang.


"Kamu di sini hanya tamu, berani-beraninya mengirim surat seperti itu! Kamu sengaja bikin aku malu?"


Hilanglah kelembutanku, seumur hidup baru kali ini aku memaki-maki orang, dan itu adalah kakak iparku sendiri. Sebenarnya ini jelas tidak sopan, tapi aku telanjur mangkel dengan surat yang dia kirim padaku.


"Fai ...." Pria bercambang tipis ini mungkin ingin menjelaskan sesuatu.


Dia melihat padaku sekilas, lalu menunduk.


"Apa! Mau aku pakai handuk, kek, mau aku pakai karung goni sambil jemur cucian, masalah buatmu?"


Napasku semakin memburu. Rasa sakit di perut semakin melilit.


"Fai, itu demi kebaikan ...." Suaranya masih datar.


"Kebaikan apa? Aku tak merasa lebih baik setelah Kakak kirimi tulisan itu!" Aku semakin nyolot.

__ADS_1


Aku kelepasan. Di luar hujan deras disertai petir. Kuharap, penghuni rumah yang sedang lelap tidur tidak mendengar suaraku.


Kak Zian terdengar mendesah berat. "Maaf kalau kamu marah. Tadi pagi ada banyak teman-teman Aris di kamarnya. Kamarnya lurus dengan tempat jemuran, kan? Jadi kurasa, lebih baik pakai baju kalau menjemur cucian. Takutnya dilihat Aris dan teman-temannya. Itu maksudku."


Pria yang katanya pendiam ini menjelaskan alasannya dengan cukup panjang.


Huh! Pendiam apanya? Dia bisa bicara banyak tapi penjelasannya tak membuat aku memakluminya. Apa dia kira aku tidak malu setelah dia melihat ... tubuhku saat handuk itu terlepas.


Aris adalah adik bungsunya, tadi pagi, Aris dan beberapa temannya mempersiapkan untuk berangkat pendakian dan memang cukup ramai di kamarnya yang berada di lantai bawah, bersebelahan dengan kamar yang ditempati Kak Zian.


Kak Zian akan melangkah, tapi aku menghalangi karena belum puas memarahinya.


"Karena itu kamu pakai acara mengirimiku surat tak jelas itu?! Apa kamu kira aku tidak malu?"


Membayangkan tubuhku tadi pagi dilihat kakak iparku saat handukku terjatuh, rasa malu dan geram terus saja menggelayuti hati dan pikiran.


Aku menggebrak meja. Bersamaan dengan pekikan dari bibirku. "Aduuuh!"


Kulihat tanganku mengeluarkan darah karena menggebrak meja yang tanpa kusadari ada pisau di sana. Entah bagaimana pisau itu melukai sampai telapak tanganku lukanya memanjang. Aku bergidik.


Air mata yang aku tahan dari tadi jatuh. Aku menangis, sambil kupegangi tangan yang seketika mengeluarkan darah segar.


Rasa mangkelku bertambah pada Kak Zian.


"Ya Allah, segera cuci darahnya dengan air mengalir!" Kak Zian melihat ke arah telapak tanganku yang mengeluarkan darah.


“Gak usah sok peduli, ini semua gara-gara kamu!” bentakku.


“Loh, kok aku?” tanya pria itu melongo.


“Karena kamu yang bikin aku emosi!” Aku tetap menyalahkannya.


Kak Zian meletakkan singkong rebus di meja, dia lalu keluar dari dapur. Aku terisak dengan tangan gemetar melihat darah berceceran di lantai. Berjalan cepat menuju wastafel untuk mencuci tanganku yang lukanya cukup dalam.


Saat bersentuhan dengan air, rasanya sangat perih.


“Kemarikan tanganmu,” ucap Kak Zian membuatku semakin kesal karena dia kembali ke dapur. Dia berdiri di sebelahku dengan membawa obat merah dan perban.


“Gak usah!”


Aku masih terisak, darah terus mengucur saat aku basuh dengan air mengalir.


“Kamu perlu bantuan, Fai.”


“Aku tak perlu bantuanmu!” ngototku.


Kak Zian sigap membuka tutup obat merah.


Aku kaget setengah mati, kakak iparku ini meraih tangan kananku yang luka, agak kesulitan karena sambil memegang obat merah dan perban.


“Eh, berani-beraninya kamu pegang-pegang tanganku!” Aku menarik tanganku, tapi Kak Zian cukup kuat memegang pergelangan tanganku.


“Maaf, ini harus segera diobati," ucapnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2