
Setelah mandi dan menggunakan makeup, aku memakai atasan warna pink berkerah rendah, membuat belahan dadaku sedikit terlihat, dipadu rok warna senada sebatas lutut.
Style berpakaianku memang modis, sekalipun itu hanya di rumah. Rambut kutata dengan mengikatnya tinggi membuat leher yang jenjang tampak jelas.
Aku ingin menyenangkan Mas Raka. Dan siap menyambutnya pulang kerja.
Aku turun. Akan menunggu Mas Raka di teras. Di luar hujan gerimis membuat cuaca begitu sejuk. Duduk di kursi teras dengan menyilangkan kaki, aku memainkan ponsel.
Tak sadar awalnya ada Kak Zian duduk berjongkok memeriksa pot bunga aglonema tak jauh dari kursi tempatku duduk.
Kepalanya sudah dilepas perbannya, angin membawa harum pomade rambutnya ke hidungku.
Aku berusaha cuek, Kak Zian yang duduk membelakangiku, mungkin tidak tahu ada aku duduk di kursi. Dia mengisap rokoknya, lalu mengembuskannya. Asapnya terbang ke arahku membuatku langsung batuk-batuk.
"Uh, mengganggu sekali!" gerutuku sambil mengibaskan tangan dan menendang kaki meja. Cukup keras.
Kak Zian menoleh, tanpa berkata-kata, lekas mematikan rokoknya ke lantai. Sementara, kursi yang aku duduki bergoyang ke depan dan ke belakang ....
Bruk!
Kursi jatuh ke belakang, otomatis membuatku jatuh dengan posisi kaki di atas dan rokku tersingkap membuat dua paha mulusku terekspos.
"Loh, Fai ....?" Kak Zian berdiri dan berjalan cepat, menunduk sampai wajah kami dekat. Dia memegang sandaran kursi lalu agak kesulitan mengubah posisi kursi yang ada aku di atasnya, mana paha terbuka lagi! Sampai kursi kembali seperti posisi semula.
Jantungku berdegup kencang, jatuh tak terduga ini membuat kepala belakangku sakit karena membentur lantai. Tanganku juga sibuk membenahi rok.
Aku tak tahu kenapa sering apes dan selalu ada Kak Zian yang membantuku. Capek, deh!
"Kamu nggak apa-apa?" Kak Zian berdiri di sebelah kursi.
Melihat dada Kak Zian turun naik dengan cepat, dia kuperhatikan menelan ludah seperti gelisah. Pasti karena dia melihat pahaku yang tersingkap barusan. Atau curi-curi pandang pada belahan dadaku?
"Kakak omes!" bentakku tanpa menjawab pertanyaannya.
"Namaku Zian, jangan panggil Kakak Omes." Kak Zian menanggapi lembut. Dia tidak melihat padaku, mata elangnya menatap ke samping.
Ih, ini orang disindir malah seakan tak paham maksudku. Dikira omes nama orang kali.
"Omes, otak mesum!" Itulah sebutan yang dari kemarin bermain di otakku untuk kakak iparku ini. Memang kenyataannya dia otaknya mesum. Aku yakin itu.
Dahinya mengernyit. "Fai ... kok begitu ngomongnya?"
"Mata Kakak jelalatan!" Aku bangun sembarangan dari kursi sambil mengusap kepala belakangku, agak puyeng dan berputar.
"Fai, aku tidak jelalatan. Pikiranmu saja yang selalu negatif padaku." Kak Zian selalu membela diri. Mana ada maling ngaku?
Kak Zian tangannya seperti akan memegang lenganku karena melihatku sempoyongan.
"Angkat tangan, Kak! Jangan coba pegang-pegang!" Aku memperingatkan karena Kak Zian ini sok jadi pahlawan. Dikira aku senang apa dibantuin?
Anehnya, Kak Zian mengangkat dua lengannya ke atas sesuai perintahku. Seperti refleks, kayak penjahat yang takut ditembak polisi.
Lucu, sih. Tapi aku tidak mau tersenyum apalagi tertawa melihatnya bertingkah konyol begitu.
"Oke, maaf.... " Kak Zian lalu menggaruk kepalanya.
