
Kak Zian hanya dua hari di rumah sakit, dia sudah ada di rumah ini lagi. Capek deh! Suasana hatiku kembali jelek.
"Sayang, untuk beberapa hari ke depan. Kak Zian akan tinggal di sini." Mas Raka memberitahukan padaku.
"Iya, Mas."
Hadeuh! Kenapa masih harus tinggal di sini? Bukannya pulang agar aku tenang.
Aku yang sedang menyisir rambut setelah mandi, duduk di depan meja rias, Mas Raka menghampiriku. Dia memelukku dari belakang.
"Iya, kuharap, selama Kak Zian di sini, tidak ada perbuatan tidak mengenakkan lagi padanya." Mas Raka berkata hati-hati, itu pasti tertuju padaku.
"Iya, asal, Kak Zian tidak aneh sikapnya." Sebaiknya aku katakan saja apa masalah yang membuatku benci sama Kak Zian.
"Maksudnya, Sayang?" Mas Raka melihat wajahku di cermin. Mungkin dia sudah menunggu alasan kenapa aku memasukkan kotak perhiasan itu ke ransel Kak Zian.
"Kak Zian itu ngeselin banget. Dia mengirimiku surat, mengatur-ngatur agar aku tidak memakai handuk saat jemur cucian." Napasku memburu, tiap ingat kejadian itu, aku jadi emosi.
"Kok, baru sekarang kamu cerita, Sayang? Terus apanya yang salah dengan itu?" Mas Raka mengelus rambutku. Reaksi suamiku sesantai itu. Tidak terlihat kaget, biasa-biasa saja.
"Kak Zian membuat aku malu, Mas.” Nada suaraku agak tinggi seiring emosi dalam diri.
"Terus karena itu ... kamu ingin memfitnah Kak Zian?"
Mas Raka memutar kursi yang aku duduki sampai menghadap padanya.
"Iya. Bukan hanya itu. Saat aku jemur cucian pakai handuk itu, handukku melorot. Pasti dia melihat tubuh polosku. Bagiku, dia salah. Tak perlu kirim surat begitu, agar aku tidak malu." Aku ceritakan semuanya, kulihat wajah Mas Raka. Dia terdiam sejenak sembari menatapku lembut.
"Belum tentu Kak Zian melihat tubuhmu saat handuknya melorot. Dia benar, kok mengingatkan. Jika hanya karena kejadian itu, istriku ini lalu ingin memfitnah Kak Zian, itu tidak benar, Sayang.” Mas Raka tidak membelaku lagi. Dia menangkup wajahku.
“Iih, tapi aku sebel, Mas, kalau Kak Zian di sini. Jadinya, aku ingin dia segera pulang.” Aku mengatakan yang sejujurnya.
“Kak Zian kan tidak mengganggumu, Sayang. Dia pria yang sopan, jangan ulangi lagi ya, berbuat yang tidak baik. Aku dan Kak Zian tidak memberitahu pada Mama, kalau kamu yang sengaja meletakkan kotak perhiasan di ransel Kak Zian. Kami tak ingin Mama marah padamu.”
“Tapi, Mas ... Kak Zian itu ....” Aku masih ingin menjelek-jelekkan Kak Zian.
“I Love you ....” Mas Raka tak memberikan waktu untukku membela diri lagi karena bibirnya ditempelkan ke bibirku.
❤❤❤
__ADS_1
Kalau ada Kak Zian, aku jadi malas ke luar kamar. Tepat di siang hari yang panas, aku akan mandi. Mas Raka masih belum pulang.
Baju sudah aku lepas, begitu juga dengan rokku. Tinggal pakaian dalam yang akan aku lepas saat tiba-tiba ....
Pundak kiriku seperti kejatuhan benda kecil, saat aku menoleh ....
"Aaaaaa .... aaaa ... pergii! Pergi kau! Aaaa ....!" Aku menjerit sekencang-kencangnya.
Cecak tak kunjung pergi dari pundakku. Aku berteriak kencang. Lutut gemetaran.
Keluar dari kamar mandi, aku masih berteriak-teriak, itu cecak tetap nemplok di pundakku.
Kukibas dengan tangan barulah cecak itu melompat ke lantai.
"Aaaaa ....! Aaaaa ... pergi kamu! Kenapa masuk kamarku!"
Teriakanku tambah kencang karena tambah syok. Tahu-tahu, tanpa aku sadari karena sibuk mengusir cecak di pundak, ada ... pria yang diperban kepalanya berdiri di dekat ranjang. Kak Zian di kamarku!