"Aku lagi nunggu Mas Raka, Kakak harusnya tau diri, jangan juga stay di sini." Tanpa basa-basi, kutegur dia.
"Aku sudah dari tadi di sini, Fai. Bukan ada maksud menemanimu, apalagi mengganggumu," ucapnya santai. Kak Zian lalu masuk ke ruang tamu.
__ADS_1
Malas mungkin mau meladeni aku, padahal aku masih ingin marah-marah padanya.
Ponselku berdering. Mas Raka memanggil ....
"Halo, Mas."
"Aku pulang sedikit telat, Sayang. Sekitar jam sembilan, tungguin ya."
"Iya baiklah, Mas ... aku siap menunggu."
"Tenang, malam pertamanya tetap jadi kok, Sayang," goda Mas Raka.
"Iya, jangan sampai tidak jadi," balasku mencandainya.
"Siap, Sayangku. Nanti malam kita perang." Tawa Mas Raka terdengar. Aku ikut tersenyum senang digoda suamiku.
Setelah mengakhiri panggilan. Aku masuk. Bertemu Mama di ruang tengah.
"Raka belum pulang, Nak?"
"Belum, Ma. Katanya nanti pulangnya jam sembilan malam."
"Oh, iya. Dia selalu sibuk dan semangat sekali dengan pekerjaannya. Semoga semakin sukses dan kebahagiaan menyertai kalian." Mama mengusap pundakku.
"Aamiin, Ma."
Mama mertua seperti aku yang selalu kagum dengan keuletan dan kerja keras Mas Raka dalam membangun usahanya.
❤❤❤
Aku makan malam bersama, Mama mertua, Aris dan Kak Zian.
"Temanku Wijaya kesurupan, Ma. Karena kencing sembarangan. Ada lagi Dion yang tiba-tiba menghilang dari tenda tengah malam."
"Lalu ditemukan di mana?" tanya Mama.
"Sampai dua hari, kami mencari Dion. Ternyata, Dion ... ada di atas pohon tinggi dan besar. Kami kesulitan membantunya turun. Menurut Dion, dia dibawa kakek-kakek berwajah buruk rupa. Dion katanya terus berteriak tapi tak ada yang mendengar. Tau-tau, sudah nangkring di atas pohon."
Aku penakut, paling tidak suka kalau ada yang bercerita horor. Mau bagaimana lagi, terpaksa menyimak cerita Aris.
"Kalau di tempat baru, selalu berhati-hati. Jangan meludah, apalagi kencing sembarangan," pesan Mama.
"Iya, jangankan di tempat baru, di kamarku, pernah di pojokan aku melihat makhluk besar hitam dengan mata merah, hiy! Rumah kita ini ada hantunya juga ya?"
Bulu romaku langsung berdiri, cerita Aris membuatku tambah takut.
"Bukan hantu, itu pasti jin yang mau nakut-nakutin kamu karena jarang mengaji," ucap Kak Zian pada Aris. Meledek adik bungsunya.
"Iya paling, Kak." Aris tertawa kecil. "Pernah juga ada putih-putih melayang di luar jendela. Kayaknya kuntilanak, sambil tertawa cekikikan gitu. Masa karena aku jomlo disamperin kuntilanak?"
Mama dan Kak Zian tertawa pelan mendengar kalimat Aris. Aku? Makan jadi tidak fokus, diam-diam melihat ke luar jendela dapur. Mulai membayangkan yang tidak-tidak.
Aku jadi ingat kalau aku tak pernah mengaji lagi selepas SMA. Paling malas kalau disuruh mengaji. Bacaan Al-Quranku juga tidak lancar. Semoga, aku tidak melihat dan tidak didatangi makhluk halus seperti cerita Aris. Amit-amit!
❤❤❤
Aku sudah suci dari haid. Hati mulai merasa deg degan sekaligus bahagia.
Aku membuka lemari. Menyentuh baju berwarna merah berbahan tipis dan terawang yang masih terlipat dalam plastik.
__ADS_1
Aku tersenyum. "Lingerie ini akan menghiasi tubuhku. Mas Raka pasti senang melihatku memakainya."
Aku berbicara sendiri dengan perasaan berbunga-bunga. Tak sabar menunggu Mas Raka pulang kerja. Tak sabar ingin mereguk manisnya malam pertama ....