"Fai! ...? Ada apa?!"
"Aaaaa, pergi!" usir ku.
Kak Zian menutup wajahnya. Parahnya baru kusadari, aku hanya memakai pakaian dalam keluar dari kamar mandi!
"Keluaaaar!” Kuterima selimut itu kasar dan kulilit pada tubuhku dengan asal.
"Fai ... ada apa?!" Kak Zian terus bertanya, wajahku memanas, Lagi-lagi aku emosi padanya.
“Ada cecak! Dan ngapain kamu masuk kamarku! Hah?” bentak ku.
"Maaf, Fai. Kukira kamu kenapa-kenapa, jadi aku berlari ke sini, ternyata hanya cecak,” ucap Kak Zian dengan napas yang tak karuan.
"Hei! Seenaknya kamu bilang hanya cecak? Aku phobia pada cecak, tau!" Kumarahi Kak Zian sambil menuding wajahnya dengan tangan kiri. Dia meremehkan ketakutanku.
"Oh, kamu phobia cecak." Kak Zian menundukkan pandangannya.
“Sekarang keluar!” usirku tambah marah. Karena ... untuk kedua kalinya Kak Zian melihat tubuh mulusku. TERLALU!
"Iya, maaf ... Fai, aku nggak tau kamu phobia cecak." Kak Zian mengusap wajahnya, pandangan matanya tidak mengarah padaku, tetap melihat pada lantai. Dia akan berbalik.
__ADS_1
"Lain kali Kakak gak usah lebay dan sok perhatian, apalagi sampai masuk tanpa permisi ke kamar ini!"
"Aku sudah katakan, kalau aku mengira kamu kenapa-kenapa karena teriak-teriak."
"Terus sekarang Kakak puas?!" Rasanya ingin terus memarahi Kak Zian yang tanpa permisi masuk ke kamarku.
"Puas? Puas apanya?" Kali ini dia menggelengkan kepalanya, sambil menggigit bibir bawahnya. Kayak lagi bernafsu. Jadi jijik aku melihatnya. Huh, pura-pura tak paham lagi!
"Puas sudah dua kali melihat tubuhku tanpa baju! Itu ngapain Kakak menggigit bibir! Pasti membayangkan ...."
"Membayangkan? Apa maksudmu? Aku kalau lagi berpikir tanpa sadar menggigit bibir, apa masalahnya?" Kak Zian memotong kalimatku sembari mengangkat bahu. Bingung mungkin karena aku terus menyalahkannya.
"Masalah buatku, tau! Pasti pikirannya ke mana-mana!" sungutku, menuduhnya.
"Fai, jangan berpikir yang macam-macam. Aku murni terkejut dan datang untuk membantumu karena mengira kamu kenapa-kenapa." Kak Zian melepas napas berat. Menjelaskan lagi alasannya datang ke kamar ini.
Aku masih ingin marah-marah sama Kak Zian, tapi aku urungkan karena Mama, Bi Fatma dan Ina masuk dengan langkah tergopoh-gopoh. "Ada apa, Nak?"
Aku yang melotot pada Kak Zian segera mengubah mimik muka. Persis tokoh antagonis di sinetron-sinetron yang suka bermuka dua.
"Itu, Ma. Fai kejatuhan cecak," sahutku sambil bergidik.
"Cecak?" Mama dan dua pembantu menjawab kompak. Pasti berpikir sama dengan Kak Zian, hanya cecak aku sampai histeris mengagetkan orang-orang di rumah ini.
"Iya, Fai phobia cecak. Maaf ... kalau mengagetkan."
"Oh, mama kira ada apa, Nak." Mama tersenyum padaku.
Aku meringis. "Maaf, sekali lagi."
Kak Zian mungkin tidak enak, dia pamit lalu keluar dari kamarku.
"Iya, cecak memang kadang jatuh gak kenal tempat, semoga tidak kejatuhan lagi," ucap Mama. Melihatku yang memakai selimut tebal.
"Iya, Ma."
Mama dan dua pembantu juga keluar dari kamarku.Tubuhku jadi berkeringat karena dililit dengan selimut tebal.
Aku kembali masuk kamar mandi. Meneliti semua bagian dinding, takut cecak masih ada di sini.
__ADS_1
Air shower mulai membasahi kepala dan tubuhku. Ingin meredakan emosi di hati gara-gara Kak Zian yang lagi-lagi melihat tubuhku, kupejamkan mata. Tapi yang terbayang malah wajah Kak Zian saat menggigit bibir bawahnya.
Bersambung