Jam setengah sembilan malam ....
Mas Raka hampir pulang. Maka, kupakai lingerie ini. Kemudian, tersenyum. Membayangkan Mas Raka mengagumi tiap lekuk tubuhku.
Saat aku berputar-putar di depan cermin memakai baju 'dinas' malam para istri ini, lampu mati, apa padam?
Selain phobia cecak, aku juga takut kegelapan.
Jantungku berdetak lebih cepat, meraba-raba menuju meja rias. Mencari ponselku. Apesnya, ponsel yang aku cari, kena geser tanganku dan jatuh ke lantai.
Semoga tidak pecah. Aku berjongkok. Meraba-raba. Menyentuh layarnya. Yaaah ... pecah. Kutekan tombol untuk menghidupkan. Tetap tidak menyala.
Di luar mulai turun hujan. Ditingkahi kilatan petir. Semoga lampu tidak lama padamnya.
Melihat ke jendela, gorden putih bergerak-gerak. Aku jadi merinding. Cerita Aris saat makan malam kembali terngiang. Ah, serem. Kuharap Mas Raka segera pulang.
Mata tidak bisa kutahan, melihat ke pojok kamar. Entah karena terpengaruh cerita Aris atau memang di rumah ini ada hantunya, ada dua mata ... merah di kegelapan ....
"Han-hantuuuuuu ...!" jeritku. Kaki jadi terasa berat mau melangkah. "Hantuuuuu!"
Susah payah aku mencoba berlari ke pintu. Jantung seakan mau lompat dari tempatnya.
Setelah berhasil memutar hendel pintu dengan tangan gemetar, aku keluar dan terus berteriak. Turun dari tangga sembarangan, tubuhku jadi lemas saking dari takutnya.
"Hei ... ada apa?" Suara Mas Raka.
Aku meraba-raba dan langsung memeluknya di ruang tengah yang gelap. "Ada hantu, ada jin ... dedemit, genderuwo, Mas!"
Aku menceracau tak jelas dan semakin erat memeluk Mas Raka. Mas Raka tidak balas memelukku. Tubuhnya kaku, tegang.
"Di-ma-na? Di ka-mar-mu, Fai?" Suara terbata-bata ini seperti suara ...? Wangi parfumnya juga bukan seperti wangi Mas Raka. Tapi wangi parfum Kak Zian.
Mukaku langsung panas. Bagaimana bisa aku tak dapat membedakan antara Mas Raka dan Kak Zian disaat pikiranku kalut dan takut. Jadi yang aku peluk, Kak Zian?
Aku sontak melepas pelukan. Ini lebih seram dari melihat dua mata merah barusan.
Saat itu pula lampu hidup, ruang tengah jadi terang benderang, dan aku bagai kena sambaran petir saat menyadari turun masih memakai lingerie!
Tubuhku bergetar, mematung, tertegun, sesaat tak tahu apa yang harus aku lakukan. Lemas. Malu. Ingin marah, tapi marah pada siapa?
Aku hanya ingin menangis! Air mata jatuh, seiring suara isakanku yang tak bisa kutahan.
Kak Zian bergerak melepas jaketnya. "Pakailah ... naiklah ke kamarmu. Jangan menangis," katanya sambil mengangsurkan jaketnya untuk menutupi dada dan perutku, dia memalingkan muka ke arah kiri.
Suara Kak Zian juga agak bergetar. Entah apa yang dia pikirkan? Entah apa yang dia rasakan setelah tak sengaja kupeluk erat? Dan dia juga melihatku hanya menggunakan lingerie. Pasti jiwa laki-laki normalnya sedang bergejolak.
Kusambar jaket itu, Kak Zian segera berbalik dan melangkah menjauhiku.
Terpaksa aku memakai jaket Kak Zian, takut ada orang lain di rumah ini yang juga melihatku cuma memakai lingerie. Aku naik tangga sambil terus menangis.
Kenapa jadi begini? Yang pertama melihat tubuh seksiku dalam balutan lingerie adalah kakak iparku, bukan suamiku!
“Maafkan aku, Mas ....” Ada rasa bersalah dalam diri pada Mas Raka ... walau bukan sengaja aku melakukannya.
Bersambung
__ADS_1